Ustadz & Santri Pasuruan Sidoarjo Belajar Agrobisnis di Kudus

Ustadz & Santri Pasuruan Sidoarjo Belajar Ekonomi Mandiri di Pesantren Enterpreneur Al Mawaddah Kudus

 

Sejumlah Ustadz dan Santri Pasuruan – Sidoarjo tengah belajar teknik menanam dan bisnis tanaman dengan hidroponik. (Dok.LP2M).

 

Islam-Institute, Kudus – Santri dan Ustadz mesti siap berhadapan dengan tantangan ekonomi masa depan yang kian kompleks akibat globalisasi ekonomi. Dalam rangka mempersiapkan diri ke arah itu, Sanntri mesti dibekali skill yang memadai, seperti yang dilaksanakan oleh para santri dan ustadz dari Pasuruan, Sidoarjo.

Pada 29/1/2016, para Ustadz dan Santri dari kabupaten Pasuruan – Sidoarjo mengikuti Aktifitas Orientasi Kewirausahaan Pesantren di Pondok Pesantren Entrepreneur al-Mawaddah, Honggosoco, Jekulo, Kudus.  Aktifitas ini dilaksanakan untuk memberi bekal ke para santri sekaligus membuka wawasan para ustadz untuk lebih terbuka dan ndak gagap berhadapan dengan perkembangan zaman.

“Bekal semacam ini penting untuk diberikan ke para santri supaya sesudah menamatkan pendidikan mereka ndak bingung dan minder berhadapan dengan tantangan kenyataan hidup yang sesungguhnya,” tutur KH. Sofiyan Hadi, Lc, M.A, Pengasuh Pondok Pesantren Entrepreuner al-Mawaddah.

Ndak kurang dari 40 ustadz dan santri mengikuti aktifitas kwira-usahaan ini. Mereka berasal dari para santri dan ustadz Pesantren Nurus Shobah Bangle, Beji, Pasuruan, Pesantren Al Mubarokah Porong, Sidoarjo, Pengurus Lakpesdam Kota Bangil Pasuruan, serta beberapa ustadz yang mengajar di beberapa pesantren yang ada baik di Pasuruan maupun Sidoarjo.

 

 

Acara kegatan entrepreunership ini terselenggara atas kerjasama Lembaga Pemberdayaan Pesantren dan Warga (LP2M) Pati, dengan Pesantren Entrepreneur Al Mawaddah, Kudus. “Kita terlalu sayangkan generasi Muda NU beberapa yang ‘nyebrang’ ke luar dari habitatnya, karena lemah ekonomi. Dan yang lebih dikhawatirkan kalau diantara mereka sampai tergoda oleh propaganda kubu radikal, yang mempergunakan iming-iming dan janji ekonomi, untuk merekrut generasi muda untuk berkoalisi dengan mereka,” begitu Zainul Arifin, ketua LP2M Pati memaparkan.

“Untuk itu, kita seluruh mesti peduli dengan mengembangkan ekonomi kreatif, baik di lingkungan Pesantren, lulusan pesantren, serta masarakat pada umumnya. Supaya mereka dapat terbentengi dari bujukan dan propaganda mereka yang menyesatkan,” pungkasnya.

Dalam acara Orientasi Entrepreneurship yang diadakan di Pesantren Entrepreneur Al Mawaddah, Honggosoco, Jekulo, Kudus ini, mereka dikenalkan dengan dunia kewirausahaan secara teoritis dan praktis. Hal itu diinginkan supaya lingkungan pesantren bahkan juga masjid ndak sebatas berfungsi selaku tempat ibadah saja, tetapi juga berfungsi selaku pemberdayaan ummat.

“Masjid begitu juga halnya pesantren, hendaknya sanggup mempunyai multifungsi, dan ndak sekadar selaku tempat ibadah, tapi mesti dihidupkan selaku pusat pendidikan, kaderisasi keislaman, dan pemberdayaan ummat,” kata Ustadz Hafidz dari Pondok Pesantren Al-Mubarokah, Porong, Jumat (29/1/2016).

 

 

Menurut ustadz Hafidz, para ustadz, santri dan pegiat masjid waktu ini mesti mulai melek dengan bisnis. Dengan bisnis akan jadi kaya dan mandiri. “sesudah itu dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf hidup ummat di kisaran lingkungan pesantren dan berperan memerangi kemiskinan di sekitarnya,” tuturnya.

Ustadz Hafidz menambahkan, telah beberapa pesantren di Kabupaten Pasuruan dan Sidoarjo yang mempunyai kategori usaha tertentu, akan tetapi kebanyakan masih dalam kapasitas terbatas. “Oleh karenanya, acara semacam ini perlu digalakkan, selain untuk silaturrahmi antar manusia pesantren, sharing serta transfer knowledge, dapat juga dijadikan selaku memperluas jaringan pesantren dan ekonomi.”

 

 

Bakda mengikuti workshop, para santri dan ustadz tersebut dikenalkan dengan dunia kewirausahaan secara praktis dengan berkeliling di kebun buah naga yang jadi bagian kategori usaha Pesantren Enterpreneur Al Mawaddah di Honggosoco, Jekulo, Kudus.

“Para santri diajarkan soal spiritual business. Lalu dilanjutkan pelatihan kewirausahaan, seperti pengenalan budidaya sayur dan buah organik, proses pembuatan tepung mocaf dan ragam produknya, misalnya keripik dan ragam kue, dll” tutur Ustad Sofyan Hadi, pengasuh Pesantren entrepreneur Kudus tersebut.

“Kemandirian ekonomidi di lingkungan pesantren dapat membentengi santri dari bahaya pengaruh propaganda radikalisme, tentu saja selain melalui penguautan akidah dan pengetahuan agama,” pungkasnya. (al/za)

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :