Waspadalah! Rencana Besar Khilafah Meramabah Indonesia

Rencana besar Khilafah akan meramabah Indonesia selaku wilayah berpenduduk muslim terbesar di dunia. Semestinya penduduk Indonesia waspada supaya dapat terhindar dari pengalaman buruk dan menakutkan yang dialami rakyat Irak dan Suriah….

 

 

 

Islam-Institute, JAKARTA – Enggak dapat dipungkiri bahwa popularitas dan perkembangan mengejutkan ISIS sesudah menduduki secara signifikan atas sebagian wilayah Irak dan Suriah pada pertengahan Juni 2014. hingga Oktober 2015, ISIS, ISIL, DAESH atau IS pada awalnya menciptakan wilayah kekhalifhan meliputi Irak-Suriah-Lebanon-Jordania-Libya-Mesir, sekarang berkembang jadi misi kekhalifahan global yaitu menyatukan wilayah kekhalifahan dari Andalusia (Spanyol) sampai ke China yang dinamakan The Great Caliphate. Dalam tulisan ini yang kami kutip dari arahmahnwes.com, atas dasar nama Isis yang berubah-ubah dalam penyebutan namanya, maka berikutnya ISIS pada tulisan ini disebut dengan Islamic State atau IS (red).

 

***

 

Daftar serbuan IS dan Simpatisan IS di sejumlah negara semenjak Oktober 2014 sampai 14/1/2016. Sumber : nytimes 14/1/2016

 

Untuk mewujudkan impian global tersebut, IS mengeluarkan Israel dalam rencananya dan melaksanakan ekpansi besar-besaran dalam berbagai bidang mulai dari penaklukan wilayah, pendanaan, rekrut keanggotaan, peralatan perang, intelijen, propaganda, penguasaan media massa sampai penguasaan teknologi info dan pelatihan anggota yang disebar ke seluruh dunia.

Enggak heran dalam program ekspansinya semenjak mendaulatkan diri selaku The Greater Caliphate (29 Juni 2015), IS melaksanakan serangkaian aksi (dalam pandangan mereka ialah Jihad) di sejumlah negara. Gambar di atas memperlihatkan sejumlah aksi teror IS atau simpatisan IS di sejumlah negara semenjak Oktober 2014 sampai teror Sarinah14/1/2016 di Jakarta.

Semenjak Oktober 2015 (dalam kurun waktu 15 bulan) total serbuan langsung oleh IS maupun pendukungnya mencapai 67 kali kejadian kepada 17 negara berpenduduk kebanyakan muslim dan non muslim sebagaimana tampak dalam tabel di atas. Akibatnya seluruh dunia merapatkan barisan mempersempit ruang gerak IS atau setidaknya mengutuk aksi teror tersebut. Dari 17 negara yang dituding teroris IS biangkeroknya tidk satupun negara yang memperagakan sikap warga anti teror seperti yang terjadi di negara kita yang dengan gegap gempita MENENTANG sekaligus MENANTANG teror oleh unsur radikal manapun khususnya kepada ancaman IS.

Kenapa perkembangan IS amat signfikan khususnya di Irak dan Suriah lalu menjalar ke seluruh dunia, ada baiknya menyaksikan pada beberapa fakta sejarah singkatnya sehingga kita dapat menyaksikan karakter apa yang melatar belakangi perkembangan IS sedemikian cepat, mari kita lihat sejenak ke belakang dalam beberapa hal berikut ini :

  1. Cikal bakal terlahir dari masa konflik penggulingan Saddam Husein oleh AS dan sekutu kisaran 1999.
  2. Berkoalisi dengan al-Qaeda pada 2004.
  3. Jadi negara islam di Irak pada 13 Oktober 2006.
  4. Waktu pergolakan anti rezim Suriah bangkit pada 15 Maret 2011, dunia belum dikejutkan oleh hadirnya pengaruh IS meski ia sudah terbentuk sebelum kejadian yang memicu perang saudara di Suriah.
  5. IS baru tampak berpengaruh di Suriah pertama sekali pada 1/5/2013 waktu menyusup di tapal batas negara Irak dan Suriah khususnya di kota Al-Bukamal (Provinsi Hom) dan Hasaqah (provinsi Al-Hasaqah).
  6. Pada 20 Oktober 2013, IS merebut kota Tall Abyad dari pemberontak FSA.
  7. Jadi negara islam di Irak, Suriah dan levant sesudah menguasai sebagian wilayah Suriah pada 8 April 2013 dan pada 31 Desember 2013 IS merebut kembali sejumlah dilayah dari FSA yaitu Al-Bab city, Azas, Minbij, Raqqa, Tabqa dan areal lainnya utara Suriah dekat tapal batas negara Turki.
  8. seusai menguasai sebagian Suriah IS melaksanakan ekpansi ke Irak pada Januari 2014 sampai menguasai Mossul dan Tikrit (lihat map slide).
  9. Mengumumkan pisah dengan al-Qaeda pada 3 Februari 2014.
  10. Lalu ekspansi diteruskan ke Ramadi sampai Tikirit pada 8 April 2014. Pada waktu yang sama IS juga merebut hampir seluruh provinsi Deir Ezzor di Suriah.
  11. Menyaksikan perkembangan positif tersebut IS mengumumkan diri selaku negara yang dipimpin khalifah (Abu Bakar al-Baghdadi) pada 29 Juni 2014 sekaligus menerobos wilayah Irak lebih jauh sampai ke Baquba dan Falujja.
  12. Dalam usaha mewujudkan master plan The Greater Caliphate dari Andalusia sampai China IS memetakan sejumlah negara lain selaku provinsi mereka yaitu provinsi Afghanistan, Arab Saudi, Aljazair, India, Libya, Mesir, Nigeria, wilayah Kaukasus bagian utara Rusia dan Pakistan. Pada 23 Juni 2015, juru bicaa IS, Abu Muhammad al-Adnani mengumumkan (melalui rekaman suara di Twitter) wilayah Kaukasus utara (Rusia) juga dijadikan selaku bagian provinsi mereka.
  13. Seluruh wilayah yang dikuasai IS di Irak dan Suriah pada umumnya ialah daerah yang mempunyai kilang minyak. Apa yang terdapat di Mosul, Tikirt, Baji, Faluja dan Kirkuk (di Irak) dan Deir Ezzor, Raqa dan Aleppo ialah kilang minyak yang menghasilkan minyak berlimpah di kedua negara tersebut seperti tampak pada gambar di bawah ini :

Seiring dengan meningkatnya perlawanan anti IS ekspansi IS di irak akhirnya mengendur. IS sukses dipukul mundur dari Ramadi, Falujah, Baiji, Kirkuk dan Irbil meski belum sepenuhnya sanggup dibersihkan dari Irak. Sejumlah kilang minyak besar seperti di Baji diambil alih pemerintah Irak.

Hal yang agak tak sama terjadi di Suriah meski langkah IS juga dapat dieliminir oleh tentar Suriah. Kalau pada Juni 2015 lalu hampir 70% wilayah Suriah dikuasai IS dan FSA semenjak Desember 2015 sampai sekarang keseimbangan penguasaan wilayah Suriah hampir mencapai 50%-50% antara pemerntah dengan pemberontak termasuk IS, akibat melonjaknya kesanggupan perang SAA dan afiliasinya berkat sokongan Rusia dan disamping gabungan AS juga menyerbu IS dari sisi yang tak sama sehingga melemahkan posisi IS di Suriah.

seusai dunia bersatu melawan ancaman teroris global, IS pun mulai memperlihatkan kemundurannya dalam beberapa bidang yaitu :

  • Meningkatnya intensitas serbuan oleh Rusia menyebabkan hitungan total kematian petempur IS makin meningkat. walau nggak diketahui berapa hitungan total sesungguhnya petempur IS yang mati di medan perang diperkirakan mencapai 10 ribu orang (nggak termasuk yang menjalankan misi teror di sejumlah negara). walau rekrutmen terus berjalan dan hitungan total personilnya diperkirakan mencapai 30 ribu sampai 50 ribu orang, tidak banyak tidaknya keadaan ini mempengaruhi power dan moralitas anggota IS secara umum sehingga terpaksa mundur dari beberapa wilayah yang dikuasai di Irak dan Suriah.
  • Berkurang atau hancurnya sejumlah Infrastruktur dan peralatan perang.
  • Terjadi pemberontakan dalam struktur IS. Kisaran 100 anggota yang coba menyelamatkan diri dari organisasi tersebut dieksekusi oleh IS sendiri. Sumber : alarabiya .Bahkan sumber lain (independent.co.uk) mengutip The British-based Syrian Observatory for Human Rights menyebutkan pada Desember 2015 IS mengeksekusi anggotanya sendiri mencapai 200 orang dalam satu bulan tersebut.
  • Akibat kekuatannya mengendur IS berusaha bangkit dengan cara lain yaitu meningkatkan serbuan ke sejumlah obyek di sejumlah negara dengan mengaktifkan sel-sel atau jaringan simpatisan IS di seluruh dunia. Akibatnya beberapa negara yang dijadikan target maha besar The Greater Chaliphate pun kian dirundung aksi sabotase atas nama IS. Negara tersebut ialah : Aljazair- Mali-Nigeria- Tunisia-Libya-Mesir-Sudan-Yaman-Pakistan-Afghanistan-India, Bangladesh-Indonesia dan Filipina.

 

 

 

Tanpa bermaksud membikin kuatir (untuk meningkatkan kewaspadaan dan siaga) Indonesia termasuk dalam target besar IS akan meningkat gangguan keamanannya oleh aksi simpatisan IS meski bukan oleh IS langsung. Hal ini sesuai dengan pandangan al-Baghdadi bahwa IS mengutamakan link yang solid dengan jihadis Arab.

IS kelihatannya melalaikan link simpatisan atau faksi di luar Arab misalnya oragnisasi radikal di Pakistan, Indonesia, Filipina meski sudah membikin janji padanya. Alasannya, organisasi non jihadis Arab nggak siap utuk dieksploitasi dan untuk dikembangkan. Sumber : washingtoninstitute.org

Tentu kita wajib mewaspadai pernyataan pejabat IS di atas sebab kenyataannya Indonesia sudah dimasukkan dalam peta the greater caliphate IS dan beberapa aksi teror di tanah air memperoleh apresiasi dari kubu yang menyebut selaku pejabat IS.

Ada dua hal menarik dari pernyataan di atas, yang pertama ialah dapat jadi IS yang ada di tanah air kita sesungguhnya berafiliasi dengan IS di Timur Tengah walaupun pejabat teras IS mengumumkan “nilai jualnya” masih belum sanggup menarik perhatian IS. Di sisi lain hal in memperlihatkan IS di tanah air cuma jadi kaki tangan sejumlah orang radikal yang mengumumkan dirinya pengurus sentral IS.

Atas dasar seluruh penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa :

  • IS akan mengubah arah strateginya kalau kalah berperang di Irak dan Suriah. Mereka akan masuk ke provinsi yang mereka pengakuan yaitu wilayah Arab dan Timur Tengah. Sejumlah “alumni” IS Irak-Suriah yang bertempur di Timur Tengah akan kembali ke negara masing-msaing secara tertutup yang nantinya akan dijadikan kendaraan spratis di negaranya atau masuk ke negara lain yang terbuka peluangnya untuk dieksploitasi oleh IS.
  • IS akan tumbuh dan berkembang bahkan berkuasa tertuama di dalam negara yang sedang bergolak atau sedang mengalami konflik vertikal dan horizontal terutama di negara yang mempunyai kandungan Sumber Daya Alam (terutama minyak atau gas) berlimpah.
  • Maraknya pertumbuhan organisasi radikal di tanah air mengatasnamakan issue agama nggak seluruhnya berafiliasi dengan IS sebab IS sendiri nggak berkeinginan beberapa pada kubu jihadis non Arab sebagaimana penjelasan di atas selain itu motif IS kelihatannya lebih tertarik pada negara yang mengandung SDA berlimpah.
  • Indonesia meski dirundung aksi sabotase dan teror akan tetapi nggak akan menarik minat IS untuk menguasainya sebab nggak ada sumber daya menarik misalnya minyak yang dapat dieksploitasi meski tambang emas di Papua tersedia berlimpah tidak kalah menarik tapi secara defakto tambang itu milik perusahaan ternama AS.
  • Walaupun Indonesia jadi target dalam rencana besar The Greater Caliphate IS akan tetapi ancaman IS nggak akan berlebihan signifikan kepada keutuhan NKRI sebab ditunaikan kelompk berkatagori simpatisan IS.

Atas dasar kesimpulan tersebut kalau dikaitkan dengan beberapa perbedaan pandangan dalam menyaksikan kasus teror Sarinah mungkin inilah karena munculnya perbedaan pandangan antara TNI dan Polri atau BIN dalam menyaksikan pelaku teror Sarinah apakah IS atau bukan.

walau adanya perbedaan pandangan seperti di atas nggak artinya kita menafikan ancaman IS sebab ratusan eks kombatan yang “pulkam” kalau berkolaborasi dengan unsur radikal lainnya dan ditunggangi oleh sponsor (pihak ke 3) untuk mengacaukan tanah air kita. Walaupun tak sama pandangan tapi semuanya setuju siapapun yang berkemungkinan besar merusak dan mengancam keamanan nasional melalui teror akan dihadapi dengan tegas seperti yang terjadi di Sarinah 14/1/2015 lalu.

Terlepas dari pelaku teror Sarinah itu IS atau bukan kita setuju menjaga perdamaian dan keamanan di lingkungan kita dari aksi jahat yang ingin merobek persatuan dan kesatuan kita. Cuma saja cara yang kita tempuh dengan demam tagar berselogan “Kami Tak Takut” seperti itu nggak ditemukan dinegara manapun korban serbuan teror dalam menyikapi kampanye anti teroris di negara meraka.

Satu sisi kita menyaksikan sisi positif mengenai hal keberanian rakyat Indonesia menyikapi aksi radikalisme dalam bentuk dan cara apapun, akan tetapi di sisi lan hal itu (selogan “Kami Tak Takut”) sesungguhnya kurang tepat sebab dikhawatirkan malah diciptkakan pihak ketiga yang ingin menimbulkan antipati pihak lain tertantang mengulangi hal serupa di masa yang akan datang dengan lebih terencana.

Siapapun organisasi radikalnya nggak mudah memecah NKRI kecuali melalui jalan perang proksi mengendari issue politik dan ekonomi. Diaspora IS Irak-Suriah dan sempalan radikal lainnya mungkin sedang bersembunyi menanti order dari pihak ke 3 yang ingin membikin negara kita nggak dapat berkembang bahkan mundur berpuluh tahun lamanya kalau kekacauan akibat proksi itu terjadi.

Munculnya IS di negara sedang bergolak problem internal lalu tumbuh subur dan berkembang sampai pelan tapi pasti mulai mengalami kemunduran ialah pelajaran berharga yang dapat kita petik mengenai hal bagaimana perlunya menjaga persatuan dan kesatuan dan melumpuhkan percobaan kudeta kepada negara melalui permainan politik kotor oleh politkus yang mengatasnamakan kepentingan rakyat padahal menunggangi rakyat untuk menggoyahkan pemerintah yang sah dan berwibawa.

Kiranya kita dapat terhindar dari pengalaman buruk Irak dan Suriah. Maka dari itu Waspadalah, tingkatkan persatuan dan kesatuan kita melalui cara-cara lebih dewasa dalam berpolitik di tengah gencarnya ancaman proksi kepada negara kita.  (AL/ARN/Abanggeutanyo)

Jasa Website Alhadiy

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :