Waktu Malas Ibadah, Apa yang Mesti Dikerjakan?

Website Islam Institute
Loading...

jika pun kita malas shalat, maka segeralah menjerit dan berdoa kepada-Nya supaya diberi hati yang gandrung menanti waktu shalat. Menjeritlah: “Ya Allah, celaka saya jika seperti ini terus menerus…”

Mursyidku pernah menerangkan kenapa dalam Al-Quran ada ayat yang menerangkan bahwa Allah menjadikan angin selaku berita gembira (busran). Kenapa? Kita tentu tahu tidak banyak soal atmosfir di bumi kita. Dahulu kala, orang berlayar dengan kapal yang mempergunakan layar. Angin ialah hal yang vital supaya kapal itu mampu bergerak mengarungi lautan. Nah, yang paling ditakuti oleh para pelaut di masa lalu ialah dead calm.

Apa itu dead calm? Waktu para pelaut terkatung-katung di tengah laut tanpa angin yang mampu menggerakkan kapalnya, dan itu mampu berlangsung berminggu-minggu. Sementara bahan makanan menipis. Akhirnya mereka mampu mati kelaparan di atas laut.

Mintalah kpd Allah Supaya Kita Dijadikan Senantiasa  Mencintai-Nya

Nah begitu pulalah manusia. Kalau Allah enggak menghembuskan ke dalam hatinya dorongan untuk bahkan sekadar menjerit dan berdoa kpd Allah, maka habislah telah. Apa lagi yang tersisa? Maka, bagi siapa pun yang memahami hal ini, saat tiba-tiba dirinya jadi malas beribadah, malas bahkan untuk sekadar berdoa, maka menjeritlah cepat kpd Allah supaya Dia Ta’ala berkenan menghembuskan kembali “angin selaku berita gembira” yang mampu menggerakkan hati kita supaya mau kembali beribadah dan bersegera dalam berjalan kembali kepada-Nya.

Begitu pula dengan shalat selaku tiang agama, sebab bahkan keinginan untuk shalat sekali pun, jika tak sebab Dia kehendaki supaya hati dan badan kita terdorong menegakkannya, jika telah seperti yang Al-Quran tegaskan bagaimana Dia mengunci mati hati seseorang, maka sungguh kita enggak akan tergerak untuk shalat.

loading...

Jadi, jika sampai waktu ini kita masih tergerak untuk beribadah dan berdoa kepada-Nya, seburuk apa pun kualitasnya, syukurilah hal itu, sebab bagaimana pun itu isyarat bahwa Dia masih menghembuskan “angin selaku berita gembira” ke hati kita. Bahkan mintalah kepada-Nya supaya kita makin tergerak lebih mencintai-Nya lagi dan lagi.

Rumi pernah berkata kurang lebih begini: “Kalau ada kilat cinta di hati yang ini, maka niscaya ada kilat cinta di hati yang lain.” Dan di bagian lain Rumi berkata: “Dulu saya mengira bahwa antara Cinta dan Pecinta itu dua hal yang tak sama; ternyata saya salah. Keduanya sama.” Maksudnya, jika tak sebab Allah berkenan mencintai kita maka enggak mungkin kita pun akan tergerak untuk mulai mampu mencintai-Nya.

Jadi, jika pun kita malas shalat, maka segeralah menjerit dan berdoa kepada-Nya supaya diberi hati yang gandrung menanti waktu shalat. Menjeritlah: “Ya Allah, celaka saya jika seperti ini terus menerus…” Sebab jika enggak Dia hembuskan “angin selaku berita gembira” ke hati kita, habislah telah…

Coba lihatlah, betapa beruntungnya bapak ini. meskipun pun miskin dan bekerja selaku pemulung, akan tetapi Allah masih berkenan menghembuskan ‘angin selaku berita gembira’ ke dalam hatinya sehingga dia pun tetap menegakkan ibadah shalat di mana pun.

Bukankah dia amat beruntung bila dibandingkan dengan orang kaya yang enggak tergerak untuk menegakkan shalat sama sekali sebab Allah tak berkenan menghembuskan ‘angin selaku berita gembira’ ke dalam hatinya? La hawla walla quwwata illa billah….

loading...

(by Alfathri Adlin)

Loading...

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :