Home / Berita Indonesia / Ustadz Maulana Diserang Kelompok Radikal dan Intoleran

Ustadz Maulana Diserang Kelompok Radikal dan Intoleran

Berani Menyuarakan Kebenaran, Ustadz Maulana Diserang Kelompok Radikal dan Intoleran

Islam memperbolehkan umat Manusia memilih sendiri sistem pemerintahan. Memperbolehkan umat Manusia menentukan bentuk pemerintahan tersebut dan siapa-siapa yang akan memimpin berdasarkan musyawarah mufakat (pilihan rakyat), asalkan pemimpin tersebut tidak melarang umat beragama untuk beribadah menurut agamanya masing-masing.

Berani Menyuarakan Kebenaran, Ustadz Maulana Diserang Kelompok Radikal dan Intoleran.

Islam-Institute, JAKARTA – Ustadz Maulana diserang oleh kelompok radikal yang berpemahaman dangkal. Serangan terhadap dirinya karena Ustadz Maulana menyuarakan pendapat yang berbeda dengan pemahaman kaum radikal. Menurut Ustadz Maulana Bahwa Muslim Boleh Tunjuk Pemimpin Non Muslim. Keberanian Ustadz Maulana dalam menyampaikan pendapatnya ini semakin menambah banyak Ustadz populer yang berani terang-terangan menyuarakan pemahaman yang benar tanpa takut dibenci oleh orang-orang yang berpendapat sebaliknya.

Sebelumnya, Ustadz Solmed juga berani mengatakan bahwa Indonesia “Darurat Wahabi”. Mengatakan hal demikian di depan publik membutuhkan keberanian, sebab hal ini bukannya tanpa resiko. Ingat, kaum Wahabi adalah neo khowarij yang terkenal dengan aksi-aksi nekad yang mematikan pihak lain maupun dirinya sendiri.

Di tengah kencangnya suara kaum radikal, maka dibutuhkan keberanian total untu menyuarakan Islam Rohmatan lil Alamin, Islam yang kaffah dari sisi pemahaman berdasarkan kajian Al-Quran dan As-Sunnah. Karena yang dihadapi adalah pemahamn Islam berdasarkan kepentingan kekuasaan dan ekonomi seperti yang sering telah kita lihat. Calon penguasa memberikan harga untuk ayat-ayat yang bisa mendukungnya melaju ke kursi kekuasaan.

Yang harus disadari Umat Islam agar tidak terjerumus dalam pemahaman radikal, bahwa ayat Al-Quran bukan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari secara asal-asalan, serampangan tanpa mempertimbangkan Ababun Nuzul (sebab turun ayat). Maka ketika ada ayat Al-Quran yang berbunyi “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali…”, wali disini tidak harus berarti pemimpin, bisa juga berarti penolong / teman setia.

Asbabun Nuzul dari ayat-ayat tersebut juga merujuk / mengacu kepada orang-orang Kafir yang memusuhi dan memerangi dakwah Nabi Muhammad SAW, yang artinya ayat-ayat tersebut tidak berlaku kepada non muslim yang tidak memusuhi, bahkan hidup rukun dan damai secara harmonis berdampingan dengan umat Islam.

Ustadz Maulana dengan keberaniannya yang polos dan jujur mengingatkan Umat Islam agar tidak melakukan BLACK CAMPAIGN (kampanye hitam). Apalagi sampai mengatas-namakan Islam untuk kepentingan politik, menjual dalil dan ayat tanpa mempertimbangkan Asbabun Nuzul untuk mendiskreditkan seorang pemimpin.

Pemahaman yang dipertunjukkan Ustadz Maulana inilah Islam yang sebenarnya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan MENJADIKAN (MANUSIA) MENJADI KHALIFAH di muka bumi.” Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu (manusia) yang akan membuat kerusakan (pada bumi) dan akan menumpahkan darah?”, Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Quran, Surah Al-Baqarah : 30).

Islam memperbolehkan umat Manusia memilih sendiri sistem pemerintahan. Memperbolehkan umat Manusia menentukan bentuk pemerintahan tersebut dan siapa-siapa yang akan memimpin berdasarkan musyawarah mufakat (pilihan rakyat), asalkan pemimpin tersebut tidak melarang umat beragama untuk beribadah menurut agamanya masing-masing.

Untuk konteks Indonesia, kalau ternyata pemimpin tersebut akhirnya berbuat zalim, maka pasti rakyat akan melawan dan memecatnya berdasar konstitusi yang berlaku. (AL/SFA/MM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Abdurrahman al-Baghdadi, Orang Pertama Kali Pembawa Isu Khlafah di Indonesia

Siapakah Orang Pertama Kali Pembawa Isu Khlafah di Indonesia? Disebut-sebut khilafah mulai ramai sejak tahun ...