Wahabi Ikut Ibnu Taymiyah atau Nashiruddin Al Albani ?

IBNU TAIMIYAH VERSUS NASHIRUDDIN AL ALBANI

Oleh : Abu Emha As-Syaidani

Ibnu Taymiyah atau Nashiruddin Al Albani – Sekte Wahabi merupakan sekte dalam Islam yg paling PD waktu mevonis kafir, bid’ah dan sesat pada golongan Islam lain. Bahkan sebagian dari mereka, Muhammad bin Ahmad Basyamil menjelaskan, “Aneh dan ganjil, ternyata Abu Jahal dan Abu Lahab lebih beberapa tauhidnya kpd Allah dan lebih murni imannya kepada-Nya dari pada kaum Muslimin yang bertawassul dengan para wali dan orang-orang saleh dan memohon pertolongan dengan wasilah mereka kpd Allah. Ternyata Abu Jahal dan Abu Lahab lebih beberapa tauhidnya dan lebih tulus imannya dari kaum Muslimin yang mengucapkan -Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasul Allah-.” (lihat Kaifa Nafhamu al-Tauhid, hal. 16).

Entah “bisikan” dari mana, sehingga Abu Lahab yang jelas-jelas di Nash oleh Al Qur’an selaku penghuni neraka, dia katakan mempunyai tauhid lebih beberapa dan lebih ihlas imannya dari muslimin yang mengucapkan “Laa Ilaha Illa Allah”. Kapankah Abu Lahab beriman kpd Allah dan Nabi Saw? Apakah pandangan “nyeleneh” semacam ini disebutkan dalam Nash al qur’an dan Hadist?? Ataukah pandangan ini diriwayatkan dari As-Salafus Shalih?? Apakah “ocehan”  yang “nggladrah”  ini bukan dari bisikan syetan atau nafsu?

Terlepas dari respon pertanyaan ini, firqoh wahabiyah yang kecanduan mengoreksi Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (Al Asya’iroh) yang telah mapan semenjak jaman Al imam Al Asy’ary RA sampai munculnnya Fitnah Wahhabiyah, pernahkah mereka mengoreksi system dan “konstruksi” akidah mereka yang sejatinya terlalu rapuh dan“bergoyang-goyang” bagai telur di ujung tanduk yang tinggal jatuh lalu pecah? Atau seperti pinggul penyanyi panggung yang bergoyang “muter-muter” tak terang juntrungnya? Yang mana hal ini dibuktikan dengan banyaknya perbedaan pandangan di antara mereka dalam prinsip-prinsip akidah??

Ulasan ini mencoba mengekspos Khilafiyah (perbedaan pandangan) antara dua orang tokoh penting dari firqoh wahabiyah yaitu : “Syaihul Islam” Ibnu Taimiyah dan “Imamul Muhadditsin” Nashiruddin Al Albani. Khilafiyah pertama menyangkut Problem Ushul (aqidah) yang konsekwensi logisnya sanggup mengakibatkan salah satunya jatuh dalam kekufuran atau minimal bid’ah. Adapun khilafiyah kedua menyangkut Furu’iyah (fiqhiyah) yang konsekwensinya menurut kaca mata wahabi, salah satunya sanggup jatuh dalam vonis bid’ah.

ANTARA IBNU TAIMIYAH DAN NASHIRUDDIN AL ALBANI, ANDA PILIH SIAPA?

DALAM MASALAH AKIDAH (1)

  1. QIDAMUL ALAM atau AL HAWADIST LA AWWALA LAHA; Qidam ialah ungkapan dari tak adanya permulaan bagi sesuatu.Yang bersifat qidam dinamakan Al Qodim atau Dzat yang tak mempunyai permulaan. Lawan qidam ialah Hudust (baru, ada dari ketiadaan) dan yang mempunyai sifat hudust di menyebut Al Hadist (sesuatu yang ada dari ketiadaan). Ulama Ahlus Sunnah Wal jema’ah Al Asya’iroh berpendapat bahwa qidam secara mutlak cuma disifatkan kpd Allah SWT dan Hudust disifatkan kpd Alam atau mahluk.

Salah seorang tokoh Asyairoh, As-Syahrastani dalam kitab Nihayatul Iqdam (1/1 : Maktabah Syamilah) menjelaskan : مذهب أهل الحق من أهل الملل كلها أن العالم محدث ومخلوق أحدثه الباري تعالى وأبدعه وكان الله تعالى ولم يكن معه شيء “Madzhab Ahlul Haq dari ahli multi agama SEMUANYA ialah sesungguhnya alam di ”ada”kan (Muhdast/Hadist) dan diciptakan. Allah mengadakannya dan menciptakannya dari ketiadaan.. Allah sudah ada tanpa ada sesuatupun (selain-Nya) yang menyertai-Nya”. Perhatikan kata SEMUANYA diatas yang ditulis dengan huruf  balok!!! Dari sini sanggup disimpulkan bahwa Hadist/barunya mahluk merupakan Ijma’  bukan cuma Ijma’ Ulama Islam tapi juga Ijma’ dari pakar-pakar agama selain Islam.

Nah, sekarang bagaimanakah pandangan Ibnu Taimiyah dan Al Albani dalam persoalan ini? Ibnu Taimiyah sebagaimana diungkapkan oleh para ulama berdasarkan literatur teks pada kitab-kitabnya berpendapat adanya “al Hawadist La Awwala Laha” atau Mahluk-mahluk yang tak mempunnyai permulaan. Dalam kitabnya Muwafaqotu shohihi manqulihi li shorihi ma’qulihi (2/75) dia berkata, واما اكثر اهل الحديث ومن وافقهم فانهم لا يجعلون النوع حادثا بل قديما   “Adapun kebanyakan Ahli Hadist dan orang yang sependapat dengan mereka, maka sesungguhnya mereka tak mengkategorikan NAU’ (kategori, alam) selaku sesuatu yang baru tapi Qodim”.

Dari statemen ibnu taimiyah ini, Nampak seperti biasanya dia mengKLAIM bahwa kebanyakan Ahlul Hadis berpendapat seperti pendapatnya bahwa alam ialah qodim. Pertanyaannya, “siapakah yang dimaksud oleh ibnu taimiyah dengan “Aktsaru Ahlil Hadist” tersebut? Siapa dan di kitab apa, mereka menjelaskan adanya alam yang qodim? Apakah ini bukan kebohongan publik dan fitnah kepada Ahlul Hadist?

Padahal faktanya, Kenyataan bahwa Ibnu Taimiyah berpendapat “Al Hadawist Laa Awwala Laha” ini malah memperoleh kritikan tajam dari kalangan Ahlul Hadist seperti : Al hafidz As-Subki (683-756 H) yang mengarang kitab “ad Durrotul Mudliyyah fi al Rad ‘ala Ibni Taimiyah”, dihususkan untuk membantah “kenyelenehan-kenyelenehan Ibnu Taimiyah, al Hafidz Ibnu Hajar, al Hafidz Ibnu Daqiqi al ‘Ied dll.

Dalam prolog kitab “Ad Durrotul Mudliyyah”, As-Subki berkata :  فإنه لما أحدثَ ابنُ تيمية ما أحدثَ في  أصول العقائد، ونقضَ من دعائم الإسلام الأركان والمعاقد، بعد أن كان مستتراً بتبعية الكتاب والسنة، مظهراً أنه داعٍ إلى الحق هادٍ إلى الجنة، فخرج عن الاتِّباع إلى الابتداع، وشذَّ عن جماعة المسلمين بمخالفة الإجماع، وقال بما يقتضي الجسمية والتركيب في الذات المقدسة، وأن الافتقار إلى الجزء ليس بمحال، وقال بحلول الحوادث بذات الله تعالى، وأنَّ القرآن محدَثٌ تكلَّم اللهُ به بعد أن لم يكن، وأنه يتكلم ويسكت ويحدث في ذاته الإرادات بحسب المخلوقات، وتعدى في ذلك إلى استلزام قدم العالم (والتزامه) بالقول بأنه لا أول للمخلوقات……… وكلُّ ذلك وإن كان كفراً شنيعاً مما تَقِلُّ جملته بالنسبة إلى ما أحدث في الفروع

“Sesungguhnya, sesudah Ibnu Taimiyah membikin hal baru dalam usul-usul aqidah dan merusak dari pokok-pokok agama Islam yaitu rukun-rukun dan aqidah, sesudah dia bersembunyi dengan (seakan-akan) mengikuti Al Kitab dan As-Sunnah, menampakkan diri bahwa dia mengajak pada yang Haq dan menujukkan ke sorga. Lalu dia keluar dari Ittiba’ (ikut al Qur’ah-as Sunnah) ke bid’ah, nyleneh dari kaum muslimin dengan menyelisihi ijma’ ulama, dan dia menjelaskan sesuatu yang konsekwensinya pen-jisim-an dan keter-susun-an dalam Dzat Allah Yang Suci, dan sesungguhnya butuhnya (Allah) pada Juz tidaklah mustahil, menjelaskan bertempatnya mahluk pada dzat Allah, Al Qur’an ialah diciptakan yang Allah berbicara dengannya sesudah al Qur’an tak ada, Allah berbicara dan diam, pada Dzatnya terjadi kehendak-kehendak sesuai dengan mahluk-mahluk-Nya, dan berlanjut pada penetapan QIDAM (DAHULU) NYA ALAM dan pandangan TIDAK ADANNYA PERMULAAN BAGI MAHLUK…… dan seluruh (pandangan ibnu taimiyah) tersebut, meski merupakan KEKUFURAN yang jelek, akan tetapi lebih tidak banyak jumlahnya dinisbatkan pada yang sudah di buatnya (Bid’ah?) dalam hal furu’”.

Beda lagi dengan Al Albani yang kayaknya dalam persoalan ini sependapat dengan Asyairoh, sebagaimana dilansir oleh Sayyid Hasan As-Saqof dalam kitab Al Bisyaroh wa al Ithaf hal 17-18, Albani menjelaskan: ”pandangan Ibnu Taimiyah tersebut tak boleh diterima dan mesti dibuang”. Dalam kitabnya Silsilatus shohihah (1/208) waktu mengomentari hadist, “Sesungguhnya sesuatu yang pertama diciptakan allah ialah Al Qolam”, Albani berkata,” فالحديث يبطل هذا القول ويعين ان القلم هو اول مخلوق فليس قبله قطعا اي مخلوق ولقد اطال ابن تيمية الكلام فى رده على الفلاسفة محاولا اثبات حوادث لا اول لها وجاء فى اثناء ذلك بما تحار فيه العقول ولا تقبله اكثر القلوب

“Maka hadist tersebut sudah membatalkan pandangan ini (yang menjelaskan qodimnya alam) dan mengumumkan sesungguhnya Al Qolam ialah awal mahluk. Maka, tak ada sebelum al Qolam -secara pasti- mahluk apapun. Ibnu Taimiyah sudah memanjangkan perkataannya dalam penolakannya kepada para filosof, dengan (Ibnu Taimiyah) mengupayakan penetapan “mahluk-mahluk enggak berawal”. Dan dia datang ditengah-tengah perkataannya dengan sesuatu yang membingungkan nalar dan tak diterima oleh kebanyakan hati”. Al bani meneruskan,

فذلك القول منه غير

مقبول بل هو مر فوض بهذا الحدبث

“Perkataan dari Ibnu Taimiyah tersebut TIDAK BOLEH DITERIMA, bahkan dia (mesti) di TINGGAL/BUANG BERDASAR dasar hadist ini”. Seperti ini kata Albani…. Pertanyaannya sekarang… “di antara dua pandangan yang saling bertentangan ini, manakah yang diikuti oleh sekte wahabi?”. Apakah mereka mengikuti pandangan Ibnu taimiyah “ Al hawadis laa awwala laha” yang mana ijma’ ulama sudah menjelaskan pandangan ini jatuh didalam kekufuran? Ataukah mereka mengikuti Al Albani?

Lalu, apakah kekhilafan fatal Ibnu Taimiyah ini sanggup dimaafkan dari sisi aqidah dan dia memperoleh satu pahala sebab Khotho’ dalam berijtihad? MEREKA SENDIRILAH YANG TAHU JAWABANNYA…

 

Bersambung……………

 

Jasa Website Alhadiy

You might like

About the Author: admin

12 Comments

  1. Dengan bertopengkan “Berpegang kepada al-Qur’an dan as-Sunnah” Wahabi telah berhasil “menipu” manusia2 yang punya ghirah tinggi dalam beragama namun minim bekal ilmu. Sejatinya, mereka bukan berpegang kepada al-Qur’an dan al-as-Sunnah, tapi berpegang pada pemahamannya atas al-Qur’an dan as-Sunnah. Sayangnya pemahaman tersebut tidak didapat dari hasil “membersihkan hati dan otak” dengan riyadhoh.
    Mari kita bentengi keluarga kita dari paham sesat Wahabi.

    1. Alhamdulillah mas @admin atas infonya, sekali lagi alhamdulillah.
      Buat temen2 buku ini bagus, segera dapatkan karena dipasaran selalu kosong.

  2. @kang Ucep, ….”Nah yang bingung Nabinya ikut siapa?, wong Muhammad abdul Wahab mencela Nabi saw tidak mengerti kalimat La Ila Ha Ilallah.” —->>> ini ada di mana disebutkannya Kang ??? jadi pengen tau ane….

  3. Ikut Ibn Taimiyah, syeikh2 wahabi saling mencela Ibn Taimiyah, ikut Albani, setelah terbongkar kejelekan albani, wahabi banyak menukil2 dari Imam 4 Madzhab terutama sekali menukil dari madzhab Imam As Syafi’i.
    Katanya albani belajar agama khususnya ilmu hadist secara otodidak, mana ada belajar agama otodidak?, wong Rasulullah saw aja belajar dengan perantaraan Malaikat Jibril, apa albani juga ???
    Penyebutannya juga, pertama dia ngaku-ngaku Ahlus sunnah wal jamaah, tapi wahabi membenci Imam Asyari’ beserta ajaran2nya, sekarang dia menyebut salafi, yang akhirnya terbongkar jadi Salah Fikir.
    Nah yang bingung Nabinya ikut siapa?, wong Muhammad abdul Wahab mencela Nabi saw tidak mengerti kalimat La Ila Ha Ilallah.
    Jadi kesimpulannya GAK JELAS !!!.

  4. waduuh..minta bantuan nih.. hari ni da yg ngakses ke warkop mbh lalar gk ya?
    ane ngakses kok muncul kata2 spt ni..

    “Forbidden

    You don’t have permission to access / on this server.

    Additionally, a 403 Forbidden error was encountered while trying to use an ErrorDocument to handle the request”.

    maksudnya pa ya? pa mbah lalar kena blokir?/
    thanks

  5. Begitulah Wahabi selalu nggak jelas juntrungannya…. ikut siapa sebenarnya mereka. Ikut Rasulullah juga hanya sebatas klaim saja, ikt Albani juga setengah-setengah, ikut Ibnu Taimiyah juga nggak total makanya Wahabi menjadi aliran yg bukan-bukan, ntahlah siapa yg diikuti mereka…..

KOLOM KOMENTAR ANDA :