Wilayah Semenanjung Sinai, Tempat Paling Berbahaya di Mesir

Wilayah Semenanjung Sinai, Tempat Paling Berbahaya di Mesir. Serangan teror ke jamaah Mesjid Rawdah, Sinai Utara, Mesir telah menewaskan lebih dari 300 orang. Serangan ini merupakan insiden paling mematikan dalam sejarah Semenanjung Sinai. Serangan yang dimulai dengan bom, kemudian jamaah berlarian diberondong peluru oleh milisi diduga dilakukan anggota ISIS.
Menurut kabar yang diumumkan CNN, wilayah berbentuk segitiga yang terjepit di antara benua Afrika dan Asia itu penuh kekerasan sejak ISIS mencengkeram kawasan utara semenanjung itu. Tidak hanya menguasai, ISIS pun menjadi inspirasi kelompok-kelompok ekstremis lokal.
Tidak seorang pun mengklaim bertanggung jawab atas serangan seusai salat Jumat yang menewaskan 305 orang, 27 di antaranya anak-anak dan melukai 128 lainnya itu. Namun menurut Kejaksaan Mesir, pelaku penyerangan yang terdiri atas 25-30 orang itu membawa bendera ISIS.
Militansi di Semenanjung Sinai berkembang secara dramatis semenjak penggulingan Presiden Husni Mobarak pada 2011 di tengah gerakan reformis Arab Spring. Kekerasan milisi kembali meningkat pada 2013, saat pengganti Husni Mobarak, Muhammad Mursi, digulingkan oleh militer Mesir. Penggulingan Mursi mengakibatkan kevakuman keamanan di Semenanjung Sinai.

Ada kelompok ekstremis di Semenanjung Sinai

Pada 2013, Panglima Militer Mesir Abdel Fattah el-Sisi melancarkan kudeta yang populer dan meluncurkan pemberantasan kelompok ekstremis di Semenanjung Sinai serta wilayah lainnya.
El-Sisi akhirnya pun mundur dari militer dan terpilih sebagai Presiden pada 2014 dengan platform keamanan dan stabilitas. Pemerintah El-Sisi akhirnya menyatakan kelompok Persaudaraan Muslim atau Ikhwanul Muslimin, gerakan yg dipimpin Mursi sebagai organisasi terlarang. Langkah itu makin memicu kemarahan banyak kalangan dari kaum radikal di Mesir.
Tindakan keras pemerintah memicu munculnya banyak gerakan perlawanan setempat dan kelompok-kelompok ekstrem pun bermunculan. Kelompok Wilayat Sinai terbentuk pada saat yang sama dan menyatakan kepatuhan kepada ISIS pada 2014. Kelompok itu bertanggung jawab atas banyak serangan berakibat ratusan kematian.
Wilayat Sinai juga berperan dalam pengeboman pesawat komersial Rusia, Metrojet pada Oktober 2015 yang menewaskan seluruh penumpang sebanyak 224 orang.
Kelompok itu biasanya menyerang umat Kristen Koptik dan petugas keamanan. Ekstremis itu juga dibesarkan oleh kebencian Suku Badui Sinai yang merasa diabaikan dan ditinggalkan pemerintah Mesir. Banyak warga Badui Soinai yang belum punya akses terhadap air bersih dan listrik.
Mayoritas Kepala Suku Badui menentang kekerasan dan melawan kekerasan yang berdalih agama. Banyak di antara mereka yang turut bertempur memerangi ISIS. Namun beberapa anggota Suku Badui lainnya justru ikut bergabung dengan kelompok ekstremis itu.
Selain itu, kemiskinan juga memberi jalan bagi beragam aktivitas ilegal. Seperti perdagangan narkotika dan penyelundupan manusia. Penegakan hukum terasa tak ada di wilayah utara Semenanjung Sinai, dan memungkinkan Wilayat Sinai beroperasi di sana.
Di tengah gurun di utara, dan pegunungan di sebelah selatan, Semenanjung Sinai sangat sulit dikendalikan oleh pemerintah Mesir. (CNN INDONESIA)

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :