Wahabi Aceh Rindu Dihentikannya Perlawanan Muslimin Kepada Wahabi

Wahabi Aceh, Sekelumit Pengantar Redaksi:

Ternyata di Aceh juga ada Pengikut Wahabi, padahal di sana ialah pusatnya ajaran Islam Ahlussunnah Wal jema’ah. Namun sesungguhnya kita ndak perlu heran karena Wahabi sekarang memang telah jadi sebuah gerakan global dengan missi utama memberantas TBC ( tahayul, bid’ah, churafat ) versi mereka sendiri. Walaupun sedemikian idealnya missi mereka, sayang di tengah “perjuangan” mereka seakan menabrak Tembok Cina yang keras. Mereka memperoleh perlawanan sengit dari Ummat Islam di seluruh dunia, enggak terkecuali di Aceh. Di Aceh, Wahabi dilawan oleh Ummat Islam Aceh, sampai-sampai para aktifisnya merasa psimis dan meminta dihentikannya perlawanan Ummat Islam kepada “perjuangan” mereka.

Nah, di bawah ini kami sajikan sebuah artikel yang ditulis oleh Oleh Khairil Miswar seorang aktifis Wahabi di Aceh yang rindu dihentikannya “stigma-stigma” sesat kepada Wahabi. Sesungguhnya bukan stigma-stigma karena di seluruh dunia telah jadi pengetahuan umum yang faktual bahwa Wahabi ialah sesat dalam pemahaman agama Islam. Silahkan ikuti dan cermati artikel di bawah ini niscaya kita akan menemukan begitu beberapa pernyataan -pernyataan apologis (membela diri sebisa-bisanya), dan kita akan jadi amat kasihan ke kaum Wahabi. Wallohu a’lam.

Hentikan Stigma–Stigma Sesat Kepada Wahabi

Sebelum mecatat soal persoalan ini, penulis sempat berpikir ratusan kali soal efek buruk dari sebagian sahabat yang nantinya kebetulan membaca tulisan ini. Sesungguhnya, penentangan yang akan datang dari sebagian sahabat menurut penulis wajar–wajar saja dan merupakan konsekuensi yang wajib diterima sepenuh hati. sebelum ini beberapa tulisan dengan tema hampir serupa, baik yang dimuat oleh Harian Aceh maupun di beberapa media online beberapa memperoleh kritik dan kecaman dengan bahasa yang kurang sedap. Kecaman dan kritik tersebut biasanya terjadi di kolom komentar yang terletak di bawah tulisan (edisi website).

Membaca komentar–komentar enggak sedap tersebut penulis bukannya jadi gentar tapi malah tambah bersemangat untuk mecatat. Kian beberapa komentar (walaupun enggak sedap) setidaknya jadi bukti kecil bagi penulis bahwa tulisan tersebut dibaca orang. Persoalan gagasan dalam tulisan tersebut diterima atau ditolak mentah–mentah itu ialah urusan yang amat ndak penting untuk digubris. Yang penting tulisannya dibaca dulu, dari dua puluh orang pembaca bukan ndak mungkin ada satu orang yang sanggup menerima gagasan atau pandangan penulis.

Bukankah sesuatu yang beberapa itu berawal dari tidak banyak? Hitungan normal senantiasa diawali dari angka satu lantas dilanjutkan dengan dua dan seterusnya. Menurut penulis, beberapa kalimat di atas telah memadai selaku pengantar tulisan singkat ini. Seterusnya kita akan membicarakan sebuah topik simalakama sekaligus dilematis, kritis dan kontroversi tetapi ndak provokatif.

 

Siapa Wahabi?

Bagi sebagian orang (kebanyakan) waktu menguping istilah wahabi wajahnya jadi merah menyala, telinga mengembang (bahasa Aceh; capang puny’ung), tangan mengepal, kaki menghentak dan dilengkapi dengan perjumpaan dua sisi gigi (atas dan bawah) atau dalam bahasa keren sering diistilahkan dengan “kab igoe”. Mereka ialah orang–orang yang (mungkin) salah faham dan ndak mengenal apa itu wahabi. Akan tetapi sedemikian ada sebagian kecil orang (minoritas) yang tersenyum, hati tenang, pikiran dingin sambil tertunduk dan mengucap doa dalam hati. Mereka ialah orang yang kenal baik dengan wahabi atau setidaknya pernah membaca sejarah wahabi.

Syaikh Muhammad bin Manzhur An–Nu’mani dalam “Di’ayaat Mukatsafah Diddu Asy–Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab hal 105–106 sebagaimana dilansir oleh Sofyan Chalid bin Idham Ruray, dalam bukunya “Salafi Antara Tudingan dan Kenyataan”, menyebutkan bahwa sejarah sudah menulis bahwa istilah wahabi pertama sekali disematkan ke Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan pengikutnya oleh penjajah Inggris waktu mereka memperoleh perlawanan keras dari para mujahid India. Seorang ulama dari Al Azhar Mesir, Syaikh Muhammad Hamid Al–Faqi mengumumkan bahwa penisbatan nama Wahabi ke Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab salah dalam bahasa Arab, yang benar penisbatannya ialah Muhammadiyah (bukan wahabiyah) sebab nama beliau ialah Muhammad, sedangkan Abdul Wahab ialah nama ayahnya (Sofyan Chalid: Salafi Antara Tudingan dan Kenyataan, Toobagus Publishing, 2011, hal. 38).

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab lahir di ‘Uyainah (Nejd) pada tahun 1115 H. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab ialah seorang reformis Islam yang sudah berjasa memurnikan Islam dari unsur–unsur syirik, bid’ah dan khurafat yang merajalela di wilayah Nejd dan sekitarnya (Abu Mujahid & Haneef Oliver, Virus Wahabi, Toobagus Publishing, 2010, hal. 120 – 121).

 

Mengkafirkan Kaum Muslimin?

Berkembang fitnah di dunia Islam bahwa Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab mengkafirkan kaum muslimin yang ndak sependapat dengannya. Beliau juga dituduh sudah membawa agama baru yang bertentangan dengan Ahlussunnah Waljama’ah. Isu–isu ini masih amat hangat di Indonesia, khususnya di Aceh mitos ini telah mengakar yang diturunkan oleh seorang guru ke muridnya dalam bentuk dogma yang ndak boleh disanggah. Dalam pandangan penulis, cerita–cerita tersebut ialah fitnah besar yang sengaja dihembuskan oleh orang–orang yang ndak suka dengan dakwah tauhid yang beliau bawa.

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu dalam risalahnyanya menyebutkan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam suratnya yang dikirimkan ke salah seorang ulama Iraq bernama As Suaidi. Dalam surat tersebut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata (mecatat): “Adapun saya menerangkan ke manusia pemurnian agama ke Allah, saya mencegah mereka dari menyeru ke orang–orang yang masih hidup tetapi ndak datang di tempat tersebut atau orang shalih yang sudah mati. Saya juga mencegah mereka dari mempersekutukan Allah. Di antara apa yang anda sebutkan bahwasanya saya mengkafirkan seluruh manusia kecuali yang mengikuti saya, betapa mengherankannya hal ini. Bagaimana hal ini sanggup masuk ke dalam akal seorang yang berakal? Apakah ada seorang muslim yang menjelaskan hal ini? Saya berlepas diri ke Allah dari ucapan yang ndak keluar kecuali dari orang yang kurang akal ini” (Muhammad Jamil Zainu, Mitos Wahabi, terj. Abu Muhammad Farhan&Abu Yusuf, 2010, hal. 45 – 46). Dalam isi surat tersebut Nnampak terang bahwa Syaikh Muhamamd bin Abdul Wahab membantah tudingan dari orang–orang yang anti kepada dakwah beliau.

 

Benarkah Wahabi Sesat?

Bagian kitab yang pernah ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab ialah “Kitabut Tauhid”, di dalamnya beberapa berisi ayat–ayat Al Quran dan juga hadits Nabi Saw.  Dalam kitab tersebut terdapat dalil–dalil soal keutamaan tauhid. Dalam kitab tersebut beliau ndak pernah mengajak untuk menyembah selain Allah, dan malah beliau ialah orang yang paling tegas dalam menolak segala kategori kesyirikan (Muhammad bin Abdul Wahab, Kitab Tauhid, terj. Abu Ismail Fuad, Yogyakarta: Pustaka Al Haura, 2009).

Mengenai hal aqidah yang dianut oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab juga telah beberapa disyarah oleh para ulama, di antaranya Syarah Aqidah Muhammad bin Abdul Wahab yang ditulis oleh Syaih Zaid bin Muhammad Al–Madkhaly. Di dalam kitab tersebut beliau membicarakan secara terang dan rinci soal aqidah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab (Zaid bin Muhammad Al–Madkhaly, Syarah Aqidah Muhammad bin Abdul Wahab, terj. Hanan Hoesin Bahanan, Solo, Pustaka Ar–Rayyan, 2007). Seorang ulama besar Saudi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al–‘Utsaimin juga sudah beberapa melaksanakan pensyarahan kepada kitab–kitab Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, di antaranya Syarah Tsalasatul Ushul yang berisi soal 3 landasan agama; pengetahuan hamba kepada Rabbnya, pengetahuan hamba kepada agamanya, pengetahuan hamba kepada Nabinya (Muhammad bin Shalih Al–‘Utsaimin, Syarah 3 Landasan Agama, terj. Abu ‘Abdirrahman Muhammad, Tegal: Ash – Shaf Media, 2009).

Dari sumber–sumber yang penulis sebutkan di atas ndak ditemukan adanya penyelewengan ataupun kesesatan yang selama ini dituduhkan ke Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Kalau ada sahabat yang ingin memeriksa lebih dalam sanggup mereferensi ke beberapa sumber tersebut dan juga sumber–sumber lain yang ndak mungkin semuanya penulis sebutkan di sini. Penulis menyarankan para sahabat untuk membaca langsung di kitab aslinya. Akan tetapi kalau ndak faham bahasa Arab, para sahabat sanggup juga mencari edisi terjemahan yang telah beberapa beredar di Indonesia.
Jangan Lagi Menghujat

Di akhir tulisan ini penulis mengajak para sahabat yang selama ini telah terlanjur menghujat dan menyesatkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan juga pejuang sunnah lainnya seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Syaikh Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Syaikh Muhammad Abduh, Syaikh Rasyid Ridha, Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Bazz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Syaikh Muhammad Nashieruddin Al Al Bani, Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan dan sederetan ulama lainnya yang ndak mungkin penulis sebutkan semuanya di sini. Berhentilah menghujat mereka, apalagi sebagian dari mereka sudah meninggal dunia dan ndak lagi sanggup membalas fitnah–fitnah yang selama ini kita tuduhkan ke mereka.

Apa gunanya menghujat orang yang telah meninggalkan dunia ini. Kalau memang ada pandangan ataupun fatwa mereka yang mungkin ndak bersesuaian dengan pandangan kita jangan diikuti tanpa perlu mencela. Ulama–ulama tersebut yang oleh sebagian orang diklaim selaku “WAHABI” bukanlah kumpulan malaikat, mereka manusia biasa seperti kita, mereka ndak “ma’shum”. Mereka juga ndak terlepas dari salah dan silap, tetapi berjiwa besarlah kepada kebenaran yang mereka bawa. Kita ndak sanggup menafikan jasa–jasa mereka kepada ummat ini. Kalau ada kesilapan yang sudah mereka lakukan jadikanlah selaku alasan bagi kita untuk mendoakan mereka, jangan sebaliknya menjadikan kesilapan dan kekhilafan mereka selaku bibit kebencian dan alasan untuk menghujat para ulama. Ingatlah, ulama ialah pewaris para Nabi. Wallahul Waliyut Taufiq.[]

Opini: Oleh Khairil Miswar

*Penulis ialah Alumni IAIN Ar Raniry/Peminat Kajian Sosial, Politik dan Keagamaan.

http://harian-aceh.com/2012/01/20/hentikan-stigma-stigma-sesat-terhadap-wahabi

You might like

About the Author: admin

6 Comments

  1. buat tmen2 aswaja, jgn kasih kesempatan sedikitpun buat wahabi. mereka bukan hanya mencuri bahkan merampok masjid. tp buat temen2 yuk..kita terus banyak belajar agama buat diri kita juga utk menangkis ajaran2 mereka. JGN KASIH KESEMPATAN BUAT MEREKA..

  2. Wahabi akan berhenti dan bubar, jika penyokongnya dinasti Saud yg keturunan Yahudi tumbang dari kekuasaannya dan digantikan oleh pemerintahan Islam yang berfaham ASWAJA dan lebih baik lagi jika pemimpinnya dari keturunan Ahlul Bait Nabi Muhammad SAW.

  3. Membaca artikel di atas saya jadi kasihan sama Wahabi. Semoga mereka sadar sehingga bisa gaul dengan tokoh muslimin yang lainnya. Kalau bisa gaul dg tokoh2 selain Salafy sendiri kan enak ya, nggak perlu nulis artikel yg mengharukan di atas.

    Bagaimana ya, sebenarnya Wahabi itu juga muslim kaya kita-kita, cuma congkaknya bikin nyebelin deh.

  4. Wahabi sudah mulai gak nyaman, padahal yg memulai perang kan Wahabi sendiri dg menyebarkan isu-isu bid’ah, syirik kafir dll kepada orang2 Islam selain wahabi. Ketika dijawab (dilawan) dg bukti-bukti mereka jadi gerah. Itulah akibatnya, kau yg memulai kau pula yg ingin menakhiri. Capek deh?

KOLOM KOMENTAR ANDA :