Ustadz Firanda Pendusta, Berhujjah dengan Hujjah Dusta dan Palsu (4)

Ustadz Firanda Membungkus Tipu Muslihatnya dengan Sanad-sanad Riwayat Ndak Sah, Mungkar dan Palsu

… Bagian Terakhir dari Sekelumit Usaha Mengungkap Tipu Muslihat Ustadz Firanda

Oleh: ustadz Ahmad Syahid

Ustadz Firanda berkata :

Dan rupanya Abu Salafy sadar bahwasanya tipu muslihatnya ini akan tercium juga –sebab kami percaya Al-Ustadz Abu Salafy Al-Majhuul ialah ustadz yang mengerti akan ilmu hadits, dan mengerti akan definisi hadits shahih, oleh karenanya berani untuk mengkritik As-Syaikh Al-Albani rahimahullah-. Oleh karenanya supaya ndak dituduh dengan tudingan macam-macam, ………

Respon:

Rupanya Ustadz Firanda ndak sadar kalau tipu muslihatnya ini, akan tercium juga sebab kami percaya Al-Ustadz Firanda Al-Makhdzuul ialah ustadz yang mengerti akan ilmu hadits, dan mengerti akan definisi hadits shahih, tapi tetap saja membawakan riwayat-riwayat dengan Sanad yang Ndak sah, Mungkar bahkan Palsu (maudhu`).  Padahal dalam Mukhtashar Al-uluw As-Syaikh Al-Albani pun , mengakui adanya Rawi-rawi yang majhul dalam sanad yang dibawakan Ustadz Firanda dalam pengakuan Ijmaknya itu.  Silahkan lihat Mukhtashor al-uluw al-albani untuk membuktikannya sendiri.

Ustadz Firanda berkata :
maka Al-Ustadz Al-Majhuul cepat membungkusi tipu muslihatnya ini dengan berkata :

warning:

Mungkin kaum Wahhabiyah Mujassimah terlalu keberatan dengan penukilan kami dari para tokoh mulia dan agung keluarga Ahlulbait Nabi saw. dan lantas menuduh kami selaku Syi’ah! Karena sementara ini mereka cuma terbiasa menerima info agama dari kaum Mujassimah generasi awal seperti ka’ab al Ahbâr, Muqatil dkk.. Jadi wajar saja kalau mereka lantas alergi kepada mutiara-mutoara hikmah keluarga Nabi saw. sebab pikiran mereka sudah teracuni oleh virus ganas akidah tajsîm dan tasybîh yang diprogandakan para pendeta Yahudi dan Nasrani yang berpura-pura memeluk Islam!

Dan sikap mereka itu sekaligus bukti keitdak sukaan mereka kepada keluarga Nabi Muhammad saw. seperti yang dikeluhkan oleh Ibnu Jauzi al Hanbali bahwa kebanyakan kaum Hanâbilah itu melenceng dari ajaran Imam Ahmad; imam mereka dan terjebak dalam faham tajsîm dan tasybîh sehingga seakan identik antara bermazhab Hanbali dengan berfaham tajsîm, dan di tengah-tengah mereka terdapat hitungan total yang ndak tidak banyak dari kaum nawâshib yang terlalu mendengki dan tidak suka Ahlulbait Nabi saw. dan membela habis-habisan keluarga tekutuk bani Umayyah; Mu’awiyah, Yazid …. .[ Muqaddimah Daf’u Syubah at Tasybîh; Ibnu Jauzi])) –demikianlah perkataan abu.

Respon:

Malah Ustadz Firanda yang membungkus tipu muslihatnya dengan sanad-sanad riwayat yang ndak sah, Mungkar dan Palsu. Ustadz firanda juga membungkus tipu muslihatnya dengan tekhnik-tekhnik licik dalam bantahannya untuk Abu Salafy ini, semoga para pembaca budiman dapat mencermati hal ini.

Ustadz Firanda berkata :
Lihatlah bagaimana buruknya akhlaq Abu Salafy yang cuma dapat menuduh Ahlus Sunnah dengan tuduhan-tuduhan yang kasar tapi tanpa bukti. Perkataannya ini mengandung beberapa pengakuannya :

1. Dia telah sadar jika bakalan dituduh mengekor Syia’h tapi kenyataannya ialah seperti ini. Oleh karenanya dengan terlalu berani dia mengkutuk Sahabat Mulia Mu’aawiyah radhiallahu ‘anhu. Bukankah ini ialah aqidah Syi’ah Rofidhoh???, bukankah meyakini Allah ndak di atas ialah aqidah Rofidhoh??. Imam Ahlus Sunnah manakah yang mengutuk Mu’aawiyah radhiallahu ‘anhu???!!. Kita Ahlus Sunnah cinta dengan Alu Bait, akan tetapi ternyata seluruh riwayat Alu Bait yang disebutkan oleh sang Ustadz Abu salafy Al-Majhuul riwayat dusta tanpa sanad.

Respon:
1.Ustadz Firanda ndak sadar kalau tipu muslihatnya dalam ” pengakuan Ijmaknya “, melalui riwayat-riwayat yang ndak sah Mungkar bahkan Maudhu’ akan terbongkar?

  1. Ustadz Firanda menuduh ustadz Abu Salafy selaku orang yang berakhlak buruk , sebab katanya Abu Salafy menuduh Ahlu Sunnah (baca: Wahabiyah) tanpa bukti.   Cuma sayang Ustadz firanda lagi-lagi ndak sadar kalau dia juga beberapa menuduh riwayat Abu salfy tanpa bukti,  (seperti tudingan dusta Firanda kepada riwayat Az-zabidi yang dinukil dari Shahifah as-sajaadiyah, yang dilakukannya tanpa bukti ), saya berkeinginan supaya Ustadz Firanda ngaca diri .

3.Ustadz Abu Salafy bukanlah orang yang Maksum, dapat jadi abu Salafy juga membikin kekhilafan. Dan kalau benar (sekali lagi “kalau benar”) Abu Salafy mengutuk Sayidina Mu’awiyah Rodhiallahu anhu saya pun ndak sependapat dengan Abu Salafy dalam kutukannya itu (walaupun mu’awiyah layak memperoleh celaan).  Lagi pula celaan ke Sahabat Nabi ndak cuma Muncul dari kaum syi’ah, karena kaum Wahabiyah pun sama mencela para Sahabat Mulia cuma caranya saja yang tak sama.

  1. Semenjak kapan Wahabiyyun jadi Ahlu Sunnah? Karena bagian ciri Ahlu Sunnah disamping ”ndak mencela Sahabat Nabi” juga ndak menetapkan ”Arah bagi Allah“.  Sedangkan kaum wahabi yang ngaku salafy, mencela Sahabat Nabi (dengan cara yang tak sama dengan Syi’ah) dan menetapkan Arah bagi Allah.

  2. Sukurlah Kalau kaum Wahabiyah “mengklaim”  mencintai Ahlul Bait, cuma saja pengakuan cinta itu ndak pernah berbukti.  Bahkan beberapa bukti memperlihatkan kalau di hati kaum wahabiyyah terlalu tidak suka Ahlal Bait. Contoh kecil dari bukti itu perkataan Ustadz Firanda sendiri:  ”Akan tetapi ternyata ”seluruh” riwayat Ahlu Bait yang disebutkan oleh sang Ustadz Abu salafy Al-Majhuul riwayat dusta tanpa sanad ”.  Cermati kata ”seluruh“,  padahal dua (2) dari 4 riwayat yang dibawakan Ustadz Abu Salafy mempunyai sanad seperti riwayat Abu Nu’aim dan riwayat Al-Hafidz As-sayyid Az-zabidi dalam It-tihafnya.  Akhlak buruk Ustadz Firanda kelihatan terang saat menjelaskan: ”riwayat Dusta” tanpa menyebut Alasan kenapa riwayat itu dicap selaku riwayat Dusta?

Ustadz Firanda berkata :

2. Dia menuduh bahwa Ahlus Sunnah (yang disebut Wahhabiah olehnya) benci kepada keluarga Nabi…, manakah buktinya ada seorang Wahhabi yang benci kepada keluarga Nabi??. Bukankah As-Syaikh Muhammad Bin AbdilWahaab guru besarnya para Wahhabiyyah sudah menamakan enam anak-anaknya dengan nama-nama Alul bait???.

Respon:

Lagi-lagi Ustadz Firanda (wahabiyah) mengakui selaku Ahlu Sunnah? Padahal menetapkan arah dan mencela Sahabat Nabi bukanlah ciri ahlu Sunnah,  sedangkan soal bukti seorang wahabi benci kepada keluarga Nabi terlalu beberapa dua contoh di atas kiranya cukup membuktikan hal itu.  Syeikh Muhammad bin Abdil wahhab boleh saja menamakan anak-anaknya dengan nama Ahlul bait (selaku tameng ), karena yang dibutuhkan ialah bukti nyata dalam Prilaku beragama bukan sekedar penamaan anak .

Ustadz Firanda berkata :
3. Menuduh Muqotil dkk selaku mujassimah. Ana ingin tahu apa maksud dia dengan “dkk”??!!

Respon:

Lagi-lagi Ustadz Firanda berlagak Pilon dan seakan ndak tahu pernyataan Ulama soal Muqotil dan Hajjaj bin yusuf as-saqofi. Menurut saya ini juga trik Firanda untuk menghindar dari tudingan Tasybih dan Tajsim.

Ustadz firanda berkata ;
sesudah kepergok kedoknya dan tipu muslihatnya kepada para Alul Bait, maka Abu Salafy ndak putus asa, maka ia melancarkan tipu muslihat selanjutnya. Yaitu berusaha menukil dari para imam madzhab. Akan tetapi seperti biasa, ia cuma sanggup memperoleh riwayat-riwayat tanpa sanad. Sungguh aneh tapi nyata, sang ustadz berani mengkritik syaikh Al-bani tapi ternyata ilmu hadits yang dipunyai sang ustadz cuma dipakai untuk mengkritik, dan tatkala berbicara soal aqidah –yang terlalu urgen tentunya- ilmu haditsnya dibuang, dan berpegang pada riwayat-riwayat tanpa sanad. Wallahul Musta’aan.

Respon:

Seperti biasa lagi-lagi Ustadz Firanda menuduh tanpa bukti (memfitnah) dengan menjelaskan: ” sesudah kepergok kedoknya dan tipu muslihatnya kepada para Alul Bait”.  Ternyata sekalipun sekolah di Madinah ndak membikin akhlak Ustadz Firanda jadi baik. Karena Ustadz Firanda cuma dapat  menuduh tanpa Bukti, yang artinya Fitnah.  Terlebih dalam pengakuan Ijmaknya pun Ustadz Firanda beberapa membawakan Riwayat Tanpa sanad. Lupakah kalau dia pun melaksanakan hal yang sama? Bahkan jauh lebih parah sebab sebagian riwayat yang dibawakan Ustadz Firanda ialah riwayat Maudhu’ alias Palsu.

Abu Salafy berkata:
Penegasan Imam Abu Hanifah ra.

Di antara nama yang sering juga dimanfa’atkan untuk menyokong penyimpangan akidah kaum Mujassimah Wahhabiyah ialah nama Imam Abu Hanifah, karenanya penting juga kita sebutkan nukilan yang nenegaskan akidah lurus Abuhanifah soal konsep ketuhanan. Di antaranya ia berkata:

ولقاء الله تعالى لأهل الجنة بلا كيف ولا تشبيه ولا جهة حق

”Perjumpaan dengan Allah bagi penghuni surga tanpa bentuk dan penyerupaan ialah haq.”[ Syarah al Fiqul Akbar; Mulla Ali al Qâri:138]))- seperti ini perkatan Abu Salafy

Firanda berkata:
Para pembaca yang budiman marilah kita mengecek kitab-kitab yang merupakan sumber pengambilan riwayat Abu Hanifah yang dilaksanakan Abu Salafy

Berkata Mulla ‘Ali Al-Qoori dalam syarah Al-Fiqh Al-Akbar hal 246 :

“Dan berkata Al-Imaam Al-A’dzom (maksudnya ialah Abu Hanifah-pent) dalam kitabnya Al-Washiyyah : Dan perjumpaan Allah ta’aala dengan warga surga tanpa kayf, tanpa tasybiih, dan tanpa jihah merupakan kebenaran”. Selesai” (Minah Ar-Roudh Al-Azhar fi syarh Al-Fiqh Al-Akbar, karya Ali bin Sulthoon Muhammad Al-Qoori, tahqiq Wahbi Sulaimaan Gowjiy hal 246)

Ternyata riwayat Imam Abu Hanifah di atas berasal dari sebuah kitab yang berujudl “Al-Washiyyah” yang dinisbatkan ke Abu Hanifah.

Sebelum meneruskan pembahasan ini, saya ingin meningatkan pembaca soal sebuah riwayat yang dinisbahkan ke Imam Abu Hanifah.

Riwayat tersebut ialah perkataan beliau rahimahullah :

مَنْ قال لا أعْرِفُ ربِّي في السماء أم في الأرضِ فقد كفر، لأَنَّ اللهَ يقول: {الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى‏}، و عرشه فوق سبع سماواته.

“Sesiapa saja berkata, ‘Saya ndak mengetahui apakah Allah di langit atau di bumi maka ia sungguh-sungguh sudah kafir. Karena Alllah sudah berfirman:

الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى‏.

“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwa di atas Arsy.” (QS. Thâhâ;5)

dan Arsy-Nya di atas tujuh lapis langit.”

Riwayat Abu Hanifah ini termaktub dalam kitab Al-Fiqhu Al-Akbar, dan buku ini sudah dinisbahkan oleh Abu Hanifah. Akan tetapi buku ini diriwayatkan oleh Abu Muthii’ Al-Balkhi.

Al-Ustadz Abu Salafy ndak menerima riwayat ini dengan dalih bahwasanya sanad periwayatan buku Al-Fiqhu Al-Akbar ini tidaklah sah sebab diriwayatkan oleh perawi yang tertuduh dusta.

Abu Salafy berkata :

{(Pernyataan yang mereka nisbahkan ke Abu Hanifah di atas ialah kebohongan dan kepalsuan belaka!! Akan tetapi kaum Mujassimah memang suka memalsu dan junûd, bala pasukan mereka berbahagia dengan penemuan pernyataan-pernyataan palsu seperti contoh di atas!!

Pernyataan itu sungguh-sungguh sudah dipalsukan atas nama Imam Abu Hanifah… perawi yang membawa berita itu ialah seorang gembong pembohong dan pemalsu ulung bernama Abu Muthî’ al Balkhi.

Adz Dzahabi berkata tentangnya, “ia seorang kadzdzâb (pembohong besar) wadhdhâ’ (pemalsu). Baca Mîzân al I’tidâl,1/574.

Tatkala seorang perawi disebut selaku kadzdzâb atau wadhdhâ’ itu artinya ia berada di atas puncak keburukan kualitas… ia ialah pencacat atas seorang perawi yang paling berat. Sedemikian diterangkan dalam kajian jarhi wa ta’dîl !

Imam Ahmad berkata tentangnya:

لا ينبغي أن يُروى عنه شيئٌ.

“Ndak sepatutnya diriwayatkan apapun darinya.”

Yahya ibn Ma’in berkata, “Orang itu ndak berharga sedikitpun.”

Ibnu Hajar al Asqallani menghimpun sederetan komentar yang mencacat perawi andalan kaum Mujassimah yang satu ini:

Abu Hatim ar Razi:

كان مُرجِئا كَذَّابا.

“Ia ialah seorang murjiah pembohong, kadzdzâb.”

Adz Dzahabi sudah memastikan bahwa ia sudah memalsu hadis Nabi, maka untuk itu dapat dilihat pada biografi Utsman ibn Abdullah al-Umawi.” (Lisân al Mîzân,2/335) )} Sedemikian perkataan Abu Salafy sebagaiamana dapat dilihat di

Demikianlah penjelasan Al-Ustadz Abu Salafy Al-Majhuul.

Sekarang saya ingin balik menanyakan ke Pak Ustadz, manakah sanad periwayatan kitab Al-Washiyyah karya Abu Hanifah???

Dan sungguh aneh tapi nyata, ternyata walaupun Ustadz Abu Salafy sudah mengumumkan dusta soal buku Al-Fiqh Al-Akbar yang merupakan periwayatan Abu Muthii’ Al-Balkhi, tapi… ternyata Pak Ustadz Abu Salafy masih juga nekat mengambil riwayat dari buku tersebut.

Respon:

1. Ustadz Firanda menanyakan Sanad riwayat kitab ”Al- Washiyah” perntanyaannya : begitu penting kah ‘ Sanad ” , bagi Ustadz Firaanda? Sehingga menanyakan Sanad Riwayat kitab Al-Washiyah? Karena saat Abu Salafy membawakan riwayat-riwayat yang bersanad pun , tetap saja Ustadz Firanda menolaknya tanpa alasan yang ilmiyah?

2.Bisakah Ustadz Firanda Al-makhdzuul, memperlihatkan dimana letak pernyataan Abu salafy : ” yang sudah mengumumkan dusta soal buku Al-Fiqh Al-Akbar yang merupakan periwayatan Abu Muthii’ Al-Balkhi? Jangan-jangan Fitnah Lagi aja,  karena kata–kata Ustadz Abu salafy ndak menyinggung Nama Kitab. Atau nama buku , yang beliau tolak ialah soal riwayat Ucapan Imam Abu Hanifah “Sesiapa saja berkata, ‘Saya ndak mengetahui apakah Allah di langit atau di bumi maka ia sungguh-sungguh sudah kafir. Karena Alllah sudah berfirman: dst , jadi yang ditolak Abu Salafy bukan kitabnya tapi sebagian isi kitab khususnya pernyataan Imam Abu Hanifah diatas , silahkan Ustadz Firanda cermati kata-kata Abu Salafy : ” ((Pernyataan yang mereka nisbahkan ke Abu Hanifah di atas ialah kebohongan dan kepalsuan belaka!! Akan tetapi kaum Mujassimah (Wahabiyah) memang suka memalsu dan junûd, bala pasukan mereka berbahagia dengan penemuan pernyataan-pernyataan palsu seperti contoh di atas!!

Pernyataan itu sungguh-sungguh sudah dipalsukan atas nama Imam Abu Hanifah… perawi yang membawa berita itu ialah seorang gembong pembohong dan pemalsu ulung bernama Abu Muthî’  al Balkhi.

  1. Sehingga pernyataan ustadz Firanda : ” Dan sungguh aneh tapi nyata, ternyata walaupun Ustadz Abu Salafy sudah mengumumkan dusta soal buku Al-Fiqh Al-Akbar yang merupakan periwayatan Abu Muthii’ Al-Balkhi, tapi… ternyata Pak Ustadz Abu Salafy masih juga nekat mengambil riwayat dari buku tersebut ” .  Pernyataan Ustadz Firanda ini Tampak benar,  semata mata sebab Ustadz Firanda memelintir kata-kata Abu Salafy.  Dari sini kelihatan kalau Ustadz Firanda cuma mencari kemenangan bukan semata-mata mencari Kebenaran.
  2. penolakan Ustadz Abu Salafy di atas (soal kata-kata Imam Abu Hanifah di atas) sama sekali ndak artinya bahwa seluruh isi kitab itu ditolak oleh Abu Salafy.   Walaupun Ustadz Abu salafy menolak Rawinya ( Abu Muthi Al-Bakhli ) sebab kitab Fiqhul Absath itu ialah kitab Fiqhul Akbar itu sendiri,  cuma yang diriwayatkan oleh Hammaad Bin Abi Hanifah disebut Fiqhul Akbar sementara yang diriwayatkan Oleh Abu Muthi ( Rawi yang ditolak Abu Salafy ) disebut / dikenal dengan nama Fiqhul Absath.  Dalam fiqhul Absath itulah terdapat Ucapan Imam Abu Hanifah yang ndak terdapat dalam Fiqhul Akbar , sehingga Abu Salafy menolak kata-kata Imam Abu Hanifah yang terdapat dalam Fiqhul Absath itu, bukan menolak seluruh isi kitab , sebagaimana yang di tuduhkan oleh Ustadz Firanda.  Sehingga sah-sah saja Abu Salafy menukil dari Fiqhul Absath selagi sesuai dengan Fiqhul Akbar, sebab Fiqhul Akbar diriwayatkan oleh Rawi yang tsiqoh (dipercaya).

  3. Dibawah ini, silahkan pembaca yang budiman cermati, betapa lihainya Ustadz Firanda memelintir pernyataan Ustadz Abu Salafy, yang lantas dia modifikasi sehingga dipakai untuk menjatuhkan Abu Salafy

Abu Salafy berkata :
Dan sudah dinukil pula bahwa ia (yaitu abu hanifah) berkata:

قلت: أرأيت لو قيل أين الله تعالى؟ فقال- أي أبو حنيفة-: يقال له كان الله تعالى ولا مكان قبل أن يخلق الخلق، وكان الله تعالى ولم يكن أين ولا خلق ولا شىء، وهو خالق كل شىء.

”Saya (perawi) berkata, ’Bagaimana pandangan Anda kalau saya menanyakan, ’Di mana Allah?’ Maka Abu Hanifah berkata, ’Dikatakan untuk-Nya Dia sudah ada sementara tempat itu belum ada sebelum Dia menciptakan tempat. Dia Allah telah ada sementara belum ada dimana dan Dia belum meciptakan sesuatu apapun. Dialah Sang Pencipta segala sesuatu.” [ Al Fiqhul Absath (dicetak bersama kumpulan Rasâil Abu Hanifah, dengan tahqiq Syeikh Allamah al Kautsari): 25])) seperti ini perkataan Abu Salafy-

Ustad Firanda berkata :
Para pembaca sekalian tahukah anda apa itu kitab Al-Fiqhu Al-Absath?, dialah kitab Al-Fiqhu Al-Akbar dengan periwayatan Abul Muthii’ yang dikatakan dusta oleh Abu Salafy sendiri.

Lihatlah perkataan Al-Kautsari :

“Dan sudah dicetak di India dan Mesir syarh Al-Fiqh Al-Akbar dengan riwayat Abu Muthii’, dan dialah yang dikenal dengan Al-Fiqh Al-Absath untuk membedakan dengan Al-Fiqh Al-Akbar yang diriwayatkan oleh Hammaad bin Abi Haniifah”

Al-Kautsari juga berkata di muqoddimah tatkala mentahqiq Al-Fiqh Al-Absath :

“Dia ialah Al-Fiqhu Al-Akbar yang diriwayatkan oleh Abu Muthii’, dikenal dengan Al-Fiqh Al-Absath untuk membedakannya dengan Al-Fiqhu Al-Akbar yang diriwayatkan oleh Hammad bin Abi Haniifah dari ayahnya. Dan perawi Al-Fiqh Al-Absath yaitu Abu Muthii’ dia ialah Al-Hakam bin Abdillah Al-Balkhi sahabatnya Abu hanifah…”

Sungguh aneh tapi nyata, ternyata Al-Ustadz Abu Salafy yang sudah mengumumkan kedustaan kitab Al-Fiqhu Al-Absath ternyata juga menjadikan kitab tersebut selaku dalil untuk menyokong hawa nafsunya. Maka kita katakan ke Al-Ustadz Abu Salafy–sebagaimana yang ia katakan sendiri- : Anda wahai Abu Salafy.

Yang anehnya dalam buku Al-Fiqhu Al-Absath yang ditahqiq oleh ulamanya Abu Salafy yang bernama Al-Kautsari terdapat nukilan yang “mematahkan punggung” kaum jahmiyyah dan Asyaa’iroh muta’akkhirin, dan neo Asya’iroh seperti Abu Salafy cs. Dalam buku tersebut Abu Haniifah berkata :

Abu Hanifah berkata, “Sesiapa saja berkata, ‘Saya ndak mengetahui apakah Allah di langit atau di bumi maka ia sungguh-sungguh sudah kafir. Sedemikian juga orang yang menjelaskan “Sesunguhnya Allah di atas ‘arsy (tapi) saya ndak tahu apakah ‘arsy itu di langit atau di bumi”

…..

Inilah kitab Al-Fiqh Al-Absath tahqiq Al-Kautsari yang dijadikan pegangan oleh Al-Ustadz Abu Salafy. Ternyata Abu Hanifah mengkafirkan orang yang ndak menjelaskan Allah di atas langit dengan berdalil dengan hadits Jaariyah (budak perempuan) yang tatkala ditanya oleh Nabi “Dimanakah Allah” maka sanga budak mengisyaratkan tangannya ke langit.

Penjelasan saya ini juga saya anggap cukup untuk menyingkap kekhilafan pemilik blog salafytobat (lihat

Respon :
1. Pembaca yang budiman demikianlah kelihaian Ustadz Firanda dalam memlintir kata-kata lawan diskusinya (Ustadz Abu Salafy), yang lantas dengan lihainya dijadikan senjata untuk menjatuhkan Ustadz Abu Salafy. Sebagaimana sudah saya jelaskan diatas. (soal penolakan Ustadz Abu Salafi kepada kata-kata Imam Abu Hanifah yang terdapat dalam Fiqhul Absath).

seterusnya : ……..
Abu Salafy berkata ((Dalam kesempatan lain dinukil darinya (yaitu dari Abu Hanifah):

ونقر بأن الله سبحانه وتعالى على العرش استوى من غير أن يكون له حاجة إليه واستقرار عليه، وهو حافظ العرش وغير العرش من غير احتياج، فلو كان محتاجا لما قدر على إيجاد العالم وتدبيره كالمخلوقين، ولو كان محتاجا إلى الجلوس والقرار فقبل خلق العرش أين كان الله، تعالى الله عن ذلك علوا كبيرا.

”Kami menetapkan (mengakui) bahwa sesungguhnya Allah SWT beristiwâ’ di atas Arsy tanpa Dia butuh kepadanya dan tanpa bersemayam di atasnya. Dialah Tuhan yang memelihara Arsy dan selainnya tanpa ada tidak banyak pun kebutuhan kepadanya. Kalau Dia butuh kepadanya pastilah Dia ndak kuasa mencipta dan mengatur alam semesta, seperti layaknya makhluk ciptaan. Dan kalau Dia butuh untuk duduk dan bersemayam, lalu sebelum Dia menciptakan Arsy di mana Dia bertempat. Maha Tinggi Allah dari anggapan itu setinggi-tingginya.”[ Syarah al Fiqul Akbar; Mulla Ali al Qâri:75]

Pernyataan Abu Hanifah di atas sungguh-sungguh mematahkan punggung kaum Mujassimah yang menamakan dirinya selaku Salafiyah dan malas disebut Wahhâbiyah yang mengaku-ngaku tanpa malu mengikuti Salaf Shaleh, sementara Abu Hanifah, seperti ini pula dengan Imam Ja’far, Imam Zainal Abidin ialah pembesar generasi ulama Salaf Shelah mereka abaikan keterangan dan fatwa-fatwa mereka?! Kalau mereka itu bukan Salaf Sheleh yang diandalkan kaum Wahhabiyah, lalu siapakah Salaf menurut mereka? Dan siapakah Salaf mereka? Ka’ab al Ahbâr? Muqatil? Atau siapa?))- demikianlah perkataan Abu Salafy-

Firanda berkata :
Kami katakan :
1- Isi dari nukilan tersebut sama sekali ndak berententangan dengan aqidah Ahlus Sunnah, sebab Ahlus Sunnah (Wahhabiyah/As-Salafiyah) tatkala mengumumkan Allah beristiwa di atas ‘arsy tidaklah melazimkan bahwasanya Allah memerlukan ‘arsy. Dan ndak ada kelaziman bahwasanya yang berada di atas senantiasa memerlukan yang di bawahnya. Kalau kita perhatikan langit dan bumi maka kita akan menyadari akan hal ini. Bukankah langit berada di atas bumi?, bukankah langit lebih luas dari bumi?, bukankah langit ndak butuh ke bumi? Apakah ada tiang yang di tanam di bumi untuk menopang langit?. Kalau langit yang notabene ialah sebuah makhluq tapi ndak butuh ke yang di bawahnya bagaimana lagi dengan Kholiq pencipta ‘arsy.

Respon :

1. Lagi-lagi ini merupakan perkeliruan dan Talbis (penyamaran dan pencampur-adukan) dari Ustad Firanda. Dia menekankan persoalan pada ”memerlukan” dan ”ndak memerlukan”.  Padahal pernyataan Imam Abu Hanifah yang dinukil ustadz Abu Salafy yang berbunyi : ”Dialah Tuhan yang memelihara Arsy dan selainnya tanpa ada tidak banyak pun kebutuhan kepadanya.” Hanyalah sebuah ”taukid atas lawazim / kelaziman-kelaziman “sesuatu” yang berada pada sesuatu” atau penguatan dari kata kata sebelumnya, silahkan perhatikan perkataan sang Imam :
” ونقر بأن الله سبحانه وتعالى على العرش استوى من غير أن يكون له حاجة إليه واستقرار عليه
Dan kami mengakui Bahwasannya Allah yang maha Suci dan maha Tinggi diatas arsynya Istawa ”, tanpa memerlukan kepadanya dan Tanpa ber-Diam (berada). Di atasnya kata-kata sang Imam yang saya Bold diatas Luput dari pembahasan Ustadz Firanda, atau Ustadz Firanda sengaja melaksanakan Talbis sehingga kata-kata- Sang Imam ndak ditekankan dalam pembahasannya, karena Ustadz Firanda mempunyai Aqidah yang ber-beda dengan Aqidah sang Imam? Aqidah Ustadz Firanda ”Allah berada diatas Arsynya” (mengartikan Istawa dengan Istiqror (ber-diam / berada)”,  sementara Aqidah Imam Abu Hanifah menetapkan Istawa ” Tanpa ber-diam (min ghoiri istiqror) diatas Arsy.

  1. Untuk menyokong Aqidahnya Ustadz Firanda meng-qiyaskan / meng-analogikan Sang Maha Pencipta dengan makhluknya.  Dia mencontohkan kalau Langit ndak butuh ke Bumi, tahukah Ustadz Firanda kalau ndak ada Bumi Niscaya ndak ada langit (secara Logika)? Tahukah Ustadz Firanda, kalau Ndak ada Bawah ndak mungkin ada Atas (secara logika)? Fahamkah Ustadz Firanda apa yang dimaksud dengan kata Butuh (ihtiaj) dan ndak butuh (min ghoiri ihtiaj) dalam problem ini? Saya (Ahmad Syahid) percaya sesungguhnya Ustadz firanda faham, cuma saja hawa Tasybih dan Tajsim begitu dominant dalam hatinya.

Ustadz Firanda berkata :
2- Nukilan dari Abu Hanifah tersebut sesuai dengan aqidah As-Salafiyyah dan bahkan bertentangan dengan aqidah Abu Salafy cs. Bukankah dalam nukilan ini Abu Hanifah menetapkan adanya sifat istiwaa? Dan ndak mentakwil sifat istiwaa sebagaimana yang dilaksanakan oleh Abu Salafy cs??. Abu Hanifah menerangkan bahwasanya Allah beristiwaa (berada di atas) ‘arsy akan tetapi tanpa ada kebutuhan sedikitpun kepada ‘arsy tersebut.

Respon:

1. Lagi-lagi Ustadz Firanda men-Talbis (menyamarkan) duduk persoalan sesungguhnya. Ialah benar kalau Imam Abu Hanifah menetapkan ” Istiwa ”, tapi Ingat, Imam Abu Hanifah ndak memahami ”Istiwa” sebagaimana yang dipahami oleh Ustadz Firanda.  Perhatikan perkataan Imam Abu Hanifah diatas:  ”Dan kami mengakui Bahwasannya Allah yang maha Suci dan maha Tinggi diatas arsynya Istawa”, tanpa memerlukan kepadanya dan Tanpa ber-Diam (berada) diatasnya”.  Bandingkan dengan pemahaman ”Istiwaa”-nya Ustadz Firanda yang memahami ”Istiwa” dengan Istiqror, berdiam dan berada.

  1. Adapun soal takwil , saat Imam Abu Hanifah menetapkan ”Istiwaa” beliau juga menjelaskan :”……………..”  dan Tanpa ber-Diam (berada) diatasnya”. Inilah Tafwidh atau Takwil Ijmali yang dilaksanakan oleh Imam Abu Hanifah ra, beliau ndak mengartikan Istiwaa dengan ”makna asalnya” yaitu : ”Istiqror” ( ber-diam / berada ).  Oleh sebab itu beliau katakan: min ghoiri Istiqror alaihi, semoga Ustadz Firanda faham.

ustad Firanda berkata :
3- Oleh karenanya kita katakan bahwa bahkan nukilan ini merupakan boomerang bagi Abu Salafy cs yang senantiasa mentakwil istiwaa’ dengan makna istaulaa (menguasi) –dan inysaa Allah hal ini akan dibicarakan pada kesempatan lain. Bahkan dalam halaman yang sama yang ndak dinukil oleh Abu Salafy ternyata Mulla ‘Ali Al-Qoori menyebutkan riwayat dari Abu Hanifah yang membungkam Ustadz Abu Salafy cs. Marilah kita menyaksikan langsung lembaran tersebut yaitu dari buku Syarh Al-Fiqh Al-Akbar karya Mulla ‘Ali Al-Qoori (hal 126)

Dan Abu hanifah rahimahullah ditanya soal bahwasanya Allah subhaanahu turun dari langit. maka beliau menjawab : Allah turun, tanpa (ditanya) bagaimananya, …

Bukankah dalam nukilan ini ternyata Abu Hanifah menetapkan sifat nuzuulnya Allah ke langit dunia?, Abu Hanifah menetapkan hal itu tanpa takwil dan tanpa menanyakan bagaimananya. Sebab memang bagaimana cara turunnya Allah ndak ada yang menetahuinya.

Respon :

Malah nukilan ini makin memperjelas kalau Imam Abu Hanifah menetapkan Tafwidh atau Takwil Ijmali , dan memperjelas kalau Imam Abu Hanifah ndak mengartikan Istiwa dengan Istiqror (berdiam / berada).  Dari nukilan ini makin mempertegas perbedaan antara Aqidah Imam Abu Hanifah dengan Aqidah Ustadz Firanda.

Berkata Abu Salafy :
Penegasan Imam Syafi’i (w. 204 H)

Sudah dinukil dari Imam Syafi’i bahwa ia berkata:

إنه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه المكان لا يجوز عليه التغيير في ذاته ولا التبديل في صفاته.

”Sesungguhnya Allah –Ta’ala- tel;ah ada sedangkan belum ada temppat. Lalu Dia menciptakan tempat. Dia tetap atas sifat-Nya semenjak azali, seperti sebelum Dia menciptakan tempat. Mustahil atas-Nya perubahan dalam Dzat-Nya dan pergantian pada sifat-Nya.”[ Ithâf as Sâdah,2/24])) – seperti ini perkataan Abu Salafy –

Firanda berkata :
Para pembaca yang budiman marilah kita menyaksikan sumber pengambilan Abu Salafy secara langsung dari kitab Ithaaf As-Saadah Al-Muttaqiin 2/24

Ana katakan bahwasanya –sebagaimana kebiasaan Abu Salafy- maka seperti ini juga dalam penukilan ini Abu Salafy menukil perkataan Imam As-Syaafi’i tanpa sanad, maka kami berkeinginan pak Ustadz Abu Salafy cs untuk mendatangkan sanad periwayatan dari Imam As-Syafii ini.

Respon :

Gaya ustadz Firanda yang seakan berjiwa besar dan bertindak Ilmiyah , nyatanya kalau didatangkan sanadnya dia akan tolak lagi dengan menjelaskan: “Mana Bioghrafi para rawinya? mana Hasil Takhrijnya? Apakah diambil dari sumber-sumber dipercaya? Dan lain sebagainya”. Padahal Ustadz Firanda sendiri membawakan riwayat tanpa sanad, dan kalaupun bersanad Ustadz Firanda juga ndak menyertakan bioghrafi para rawinya, ndak pula menyertakan hasil Takhrijnya. Oleh sebab itu sebelum menanyakan dan meminta pada orang lain sebaiknya Ustadz Firanda Instrospeksi diri.

Abu Salafy berkata :
Penegasan Imam Ahmad ibn Hanbal (W.241H)

Imam Ahmad juga mengatakan dengan tegas akidah serupa. Ibnu Hajar al Haitsami mengatakan dengan tegas bahwa Imam Ahmad tergolong ulama yang mensucikan Allah dari jismiah dan tempat. Ia berkata:

وما اشتهر بين جهلة المنسوبين إلى هذا الإمام الأعظم المجتهد من أنه قائل بشىء من الجهة أو نحوها فكذب وبهتان وافتراء عليه.

”Adapun apa yang tersebar di kalangan kaum jahil yang menisbatkan dirinya ke sang imam mulia dan mujtahid bahwa beliau meyakini tempat/arah atau semisalnya ialah kebohongan dan kepalsuan belaka atas nama beliau.”[ Al Fatâwa al Hadîtsiyah:144.] –seperti ini perkataan Abu Salafy-

Firanda berkata :
Pada nukilan di atas sangatlah terang bahwasanya Abu Salafy ndak sedang menukil perkataan Imam Ahmad, akan tetapi sedang menukil perkataan Ibnu Hajar Al-Haitsami soal Imam Ahmad. Ini merupakan tadliis dan talbiis. Abu Salafy membawakan perkataan Ibnu Hajr Al-Haitsami ini dibawah sub judul “Penegasan Imam Ahmad”, tapi ternyata yang ia bawakan bukanlah perkataan Imam Ahmad apalagi penegasan. Semestinya sub judulnya : “Penegasan Ibnu Hajr Al-Haitsami”.

Respon:

Ya telah tinggal ganti aja sub judulnya jadi “Penegasan Ibnu Hajr Al-Haitsami”. Silahkan ustadz firanda menkomentarinya, jangan Cuma mengalihkan perhatian pada soal lain.

Abu Salafy berkata:
Penegasan Imam Ghazzali:

Imam Ghazzali mengatakan dengan tegas dalam kitab Ihyâ’ ‘Ulûmuddîn-nya,4/434:

أن الله تعالى مقدس عن المكان ومنزه عن الاقطار والجهات وأنه ليس داخل العالم ولا خارجه ولا هو متصل به ولا هو منفصل عنه ، قد حير عقول أقوام حتى أنكروه إذ لم يطيقوا سماعه ومعرفته ”

“Sesungguhnya Allah –Ta’ala- Maha suci dari tempat dan suci dari penjuru dan arah. Dia ndak di dalam alam ndak juga di luarnya. Ia ndak bersentuhan dengannya dn ndak juga berpisah darinya. Sudah membikin bingun akal-akal kaum-kaum sehingga mereka mengingkari-Nya, sebab mereka ndak sanggunp menguping dan mengertinya.”

Dan beberapa keterangan serupa beliau utarakan dalam berbagai karya berharga beliau.

Penegasan Ibnu Jauzi

Ibnu Jauzi juga mengatakan dengan tegas akidah Isla serupa dalam kitab Daf’u Syubahi at Tasybîh, ia berkata:

وكذا ينبغي أن يقال ليس بداخل في العالم وليس بخارج منه ، لان الدخول والخروج من لوزام المتحيزات.

“Sedemikian juga mesti dikatakan bahwa Dia ndak berada di dalam alam dan ndak pula di luarnya. Karena masuk dan keluar ialah konsekuensi yang mesti dialami benda berbentuk.”[ Daf’u Syubah at Tasybîh (dengan tahqiq Sayyid Hasan ibn Ali as Seqqaf):130])) –seperti ini perkataan Abu Salafy-

Firanda berkata :

Rupanya tatkala Abu Salafy ndak sanggup untuk menemukan satu riwayatpun dari kalangan salaf dengan sanad yang shahih yang menyokong aqidah karangannya maka ia terpaksa mengambil perkataan para ulama mutaakhkhiriin semisal Al-Gozaali yang wafat pada tahun 506 H dan Ibnu Jauzi yang wafat pada tahun 597 H.

Adapun Al-Gozaali maka Abu Salafy menukil perkataannya dari kitab Ihyaa ‘Uluum Ad-Diin. Sesungguhnya para ulama sudah mengingatkan akan kerancuan pemikian aqidah Al-Gozaali dalam kitabnya ini. Diantara kerancuan-kerancuan tersebut perkataan Al-Gozaali :

“Dihikayatkan bahwasanya Abu Turoob At-Takhsyabi kagum dengan seorang murid, Abu Turob mendekati murid tersebut dan mengurusi kemaslahatan-kemaslahatan sang murid, sedangkan sang murid sibuk dengan ibadahnya dan wajd-wajdnya. Pada suatu hari Abu Turob berkata ke sang murid, “Jika seandainya engkau menyaksikan Abu Yaziid”, sang murid berkata, “Saya sibuk”. Tatkala Abu Turob terus menerus dan serius mengulang-ngulangi perkataannya, “Jika seandainya engkau menyaksikan Abu Yaziid”, akhirnya sang muridpun berkata, “Memangnya apa yang saya lakukan kepada Abu Yaziid, saya sudah menyaksikan Allah yang ini telah cukup bagiku sehingga saya ndak perlu dengan Abu yaziid”. Abu Turoob berkata, “Maka dirikupun naik pitam dan saya ndak dapat menahan diriku, maka saya berkata kepadanya : “Celaka engkau, janganlah engkau terpedaya dengan Allah Azza wa Jalla, jika seandainya engkau menyaksikan Abu Yaziid sekali maka lebih berguna bagimu daripada engkau menyaksikan Allah tujuh puluh kali”. Maka sang muridpun tercengang dan mengingkari perkataan Abu Turoob. Iapun berkata, “Bagaimana dapat seperti ini?”. Abu Turoob berkata, “Celaka engkau, bukankah engkau menyaksikan Allah di sisimu, maka Allahpun nampak untukmu sesuai dengan kadarmu, dan engkau menyaksikan Abu Yaziid di sisi Allah dan Allah sudah nampak sesuai dengan kadar abu Yaziid”. Maka sang murid faham dan berkata, “Bawalah saya ke Abu Yaziid”…

Saya berkata ke sang murid, “Inilah Abu Yaziid, lihatlah dia”, maka sang pemuda (sang murid)pun menyaksikan Abu Yaziid maka diapun pingsan. Kami lalu menggerak-gerakan tubuhnya, ternyata ia sudah meninggal dunia. Maka kamipun saling bantu-membantu untuk menguburkannya. Akupun berkata ke Abu Yaziid, “Penglihatannya kepadamu sudah membunuhnya”. Abu Yaziid berkata, “Bukan seperti ini, akan tetapi sahabat kalian tersebut sungguh-sungguh dan sudah menetap dalam hatinya rahasia yang ndak terungkap kalau dengan pensifatan saja (sekedar cerita saja). Tatkala ia melihatku maka terungkaplah rahasia hatinya, maka ia ndak sanggup untuk memikulnya, sebab dia masih pada tingkatan orang-orang yang lemah yaitu para murid, maka hal ini membunuhnya”.

Al_Gozzaalii mengomentari cerita ini dengan berkata, “Ini merupakan perkara-perkara yang mungkin terjadi. Barangsiapa yang ndak memperoleh sedikitpun dari perkara-perkara ini maka hendaknya jangan sampai dirinya kosong dari pembenaran dan beriman kepada mungkinnya terjadi perkara-perkara tersebut….”

Oleh karenanya para ulama mengingatkan akan kerancuan-kerancuan yang terdapat dala kitab Ihyaa’ uluum Ad-Diin.

Yang anehnya… diantara para ulama yang keras dalam mengingatkan kerancuan kitab ini ialah Ibnu Jauzi sendiri.

Ibnul Jauzi berkata (dalm kitabnya Talbiis Ibliis, tahqiq DR Ahmad bin Utsmaan Al-Maziid, Daar Al-Wathn, 3/964-965):

Dan datang Abu haamid Al-Gozzaali lalu iapun mecatat kitab “Ihyaa (Uluum Ad-Diin-pent)”… dan dia memenuhi kitab tersebut dengan hadits-hadits yang batil –dan dia ndak mengetahui kebatilan hadits-hadits tersebut-. Dan ia berbicara soal ilmu Al-Mukaasyafah dan ia keluar dari aturan fiqh. Ia berkata bahwa yang dimaksud dengan bintang-bintang, matahari, dan rembulan yang dilihat oleh Nabi Ibrohim merupkan cahaya-cahaya yang cahaya-cahaya tersebut merupakan hijab-hijabnya Allah. Dan bukanlah maksudnya benda-benda langit yang telah ma’ruuf.”. Mushonnif (Ibnul Jauzi) berkata, “Perkataan seperti ini sejenis dengan peraktaan firqoh Bathiniyah”. Al-Gozzaali juga berkata di kitabnya “Al-Mufsih bil Ahwaal” : Sesungguhnya orang-orang sufi mereka dalam kondisi terjaga menyaksikan para malaikat, ruh-ruh para nabi, dan menguping suara-suara dari mereka, dan mengambil faedah-faedah dari mereka. Lalu keadaan mereka (yaitu orang-orang sufi) pun makin meningkat dari menyaksikan bentuk jadi tingkatan derajat-derajat yagn sulit untuk diucapkan”

Dan masih beberapa perkataan para ulama yang mengingatkan akan bahayanya kerancuan-kerancuan pemikiran Al-Gozzaali, diantaranya At-Turtusi, Al-Maaziri, dan Al-Qodhi ‘Iyaadh.

Maka saya jadi menanyakan soal kitab Ihyaa Uluum Ad-Diin, apakah kita mengikuti pandangan Ustadz Abu Salafy yang majhuul untuk menjadikan kitab tersebut selaku sumber aqidah?, ataukah kita mengikuti perkataan Ibnu Jauzi??

Adapun perkataan Ibnul Jauzi maka sesungguhnya Ibnul Jauzi dalam problem tauhid Al-Asmaa was sifaat mengalami kegoncangan, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Rojab Al-Hanbali. Beliau berkata :

“Dan diantara karena kritkan orang-orang kepada Ibnul Jauzi –yang ini merupakan karena marahnya sekelompok syaikh-syaikh dari para sahabat kami (yaitu syaikh-syaikh dari madzhab hanbali-pent) dan para imam mereka dari Al-Maqoodisah dan Al-’Altsiyyiin mereka marah kepada condongnya Ibnul Jauzi kepada takwiil pada beberapa perkatan Ibnul Jauzi, dan keras pengingkaran mereka kepada beliau soal takwil beliau.

Walaupun Ibnul Jauzi punya wawasan luas soal hadits-hadits dan atsar-atsar yang berhubungan dengan pembahasan ini cuma saja beliau ndak mahir dalam menghilangkan dan menerangkan rusaknya syubhat-syubhat yang dilontarkan oleh para ahli kalam (filsafat). Beliau mengagungi Abul Wafaa’ Ibnu ‘Aqiil… dan Ibnu ‘Aqiil mahir dalam ilmu kalam akan tetapi ndak mempunyai ilmu yang sempurna soal hadits-hadits dan atsar-atsar. Oleh karenanya perkataan Ibnu ‘Aqiil dalam pembahasan ini mudhthorib (goncang) dan pendapat-pendapatnya beragam (ndak satu pendapat-pent), dan Abul Faroj (ibnul Jauzi) juga mengikuti Ibnu ‘Aqiil dalam keragaman tersebut.” (Adz-Dzail ‘alaa Tobaqootil Hanaabilah, cetakan Daarul Ma’rifah, hal 3/414 atau cetakan Al-’Ubaikaan, tahqiq Abdurrahman Al-’Utsaimiin 2/487)

Para pembaca yang budiman, Ibnu Rojab Al-Hanbali sudah menerangkan bahwasanya aqidah Ibnul Jauzi dalam problem tauhid Al-Asmaa’ was Sifaat tidaklah stabil, bahkan bergoncang. Dan Ibnul Jauzi –yang bermadzhab Hanbali- sudah diingkari dengan keras oleh para ulama madzhab Hanbali yang lain. Karena ketidakstabilan tersebut sebab Ibnul Jauzi beberapa mengikuti pandangan Ibnu ‘Aqiil yang tenggelam dalam ilmu kalam (filsafat).

Respon:

Terlalu disayangkan Ustadz Firanda ndak menyertakan perkataan Ibnu Rojab Al-hanbali seperti yang dinukil oleh Al-Imam At-taqi al-Hashni yang sezaman dengannya dalam kitab Daf’u Syabah man Syabbah wa tamarrad halaman 123, yang menjelaskan : Ialah Syeikh Zainuddin Ibn Rojab Al-hanbali yang meyakini Kafirnya Ibnu Taimiyah dan beliau mempunyai tulisan selaku bantahan Untuk Ibnu Taimiyah , dan beliau (Ibn Rojab) berkata dengan suara yang paling lantang dalam majlis-majlis (Ilmu-pent ), As-subki mempunyai Udzur untuk mengkafirkan Ibnu Taimiyah. Lihatlah dan resapi pernyataan Ibnu rojab untuk Ibnu Taimiyah Imam Ustadz Firanda dan All Wahhabi.

Adapun pernyataan Ibnu Rojab yang dibawakan Ustadz firanda ialah pernyataan sebelum Ibnu Rojab Tobat dari Aqidah tasybih dan Tajsim, adapun sesudah Taubat dari Aqidah Ibnu Taimiyah itulah perkataannya sebagaimana saya nukil diatas.

Ustadz Firanda berkata :
Ibnul Jauzi dalam kitabnya Talbiis Ibliis menyokong madzhab At-Tafwiidh, sedangkan dalam kitabnya Majaalis Ibni Jauzi fi al-mutasyaabih minal Aayaat Al-Qur’aaniyah menetapkan sifat-sifat khobariyah, dan pada kitabnya Daf’ Syubah At-Tasybiih menyokong madzhab At-Takwiil (lihat penjelasan lebih lebar dalam risalah ‘ilmiyyah (thesis) yang berjudul “Ibnul Jauzi baina At-Takwiil wa At-Tafwiidh” yang ditulis oleh Ahmad ‘Athiyah Az-Zahrooni. Dan dapat didownload di

 

Respon:

Tafwidh dan Takwil ialah manhaj atau metodologi yang dipakai ulama Ahlu Sunnah (Asyariyah) dalam memahami ayat mutasyabihat. Jadi ndak aneh kalau Ibnu Jauzi mempergunakan dua metodologi itu, dan sama sekali ndak memperlihatkan kegoncangan Aqidah Imam ibnu Jauzi, sebab dua manhaj itulah yang dipakai Ahlu Sunnah ( Asyariyah).  Yang aneh bahkan Ustadz Firanda dan kelompoknya yang menolak Tafwidh juga Takwil, disamping juga memperlihatkan kegoncangan Aqidah Ustadz Firanda sampai-sampai terjebak dalam Filsafat ”arah yang ndak ber-wujud.”

Ustadz Firanda berkata:
Adapun perkataan Ibnu Jauzy rahimahullah sebagaimana yang dinukil oleh Abu salafy yaitu :

وكذا ينبغي أن يقال ليس بداخل في العالم وليس بخارج منه ، لان الدخول والخروج من لوزام المتحيزات.

“Sedemikian juga mesti dikatakan bahwa Dia ndak berada di dalam alam dan ndak pula di luarnya. Karena masuk dan keluar ialah konsekuensi yang mesti dialami benda berbentuk

Maka saya katakan :
Pertama : Abu Salafy kurang tepat tatkala menerjemahkan “Al-Mutahayyizaat” dengan benda berbentuk. Yang lebih tepat ialah kalau diterjemahkan dengan “perkara-perkara yang bertempat”.

Respon:

Ustadz firanda dapat meng-koreksi penterjemahan tapi sayang tetap saja salah dalam memahaminya. Ndak tahukah Ustadz Firanda kalau “perkara-perkara yang bertempat”  niscaya perkara-perkara itu berbentuk? Allah maha Suci dan Maha Tinggi dari sifat-sifat ber-tempat dan berbentuk, sebagaimana tergambar dalam Aqidah Bathil Ustadz Firanda.

Ustadz Firanda berkata :
Kedua : Jika kita sungguh-sungguh merenungkan perkataan Ibnul Jauzy ini maka sesungguhnya perkataan ini bertentangan dengan penjelasan Imam Ahmad sebagaimana sudah lalu tatkala Imam Ahmad berkata :”Kalau engkau ingin tahu bahwasanya Jahmiy ialah seorang pendusta tatkala menyangka bahwsanya Allah di seluruh tempat bukan pada satu tempat tertentu, maka katakanlah : Bukankah Allah dahulu (sendirian) tanpa sesuatu?. Maka ia akan menjawab : Iya. Katakan lagi kepadanya, “Tatkala Allah menciptakan sesuatu apakah Allah menciptakan sesuatu tersebut dalam dzat Allah ataukah di luar dzat Allah?”. Maka jawabannya cuma ada 3 kemungkinan, dia pasti memilih bagian dari 3 kemungkinan tersebut.

Kalau dia menyangka bahwasanya Allah menciptakan sesuatu tersebut di dalam dzat Allah maka ia sudah kafir tatkala ia menyangka bahwasanya jin dan para syaitan berada di dzat Allah.

Kalau dia menyangka bahwasanya Allah menciptakannya di luar dzat Allah lantas Allah masuk ke dalam ciptaannya maka ini juga merupakan kekufuran tatkala ia menyangka bahwasanya Allah masuk di tiap-tiap tempat dan wc dan tiap-tiap kotoran yang buruk.

Kalau ia menjelaskan bahwasanya Allah menciptakan mereka di luar Dzat-Nya lantas ndak masuk dalam mereka maka ia (si jahmiy) sudah meninggalkan seluruh aqidahnya dan ini ialah perkataan Ahlus Sunnah” (Ar-Rod ‘alaa Al-Jahmiyyah wa az-Zanaadiqoh hal 155-156)

Terang di sini perkataan Imam Ahmad bin Hanbal mengumumkan bahwa Allah di luar ‘alam, ndak bersatu dengan makhluknya. Hal ini terang bertentangan dengan peraktaan Ibnu Jauzi yang berafiliasi ke madzhabnya Imam Ahmad bin Hanbal.

Respon:

1.Aqidah Jahmiyah menjelaskan: “Allah berada pada seluruh tempat dengan Dzatnya”.  Aqidah Mu’tazilah menjelaskan: “Allah berada pada seluruh tempat dengan Ilmunya”. Aqidah Ahlu Sunnah ( Asy`ariyah ) menjelaskan: “Allah ada tanpa tempat dan tanpa Arah”. Sementara Aqidah sekte Karomiyah menjelaskan: “Allah berada pada Arah atas”. Nah, Aqidah sekte Karomiyah ini percis sama dengan Aqidah Ustadz Firanda cs.

  1. Sekali lagi kita katakan: “Katakanlah kita terima kalau kitab Ar-rodd ala Jahmiyah ialah kitab Asli karya Imam Ahmad Ibnu Hanbal , tetap saja pemahaman : Baa-inun min Kholqih ” bukanlah artinya ”terpisah dari makhluknya”, bukan pula artinya bahwa Allah di luar Alam sebagaimana salah difahami oleh Ustadz firanda.  Makna yang benar dari kata Baaa-inun ialah sebagaimana diterangkan Oleh al-Hafidz Al-Baihaqi dalam al-asma wa as-sifat halaman 382 bab hal-hal yang datang dalam Firman Allah : ”Ar-rohman ala Arsy Istawa” beliau berkata : ”di atas sesuatu tak sama darinya dengan makna sesuatu itu ndak menempatinya, ndak pula tempat itu menempatinya, ndak menyentuhnya ndak pula menyerupainya. Dan Bainunah (baaa-inun) bukanlah terpisah, maha suci Allah Robb (tuhan-pen) Kami dari Hulul (menduduki dan menempel, begitu juga Bainunah bukan artinya terpisah dan menjauh sebab hal itu Mustahiil bagi Allah. (Alasma wa as-sifat hal 217).  Penjelasan ini senada dengan penjelasan Imam Al- Khuthobi dalam kitab A`lamul Hadist halaman 187. Pertanyaannya apakah Ustadz Firanda lebih Faham dari Al-Imam Al-Hafidz Al-Baihaqi…? Sehingga mengartikan lafadz ”Baa-inun ” dengan terpisah bahkan jauh diluar alam sana …? Adakah Ulama Ahlu Sunnah yang memahami kata “Baa-inun” seperti yang difahami Ustadz Firanda…?
  2. Saya minta ke Ustadz Firanda untuk memperlihatkan dimanakah letak kata-kata Imam Ahmad yang menjelaskan : ”Bahwa Allah di luar ‘alam”, di alinea ke berapa atau di baris ke berapa…? Perkataan Imam Ahmad yang ustadz Firanda Nukil dari kitab AR-Rodd alal Jahmiyah sama sekali ndak ada yang memperlihatkan kalau Imam Ahmad menjelaskan ”bahwa Allah di luar ‘alam”.  Pernyataan ini murni dari Ustadz Firanda yang salah dalam memahami perkataan Imam Ahmad ”Baaa-inun min Kholqihi” yang sekaligus memperlihatkan Tadlis dan plintiran perkataan Imam Ahmad oleh Ustadz Firanda. ( jika saya boleh pinjam istilah bahasa Ustadz Firanda:  ”Ber Dusta atas nama Imam Ahmad ” )

  3. Berkata Al-Imam Al-Hafidz An-nawawi dalam kitabnya Roudhotu Tholibin 10/ 64 : “Sesungguhnya sebagian dari perkara-perkara yang menyebabkan kemurtadan dari Agama Islam dan menjadikannya kafir dalam i’tiqod ialah menetapkan bagi Allah sifat ”Bersatu” maupun ”terpisah” dengan Makhluknya. Penjelasan ini senada dengan penjelasan Imam Al-Baihaqi juga Imam Al- Khuthobi sehingga pernyataan Imam Ibn Jauzi senada dan selaras dengan para Imam Lainnya yang ndak mensifati terpisah maupun bersatu dengan Makhluknya.

  4. Pernyataan Imam Ahmad di atas yang dinukil Ustadz Firanda Malah bertentangan dengan Aqidah Ibnu Taimiyah (imamnya Firanda cs) yang menjelaskan : ”Bahwa Allah menciptakan Makhluknya dalam dirinya” ( Mahallan lil Hawadist ). Sementara Imam Ahmad menjelaskan : ” Kalau dia menyangka bahwasanya Allah menciptakan sesuatu tersebut di dalam dzat Allah maka ia sudah kafir tatkala ia menyangka bahwasanya jin dan para syaitan berada di dzat Allah ”. Bahkan Ibnu Taimiyah lebih jauh menjelaskan ”bahwa Allah mungkin saja bersentuhan dengan Syetan dan kenajisan” (silahkan lihat bayan Talbisul Jahmiyah karya Ibn Taimiyah juz 2 hal. 555dan 556).  Inilah Bid’ah I’tiqod terburuk yang dimunculkan Ibnu Taimiyah maha guru sekaligus Imam Ustadz Firanda CS. Yang diambil dari sekte sesat Karomiyah mujassimah.

Ustadz Firanda berkata :
Ketiga : Peraktaan Ibnul Jauzy –rahimahullah- “bahwasanya Allah ndak di dalam ‘alam semesta dan juga ndak di luar alam” melazimkan bahwasanya Allah ndak ada di dalam kenyataan, akan tetapi Allah cuma berada dalam khayalan. Sebab ruang lingkup wujud cuma meliputi dua bentuk wujud, yaitu Allah dan ‘alam semesta, kalau Allah ndak di dalam ‘alam dan juga ndak di luar ‘alam artinya Allah keluar dari ruang lingkup wujud, maka jadilah Allah itu pada hakekatnya ndak ada.

Respon:

Perkataan ustadz Firanda diatas (point ketiga) memperlihatkan kalau dalam benak Ustadz Firanda ” Allah ialah benda”.  Perhatikan ucapan ustadz Firanda: “Kalau Allah ndak di dalam ‘alam dan juga ndak di luar ‘alam artinya Allah keluar dari ruang lingkup wujud, maka jadilah Allah itu pada hakekatnya ndak ada.”  Kesimpulan prematur ini dikarenakan dalam benaknya ustadz Firanda ”Allah itu benda”. Maka akhirnya Ustadz Firanda ndak dapat menerima perkataan Ibnu Jauzi bahwa Allah ndak di luar ndak juga didalam alam”. Ustadz Firanda ndak sadar kalau Allah itu bukan benda yang dapat disifati: berada diluar alam , atau disifati berada dalam Alam. Allah ialah Kholiqu kulli sya’i pencipta segala sesuatu yang ndak boleh disifati dengan sifat-sifat yang melekat pada benda (Makhluknya), sebab Allah Laista kamistlihi sya’i , ndak ada yang menyerupainya sementara sifat diluar atau didalam ialah Sifat Makhluk.

Keismpulan Ustadz Firanda :

Kesimpulan :
Demikianlah para pembaca yang budiman penjelasan soal hakikat dari artikel yang ditulis oleh Abu Salafy.
Kesimpulan yang dapat di ambil soal abu salafy ialah selaku berikut :

Pertama : Ana masih bingung apakah Ustadz Abu Salafy ialah seseorang yang berpemahaman Asyaa’iroh murni ataukah lebih parah daripada itu, yaitu ada kemungkinan ia berpemahaman jahmiyah atau mu’tazilah. Sebab ketiga firqoh ini setuju bahwasanya Allah ndak di atas langit.

Respon :

Ustadz Firanda bingung sebab dalam benaknya sudah mengakar sifat-sifat makhluk , sehingga saat Tuhan (Allah) ndak disifati oleh sifat-sifat makhluk Ustadz Firanda Bingung. Ditambah dengan minimnya pemahaman atas perbedaan antar kubu Ahlu Sunnah (Asyariyah) dengan kubu Bid'ah seperti Jahmiyah dan Mutaziilah, membikin ustadz Firanda makin bingung.

kesimpulan firanda Kedua :

Atau bahkan ada kemungkinan Al-Ustadz berpemahaman Syi’ah Rofidhoh yang juga berpemahaman bahwasanya Allah ndak di atas langit. Kian memperkuat dugaan ini ternyata Al-Ustadz Abu Salafy beberapa menukil dari buku-buku Rafidhoh. Selain itu Al-Ustadz Abu Salafy juga dengan tegas dan terang mengutuk Mu’awiyyah radhiallahu ‘anhu. Oleh karenanya ana terlalu berkeinginan Al-Ustadz Abu Salafy dapat menerangkan siapa dirinya sehingga ndak lagi majhuul. Dan bahkan ana terlalu dapat berkeinginan dapat berdialog secara langsung dengan Al-Ustadz.

Respon :

Selain sekte Mujassimah, Karomiyah, wahabiyah dan yang sejenisnya (Taimiyah Centris), semuanya berkeyakinan kalau Allah maha tinggi di atas segalanya bukan secara Fisik tetapi maha Tinggi diatas segalanya secara Hakiki dan Mutlak tanpa Arah. Adapun kutukan kepada Mu’awiyah Rodhiallahu anhu, ndak serta merta dapat ”menodai” kebenaran yang dibawa Abu Salafy bahwa Allah ndak berada dilangit. Saya juga berkeinginan supaya Ustadz Firanda jangan cuma koar-koar didunia maya, jangan cuma menyebarkan faham-faham menyimpangnya didunia Internet.  Dan Saya terlalu berkeinginan supaya Ustadz Firanda berdialog secara Langsung dengan Ustadz-ustadz Ahlu Sunnah wal-jama’ah ( Asy’ariyah).

kesimpulan firanda Ketiga : Dari penjelasan di atas ternyata Al-Ustadz Abu Salafy nekat mengambil riwayat dari buku yang sudah difonis oleh Al-Ustadz sendiri bahwa buku tersebut ialah kedusataan untuk untuk menyokong aqidah Abu Salafy. Maksud ana di sini ialah buku Al-Fiqhu Al-Akbar karya Abu Hanifah dari riwayat Abu Muthii’ Al-Balkhi.

Respon:

Dari penjelasan di atas ndak ada kata-kata Ustadz Abu Salafy yang menjatuhkan hukuman Dusta kepada buku Al-Fiqhu Al-Akbar karya Abu Hanifah dari riwayat Abu Muthii’ Al-Balkhi. Yang ada ialah Vonis Dusta kepada ”Riwayat bagian Ucapan Imam Abu Hanifah” yang terdapat dalam buku riwayat Abu Mu’thi Al-balkhi, mohon dengan Hormat Ustadz Firanda tunjukkan kalau yang divonis Abu Salafy ialah BUKU-nya bukan cuma bagian riwayat dalam buku itu? Tolong jangan main Plintir pernyataan teman dialog.

kesimpulan firanda Ke-4 : Abu Salafy juga ternyata melaksanakan tadlis (muslihat) dengan memberi sub judul “Penegasan Imam Ahmad”, tapi yang dinukil oleh Al-Ustadz ialah perkataan Ibnu Hajr Al-Haitsami.

Respon:

Kalau kita hitung Tadlis (muslihat) Ustadz Firanda ternyata jauh lebih beberapa dan bertumpuk-tumpuk, sebagaimana sudah kita tunjukkan diatas.

kesimpulan firanda Kelima : Aqidah yang dipilih oleh Abu Salafy ialah sebagaimana yang dinukil oleh Abu Salafy dari Ibnul Jauzi

وكذا ينبغي أن يقال ليس بداخل في العالم وليس بخارج منه

“Hendaknya dikatakan bahwasanya Allah ndak di dalam alam dan juga ndak diluar alam”

Inilah aqidah yang selalu dipropagandakan oleh Asyaa’iroh Mutaakhirin seperti Fakhrurroozi dalam kitabnya Asaas At-Taqdiis.

Dan aqidah seperti ini melazimkan beberapa kebatilan, diantaranya :

– Sesungguhnya sesuatu yang disifati dengan sifat seperti ini (yaitu ndak di dalam alam dan juga ndak di luar alam, dan ndak mungkin diberi isyarat kepadanya) merupakan sesuatu yang mustahil. Dan sesuatu yang mustahil menafikan sifat wujud. Oleh karenanya kelaziman dari aqidah seperti ini ialah Allah itu ndak ada

– Perkataan mereka “Allah ndak di dalam alam dan juga ndak di luar alam” pada hakekatnya merupakan penggabungan antara naqiidhoin (penggabungan antara dua hal yang saling bertentangan). Hal ini sama saja dengan perkataan “Dia ndak di atas dan juga ndak di bawah” atau “Dia ndak ada dan juga ndak ndak ada”. Dan penggabungan antara dua hal yang saling kontradiksi (bertentangan) sama halnya dengan meniadakan dua hal yang saling bertentangan. Maka perkataan “Allah ndak di alam dan juga ndak diluar alam” sama dengan perkataan “Allah ndak ndak di alam dan juga ndak ndak di luar alam”. Dan sudah terang bahwasanya menggabungkan antara dua hal yang saling bertentangan atau menafikan keduanya merupakan hal yang ndak masuk akal, alias mustahil

– Pensifatan seperti ini (yaitu : ndak di dalam alam dan ndak di luar alam, ndak di atas dan ndak di bawah) merupakan sifat-sifat sesuatu yang ndak ada. Kalau perkaranya seperti ini maka sesungguhnya orang yang beraqidah kepada Allah seperti ini sudah jatuh dalam tasybiih. Yaitu mentasybiih (menyerupakan) Allah dengan sesuatu yang ndak ada atau mentasybiih Allah dengan sesuatu yang mustahil.

– Pensifatan Allah dengan sifat-sifat seperti ini masih lebih ndak masuk akal dibandingkan aqidah orang-orang hululiah (seperti Ibnu Arobi yang meyakini bahwa Allah bersatu atau menduduki makhluknya). Walaupun aqidah hulul juga ndak masuk akal akan tetapi masih lebih masuk akal (masih lebih dapat direnungkan oleh akal) dibandingkan dengan aqidah Allah ndak di atas dan ndak di bawah, ndak di alam dan juga ndak di luar alam, ndak bersatu dengan alam dan ndak juga terpisah dari alam.

Respon:

Kesimpulan prematur ke 5 dari Ustadz Firanda memperlihatkan dengan terang Kalau ustad Firanda ndak dapat memahami keberadaan Tuhan ”Allah” kalau ndak disifati dengan sifat-sifat Makhluk.  Oleh sebab itu beliau katakan : ”Pensifatan seperti ini (yaitu : ndak di dalam alam dan ndak di luar alam, ndak di atas dan ndak di bawah) merupakan sifat-sifat sesuatu yang ndak ada”. Hhal ini terjadi sebab Ustadz Firanda mempergunakan ukuran-ukuran dan sifat-sifat Makhluk untuk memperlihatkan keberadaan Tuhan (Allah). Dia (Ustadz Firanda ) lupa kalau Allah bukanlah Makhluk yang dapat disifati dengan sifat-sifat Makhluk. Ustadz Firanda juga lupa kalau Allah menjelaskan ”Ndak ada sesuatupun yang menyerupainya”. Fahamkah Ustadz Firanda dengan kalimat: ”TIDAK ADA YANG MENYERUPAINYA? ”

  1. Bagi Ustadz Firanda Aqidah Ahli Bid’ah lebih Masuk akal daripada Aqidah Ahlu Sunnah (Asy’ariyah). Sehingga Ustadz Firanda lebih memilih Aqidah Ahlu Bid’ah ” Karomiyah” daripada Aqidah Ahlu Sunnah (Asy`ariyah).  Sehingga ndak aneh kalau ustadz Firanda pun akhirnya bersepakat dengan sekte orang-orang hululiah (seperti Ibnu Arobi yang menurut Wahabiyyin meyakini bahwa Allah bersatu atau menduduki makhluknya “ -Ibnu Arobi terlepas dari aqidah hulul – ahmad syahid). Sebab Ustadz Firanda menjelaskan: ”bahwa Allah berada pada Arah Yang ndak berwujud” yang artinya Allah Hulul atau menduduki Makhluknya yang bernama Arah yang ndak ber-wujud.  Lupakah ustadz firanda kalau ”segala apa pun namanya selain Allah ialah Makhluknya?

kesimpulan firanda Keenam: Abu Salafy menolak keberadaan Allah di atas sebab meyakini hal ini melazimkan Allah akan diliputi oleh tempat yang merupakan makhluk. Maka kita katakana, aqidahnya ini menunjukan bahwasanya Abu Salafylah yang terjerumus dalam tasybiih, dan dialah yang musyabbih. Kenapa…??. Sebab Abu Salafy sebelum menolak sifat Allah di atas langit ia mentasybiih dahulu Allah dengan makhluk. Oleh karenanya jika makhluk yang berada di atas sesuatu pasti diliputi oleh tempat. Karenanya Abu Salafy mentasybiih dahulu baru lantas menolak sifat tingginya Allah.

Ternyata hasil aqidah yang diperoleh Abu Salafy juga merupakan bentuk tasybiih. Sebab aqidah Abu Salafy bahwasanya Allah ndak di dalam ‘alam dan juga ndak di luar alam merupakan bentuk mentasybiih Allah dengan sesuatu yang ndak ada atau sesuatu yang mustahil (sebagaimana sudah dijelaskan dalam point kelima di atas). Jadilah Abu Salafy musyabbih sebelum menolak sifat dan musyabbih juga sesudah menolak sifat Allah.

Respon:

1. Aqidah Ahlus Sunnah Wal-jama’ah ( Asy’ariyah) meyakini kalau Allah di atas seluruh makhluknya dan Allah Istawa diatas Arsynya, cuma saja; Atas, Istawa juga ketinggian ndak difahami secara fisikly/dzat, sebagaimana yang difahami Ustadz Firanda cs.  Sehingga menetapkan Arah dan tempat yang bernama Arah yang ndak ber-wujud. Begitu juga Aqidah Abu salafy berlandaskan ke Hadist Shahih ”kaana Allah walam yakun Syai’un Ghoiruh; Allah sudah ada sebelum selainnya ada ” ditegaskan oleh Hadist : ”Allahumma anta dhahir fa laista fawqoka Sya’i wa anta Bathin falaitsa duunaka Sya’iy;  yaa Allah engkaulah Adz-dzhahir yang ndak ada sesuatu di atasmu dan engkaulah al-bathin yang ndak ada sesuatu di bawahmu. Dua hadist ini bertentangan dengan Aqidah ustadz firanda cs.

  1. Kalau dalam membayangkan adanya Arah dan tempat (untuk menetapkan hukum) saja telah disebut dihukumi dan di-cap selaku Musyabih, kemudian bagaimana dengan Ustadz Firanda cs, yang menetapkan Arah dan Tempat Bagi Allah? Inilah perkeliruan Ustadz Firanda untuk menyokong Aqidahnya yang Fasid.
  2. Dari respon point satu jelaslah kalau Abu Salafy bukanlah Musyabbih seperti yang dituduhkan Ustadz Firanda. Dan terang kalau Abu Salafy ialah Muttabi’, pengikut Aqidah Rosulallah SAW.  Malah Ustadz Firanda-lah yang Musyabih sebab menetapkan Arah dan tempat bagi Allah , layaknya Makhluk yang ndak dapat lepas dari Arah dan tempat. Bahkan ustadz firanda pun ber Aqidah Hulul sebab bagi ustadz Firanda, Allah berada (bertempat) di Arah yang ndak ber-wujud, yang artinya Allah menduduki makhlunya yang bernama ”Arah yang ndak ber-wujud”.  Dan jelaslah bahwa Ustadz firanda ialah seorang Mubtadi’  (Ahlul Bid’ah),  karena dalam Alqur’an maupun Hadist ndak pernah disebut adanya ”Arah yang ndak ber-wujud”.

kesimpulan firanda Ketujuh : Abu Salafy ndak menemukan satu perkataan salaf (dari generasi sahabat sampai abad ke 3) yang menyokong aqidahya, oleh karenanya Abu Salafypun nekat untuk berdusta atau mengambil dari riwayat-riwayat yang ndak terang dan tanpa sanad, atau dia berusaha mengambil perkataan-perkataan para ulama mutaakhiriin.

Respon:

1. Terlalu beberapa perkataan Salaf As-shalihin yang menyokong Aqidah ”Allah ada tanpa tempat dan tanpa Arah”  (kalau ingin disebutkan satu-persatu tentu dapat jadi satu buku Full sebab jumlahnya ratusan ).  Satu contoh yang ndak dapat dipungkiri (walaupun Bin Baz dan pembesar wahabi lainnya memungkiri) ialah ”kitab Aqidah At-thohawiyah yang menyebutkan:  ”Kalau Allah maha suci dari batasan-batasan (huduud) dan ujung sesuatu / akhir sesuatu (ghoyaat). {(Batasan cuma melekat pada sifat-sifat makhluk begitu juga akhir sesuatu atau ujung sesuatu cuma melekat pada makhluk.-pent)}.

  1. Seluruh riwayat yang dibawakan ustadz Firanda untuk menyokong aqidah fasidnya, cuma berdasarkan ke Riwayat–riwayat yang Ndak Sah, Mungkar bahkan Palsu (maudhu’)  sebagaimana sudah kita Ungkap satu-persatu dalam ”pengakuan Ijmak”  yang di da’wakan oleh Ustadz Firanda.  Dan ternyata Salaf bagi Ustadz Firanda ndak sama dengan salaf versi Ahlu Sunnah (Asy’ariyah).  Salaf versi ustadz Firanda ialah para Pembohong dan pemalsu Hadist seperti Ibnu Bathoh al-‘ukbary, al-hakari dan yang sejenisnya.  (Entah ditaruh di mana prinsip  ”cuma mengunakan hadist-hadist Shahihnya” atau itu cuma sekedar jargon atau semboyan kosong  untuk mengelabui orang awam…..?
  2. Riwayat – riwayat Ndak Sah, Mungkar dan Maudhu’ yang dibawakan Ustadz Firanda ternyata cuma dijadikan bumpher dan batu loncatan untuk menyemir Aqidah (falsafat) Asli sang Ustadz yaitu Allah berada Pada ”Arah yang ndak ber-wujud”.  Hal ini dia lakukan untuk menghindar dari Hukuman Ulama yang meng-Kafirkan Aqidah Hulul. Akan tetapi sayang usahanya ini gagal total dan cuma menyebabkan kekufuran di atas kekufuran. Sebagaiman sudah dijelaskan diatas, di mana falsafat Ustadz Firanda ini cuma berbuah pada dua kemungkinan yang kedua-duanya ialah kekufuran.

4. sesudah seluruh Tipu Muslihat Ustadz Firanda Terbongkar, di mana seluruh riwayat yang dibawakannya ”Jatuh” di mata Ulama Ahlu Sunnah (Asy`ariyah) dan ”jatuh” di mata Ulama Jarh wa at-ta’dil, apakah sikap seterusnya yang akan diambil oleh Ustadz firanda………..?

Ala kulli  haal, sesungguhnya seluruh Bani Adam ialah pembuat kekhilafan, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah ialah orang yang mau ber-taubat.

Sedemikian semoga bermanfa’at .

Ahmad Syahid 7 oktober 2011

 

Membaca ke Bagian Awal (Pertama), Tipu Muslihat Ustadz Firanda Terbongkar

You might like

About the Author: admin

106 Comments

  1. Inilah dasyatnya rekayasa sejarah wahabi yang dilakukan oleh dedengkot mereka sendiri, lalu dirahasiakan oleh para dedengkot wahabi itu sendiri, akibatnya pengikutnyapun tak mampu membedakan mana paham yang benar dan mana paham yang salah alias sesat… 😀

  2. Setiap muslim tentulah mengimani bahwa “ar Rahmaanu ‘alaa al’arsyi istawaa” karena memang itu disebutkan dalam Al Qur’an pada surat Thaahaa [20] ayat : 5.Namun jumhur ulama tidak sependapat bahwa maknanya adalah Allah Azza wa Jalla bertempat di atas ‘Arsy karena mustahil Allah Azza wa Jalla dibatasi atau terbatas oleh ‘Arsy……

  3. Ulama yang mengimani (beri’tiqod) bahwa Allah Azza wa Jalla bertempat di atas ‘Arsy salah satunya adalah ulama Ibnu Taimiyyah, ulama yang dikenal memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri, tidak mengikuti pendapat (hasil ijtihad) pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias tidak mengikuti pendapat Imam Mazhab yang empat.

    Ulama Ibnu Qoyyim al Jauziah ber-talaqqi (mengaji) kepada ulama Ibnu Taimiyyah, namun sayangnya beliau ber-talaqqi kepada ulama yang tidak bermazhab sehingga beliau pun mengimani (beri’tiqod) bahwa Allah Azza wa Jalla bertempat di atas ‘Arsy

    Begitu juga dengan ulama Muhammad bin Abdul Wahhab memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab). Kitab utama yang dipelajarinya adalah kitab karya ulama Ibnu Taimiyyah.

    1. Mas @mamo
      Apa ada orang belajar agama secara otodidak, wong Rasulullah aja diajari dengan perantara Jibril, hebaaat banget manusia seperti itu melebihi Nabi Muhammad saw. Perantaranya siapa mas? IBLIS kali ya !!!!

  4. @mbah mangung mangun > copas dari mana pernyataan ente?
    Sebagai balasnya sila ente baca dengan teliti di bawah ni.

    Al-Hafizh al-Bayhaqi dalam karyanya berjudul al-Asma’ Wa ash-Shifat, dengan sanad yang baik (jayyid), -sebagaimana penilaian al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari-, meriwayatkan dari al-Imam Malik dari jalur Abdullah ibn Wahb, bahwa ia -Abdullah ibn Wahb-, berkata:

    “Suatu ketika kami berada di majelis al-Imam Malik, tiba-tiba seseorang datang menghadap al-Imam, seraya berkata: Wahai Abu Abdillah, ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa, bagaimanakah Istawa Allah?. Abdullah ibn Wahab berkata: Ketika al-Imam Malik mendengar perkataan orang tersebut maka beliau menundukan kepala dengan badan bergetar dengan mengeluarkan keringat. Lalu beliau mengangkat kepala menjawab perkataan orang itu: “ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa sebagaimana Dia mensifati diri-Nya sendiri, tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana, karena “bagaimana” (sifat benda) tidak ada bagi-Nya. Engkau ini adalah seorang yang berkeyakinan buruk, ahli bid’ah, keluarkan orang ini dari sini”. Lalu kemudian orang tersebut dikeluarkan dari majelis al-Imam Malik (Al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 408)”.

    Anda perhatikan; Perkataan al-Imam Malik: “Engkau ini adalah seorang yang berkeyakinan buruk, ahli bid’ah, keluarkan orang ini dari sini”, hal itu karena orang tersebut mempertanyakan makna Istawa dengan kata-kata “Bagaimana?”. Seandainya orang itu hanya bertanya apa makna ayat tersebut, sambil tetap meyakini bahwa ayat tersebut tidak boleh diambil makna zhahirnya, maka tentu al-Imam Malik tidak membantah dan tidak mengusirnya.

    Adapun riwayat al-Lalika-i dari Ummu Salamah; Umm al-Mu’minin, dan riwayat Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman (salah seorang guru al-Imam Malik) yang mengatakan: “al-Istiwa Ghair Majhul Wa al-Kayf Ghairu Ma’qul (al-Istiwa sudah jelas diketahui dan adanya al-Kayf (sifat benda) bagi Allah adalah sesuatu yang tidak masuk akal)”, yang dimaksud “Ghair Majhul” di sini ialah bahwa penyebutan kata tersebut benar adanya di dalam al-Qur’an. Ini dengan dalil riwayat lain dari al-Lalika-i sendiri yang mempergunakan kata “al-Istiwa madzkur”, artinya kata Istawa telah benar-benar disebutkan dalam al-Qur’an. Dengan demikian menjadi jelas bahwa yang dimaksud “al-Istiwa Ghair Majhul” artinya benar-benar telah diketahui penyebutan kata Istawa tersebut di dalam al-Qur’an.

    Dari sini dapat dipahami bahwa al-Lali’ka’i dan Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman mengatakan “al-Istiwa Ghair Majhul Wa al-Kayf Ghairu Ma’qul”, sama sekali bukan untuk tujuan menetapkan makna duduk atau bersemayam bagi Allah. Juga sama sekali bukan untuk menetapkan makna duduk atau bersemayam yang Kayfiyyah duduk atau bersemayam-Nya tidak diketahui oleh kita. Hal ini berbeda dengan orang-orang Wahhabiyyah yang salah paham terhadap pernyataan al-Lalika’i dan Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman tersebut. Mereka mengatakan bahwa Allah bersemayam atau bertempat di atas arsy. Hanya saja, –menurut mereka–, Kayfiyyah-Nya tidak diketahui. A’udzu Billah.

    Untuk membantah keyakinan kaum Wahhabiyyah tersebut, kita katakan kepada mereka: Dalam perkataan al-Lalika-i dan Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman terdapat kata “al-Kayf Ghair Ma’qul”, ini artinya bahwa Istawa tersebut bukan Kayfiyyah, sebab Kayfiyyah adalah sifat benda. Dengan demikian, oleh karena kata Istawa ini bukan Kayfiyyah maka jelas maknanya bukan dalam pengertian duduk atau bersemayam. Karena duduk atau bertempat itu hanya berlaku pada sesuatu yang memiliki anggota badan, seperti pantat, lutut dan lainnya. Sementara Allah maha suci dari pada anggota-anggota badan.

    Yang mengherankan, kaum Musyabbihah seperti kaum Wahhabiyyah di atas seringkali memutarbalikan perkataan dua Imam di atas. Mereka sering mengubahnya dengan mengatakan “al-Istiwa Ma’lum Wa al-Kayfiyyah Majhulah”. Perkataan semacam ini sama sekali bukan riwayat yang benar berasal dari al-Imam Malik atau lainnya. Tujuan kaum Musyabbihah mengucapkan kata tesebut tidak lain adalah untuk menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Istawa Allah, lalu mereka mengatakan Kayfiyyah-Nya tidak diketahui. Karena itu mereka seringkali mengatakan: “Allah bersemayam atau bertempat di atas arsy, tapi cara bersemayam-Nya tidak diketahui”. Atau terkadang mereka juga berkata: “Allah duduk di atas arsy, tapi cara duduk-Nya tidak diketahui”. jadi, Perkataan kaum Musyabbihah “al-Istiwa Ma’lum Wa al-Kayfiyyah Majhulah” tidak lain hanyalah untuk mengelabui orang-orang awam bahwa semacam itulah yang telah dikatakan dan yang dimaksud oleh Al-Imam Malik. A’udzu Billah.

    Al-Hafizh al-Bayhaqi dari jalur Yahya ibn Yahya telah meriwayatkan bahwa ia -Yahya ibn Yahya- berkata: Suatu saat ketika kami berada di majelis al-Imam Malik ibn Anas, tiba-tiba datang seseorang menghadap beliau, seraya bekata: Wahai Abu Abdlillah, ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa, bagaimankah Istawa Allah? Lalu al-Imam Malik menundukan kepala hingga badanya bergetar dan mengeluarkan keringat. Kemudian beliau berkata: “al-Istiwa’ telah jelas -penyebutannya dalam al-Qur’an- (al-Istiwa Ghair Majhul), dan “Bagaimana (sifat benda)” tidak logis dinyatakan kepada Allah (al-Kayf Ghair Ma’qul), beriman kepada adanya sifat al-Istiwa adalah wajib, dan mempermasalahkan masalah al-Istiwa tersebut adalah perbuatan bid’ah. Dan bagiku, engkau tidak lain kecuali seorang ahli bid’ah”. Lalu al-Imam Malik menyuruh murid-muridnya untuk mengeluarkan orang tersebut dari majelisnya. Al-Imam al-Bayhaqi berkata: “Selain dari al-Imam Malik, pernyataan serupa juga diungkapkan oleh Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman, guru dari al-Imam Malik sendiri” (Al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 408).

    Dalam mengomentari peristiwa ini, asy-Syaikh Salamah al-Uzami, salah seorang ulama al-Azhar terkemuka dalam bidang hadits, dalam karyanya berjudul Furqan al-Qur’an, mengatakan sebagai berikut:

    “Penilaian al-Imam Malik terhadap orang tersebut sebagai ahli bid’ah tidak lain karena kesalahan orang itu mempertanyakan Kayfiyyah Istiwa bagi Allah. Hal ini menunjukan bahwa orang tersebut memahami ayat ini secara indrawi dan dalam makna zhahirnya. Tentu makna zhahir Istawa adalah duduk bertempat, atau menempelnya suatu benda di atas benda yan lain. Makna zhahir inilah yang dipahami oleh orang tersebut, namun ia meragukan tentang Kayfiyyah dari sifat duduk tersebut, karena itu ia bertanya kepada al-Imam Malik. Artinya, orang tersebut memang sudah menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Allah. Ini jelas merupakan keyakinan tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya), dan karena itu al-Imam Malik meyebut orang ini sebagai ahli bid’ah” (Furqan al-Qur’an Bain Shifat al-Khaliq Wa al-Akwan, h. 22).

    Ada pelajaran penting yang dapat kita tarik dari peristiwa ini. Jika al-Imam Malik sangat marah terhadap orang tersebut hanya karena menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Allah, hingga mengklaimnya sebagai ahli bid’ah, maka tentunya beliau akan lebih marah lagi terhadap mereka yang dengan terang-terangan mengartikan Istawa dengan duduk, bertempat atau bersemayam! Dapat kita pastikan seorang yang berpendapat kedua semacam ini akan lebih dimurkai lagi oleh al-Imam Malik. Hal itu karena mengartikan Istawa dengan duduk atau bersemayam tidak hanya menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Allah, tapi jelas merupakan penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya.

    Dan sesungguhnya sangat tidak mungkin seorang alim sekaliber al-Imam Malik berkeyakinan bahwa Allah memiliki tempat dan arah. Al-Imam Malik adalah Imam kota Madinah (Imam Dar al-Hijrah), ahli hadits terkemuka, perintis fiqih madzhab Maliki, sudah barang tentu beliau adalah seorang ahli tauhid, berkeyakinan tanzih, mensucikan Allah dari sifat-sifat makhluk-Nya.

    Tentang kesucian tauhid al-Imam Malik ibn Anas, al-Imam al-‘Allamah al-Qadli Nashiruddin ibn al-Munayyir al-Maliki, salah seorang ulama terkemuka sekitar abad tujuh hijriyah, dalam karyanya berjudul al-Muqtafa Fi Syaraf al-Musthafa telah menuliskan pernyataan al-Imam Malik bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Dalam karyanya tersebut, al-Imam Ibn al-Munayyir mengutip sebuah hadits, riwayat al-Imam Malik bahwa Rasulullah bersabda: “La Tufadl-dliluni ‘Ala Yunus Ibn Matta” (Janganlah kalian melebih-lebihkan aku di atas nabi Yunus ibn Matta).

    Dalam penjelasan hadits ini al-Imam Malik berkata bahwa Rasulullah secara khusus menyebut nabi Yunus dalam hadits ini, tidak menyebut nabi lainya, adalah untuk memberikan pemahaman akidah tanzih, -bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah-. Hal ini karena Rasulullah diangkat ke atas ke arah arsy -ketika peristiwa Mi’raj-, sementara nabi Yunus dibawa ke bawah hingga ke dasar lautan yang sangat dalam -ketika beliau ditelan oleh ikan besar-, dan kedua arah tersebut, baik arah atas maupun arah bawah, keduanya bagi Allah sama saja. Artinya satu dari lainnya tidak lebih dekat kepada-Nya, karena Allah ada tanpa tempat. Karena seandainya kemuliaan itu diraih karena berada di arah atas, maka tentu Rasulullah tidak akan mengatakan “Janganlah kalian melebih-lebihkan aku di atas nabi Yunus ibn Matta”. Dengan demikian, hadits ini oleh al-Imam Malik dijadikan salah satu dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah (Lihat penjelasan ini dalam al-Muqtafa Fi syaraf al-Mustahafa. Perkataan Al-Imam Malik ini juga dikutip oleh Al-Imam Taqiyyuddin as-Subki dalam karya bantahannya atas Ibn al-Qayyim al-Jaiziyyah (murid Ibn Taimiyah); yang berjudul as-Saif ash-Shaqil Fi ar-Radd ‘Ala ibn Zafil. Demikian pula perkataan Al-Imam Malik ini dikutip oleh Al-Imam Muhammad Murtadla az-Zabidi dalam karyanya Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarah Ihya ‘Ulumiddin).

    Adapun riwayat yang dikemukan oleh Suraij ibn an-Nu’man dari Abdullah ibn Nafi’ dari al-Imam Malik, bahwa ia -al-Imam Malik- berkata: “Allah berada di langit, dan ilmu-Nya di semua tempat”, adalah riwayat yang sama sekali tidak benar (Ghair Tsabit). Abdullah ibn Nafi’ dinilai oleh para ahli hadits sebagai seorang yang dla’if. Al-Imam Ahmad ibn Hanbal berkata: “’Abdullah ibn Nafi’ ash-Sha’igh bukan seorang ahli hadits, ia adalah seorang yang dla’if”. Al-Imam Ibn Adi berkata: “Dia -Abdullah ibn Nafi’ banyak meriwayatkan ghara-ib (riwayat-riwayat asing) dari al-Imam Malik”. Ibn Farhun berkata: “Dia -Abdullah ibn Nafi’- adalah seorang yang tidak membaca dan tidak menulis” (Lihat biografi Abdullah ibn Nafi’ dan Suraij ibn an-Nu’man dalam kitab-kitab adl-Dlu’afa’, seperti Kitab ald-Dlu’afa karya an-Nasa-i dan lainnya).

    Dengan demikian pernyataan yang dinisbatkan kepada al-Imam Malik di atas adalah riwayat yang sama sekali tidak benar. Dan kata-kata tersebut yang sering kali dikutip oleh kaum Musyabbihah dan dinisbatkan kepada al-Imam Malik tidak lain hanyalah kedustaan belaka.

  5. @mbah, ente ngambilnye yang kafir-kafir aje sih, makanya ente ketularan.
    Tukang minyak bergaul sama tukang minyak, tukang semir bergaul dengan tukang semir, tukang kibul bergaul dengan tukang kibul. Bukan begitu mbah?, jadi ente dikibulin sama tukang kibul, tuh si Firanda…..

    1. heheheheheh si mbah kelamaan tapa di goa kang…makanya mbah, baca lagi, saya kan dah bilang pelan-pelaaaaaan aja, insya Alloh paham, tapi kalo ga paham or ga bisa nerima juga kebangetan dah kalo gitu…mbah sudah terkena kanker wahabi kronis…..nauzubillah….

      1. Itulah mas @nasrulloh, kalau otak kecilnye dianggep kecil melulu, jadi gak pernah digunain tumpul jadinya, asal firanda nulis begini, yo maju jalan ikut he he he ……… yo keneraka maju jalan …………grak yang penting selain SAWAH sesat n kafir.

  6. sebenarnya tokoh para penyembah kubur itu tidak mau mengakui kesesatanya karna mereka sudah terlalu enak dapat makan dari orang orang bodoh yang berhasil mereka kibulin,seperti contoh di daerah saya itu ada mujahadaan yang di pimpin tokoh habib dari solo yang mengaku keturunan dari keluarga nabi,para tokoh sesat ini menarik duwit bagi orang yg ingin di doakan agar kelurganya yg sudah mati dapat ampunan dr alloh,dan acara ini selalu di hadiri ribuan orang orang bodoh dari segala penjuru………….

  7. Imam Abu Hanifah berkata : Artinya : ���Barangsiapa yang mengingkari sesungguhnya Allah berada di atas langit, maka sesungguhnya ia telah kafir���. Adapun terhadap orang yang tawaqquf (diam) dengan mengatakan ���aku tidak tahu apakah Tuhanku di langit atau di bumi���. Berkata Imam Abu Hanifah : ���Sesungguhnya dia telah ���Kafir !���. Imam Malik bin Anas telah berkata : Artinya : ���Allah berada di atas langit, sedangkan ilmunya di tiap-tiap tempat, tidak tersembunyi sesuatupun dari-Nya���. Imam Asy-Syafi���iy telah berkata : Artinya : ���Dan sesungguhnya Allah di atas ���Arsy-Nya di atas langit-Nya��� Imam Ahmad bin Hambal pernah di tanya : ���Allah di atas tujuh langit diatas ���Arsy-Nya, sedangkan kekuasaan-Nya dan ilmu-Nya berada di tiap-tiap tempat.? Jawab Imam Ahmad : Artinya : ���Benar ! Allah di atas ���Arsy-Nya dan tidak sesuatupun yang tersembunyi dari pengetahuan-nya���. Imam Ali bin Madini pernah ditanya : ���Apa perkataan Ahlul Jannah ?���. Beliau menjawab : Artinya : ���Mereka beriman dengan ru���yah (yakni melihat Allah pada hari kiamat dan di sorga khusus bagi kaum mu���minin), dan dengan kalam (yakni bahwa Allah berkata-kata), dan sesungguhnya Allah ���Azza wa Jalla di atas langit di atas ���Arsy-Nya Ia istiwaa���. Imam Tirmidzi telah berkata : Artinya : ���Telah berkata ahli ilmu : ���Dan Ia (Allah) di atas ���Arsy sebagaimana Ia telah sifatkan diri-Nya���. (Baca : ���Al-Uluw oleh Imam Dzahabi yang diringkas oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di hal : 137, 140, 179, 188, 189 dan 218. Fatwa Hamawiyyah Kubra oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hal: 51, 52, 53, 54 dan 57). Telah berkata Imam Ibnu Khuzaimah -Imamnya para imam- : Artinya : ���Barangsiapa yang tidak menetapkan sesungguhnya Allah Ta���ala di atas ���Arsy-Nya Ia istiwaa di atas tujuh langit-Nya, maka ia telah kafir dengan Tuhannya������. (Riwayat ini shahih dikeluarkan oleh Imam Hakim di kitabnya Ma���rifah ���Ulumul Hadits��� hal : 84). Telah berkata Syaikhul Islam Imam Abdul Qadir Jailani -diantara perkataannya- : ���Tidak boleh mensifatkan-Nya bahwa Ia berada diatas tiap-tiap tempat, bahkan (wajib) mengatakan : Sesungguhnya Ia di atas langit (yakni) di atas ���Arsy sebagaimana Ia telah berfirman :���Ar-Rahman di atas ���Arsy Ia istiwaa (Thaha : 5). Dan patutlah memuthlakkan sifat istiwaa tanpa ta���wil sesungguhnya Ia istiwaa dengan Dzat-Nya di atas ���Arsy. Dan keadaan-Nya di atas ���Arsy telah tersebut pada tiap-tiap kitab yang. Ia turunkan kepada tiap-tiap Nabi yang Ia utus tanpa (bertanya):���Bagaimana caranya Allah istiwaa di atas ���Arsy-Nya ?��� (Fatwa Hamawiyyah Kubra hal : 87). Demikianlah aqidah salaf, salah satunya ialah Imam Abdul Qadir Jailani yang di Indonesia di sembah-sembah dijadikan berhala oleh penyembah-penyembah qubur dan orang-orang bodoh. Kalau sekiranya Imam kita ini hidup pada zaman kita sekarang ini dan beliau melihat betapa banyaknya orang-orang yang menyembah dengan meminta-minta kepada beliau dengan ���tawasul���, tentu beliau akan mengingkari dengan sangat keras dan berlepas diri dari qaum musyrikin tersebut. Inna lillahi wa innaa ilaihi raaji���un !!.

    1. waaah si mbah abis tapa dari goa nih, jadi pas muncul tau-2 kasih komen macam-2 hadist dll, padahal isi hadist yg mbah keluarin itu sudah dibahas di artikel-2 ummati, sudah dijelaskan mbah…jadi mbah kan baru bangun nih, mandi dulu deh, minum teh anget dulu, kalo ada cemilan, yah makan sambil nge-teh or ngupi deh…naaaahhh kalo udah seger, sehat jiwa raga….mbah baca dah semua artikel yg udah ditampilkan, pelan-pelaaaaannn aja mbah, jangan buru-2 seperti konco-2 mbah yg lain, tenang aja mbah….AS & Yahudi dah deket kok di gurunya mbah, jadi baca lagi se detail-detailnya…..moso’ mbah ikut group HIT & RUN juga sih heheheehhehee :mrgreen: :mrgreen:

  8. @admin ummati
    skdar memperjelas aja, amr yang di komentari di atas tu bknlah sy yg dulu di kira ngasih link virus oleh ust AI. coba di cek IP nya apakh sm dengan kota sy. Afwan sebelumx.

  9. Akhi Pemikir bermaksud mengatakan bahwa di dalam Al-Qur’an n Hadits yg menjelaskan keberadaan Allah Swt bukan hanya di langit. Mungkin yg dimaksud adalah ayat “Allah itu Dekat” dll, masih banyak lagi di ayat yg lain. Kalau Wahabi itu konsisten, kenapa mereka tidak meng-imani semuanya? Kenapa hanya yg di langit saja? Nah… gitu kali?

  10. Ane yakin seyakin yakinya tidak akan berubah pendirian sampai ajal tiba. Bahwa Allah berada di Atas Langit. (ber-istiwa’ di atas Arsy). Sudah cukup banyak bukti, baik dari Qur’an maupun Sunnah Rasullullah.

    ———————–

    Banyak juga dari al Quran dan Sunnah Allah bukan sahaja berada di langit. Anda boleh memilih samada untuk beriman dengan ayat Allah keseluruhannya, atau memilih-milih mengikut hawa nafsu.

    1. kalo anda pemikir, baca lagi artikel Mas Syahid yg membantah firanda, baca dr awal, pelan-pelaaaaaan aja, kebiasaan ente n rekan2 wahabi ente apa2 selalu terburu nafsu duluan, pikirkan baik2, telusuri sanad2 yg ditampilkan, kalo cuma kasih komen…yakin seyakin2nya anak kecil jg bisa bilang, ane pun bs bilang yakin seyakin2 nyA wahabi itu dalam jalur kesesatan….kasih komen yg berilmu dong ah, tampilkan sumber2 menurut ente itu yakin dg se yakin2nya ente (coba hitung ada brp kali kata yakin diulang hehehehehe…..) :mrgreen: :mrgreen:

      1. Mas Nasrul, antum salah paham dg akhi Pemikir, lho? Itu beliau sedang memberi koment kepada Abu Umar di atas itu. Nih ana kutip koment Abu Umar tsb:

        Abu Umar:
        Aneyakinseyakinyakinyatidakakanberubah
        pendiriansampaiajaltiba.
        BahwaAllahberadadiAtasLangit.
        (ber-istiwa’diatasArsy).Sudahcukup
        banyakbukti,
        baikdariQur’anmaupunSunnahRasullullah.

        1. oh gitu yah mbak? perasaan baru ketemu sama kang pemikir, kirain kang pemikir temennya abu umar hehehe, jd malu…..maaf yee kang pemikir, solnya ane kangen jg ma abu umar, kangen sangat smpe buta mata nih ane…sekali lg maaf kang pemikir, makasih mba kartika dah diingetin….

    1. betul kang, selama hatinya masih berkarang yaaaahh ga bakal mau nerima kebenarannya, mudah-2an dapet hidayah dari Alloh SWT agar bisa terbuka mata hatinya akan ilmu yg masih sangat luaaaaaas, kebenaran yg sangat banyaaakkk….dia dah berkeuakinan begitu, yaaaah baiknya kalo dia kasih komen apapun ga usah ditanggapi…kan dia dah yg paling benar & pintar…

  11. Ane yakin seyakin yakinya tidak akan berubah pendirian sampai ajal tiba. Bahwa Allah berada di Atas Langit. (ber-istiwa’ di atas Arsy). Sudah cukup banyak bukti, baik dari Qur’an maupun Sunnah Rasullullah.

    1. hehehehehe yaw udah kang, bawa saja sampe mati, berarti ga perlu komen lagi kan dg artikel-2 yg ditampilkan dimari ??? seajarah wahabi menurut akang yg baik-2 dari versi ustadz-2 ente kan? apakah benar sejarah-2nya? ilmu yg kita miliki masih spt 1butir pasir di pantai Kang, masih banyak waktu untuk mendapatkan ilmu lagi, masih banyak waktu utk mengkaji kebenaran/kekeliruan wahabi, pelajari dulu sejarahnya, pelajari sumber-2nya, pelajari lagi urutan penyebaran pahamnya. apakah sampai ke Rosululloh SAW ???

    2. Hmmm… Orang seperti Abu Umar ini memang layak untuk dikasihani, sudah melihat kebenaran di depan matanya tapi dia tak mampu melihatnya. Duhhhh… kasihan banget ana pada orang ini. Semoga Allah menolongnya ….

  12. heran nih dengan yang punya blog, tidak ilmiah sekali cara mengkerisi tulisan Ust Firanda hanya dengan main vonis tanpa bisa mendatangkan bukti, ini munkar, ini falsu. Tolong dong unjukkan bukti dimana munkarnya, falsunya kalau hanya dengan vonis anak sekolah SD aja bisa.

    1. amr@

      Makanya baca dari Awal (bagian Pertama), biar antum tidak asal koment. Silahkan baca dari awal biar antum paham dan mengerti apa itu palsu dll.

    2. hehehehe another sawah follower, yg main asal komen tanpa membaca semua artikel yg ditampilkan, cuma bisa HIT & RUN, ga mau tahu kebenaran, sanad-2 yg shahih yg telah ditampilkan, merasa paling benar & paling pintar, padahal akan lebih kelihatan menjadi yg paling bodoh….Nauzubillah….

    3. amr@

      antum kan yg dulu pernah kasih link VIRUS itu kan? Awas teman-teman n All Pengunjung, hati2 kalau si amr@ kasih link, jangan di klik. Itu jebakan berisi virus. Hati2 aja, dia ini orang jahat.

      1. DEMI ALLAH, AMR YANG ANDA MAKSUD DIATAS ITU BUKANLAH SY (AMR) YANG DULU ANDA KIRA NGASIH LINK VIRUS. amr diatas itu seprtix manfaatin nama sy gra2 komen sy yg kacau dl. untuk komen sy yg dulu yg keluarx aneh2 tu, sy minta maaf tp bkan sengaja, emang keluarx bgitu. kemungkinan krn loding internet yg sy pake lelet. SY PERJELAS, SY BUKAN WAHABI/SALAFY.

  13. Tambahan.. tuhannya wahabi punya telinga, mulut, dada, punggung, perut,(maaf) anggota di bawah perut, dst.Kacau deh.. 🙄 🙄 🙄

    1. Ingat Fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Bentuk Dzat Allah tidak bisa di bayangkan.. Kalau ente seperti itu berarti ente cuma memfitnah.

  14. Tuhannya wahabi adalah tidak sama dengan Tuhan Ahlussunnah wal jamaah! Tuhannya wahabi bisa dibayangkan; punya wajah, tangan, kaki, mata dan lain-lain.

  15. saya hanya berfikir, kenapa ya Alloh membiarkan/ menumbuhkah paham wahaby yg katanya sesat kok di mekkah dan madinah di mana merupakan tempat agama ini lahir, tempat Rasulullah di lahirkan,merupakan 2 kota suci umat Islam, dg kondisi makmur. Sedangkan paham lain katanya benar/ ahlu sunnah, berkembang di mana kota dan negaranya kacau bin balau.

    jadi kesimpulannya, apa Alloh menjadikan kota suci Mekah madinah jadi sarang mayoritas orang sesat, sedangkan kota bukan tempat suci jadi tempat mayoritas ahlu sunnah.

    ATAU SEBALIKNYA

    ALLOH MENJADIKAN KOTA SUCI MEKKAH MADINAH SBG TEMPAT MAYORITAS AHLU SUNNAH, SEDANGKAN KOTA BUKAN TEMPAT SUCI JADI MAYORITAS SARANG AHLU BID’AH.

    jika kita bertanya kpd orang islam yg netral tanpa kepentingan apapun, secara fitrah mereka akan berkata MEKKAH MADINAH ADALAH KOTA SUCI DAN TEMPAT ULAMA YG PAHAM AGAMA DG BENAR.

    mohon maaf jika tdk berkenan

    wallahu a’lam.

    1. @is
      Zaman sekarang yang bicara bukan aqidah tetapi UANG, lihat aja negara Arab saudi yang dikawal oleh negara-negara Yahudi n Nasrani alias Amerika n NATO. Paling deket diingatan kita yaitu negara Libya, NATO yang menghancurkan untuk kemudian dia ambil ladang2 minyak. Kite tunggu aja sampai kapan minyak itu habis.
      Ustad2 yang masuk ke Indonesia mungkin juga begitu!!!!

    2. Is ………kita nggak boleh meng andai2 hal Alloh berkehendak ,…….kewajiban kita sbg muslim tinggal menjalani apa2 yang Alloh kehendaki ,……..ada nya Wahabi itu juga UJIAN yang datang dari Alloh bagaimana kita mensikapi ……..emang sih kalau ketemu dialog ama mereka bikin emosi ……he he he ……

  16. Penyerupaan yang juga biasa digunakan Wahaby dalam mendukung akidahnya adalah penyerupaan mengenai perbedaan yadd yang dinisbatakan kepada Allah terhadap tangan makhluk dengan perbedaan tangan antar makhluk.

    Ini juga yang baru dilakukan oleh si Abu Umar, setelah menyerap ilmu kopasan dari tulisan Dr. Fulan MA….

    1. Ente telah memfitnah.. Apakah ane menyerupakan Dzat Allah dengan Makhluk-Nya? Apakah ada bukti? Apakah Ane menggambarkan bentuk Tangan Dzat Allah? Tidak kan? Kita tidak mengetahui bentuk-Nya, Membayangkanpun juga tidak bisa.

      1. Berarti ente kagak setuju dengan pemakanaan yadd yang dinisbatkan kepada Allah dengan anggota tubuh dari lengan hingga ujung jari, sesaui dengan makna hakiki dalam bahasa Arab?

  17. Penyerupaan yang juga biasa digunakan Wahaby dalam mendukung akidahnya adalah penyerupaan mengenai perbedaan yadd yang dinisbatakan kepada Allah terhadap makhluk dengan perbedaan tangan antar makhluk.

    Ini juga yang baru dilakukan oleh si Abu Umar, setelah menyerap ilmu kopasan dari tulisan Dr. Fulan MA….

  18. 1- Isi dari nukilan tersebut sama sekali tidak berententangan dengan aqidah Ahlus Sunnah, karena Ahlus Sunnah (Wahhabiyah/As-Salafiyah) tatkala menyatakan Allah beristiwa di atas ‘arsy tidaklah melazimkan bahwasanya Allah membutuhkan ‘arsy. Dan tidak ada kelaziman bahwasanya yang berada di atas selalu membutuhkan yang di bawahnya.

    Firanda samakan Allah dan Al Arsy dengan langit dan bumi

    Dan tidak ada kelaziman bahwasanya yang berada di atas selalu membutuhkan yang di bawahnya. Jika kita perhatikan langit dan bumi maka kita akan menyadari akan hal ini. Bukankah langit berada di atas bumi?, bukankah langit lebih luas dari bumi?, bukankah langit tidak butuh kepada bumi? Apakah ada tiang yang di tanam di bumi untuk menopang langit?. Jika langit yang notabene adalah sebuah makhluq namun tidak butuh kepada yang di bawahnya bagaimana lagi dengan Kholiq pencipta ‘arsy.

    Sekedar bagi-bagi kisah. Kasus mirip ane juga dapati dalam forum-forum Wahaby. Ada anggota forum yang menjelaskan nuzul yang dinisbatkan kepada Allah yang bukan merupakan perpindahan dengan mencontohkan dengan seseorang yang kartunya jatuh kemudian dia merunduk untuk memungutnya. Menurutnya itu nuzul yang bukan merupakan perpindahan.

    Ada pula seorang guru Ushuluddin di Universitas Riyadh yang disebut pakar dalam bidang akidah. Saat menguatkan argumen akidah mereka bahwa istiwa itu hakiki dan nuzul tidak membuat Al Arsy kosong, ia menyebutkan,”Seandainya ada laki-laki yang berbadan tinggi duduk di dinding sedangkan kedua kakinya menjulur ke tanah, sesunggunya bagian yang menempel di bumi dari kadua kakinya dinilai bahwa ia di bumi, sedangkan ia masih duduk di atas tembok. Dengan demikian maka tidak ada masalah lagi Allah berada di langit dunia sedangkan ia bersemayam di Al Arsy!!!”

    Ia telah menggambarkan istiwa dan nuzul dengan laki-laki yang duduk di tembok yang kakinya nyentuh tanah!!!

    Ada pula perbedatan antara Asyari jahil dengan Wahabi jahil:
    Asy’ari: Bagaimana Rabb kita berada di atas Al Arsy sedangkan ia tidak nempel kepadanya!?
    Wahaby: Atap di atasmu, apakah ia menempel padamu???
    Asyari diam…..
    Padahal si Wahaby telah menyerupakan Allah dengan atap!!!!

  19. Laaaahhh itu dah dikit ngerti nya….eeehhh malah aneh lagi…haduuuuhhhh 😳 😳

    Abu Umar:
    Ya.PAHAM.
    TanganAllahberbedadengantanganmakhluk-Nya,sesuaidenganKebesaranDzat-Nya.
    Laisakamitslihisyaiun.(Dia(Allah)tidakserupadengansesuatupun).
    TanganberbedamakhlukajaberbedaapalagiTanganAllah,jelasberbedadenganmakhluk-Nya.
    Enteitumaumentakwilkan?hahaha.mauentetakwilapaTanganAllah?

  20. @abu umar
    Pertanyaannya copas, jawabannya copas. nti ane jawab binun lagi.
    Firman Allah : Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (Al Maidah : 73)”.

  21. Apa yang dapat kita katakan kepada mereka yang mengingkari Tauhid Asma wa Sifat dan menganggapnya sebagai sesuatu yang dibuat oleh orang-orang belakangan ?

    Jawaban.
    Tauhid Asma wa Sifat termasuk salah satu dari tiga macam Tauhid : Tauhid Uluhiyah, Tauhid Rububiyah dan Tauhid Asma wa Sifat.

    Mereka yang mengingkari Tauhid Asma wa Sifat berarti mengingkari salah satu macam Tauhid. Mereka yang ingkar ini tidak lepas dari dua keadaan yang berikut.

    Pertama.
    Mengingkarinya setelah mengetahui bahwa itu memang benar adanya. Mereka mengingkarinya secara sengaja, dan mengajak yang lain untuk mengingkarinya. Maka mereka yang berlaku seperti ini telah kafir karena mengingkari apa yang telah Allah tetapkan untuk diriNya. Padahal mereka mengetaui hal tersebut tanpa perlu takwil-nya.

    Kedua.
    Hanya ikut-ikutan kepada orang lain karena rasa percaya dan menyangka bahwa ia berada di atas kebenaran. Atau karena salah dalam menafsirkan, sementara ia menyangka berada di atas kebenaran. Mereka melakukan hal ini bukan karena sengaja mengingkari, tetapi karena ingin mensucikan Allah Subhanahu wa Ta’ala menurut pengakuan mereka. Maka mereka-mereka yang seperti ini adalah orang-orang yang tersesat dan salah karena ikut-ikutan atau mentakwil (menafsirkan) sendiri.

    Kafirnya kelompok yang pertama sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang kaum musyrikin.

    “Artinya : Padahal mereka kafir (ingkar) kepada Ar-Rahman (Tuhan Yang Maha Pemurah)”. [Ar-Ra’d : 30]

    Syaikh Sulaiman bin Abdullah di dalam kitabnya, Taysir Al-Aziz, berkata, “Karena Allah telah menanamkan mereka yang mengingkari satu dari nama-namaNya (yaitu Ar-Rahman) dengan kafir, maka hal ini menunjukkan bahwa mengingkari bagian dari nama-nama dan sifat-sifatNya adalah kafir. Dengan demikian, siapa saja yang mengingkari sesuatu dari nama-nama dan sifat-sifatNya, baik itu orang-orang filsafat, Jahmiyah, Mu’tazilah, atau selain mereka-pun termasuk kafir, sesuai dengan kadar pengingkaran mereka terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah tersebut”. [Lihat Taysir Aziz Al-Hamid hal. 575]

    Beliau juga berkata, “Bahkan kami katakan, Barangsiapa yang tidak beriman kepada nama-nama dan sifat-sifatNya, maka dia bukan termasuk orang-orang yang beriman. Dan barangsiapa di dalam hatinya ada rasa keberatan akan hal itu, maka dia seorang munafik”. [Lihat Taysir Aziz Al-Hamid hal. 588]

    Tauhid Asma dan Sifat bukanlah sesuatu yang baru dimunculkan oleh orang-orang belakangan. (Bukanlah) Anda telah mendengar hukum bagi siapa saja yang mengingkari nama Allah Ar-Rahman ! Dan (bukankah) mengimani Tauhid ini terdapat dalam pembicaraan para Shahabat, Tabi’in, Imam yang Empat, dan yang lainnya dari kalangan Salaf.

    Imam Malik, ketika ditanya tentang masalah istiwa (tingginya) Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas Arsy-Nya berkata, Istiwa (Allah) sudah sama dipahami, dan bagaimana (hakikat)nya tidak diketahui, sementara mengimaninya adalah wajib, dan bertanya tentang bagaimana (hakikat) Allah ber-istiwa adalah bid’ah”. [Lihat Mukhtasar Al-Uluw oleh Imam Dzahabi hal.141]

    Abdullah bin Mubarak berkata, “Kita mengetahui bahwa Tuhan kita berada di atas langit yang tujuh ; ber-istiwa di atas Arsy-Nya ; terpisah dari makhluk-Nya. Kami tidak mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh Jahmiyah”. [Lihat Mukhtasar Al-Uluw oleh Imam Dzahabi hal.151]

    Imam Al-Auza’iy berkata, Kami dan para Tabi’in mengatakan, Sesungguhnya Allah penyebutannya [1] di atas Arsy-Nya dan kami mengimani apa saja yang terdapat di dalam Sunnah”. [Lihat Mukhtasar Al-Uluw oleh Imam Dzahabi hal.138]

    Imam Abu Hanifah berkata, “Barangsiapa yang mengatakan, Saya tidak tahu apakah Tuhan saya berada di langit atau bumi, berarti dia telah kafir karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Allah ber-istiwa di atas arsy-Nya”. [Thaha : 5]

    Dan arsy-Nya berada diatas langit yang tujuh”. [Lihat Mukhtasar Al-Uluw oleh Imam Dzahabi hal.136]

    Jika anda ingin lebih jauh mengetahui tentang perkataan para salaf dalam masalah ini, maka lihat kitab Ijtima Al-Juyusy Al-Islamiyah ‘Ala Ghazwi Al-Mu’aththilah wal Jahmiyah (Bersatunya Tentara Islam dalam Memerangi Aliran Mu’ththilah dan Jahmiyah) oleh Imam Ibnu Al-Qayyim.

    Beberapa ulama memasukan Tauhid Asma dan Sifat ke dalam Tauhid Rububiyah dengan mengatakan bahwa Tauhid ada dua macam : Tauhid Fi Al-Marifat wa Al-Itsbat, yaitu Tauhid Rububiyah (dan masuk kedalamnya Tauhid Asma dan Sifat), dan Tauhid Fi Ath-Thalabi wa Al-Qashdi, yaitu Tauhid Uluhiyah. Akan tetapi, ketika mulai muncul orang-orang yang mengingkari Tauhid Asma dan Sifat, maka dijadikanlah Tauhid ini tersendiri untuk menetapkan masalah penetapannya dan menolak mereka yang mengingkarinya.

    Tiga macam Tauhid ini terdapat di dalam Al-Qur’an, terkhususkan pada awal-awal surat. Sebaiknya kitab pertama yang hendaknya anda baca adalah kitab Madarij as-Salikiin oleh Ibnu Qayyim.

    [Al-Muntaqa min Fatawa Syaikh Shalih bin Fauzan III/19-20 Di salin ulang dari Majalah Fatawa edisi 4/I/Dzulhijjah 1423H, Alamat Pondok Pesantren Islaic Center Bin Baz Piyungan Bantul Yogyakarta]

  22. Masya Allah.. dasar mujasimah alwahabiah! Sejak kapan “tangan” jadi kata sifat? Sudah jelas kata “tangan” adalah kata benda masa’ dimaknai secara zahir nash Al Quran dan hadist nabi tentang ayat dan hadist mutasyabihat. Otak dan pemikiran siapapun akan rusak kalau mengikuti pola pikir wahabi tentang zat Allah.

  23. Ana jadi tahu sekarang, kenapa Abu Salafy tak mau menangga[pi lagi Firanda. Ternyata Firanda itu penyandang gelas S2 tapi Jaahil Murokkab. Sepertinya Abu Salafy mengikuti prinsip para Ulama Salafussholihin bahwa jawaban untuk orang jaahil adalah DIAM. Dan Abu Salafy melakukannya, yaitu diam.

    Kalau dijawab, terus Firanda juga jawab tapi gak nyambung, kan kacau, ya kan?

    Jadi yg Jawab Mas Ahmad Syahid aja, biar lebih bebas n enjoy tanpa beban. Sebab kalau Abu Salafy yg jawab sambil marah-marah karena jengkel dengan O’ON-nya Firanda, maka jatuhlah martabat Abu Salafy di hadapan kejahilan Firanda. Untunglah Abu salafy melakukan aksi DIAM tak mau nanggapi lagi ocehan Firanda yg ternyata tanpa makna seperti dikupas habis oleh Mas Ahmad syahid.

    Demikian sedikit analisa ana mohon maaf jika salah beranalisa, maklum masih amatiiirrr? 😆

  24. @abu umar
    Pertama ente menyakinkan Allah di Arsy dengan pemikiran ente saat Rasulullah bermi’raj, disini ane jawab, setelah ane jawab ente berargumen tentang Tangan Allah “Sifat Tangan Bagi Allah”. (Gak nyambung)
    Ente ngarti gak sama pertanyaan ente tentang Allah di Arsy sesuai pertanyaan ente.
    Disini ane nilai 1. ente gak berilmu buat keyakinan ente sendiri. 2. Ente mau nguji keyakinan Team Aswaja tentang Allah. 3. Ente cuma mau ngadalin team aswaja.
    Gak bakalan ane n team aswaja bisa terpengaruh sama akidah wahabiyun yang bingung itu. Apalagi ini masalah Tauhid, bisa2 ente bingung kalau salah dalam menafsirkan tentang keberadaan Allah. jangan main2 dalam masalah Tauhid ini DOSA.
    Sebelum terlambat, tobat deh ente.

    1. Yang tobat harusnya ente? cuma mempelajari ilmu dari ustadnya sendiri. Sampai perkataan hati mereka ya di turuti meskipun tanpa dalil yang jelas. Dalilnya cukup, hatiku mengatakan dari Allah. Apa itu bisa menjadi dasar? Jangan2 syetan tuh yang membisikan ke hatinya. huahahahaha

  25. Maha Suci Alloh SWT dari perkiraan mahluk2-Nya!!!

    to abu umar…

    logika antum bertabrakan coba baca sekali lagi lebih dalam………. pernyataan2 antum??!!

    saya mau tanya juga kenapa ilmu tafsir lahir??dan bagaimana sejarah tentang kelahiran ilmu tafsir tersebut??

    syukron

  26. lanjut terus aswaja dakwahnya,…
    moga2 hidayah Allah dtg ke para kaum sa-wah agar kembali ke aqidah aswaja…amiin…
    comment ane kemarin nggak muncul ya ustadz he..he..,

  27. Sifat Tangan Bagi Allah
    Posted on July 4, 2011 by admin 2

    Para pembaca yang dirahmati Allah! Sebagai lanjutan dari pembahasan kita tentang Tauhid Asmaa’ wa sifat, pada kesempatan kali ini kita akan mengupas tentang sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Alquran dan Sunah. Di antara sifat Allah yang mulia yang disebutkan dalam Alquran dan Sunah adalah sifat tangan bagi Allah. Pada bahasan-bahasan yang lalu kita sudah membahas tentang kaidah-kaidah Ahlussunah dalam mengimani sifata-sifat Allah. Bahwa kita mengimani segala sifat Allah yang terdapat dalam Alquran dan Sunah, tanpa menyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk. Dan tidak pula mengkhayalkan atau mempertanyakan tentang bentuk (hakikat) sifat tersebut. Serta tidak pula mentakwilkannya dengan sesuatu yang diluar makna sifat tersebut.

    Pada bahasan berikut ini kita akan sebutkan tentang dalil-dalil dari Alquran dan Sunah tentang sifat tangan bagi Allah, serta perkataan dari para ulama salaf. Pada akhir bahasan kita akan menjawab berbagai argumentasi orang-orang yang mengingkari sifat tangan bagi Allah, atau mentakwilnya.

    {قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ} [ص/75]

    “Allah berfirman, ‘Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?.’”

    Dalam ayat yang mulia ini Allah menyebutkan kemuliaan dan keutamaan Nabi Adam atas penciptaan Iblis. Bahwa Allah menciptakan Nabi Adam dengan kedua tangan-Nya. Bukan seperti makhluk-makhluk lainnya yang diciptakan dengan Qudrat-Nya atau kalimat “Kun”.

    Hal ini diperjelas dalam sebuah hadits yang menceritakan tentang peristiwa ketika manusia dikumpulkan di padang Makhsyar. Manusia ditimpa oleh kegelisahan dan kesusahan pada hari itu, lalu mereka mencari orang yang mungkin untuk memohon syafaat bagi mereka. Maka mereka pertama kali mendatangi Nabi Adam seraya berkata,

    ((يا آدم أنت أبو البشر خلقك الله بيده ونفخ فيك من روحه…(( متفق عليه

    “Wahai Adam! Engkau adalah Bapak manusia, Allah telah menciptakanmu dengan tangan-Nya dan meniupkan ruh-Nya kepadamu.”

    Demikian pula ungkapan Nabi Musa kepada Nabi Adam kelak di hari kiamat ketika menyebutkan keutamaan nabi Adam di hadapan Allah. Sebagaimana yang disebutkan Rasulullah dalam sabda beliau,

    (( قَالَ مُوسَى أَنْتَ آدَمُ الَّذِى خَلَقَكَ اللَّهُ بِيَدِهِ وَنَفَخَ فِيكَ مِنْ رُوحِهِ وَأَسْجَدَ لَكَ مَلاَئِكَتَه…(( رواه مسلم

    ”Berkata Musa: engakau adalah Adam yang diciptakan Allah dengan tangan-Nya dan meniupkan ruh-Nya kepada engkau serta memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadamu… ”

    Kemudian nabi Adam pun membalas pujian nabi Musa dengan mengatakan,

    ((فَقَالَ لَهُ آدَمُ أَنْتَ مُوسَى اصْطَفَاكَ اللَّهُ بِكَلاَمِهِ وَخَطَّ لَكَ بِيَدِهِ)) وفي لفظ ((كَتَبَ لَكَ التَّوْرَاةَ بِيَدِهِ)) رواه مسلم

    “Maka Adam berkata kepadanya: engkau adalah Musa yang Allah telah mengistimewakanmu dengan perkataannya dan telah menuliskan Taurat untukmu dengan tangan-Nya.”

    Dari beberapa dalil yang kita kemukakan di atas menunjukkan bahwa orang yang mengatakan Allah memiliki tangan bukanlah orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk. Kalau hal tersebut membawa kepada penyerupaan Allah dengan makhluk, tentulah Allah tidak akan sebutkan sifat tersebut untuk diri-Nya dalam kitab suci-Nya. Demikian pula para nabi Allah Adam dan Musa tidak akan mempergunakan kata-kata tersebut untuk Allah. Sebab mereka menetapkan sifat tersebut bagi Allah, tidak harus menyerupakannya dengan sifat makhluk. Karena sifat Allah sesuai dengan kebesaran Zat Allah. Tidak ada yang mengetahui bagaimana hakikat bentuk dan rupanya kecuali Allah itu sendiri. Maka oleh sebab itu jika ada orang yang memahami makna tangan ketika dinisbahkan kepada Allah sebagaimana hakikat yang ada pada makhluk maka ini adalah pemahaman yang salah dan keliru. Inilah yang dilarang dalam agama yaitu menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya.

    Maka oleh sebab itu, yang dikatakan Musyabbihah atau Mujassimah adalah orang yang mengatakan tangan Allah seperti tangan makhluk, yakni makna sifat Allah seperti sifat makhluk.

    Sebagaimana jawaban Imam Ahmad ketika ditanya tentang Musyabbihah, beliau menjawab: ”Al Musyabbihah adalah orang yang mengatakan: pendengaran Allah seperti pendengarku, penglihatan Allah seperti penglihatanku, tangan Allah seprti tanganku.”[1]

    Oleh sebab itu, orang yang menuduh Ahlussunah sebagai Musyabihah dan Mujassimah adalah kedustaan belaka. Karena mereka tidak pernah mengatakan bahwa tangan Allah seperti tangan makhluk. Bahkan sebaliknya mereka adalah orang yang mencela orang yang menyerupakan sifat Allah dengann sifat makhluk. Tetapi mereka meyakini bahwa Allah memiliki sifat sebagaimana yang terdapat dalam Alquran dan Sunah yang shahih. Tidak sebagaimana yang dituduhkan oleh orang-orang Mu’athilah mengatakan bahwa orang yang meyakini Allah memiliki sifat adalah Musyabbihah dan Mujassimah.

    Barangsiapa yang menuduh orang yang meyakini Allah memiliki sifat tangan sebagai musyabbihan dan mujassimah. Maka tuduhan itu pertama sekali tertuju kepada para nabi Allah, Adam dan Musa. Bahkan telah menuduh Allah menyerupakan diri-Nya dengan makhluk-Nya, Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan.

    Kebatilan mazhab Musyabbihah

    Kebatilan tentang mazhab Musyabbihah sangat nyata sekali bagi orang yang berakal dan beriman. Apakah mungkin Allah Yang Maha Besar, Yang Maha Sempurna dalam segala sifat-Nya akan diserupakan dengan makhluk yang serba kurang dan lemah! Sebagai contoh sifat tangan bagi Allah, mari kita lihat bagaimana keagungan dan kesempurnaan sifat Allah tersebut sebagaimana yang disebutkan dalam Alquran dan Sunah yang shahih.

    Allah menyebutkan bahwa di tangan-Nya kekuasaan dan ketentuan segala sesuatu. Sebagaimana dalam firman-Nya,

    {فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ} [يس/83]

    “Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan”.

    Dan firman Allah,

    {قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ} [المؤمنون/88]

    “Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?”

    Kita bertanya kepada orang-orang Musyabbihah, “Apakah mungkin disamakan tangan Allah dalam ayat tersebut dengan tangan makhluk?” Jawabannya pasti tidak, karena kekuasaan mutlak berada di tangan Allah sedangkan yang ada di tangan makhluk adalah atas karunia dan pemberian Allah. Berarti menyerupakan sifat tangan Allah yang memiliki kekuasaan mutlak dengan tangan makhluk adalah amat nyata sekali kesesatannya.

    Demikian pula Allah sebutkan bahwa segala karunia berada di tangan-Nya, Allah memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

    {قُلْ إِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ} [آل عمران/73]

    “Katakanlah, ‘Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.’”

    {وَأَنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ} [الحديد/29]

    “Dan bahwasanya karunia itu adalah di tangan Allah. Dia berikan karunia itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”

    Apakah orang-orang Musyabbihah akan mengatakan tangan Allah yang memiliki karunia yang luas seperti tangan makhluk yang tidak memiliki apa-apa? Tangan mereka kosong dari karunia dan kebaikan kecuali atas pemberian Allah semata. Karena semua kebaikan berada di tangan Allah.

    Sebagaimana firman Allah,

    {بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ }[آل عمران/26]

    Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

    Demikian pula Allah sebutkan tentang sifat tanga-Nya dalam Alquran,

    {وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ} [الزمر/67]

    “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya[1316]. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”

    Tidakkah orang-orang Musyabbihah merenungkan ayat yang mulia ini! Mungkinkah akan disamakan tangan Allah dengan tangan makhluk! Makhluk yang mana mampu menggengam bumi dan menggulung langit dengan tangannya! Subhaanallah Maha suci Allah dari segala apa yang mereka sangkakan.

    Demikian pula, jika kita tengok hadits-hadits yang menyebutkan sifat tangan Allah. Betapa agungnya sifat Allah tersebut. Berikut kita sebutkan beberapa hadits tentan sifat tangan Allah,

    عن ابن عمر رضي الله عنهما؛ قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يطوي الله عز وجل السماوات يوم القيامة، ثم يأخذهن بيده اليمنى، ثم يقول: أنا الملك؛ أين الجبارون؟ أين المتكبرون؟ ثم يطوي الأرضين بشماله، ثم يقول: أنا الملك؛ أين الجبارون؟ أين المتكبرون؟ ». متفق عليه

    Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu ia berkata; telah bersabda Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Allah melipat semua langit pada hari kiamat kemudian Allah ambil dengan tangan kanan-Nya. Lalu Allah berkata: Akulah Yang Maha Diraja, dimana orang-orang yang sombong? Kemudian Allah melipat bumi dengan tangan kiri-Nya, lalu Allah berkata: Akulah Yang Maha Diraja, dimana orang-orang yang sombong?”

    عن أبي هريرة رضي الله عنه؛ قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: « يقبض الله الأرض يوم القيامة، ويطوي السماء بيمينه، ثم يقول: أنا الملك؛ أين ملوك الأرض ». رواه البخاري

    Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah menggenggam bumi pada hari kiamat dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya. Kemudian Allah berkata: Akulah Yang Maha Diraja, dimana raja-raja dunia?”

    عن أبي هريرة رضي الله عنهقال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (يد الله ملأى لا يغيضها نفقة سحاء الليل والنهار. وقال أرأيتم ما أنفق منذ خلق السماوات والأرض فإنه لم يغض ما في يده. وقال وكان عرشه على الماء وبيده الأخرى الميزان يخفض ويرفع). أخرجاه في الصحيحين

    Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tangan Allah penuh (rahmat dan nikmat), tidak pernah terkurangi oleh pemberian sepanjang malam dan siang. Apakah kalian (tidak) perhatikan apa yang diberikan-Nya semenjak diciptakan langit dan bumi, tidak pernah mengurangi apa yang di tangan-Nya. ‘Arasy-Nya berada di atas air. Dan pada tangan-Nya yang lain ada timbangan, ia turunkan dan ia angkat.’”

    Tidakkah orang Musyabbihah merenungkan hadits-hadits tersebut, yang menerangkan tentang keagungan tangan Allah. Akankah bisa diserupakan tangan Allah dengan tangan makhluk! Sedangkan tangan Allah mampu melipat langit dan menggenggam bumi. Demikian pula tangan Allah penuh dengan nikmat dan rahmat. Adapun tangan makhluk jangankan untuk menggenggam bumi, menggenggam satu kilo pasir saja tidak mampu. Demikian pula tangan makhluk tidak memiliki rahmat dan nikmat kecuali atas pemberian Allah Yang Maha Kaya dimana rahmat dan nikmat-Nya tidak pernah berkurang semenjak diciptakan-Nya langit dan bumi.

    Allah memiliki dua tangan yang mulia tidak serupa dengan tangan makhluk. Kemudian kedua tangan Allah tersebut tidak ada cacat sedikitpun. Maka oleh sebab itu disebutkan dalam hadits bahwa kedua tangan-Nya adalah kanan. Tapi tidak berarti bahwa kedua tangan Allah berada dibagian kanan. Tapi disebutkan kedua tangan Allah kanan adalah agar tidak diyakini pada salah satu tangan Allah ada kekurangan dan kelemahan. Mari kita simak penjelasannya berikut ini,

    عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما؛ قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إن المقسطين عند الله يوم القيامة على منابر من نور عن يمين الرحمن عز وجل، وكلتا يديه يمين». رواه مسلم

    Dari Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash radhiallahu ‘anhu, ia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang adil disisi Allah pada hari kiamat di atas mimbar terbuat dari cahaya di sebelah kanan Allah, dan kedua tangan-Nya adalah kanan.”

    Berkata Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Para ulama berkata: Tatkala sifat-sifat makhluk menggandung kekurangan, maka tangan kiri mereka lebih lemah dalam kekuatan dan perbuatan, ketika tangan kiri dipergunakan untuk hal-hal yang hina seperti memegang najis dan kotoran. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa kedua tangan Allah penuh berkah, tidak ada sedikitpun memiliki kekurangan dan cacat dalam segala segi. Sebagaimana halnya sifat-sifat makhluk. Sekalipun yang paling mulia dinatara keduanya adalah yang kanan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Adam berkata, ‘Aku memilih tangan kanan Allah dan kedua tangan Allah kanan yang penuh berkah’[2]. Maka sesungguhnya tidak ada kekurangan dalam segala sifat Allah juga tidak ada celaan dalam segala perbuatan-Nya. Akan tetapi perbuatan Allah adakalanya karunia (keutaman) dan adakalanya keadilan. Sebagaimana yang terdapat dalam shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al Asy’ari radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

    “Tangan kanan Allah penuh (rahmat dan nikmat), tidak pernah terkurangi oleh pemberian sepanjang malam dan siang. Apakah kalian (tidak) perhatikan apa yang diberikan-Nya semenjak Ia ciptakan langit dan bumi, tidak pernah mengurangi apa yang di tangan kanan-Nya. Dan timbangan keadilan di tangan-Nya yang lain ada, Ia naikkan dan Ia turunkan“.

    Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa karunia (keutamaan) di tangan kanan Allah dan keadilan di tangan yang lainnya. Dan sudah dimaklumi bahwa kedua tangan Allah adalah kanan (mulia), maka karunia (kemulian) lebih tinggi dari sifat keadilan. Maka segala bentuk rahmat yang diberikan Allah adalah karunia dari-Nya. Dan segala bentuk azab yang datang dari Allah adalah bentuk keadilan dari-nya. Maka rahmat lebih baik daripada azab. Oleh karena itu orang-orang yang berlaku adil berada di atas mimbar tebuat dari cahaya di sebelah kanan Allah, dan mereka tidak diletakkan di sebelah tangan Allah yang lain. Allah meletakkan mereka di sebelah kanan-Nya adalah sebagai kemulian untuk mereka. Sebagaimana Allah memberikan kemulian dalam Alquran terhadap golongan kanan di atas golongan kiri. Dan mereka golongan kiri di azab berdasarkan keadilan-Nya. Demikian pula terdapat dalam berbagai hadits dan atsar menyebutkan bahwa orang pada genggaman kanan adalah penghuni surga dan orang pada genggaman yang lain adalah penghuni neraka.”[3]

    Kebatilan madzhab Muawwilah (Mu’aththilah)

    Komunitas ahlul kalam mengingkari dan mentakwil ayat-ayat dan hadits-hadits yang kita sebutkan diatas dengan takwilan-takwilan yang batil.

    Diantara mereka ada yang mengatakan yang dimaksud dengan tangan adalah qudrah. Yang lain mengatakan yang dimaksud dengan tangan adalah nikmat. Argumentasi mereka adalah jika kita meyakini Allah punya tangan kita akan terjerumus kepada penyerupaan Allah dengan makhluk. Alasan lain adalah karena dalam bahasa Arab kata-kata tangan digunakan kadang kala untuk penyebutan nikmat. Jawaban Ahlussunah terhadap syubhat-syubhat tersebut adalah sebagai berikut:

    Syubhat pertama: Bahwa tangan Allah adalah qudrah-Nya.

    Jika kita cermati ayat-ayat dan hadist-hadits yang kita sebutkan di atas. Kita mendapati bahwa tidak sama antara qudrah dan tangan. Karena Allah mempergunakan kedua lafaz tersebut dalam konteks yang berbeda. Seperti ayat yang menyebutkan tentang kemulian Adam di atas makhluk-makhluk yang lain. Bahwa Allah menciptakannya dengan kedua tangannya. Kalau tangan diartikan qudrah maka semua makhluk diciptakan dengan qudrah. Maka tentu tidak ada kelebihan dan keistimewaan Adam di atas makhluk-makhluk yang lain. Tentu Iblis akan menjawab ketika Allah berkata kepadanya: Kenapa engkau engggan sujud kepada Adam yang aku ciptakan dengan kedua tanganku? Akupun engakau ciptakan dengan kedua tanganMu. Kalau sekiranya tangan bisa diatikan dengan qudrah.

    Semua orang islam sepakat bahwa sifat Qudrah Allah adalah satu bukan dua. Jika tangan diartikan dengan qudrah pada kisah Adam terbut, tentu akan berbunyi begini: kenapa engkau enggan sujud kepada Adam yang aku ciptakan dengan dua qudrahKu. Pemahaman seperti ini tidak seorangpun yang mengenalnya dalam Islam.

    Syubhat kedua: Maksud tangan Allah adalah nikmat-Nya.

    Demikian pula bila tangan Allah ditakwil dengan nikmat apakah akan dikatakan bahwa adam diciptakan dengan dua nikmat. Sedangkan nikmat Allah bukan dua adanya akan tetapi tidak terbilang, bagaimana bisa dikatakan hanya dua. Kalau Adam diciptakan dengan nikmat tentu tidak ada kelebihan adam di atas Iblis. Tentu Musa tidak akan memuji Adam dengan penciptaaan Allah terhadapnya. Demikian pula manusia ketika berada di Padang Makhsyar ketika mereka memohon agar Adam meminta syafaat kepada Allah. Mereka memuji dan menyebutkan keistimewaan Adam, dimana Allah telah menciptakanya dengan kedua tangan-Nya.

    Berkata Syeikh islam Ibnu Taimiyah dalam menjawab dua syubuhat di atas: “Firman Alah: Aku ciptakan dengan kedua tanganKu” tidak bisa diartikan bahwa yang dimaksud dengannya adalah Qudrah. Karena qudrah adalah satu. Dan tidak bisa bilangan dua digunakan untuk menyatakan satu. Dan juga tidak bisa diartikan nikmat, karena nikmat Allah tidak terhitung (jumlahnya). Dan nikmat yang tidak terbilangan tidak bisa dinyataka dengan bilangan dua[4].

    Syubuhat ketiga: Meyakini Allah memiliki sifat tangan adalah meyerupakan Allah dengan Makhluk.

    Syubhat ini yang senantiasa dikemukakan oleh setiap pengingkar sifat-sifat Allah. Bagi pembaca pembahasan-pembahasan yang berlalu akan sangat mudah menjawabnya. Karena sifat tangan di sini dinisbahkan kepada Allah tidak kepada makhluk. Maka segala sifat Allah sesuai dengan kebesaran dan kemulian Zat Allah. Kita tidak meyakini sifat tangan Allah seperti tangan makhluk. Jika kita katakan seperti tangan makhluk berarti yang kita yakini bukan sifat Allah tapi sifat makhluk. Mungkinkah akan disamakan sifat Allah dengan sifat makhluk! Karena setiap sifat sesuai dengan kondisi zat setiap sifat tersebut. Apakah kita akan katakan tangan kursi seperti tangan manusia! Karena sama-sama disebut tangan. Setiap makhluk yang diberi tangan berbeda bentuk dan hakikatnya sesuai dengan zat masing-masing makhluk tersebut. Kucing, gajah, kerbau, sapi, kera, masing-masing memilki tangan. Tetapi tidak pernah tergambar dalam benak kita kitika ada orang menyebut tangan monyet lalu kita pahami seperti tangan gajah.

    Syubuhat keempat: Kata-kata tangan dalam bahasa Arab digunakan kadang kala untuk menyebut nikmat.

    Memang kalimat tangan kadang kala penggunaannya dalam bahasa Arab diartikan dengan nikmat. Akan tetapi selalu dipergunakan terhadap zat yang memiliki sifat tersebut secara hakiki. Oleh sebab itu tidak pernah disebut kepada air, udara dan hujan memiliki tangan. Sebab zat tersebut secara hakiki tidak memiliki tangan. Tetapi penggunaan kalimat tangan khusus kepada setiap zat yang benar-benar memiliki tangan. Selanjutnya penetuan makna ditetukan oleh konteks susunan kata di mana kalimat tangan tersebut ditempatkan. Tidak mungkin setiap kita menemukan kalimat tangan diartikan dengan nikmat. Maka ayat-ayat dan hadits-hadits yang kita sebutkan di atas tidak bisa ditakwil dengan nikmat dan qudrah karena konteks susunan kalimatnya tidak mendukung kearah tersebut sama sekali.

    Sebagai bukti terakhir kebatilan pentakwilan tersebut adalah simpangsiurnya penafsiran dan makna yang disebutkan para ahli kalam terhadap ayat atau hadits yang sama. Hal ini adalah suatu indikasi yang membuktikan bawah ahli kalam tidak punya dasar yang valid dalam menetukan takwil-takwil mereka.

    Penulis Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A.
    Artikel http://www.dzikra.com
    [1] Lihat Al Ibaanah karangan Ibnu Baththah: 3/327.
    [2] Hadits tersebut diriwayatkan At Tirmizi (5/453) dan dinilai oleh Syeikh Al Albany: Hasan Shahih (shahih sunan At Tirmizi: 3/137).
    [3] Majmu’ fatawa (17/92-93).
    [4] Majmu’ Fatawa (6/365).

    Tangan (yadd) menurut makna hakiki bahasa Arab adalah anggota tubuh dari lengan hingga ujung jari (Mu’jam Al Wasith).

    Apakah ente meyakini yadd yang dinisbatkan kepada Allah adalah tangan hakiki dalam bahasa Arab?

      1. Tangan Abu Umar dengan tangan monyet dan anjing Berbeda bentuknya saja kan mas ?

        Tetapi sama-sama anggota tubuh, sama-sama bentuk yang mempunyai batas dan ukuran.

        Maha suci Allah dari susunan, bentuk, batas dan ukuran.

      2. Tangan seluruh makhluk hidup itu sama-sama anggota badan, jisim, punya ukuran, menempati ruang.

        Walau anda menyatakan bahwa yadd yang dinisbatkan kepada Allah bentuknya berbeda namun anda masih meyakini bahwa tangan itu sebagai anggota badan, jisim, punya ukuran, menempati ruangan maka itu sudah tasybih.

        He he he diskusi tanya mulu…

      3. Pertanyaan ente dah ane jawab semua. Pertanyaan ane yang lalu lom ente jawab.

        Tangan (yadd) menurut makna hakiki bahasa Arab adalah anggota tubuh dari lengan hingga ujung jari (Mu’jam Al Wasith).

        Apakah ente meyakini yadd yang dinisbatkan kepada Allah adalah tangan hakiki dalam bahasa Arab itu?

        1. Ya.. Tangan Allah berbeda dengan tangan makhluk-Nya, sesuai dengan Kebesaran Dzat-Nya.
          Laisa kamitslihi syaiun. (Dia (Allah) tidak serupa dengan sesuatu pun).

          1. Jangan berbelit dong. Pertanyaannya adalah,”Apakah ente meyakini yadd yang dinisbatkan kepada Allah adalah tangan hakiki dalam bahasa Arab itu?”

            Iya atau tidak?

          2. Ya. PAHAM.
            Tangan Allah berbeda dengan tangan makhluk-Nya, sesuai dengan Kebesaran Dzat-Nya.
            Laisa kamitslihi syaiun. (Dia (Allah) tidak serupa dengan sesuatu pun).
            Tangan berbeda makhluk aja berbeda apalagi Tangan Allah, jelas berbeda dengan makhluk-Nya.
            Ente itu mau mentakwil kan? hahaha. mau ente takwil apa Tangan Allah?

          3. OOOOOO….jadi menurut Abu Umar yadd yang dinisbatkan kepada Allah merupakan anggota tubuh dari lengan hingga ujung jari!!!

            Dah ketahuan akidah si Abu Umar!

          4. Tangan manusia adalah anggota tubuh dari lengan hingga ujung jari.

            Sedangkan Abu Umar memaknai yadd yang dinisbatkan kepada Allah juga sebagai anggota tubuh dari lengan hingga ujung jari.

            Inilah penyerupaan yang sempurna!!!!

            Orang yang sudah berakidah demikian, tidak ada gunanya mengklaim bahwa ia tidak menyerupakan Allah terhadap apapun.

            Hayoo…siapa yang mok mengikuti akidah si Abu Umar?????

          5. Ya. PAHAM.
            Tangan Allah berbeda dengan tangan makhluk-Nya, sesuai dengan Kebesaran Dzat-Nya.
            Laisa kamitslihi syaiun. (Dia (Allah) tidak serupa dengan sesuatu pun).
            Tangan berbeda makhluk aja berbeda apalagi Tangan Allah, jelas berbeda dengan makhluk-Nya.

            @Abu Umar

            mf saya bingung…………..;

            (Dia (Allah) tidak serupa dengan sesuatu pun)!

            tetapi tanpa di sadari antum sudah mampu membayangkan suatu konsep tentang Tangan Alloh….DENGAN BAHASA ANTUM…

            “bagaimanapun mahluk akan selalu mengimajinasikan sebuah konsep tentang sesuatu yang sesuai dengan padanan ATAU KADAR fitrahnya sebagai mahluk juga bukan??!!!

            MAha Suci Alloh dari perkiraan2 manusia!!!

            syukron

          6. Yang memperkirakan Dzat Allah siapa? apakah mensifati tangan berarti memperkirakan bentuk tangan-Nya bagaimana? sungguh bodoh ente itu? Mbok ya sadar km. Kita semua tidak mengetahui bentuk tangan Allah seperti apa.. yang jelas tangan-Nya berbeda dengan sesuatu pun.

          7. Berbeda apanya? Ente kan menyetujui bahwa yadd yang dinisbatkan kepada Allah bermakna anggota tubuh dari lengan hingga ujung jari, sesuai makna hakiki bahasa Arab! Itulah tangan manusia!!!

          8. sepertinya Abu Umar ini pusing dg komentar or argumen yg ditampilkannya sendiri, atau copas-annya dia baca dulu? main copas aja?? coba minum obat pusing dulu yah mas….

  28. Abu Umar:
    Aneyang
    tanyamalah
    baliktanya.
    gmnsih?
    cobajelaskan?
    Bukankah
    Rasullullah
    kelangitpada
    waktumi’raj?

    Emang, hadits menunjukkan Rasulullah ke langit dan menerima wahyu shalat. Tapi tidak menunjukkan Allah di langit. Sebagaimana Nabi Musa menerima wahyu di atas gunung Thur, tidak menunjukkan bahwa Allah berada di atas gunung Thur.

  29. Sifat Tangan Bagi Allah
    Posted on July 4, 2011 by admin 2

    Para pembaca yang dirahmati Allah! Sebagai lanjutan dari pembahasan kita tentang Tauhid Asmaa’ wa sifat, pada kesempatan kali ini kita akan mengupas tentang sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Alquran dan Sunah. Di antara sifat Allah yang mulia yang disebutkan dalam Alquran dan Sunah adalah sifat tangan bagi Allah. Pada bahasan-bahasan yang lalu kita sudah membahas tentang kaidah-kaidah Ahlussunah dalam mengimani sifata-sifat Allah. Bahwa kita mengimani segala sifat Allah yang terdapat dalam Alquran dan Sunah, tanpa menyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk. Dan tidak pula mengkhayalkan atau mempertanyakan tentang bentuk (hakikat) sifat tersebut. Serta tidak pula mentakwilkannya dengan sesuatu yang diluar makna sifat tersebut.

    Pada bahasan berikut ini kita akan sebutkan tentang dalil-dalil dari Alquran dan Sunah tentang sifat tangan bagi Allah, serta perkataan dari para ulama salaf. Pada akhir bahasan kita akan menjawab berbagai argumentasi orang-orang yang mengingkari sifat tangan bagi Allah, atau mentakwilnya.

    {قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ} [ص/75]

    “Allah berfirman, ‘Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?.’”

    Dalam ayat yang mulia ini Allah menyebutkan kemuliaan dan keutamaan Nabi Adam atas penciptaan Iblis. Bahwa Allah menciptakan Nabi Adam dengan kedua tangan-Nya. Bukan seperti makhluk-makhluk lainnya yang diciptakan dengan Qudrat-Nya atau kalimat “Kun”.

    Hal ini diperjelas dalam sebuah hadits yang menceritakan tentang peristiwa ketika manusia dikumpulkan di padang Makhsyar. Manusia ditimpa oleh kegelisahan dan kesusahan pada hari itu, lalu mereka mencari orang yang mungkin untuk memohon syafaat bagi mereka. Maka mereka pertama kali mendatangi Nabi Adam seraya berkata,

    ((يا آدم أنت أبو البشر خلقك الله بيده ونفخ فيك من روحه…(( متفق عليه

    “Wahai Adam! Engkau adalah Bapak manusia, Allah telah menciptakanmu dengan tangan-Nya dan meniupkan ruh-Nya kepadamu.”

    Demikian pula ungkapan Nabi Musa kepada Nabi Adam kelak di hari kiamat ketika menyebutkan keutamaan nabi Adam di hadapan Allah. Sebagaimana yang disebutkan Rasulullah dalam sabda beliau,

    (( قَالَ مُوسَى أَنْتَ آدَمُ الَّذِى خَلَقَكَ اللَّهُ بِيَدِهِ وَنَفَخَ فِيكَ مِنْ رُوحِهِ وَأَسْجَدَ لَكَ مَلاَئِكَتَه…(( رواه مسلم

    ”Berkata Musa: engakau adalah Adam yang diciptakan Allah dengan tangan-Nya dan meniupkan ruh-Nya kepada engkau serta memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadamu… ”

    Kemudian nabi Adam pun membalas pujian nabi Musa dengan mengatakan,

    ((فَقَالَ لَهُ آدَمُ أَنْتَ مُوسَى اصْطَفَاكَ اللَّهُ بِكَلاَمِهِ وَخَطَّ لَكَ بِيَدِهِ)) وفي لفظ ((كَتَبَ لَكَ التَّوْرَاةَ بِيَدِهِ)) رواه مسلم

    “Maka Adam berkata kepadanya: engkau adalah Musa yang Allah telah mengistimewakanmu dengan perkataannya dan telah menuliskan Taurat untukmu dengan tangan-Nya.”

    Dari beberapa dalil yang kita kemukakan di atas menunjukkan bahwa orang yang mengatakan Allah memiliki tangan bukanlah orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk. Kalau hal tersebut membawa kepada penyerupaan Allah dengan makhluk, tentulah Allah tidak akan sebutkan sifat tersebut untuk diri-Nya dalam kitab suci-Nya. Demikian pula para nabi Allah Adam dan Musa tidak akan mempergunakan kata-kata tersebut untuk Allah. Sebab mereka menetapkan sifat tersebut bagi Allah, tidak harus menyerupakannya dengan sifat makhluk. Karena sifat Allah sesuai dengan kebesaran Zat Allah. Tidak ada yang mengetahui bagaimana hakikat bentuk dan rupanya kecuali Allah itu sendiri. Maka oleh sebab itu jika ada orang yang memahami makna tangan ketika dinisbahkan kepada Allah sebagaimana hakikat yang ada pada makhluk maka ini adalah pemahaman yang salah dan keliru. Inilah yang dilarang dalam agama yaitu menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya.

    Maka oleh sebab itu, yang dikatakan Musyabbihah atau Mujassimah adalah orang yang mengatakan tangan Allah seperti tangan makhluk, yakni makna sifat Allah seperti sifat makhluk.

    Sebagaimana jawaban Imam Ahmad ketika ditanya tentang Musyabbihah, beliau menjawab: ”Al Musyabbihah adalah orang yang mengatakan: pendengaran Allah seperti pendengarku, penglihatan Allah seperti penglihatanku, tangan Allah seprti tanganku.”[1]

    Oleh sebab itu, orang yang menuduh Ahlussunah sebagai Musyabihah dan Mujassimah adalah kedustaan belaka. Karena mereka tidak pernah mengatakan bahwa tangan Allah seperti tangan makhluk. Bahkan sebaliknya mereka adalah orang yang mencela orang yang menyerupakan sifat Allah dengann sifat makhluk. Tetapi mereka meyakini bahwa Allah memiliki sifat sebagaimana yang terdapat dalam Alquran dan Sunah yang shahih. Tidak sebagaimana yang dituduhkan oleh orang-orang Mu’athilah mengatakan bahwa orang yang meyakini Allah memiliki sifat adalah Musyabbihah dan Mujassimah.

    Barangsiapa yang menuduh orang yang meyakini Allah memiliki sifat tangan sebagai musyabbihan dan mujassimah. Maka tuduhan itu pertama sekali tertuju kepada para nabi Allah, Adam dan Musa. Bahkan telah menuduh Allah menyerupakan diri-Nya dengan makhluk-Nya, Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan.

    Kebatilan mazhab Musyabbihah

    Kebatilan tentang mazhab Musyabbihah sangat nyata sekali bagi orang yang berakal dan beriman. Apakah mungkin Allah Yang Maha Besar, Yang Maha Sempurna dalam segala sifat-Nya akan diserupakan dengan makhluk yang serba kurang dan lemah! Sebagai contoh sifat tangan bagi Allah, mari kita lihat bagaimana keagungan dan kesempurnaan sifat Allah tersebut sebagaimana yang disebutkan dalam Alquran dan Sunah yang shahih.

    Allah menyebutkan bahwa di tangan-Nya kekuasaan dan ketentuan segala sesuatu. Sebagaimana dalam firman-Nya,

    {فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ} [يس/83]

    “Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan”.

    Dan firman Allah,

    {قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ} [المؤمنون/88]

    “Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?”

    Kita bertanya kepada orang-orang Musyabbihah, “Apakah mungkin disamakan tangan Allah dalam ayat tersebut dengan tangan makhluk?” Jawabannya pasti tidak, karena kekuasaan mutlak berada di tangan Allah sedangkan yang ada di tangan makhluk adalah atas karunia dan pemberian Allah. Berarti menyerupakan sifat tangan Allah yang memiliki kekuasaan mutlak dengan tangan makhluk adalah amat nyata sekali kesesatannya.

    Demikian pula Allah sebutkan bahwa segala karunia berada di tangan-Nya, Allah memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

    {قُلْ إِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ} [آل عمران/73]

    “Katakanlah, ‘Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.’”

    {وَأَنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ} [الحديد/29]

    “Dan bahwasanya karunia itu adalah di tangan Allah. Dia berikan karunia itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”

    Apakah orang-orang Musyabbihah akan mengatakan tangan Allah yang memiliki karunia yang luas seperti tangan makhluk yang tidak memiliki apa-apa? Tangan mereka kosong dari karunia dan kebaikan kecuali atas pemberian Allah semata. Karena semua kebaikan berada di tangan Allah.

    Sebagaimana firman Allah,

    {بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ }[آل عمران/26]

    Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

    Demikian pula Allah sebutkan tentang sifat tanga-Nya dalam Alquran,

    {وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ} [الزمر/67]

    “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya[1316]. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”

    Tidakkah orang-orang Musyabbihah merenungkan ayat yang mulia ini! Mungkinkah akan disamakan tangan Allah dengan tangan makhluk! Makhluk yang mana mampu menggengam bumi dan menggulung langit dengan tangannya! Subhaanallah Maha suci Allah dari segala apa yang mereka sangkakan.

    Demikian pula, jika kita tengok hadits-hadits yang menyebutkan sifat tangan Allah. Betapa agungnya sifat Allah tersebut. Berikut kita sebutkan beberapa hadits tentan sifat tangan Allah,

    عن ابن عمر رضي الله عنهما؛ قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يطوي الله عز وجل السماوات يوم القيامة، ثم يأخذهن بيده اليمنى، ثم يقول: أنا الملك؛ أين الجبارون؟ أين المتكبرون؟ ثم يطوي الأرضين بشماله، ثم يقول: أنا الملك؛ أين الجبارون؟ أين المتكبرون؟ ». متفق عليه

    Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu ia berkata; telah bersabda Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Allah melipat semua langit pada hari kiamat kemudian Allah ambil dengan tangan kanan-Nya. Lalu Allah berkata: Akulah Yang Maha Diraja, dimana orang-orang yang sombong? Kemudian Allah melipat bumi dengan tangan kiri-Nya, lalu Allah berkata: Akulah Yang Maha Diraja, dimana orang-orang yang sombong?”

    عن أبي هريرة رضي الله عنه؛ قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: « يقبض الله الأرض يوم القيامة، ويطوي السماء بيمينه، ثم يقول: أنا الملك؛ أين ملوك الأرض ». رواه البخاري

    Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah menggenggam bumi pada hari kiamat dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya. Kemudian Allah berkata: Akulah Yang Maha Diraja, dimana raja-raja dunia?”

    عن أبي هريرة رضي الله عنهقال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (يد الله ملأى لا يغيضها نفقة سحاء الليل والنهار. وقال أرأيتم ما أنفق منذ خلق السماوات والأرض فإنه لم يغض ما في يده. وقال وكان عرشه على الماء وبيده الأخرى الميزان يخفض ويرفع). أخرجاه في الصحيحين

    Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tangan Allah penuh (rahmat dan nikmat), tidak pernah terkurangi oleh pemberian sepanjang malam dan siang. Apakah kalian (tidak) perhatikan apa yang diberikan-Nya semenjak diciptakan langit dan bumi, tidak pernah mengurangi apa yang di tangan-Nya. ‘Arasy-Nya berada di atas air. Dan pada tangan-Nya yang lain ada timbangan, ia turunkan dan ia angkat.’”

    Tidakkah orang Musyabbihah merenungkan hadits-hadits tersebut, yang menerangkan tentang keagungan tangan Allah. Akankah bisa diserupakan tangan Allah dengan tangan makhluk! Sedangkan tangan Allah mampu melipat langit dan menggenggam bumi. Demikian pula tangan Allah penuh dengan nikmat dan rahmat. Adapun tangan makhluk jangankan untuk menggenggam bumi, menggenggam satu kilo pasir saja tidak mampu. Demikian pula tangan makhluk tidak memiliki rahmat dan nikmat kecuali atas pemberian Allah Yang Maha Kaya dimana rahmat dan nikmat-Nya tidak pernah berkurang semenjak diciptakan-Nya langit dan bumi.

    Allah memiliki dua tangan yang mulia tidak serupa dengan tangan makhluk. Kemudian kedua tangan Allah tersebut tidak ada cacat sedikitpun. Maka oleh sebab itu disebutkan dalam hadits bahwa kedua tangan-Nya adalah kanan. Tapi tidak berarti bahwa kedua tangan Allah berada dibagian kanan. Tapi disebutkan kedua tangan Allah kanan adalah agar tidak diyakini pada salah satu tangan Allah ada kekurangan dan kelemahan. Mari kita simak penjelasannya berikut ini,

    عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما؛ قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إن المقسطين عند الله يوم القيامة على منابر من نور عن يمين الرحمن عز وجل، وكلتا يديه يمين». رواه مسلم

    Dari Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash radhiallahu ‘anhu, ia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang adil disisi Allah pada hari kiamat di atas mimbar terbuat dari cahaya di sebelah kanan Allah, dan kedua tangan-Nya adalah kanan.”

    Berkata Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Para ulama berkata: Tatkala sifat-sifat makhluk menggandung kekurangan, maka tangan kiri mereka lebih lemah dalam kekuatan dan perbuatan, ketika tangan kiri dipergunakan untuk hal-hal yang hina seperti memegang najis dan kotoran. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa kedua tangan Allah penuh berkah, tidak ada sedikitpun memiliki kekurangan dan cacat dalam segala segi. Sebagaimana halnya sifat-sifat makhluk. Sekalipun yang paling mulia dinatara keduanya adalah yang kanan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Adam berkata, ‘Aku memilih tangan kanan Allah dan kedua tangan Allah kanan yang penuh berkah’[2]. Maka sesungguhnya tidak ada kekurangan dalam segala sifat Allah juga tidak ada celaan dalam segala perbuatan-Nya. Akan tetapi perbuatan Allah adakalanya karunia (keutaman) dan adakalanya keadilan. Sebagaimana yang terdapat dalam shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al Asy’ari radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

    “Tangan kanan Allah penuh (rahmat dan nikmat), tidak pernah terkurangi oleh pemberian sepanjang malam dan siang. Apakah kalian (tidak) perhatikan apa yang diberikan-Nya semenjak Ia ciptakan langit dan bumi, tidak pernah mengurangi apa yang di tangan kanan-Nya. Dan timbangan keadilan di tangan-Nya yang lain ada, Ia naikkan dan Ia turunkan“.

    Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa karunia (keutamaan) di tangan kanan Allah dan keadilan di tangan yang lainnya. Dan sudah dimaklumi bahwa kedua tangan Allah adalah kanan (mulia), maka karunia (kemulian) lebih tinggi dari sifat keadilan. Maka segala bentuk rahmat yang diberikan Allah adalah karunia dari-Nya. Dan segala bentuk azab yang datang dari Allah adalah bentuk keadilan dari-nya. Maka rahmat lebih baik daripada azab. Oleh karena itu orang-orang yang berlaku adil berada di atas mimbar tebuat dari cahaya di sebelah kanan Allah, dan mereka tidak diletakkan di sebelah tangan Allah yang lain. Allah meletakkan mereka di sebelah kanan-Nya adalah sebagai kemulian untuk mereka. Sebagaimana Allah memberikan kemulian dalam Alquran terhadap golongan kanan di atas golongan kiri. Dan mereka golongan kiri di azab berdasarkan keadilan-Nya. Demikian pula terdapat dalam berbagai hadits dan atsar menyebutkan bahwa orang pada genggaman kanan adalah penghuni surga dan orang pada genggaman yang lain adalah penghuni neraka.”[3]

    Kebatilan madzhab Muawwilah (Mu’aththilah)

    Komunitas ahlul kalam mengingkari dan mentakwil ayat-ayat dan hadits-hadits yang kita sebutkan diatas dengan takwilan-takwilan yang batil.

    Diantara mereka ada yang mengatakan yang dimaksud dengan tangan adalah qudrah. Yang lain mengatakan yang dimaksud dengan tangan adalah nikmat. Argumentasi mereka adalah jika kita meyakini Allah punya tangan kita akan terjerumus kepada penyerupaan Allah dengan makhluk. Alasan lain adalah karena dalam bahasa Arab kata-kata tangan digunakan kadang kala untuk penyebutan nikmat. Jawaban Ahlussunah terhadap syubhat-syubhat tersebut adalah sebagai berikut:

    Syubhat pertama: Bahwa tangan Allah adalah qudrah-Nya.

    Jika kita cermati ayat-ayat dan hadist-hadits yang kita sebutkan di atas. Kita mendapati bahwa tidak sama antara qudrah dan tangan. Karena Allah mempergunakan kedua lafaz tersebut dalam konteks yang berbeda. Seperti ayat yang menyebutkan tentang kemulian Adam di atas makhluk-makhluk yang lain. Bahwa Allah menciptakannya dengan kedua tangannya. Kalau tangan diartikan qudrah maka semua makhluk diciptakan dengan qudrah. Maka tentu tidak ada kelebihan dan keistimewaan Adam di atas makhluk-makhluk yang lain. Tentu Iblis akan menjawab ketika Allah berkata kepadanya: Kenapa engkau engggan sujud kepada Adam yang aku ciptakan dengan kedua tanganku? Akupun engakau ciptakan dengan kedua tanganMu. Kalau sekiranya tangan bisa diatikan dengan qudrah.

    Semua orang islam sepakat bahwa sifat Qudrah Allah adalah satu bukan dua. Jika tangan diartikan dengan qudrah pada kisah Adam terbut, tentu akan berbunyi begini: kenapa engkau enggan sujud kepada Adam yang aku ciptakan dengan dua qudrahKu. Pemahaman seperti ini tidak seorangpun yang mengenalnya dalam Islam.

    Syubhat kedua: Maksud tangan Allah adalah nikmat-Nya.

    Demikian pula bila tangan Allah ditakwil dengan nikmat apakah akan dikatakan bahwa adam diciptakan dengan dua nikmat. Sedangkan nikmat Allah bukan dua adanya akan tetapi tidak terbilang, bagaimana bisa dikatakan hanya dua. Kalau Adam diciptakan dengan nikmat tentu tidak ada kelebihan adam di atas Iblis. Tentu Musa tidak akan memuji Adam dengan penciptaaan Allah terhadapnya. Demikian pula manusia ketika berada di Padang Makhsyar ketika mereka memohon agar Adam meminta syafaat kepada Allah. Mereka memuji dan menyebutkan keistimewaan Adam, dimana Allah telah menciptakanya dengan kedua tangan-Nya.

    Berkata Syeikh islam Ibnu Taimiyah dalam menjawab dua syubuhat di atas: “Firman Alah: Aku ciptakan dengan kedua tanganKu” tidak bisa diartikan bahwa yang dimaksud dengannya adalah Qudrah. Karena qudrah adalah satu. Dan tidak bisa bilangan dua digunakan untuk menyatakan satu. Dan juga tidak bisa diartikan nikmat, karena nikmat Allah tidak terhitung (jumlahnya). Dan nikmat yang tidak terbilangan tidak bisa dinyataka dengan bilangan dua[4].

    Syubuhat ketiga: Meyakini Allah memiliki sifat tangan adalah meyerupakan Allah dengan Makhluk.

    Syubhat ini yang senantiasa dikemukakan oleh setiap pengingkar sifat-sifat Allah. Bagi pembaca pembahasan-pembahasan yang berlalu akan sangat mudah menjawabnya. Karena sifat tangan di sini dinisbahkan kepada Allah tidak kepada makhluk. Maka segala sifat Allah sesuai dengan kebesaran dan kemulian Zat Allah. Kita tidak meyakini sifat tangan Allah seperti tangan makhluk. Jika kita katakan seperti tangan makhluk berarti yang kita yakini bukan sifat Allah tapi sifat makhluk. Mungkinkah akan disamakan sifat Allah dengan sifat makhluk! Karena setiap sifat sesuai dengan kondisi zat setiap sifat tersebut. Apakah kita akan katakan tangan kursi seperti tangan manusia! Karena sama-sama disebut tangan. Setiap makhluk yang diberi tangan berbeda bentuk dan hakikatnya sesuai dengan zat masing-masing makhluk tersebut. Kucing, gajah, kerbau, sapi, kera, masing-masing memilki tangan. Tetapi tidak pernah tergambar dalam benak kita kitika ada orang menyebut tangan monyet lalu kita pahami seperti tangan gajah.

    Syubuhat keempat: Kata-kata tangan dalam bahasa Arab digunakan kadang kala untuk menyebut nikmat.

    Memang kalimat tangan kadang kala penggunaannya dalam bahasa Arab diartikan dengan nikmat. Akan tetapi selalu dipergunakan terhadap zat yang memiliki sifat tersebut secara hakiki. Oleh sebab itu tidak pernah disebut kepada air, udara dan hujan memiliki tangan. Sebab zat tersebut secara hakiki tidak memiliki tangan. Tetapi penggunaan kalimat tangan khusus kepada setiap zat yang benar-benar memiliki tangan. Selanjutnya penetuan makna ditetukan oleh konteks susunan kata di mana kalimat tangan tersebut ditempatkan. Tidak mungkin setiap kita menemukan kalimat tangan diartikan dengan nikmat. Maka ayat-ayat dan hadits-hadits yang kita sebutkan di atas tidak bisa ditakwil dengan nikmat dan qudrah karena konteks susunan kalimatnya tidak mendukung kearah tersebut sama sekali.

    Sebagai bukti terakhir kebatilan pentakwilan tersebut adalah simpangsiurnya penafsiran dan makna yang disebutkan para ahli kalam terhadap ayat atau hadits yang sama. Hal ini adalah suatu indikasi yang membuktikan bawah ahli kalam tidak punya dasar yang valid dalam menetukan takwil-takwil mereka.

    Penulis Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A.
    Artikel http://www.dzikra.com
    [1] Lihat Al Ibaanah karangan Ibnu Baththah: 3/327.
    [2] Hadits tersebut diriwayatkan At Tirmizi (5/453) dan dinilai oleh Syeikh Al Albany: Hasan Shahih (shahih sunan At Tirmizi: 3/137).
    [3] Majmu’ fatawa (17/92-93).
    [4] Majmu’ Fatawa (6/365).

  30. Bukankah Rasulullah ke langit pada Mi’raj-nya?

    Allah beristiwa’ di atas ‘Arsy. (dalil di Qur’an banyak). Pernyataan ini sudah jelas membuktikan bahwa keberadaan Allah berada di atas ‘Arsy?
    Jangan mengambil dalil dari orang-orang syi’ah ya..

    1. si Abu Umar masih muteeeeeer-2 terus yah…kebiasaan HIT & RUN sih….coba baca dari artikel 1 s/d 4…..coba baca lagi semua Kang pelaaaaan-2 aja, ga usah terburu-2, Belanda & Jepang masih jauh, kalo AS kan deket …..hehehehe…

    2. Diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda : “Barangsiapa ingin mengetahui kedudukannya disisi Allah, maka lihatlah bagaimana kedudukan Allah dalam dirinya. Sesungguhnya kedudukan hamba disisi Allah ditentukan oleh bagaimana ia mendudukan Allah dalam dirinya”. (Kitab Al Ilm Al Awliya – Tarmidzi).
      Diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda : “Iman yang paling utama adalah seseorang yang tahu bahwa sesungguhnya Allah bersamanya dimana pun ia berada”. (Kitab Al-Mu’jam Al-Mufahras..Jilid 1 hal 110 – Imam Ahmad ibn Hanbal)

  31. @abu umar
    Ente gak baca point yang kemaren2 sih.

    Aisyah ra meriwayatkan bahwa Nabi saw tidak melihat Tuhannya pada malam mi’raj. Bahkan ia berkata, “Barang siapa mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW melihat Tuhannya pada malam Mi’raj, berarti ia telah membuat kebohongan yang besar kepada Allah swt”.

    Hadist dari Zayd ibn Ali ibn al Husain meriwayatkan dari kakeknya, dari Ali ibn Abi Thalib ra:
    Ketika Rasulullah mengajarkan azan, malaikat Jibril datang kepada beliau membawa hewan untuk beliau tunggangi. Nama hewan tunggangan itu adalah Burqah. Awalnya Burqah enggan ditunggangi oleh Rasulullah. Beliau berkata kepada Jibril, “Hai Jibril, datangkan kepadaku hewan tunggangan yang lebih lembut (penurut) dari ini!”. Kemudian Jibril berkata kepada Burqah,”Menurut kamu hai Burqah! Tidak ada manusia yang menunggangimu yang lebih mulia dihadapan Allah selain dia (Rasulullah)”.
    Kemudian Rasulullah bersabda, “Kemudian aku menungganginya sehingga aku sampai pada hijab (tabir) yang berada dekat Yang Maha Rahman. Aku melihat ada seorang malaikat keluar dari balik hijab. Aku bertanya kepada Jibril, “Hai Jibril, siapakah malaikat itu?” Jibril berkata, Demi Dia yang telah memuliakanmu dengan kenabian, aku tidak pernah melihat malaikat sebelum ini”. Malaikat itu berkata, “Allah MahaBesar, Allah MahaBesar. Lalu dari balik Hijab terdengar suara, “Hamba Ku benar, Aku Maha Besar”. Malaikat itu berkata lagi, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan Selain Allah”. Lalu terdengar lagi suara dari balik hijab, “Hamba Ku benar. Akulah Allah yang tidak ada tuhan selain Aku”. Malaikat berkata lagi, Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah”. Lalu terdengar lagi suara dari balik Hijab, “Hamba Ku benar, Aku telah mengutus Muhammad sebagai Rasul”. Malaikat berkata lagi, “Mari kita mendirikan Shalat, Mari kita meraih keberuntungan. Lalu terdengar suara dari balik hijab, “Hamba Ku benar. Hamba-hamba Ku telah berdoa kepada Ku”.
    Rasulullah melanjutkan, Ketika itu Allah menyempurnakan keutamaan bagiku lebih dari para Nabi, para Rasul, orang-orang yang terdahulu dan Orang-orang yang datang kemudian”.

    Hadist Ali ra ini diriwayatkan oleh ibnu mardawih dan Abu Nu’aim lewat jalur Muhammad ibn al Hanafiyah.

    Imam Al Qusyairy berkata dalam kitab Al Mi’raj : “ Guru dan Imam kami mengatakan bahwa jika riwayat ini shahih, maka padanya tidak ada kata yang harus ditakwilkan selain kata hijab. Ketika Rasulullah mengatakan bahwa beliau sampai pada hijab itu maknanya adalah beliau sampai padanya dan tidak akan ada mahluk lain setelah beliau yang sampai padanya. Tidak mustahil Allah menciptakan sebuah tempat dimana mahluk Nya bisa sampai pada tempat itu dan merasakan kehadiranNya. Akan tetapi mustahil jika tempat itu kemudian menjadi batas atau tempat bagi Nya. Sebab Allah Mahasuci dari batas atau terikat dengan jarak tertentu, dekat atau jauh. Sedangkan yang bicara dibalik hijab dan mengatas namakan Allah dengan berkata, “Hamba Ku benar …..”, bisa jadi ia adalah malaikat yang diciptakan Allah dan ditempatkan dibalik hijab untuk mewakili Nya membenarkan ucapan malaikat yang ada diluar hijab.

    Jelas ente ya.

  32. Hei pembaca.. payah ngomong dengan wahabi yang tetap ngotot dengan paham Allah itu duduk di Arsy, makanya pertanyaannya tetap sama. Otaknya sudah dipenuhi dengan mengkhayalkan Allah SWT seperti membayangkan makhluk. Na’uzubillah min dzalika! Tobatlah wahai mujasimah musyabih al wahabiah!

  33. Cukupsatubantahanbagiartikeldiatas.
    bagaimanatentangperistiwaIsra’Mi’rajRasullullah?

    Gak cukup bro, di atas amat banyak poin. Poin mana yang mok ente bantah pake hadits Isra’ mi’raj itu???

    Nah, perjelas dan mari berdiskusi. Tunjukkan mana dalam hadits Isra’ Mi’raj yang menunjukkan berada Allah di atas.

  34. Allah beristiwa’ di atas ‘Arsy. (dalil di Qur’an banyak). Pernyataan ini sudah jelas membuktikan bahwa keberadaan Allah berada di atas ‘Arsy?
    Jangan mengambil dalil dari orang-orang syi’ah ya..

  35. Assalamu’alaikum…..

    Semoga pahala berlimpah, kesuksessan dalam hidup untuk rekan-2 ummati & keluarganya semua…

    rekan-2 wahabi pada kemana yah? beberapa hari ini ga nongol-2, jadi kangen sama kang abdullah, abu umar, ibnu suradi dll…. :mrgreen: :mrgreen:

  36. sekedar berbagi,…

    dlm alquran Allah berfirman…
    “Wahai sekalian orang beriman barang siapa di antara kalian murtad dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan kaum tersebut mencintai Allah, mereka adalah orang-orang yang lemah lembut kepada sesama orang mukmin dan sangat kuat -ditakuti- oleh orang-orang kafir. Mereka kaum yang berjihad dijalan Allah, dan mereka tidak takut terhadap cacian orang yang mencaci-maki”. QS. al-Ma’idah: 54

    Dalam sebuah hadits Shahih diriwayatkan bahwa ketika turun ayat ini, Rasulullah memberitahukan sambil menepuk pundak sahabat Abu Musa al-Asy’ari, seraya bersabda: “Mereka (kaum tersebut) adalah kaum orang ini!”.

    Dari hadits ini para ulama menyimpulkan bahwa kaum yang dipuji Allah dalam ayat di atas tidak lain adalah kaum Asy’ariyyah. Karena sahabat Abu Musa al-Asy’ari adalah moyang dari al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari.

    Dalam penafsiran firman Allah di atas: (Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan kaum tersebut mencintai Allah) QS. Al-Ma’idah: 54, al-Imam Mujahid, murid sahabat ‘Abdullah ibn ‘Abbas, berkata: “Mereka adalah kaum dari negeri Saba’ (Yaman)”. Kemudian al-Hafizh Ibn ‘Asakir dalam Tabyin Kadzib al-Muftari menambahkan: “Dan orang-orang Asy’ariyyah adalah kaum berasal dari negeri Saba’” (Tabyin Kadzib al-Muftari Fi Ma Nusiba Ila al-Imam Abi al-Hasan al-Asy’ari, h. 51).

    Alhamdulillah,…

  37. Firanda bicara:

    Pensifatan seperti ini (yaitu : tidak di dalam alam dan tidak di luar alam, tidak di atas dan tidak di bawah) merupakan sifat-sifat sesuatu yang tidak ada.yang mustahil.

    Firanda sedang menggunakan hukum yang berlaku pada jauhar (benda) untuk diterapkan kepada Allah. Dimana sifat benda adalah kaberadaanya tidak bisa lepas dari tempat tempat. Sehingga mustahil dia ada jika dikatakan tidak bertempat. So, Allah bagi Firanda adalah benda, hingga mustahil ia terbebas dari tempat. Di sini kebobrokan akidah ybs dah ketahuan.

    Kalau keberadaan-Nya terikat dengan adanya
    tempat, maka konsekswensinya tempat itu perlu ada terlebih dahulu atau sezaman dengan keberadaan Allah. Karena syarat dari eksistensi wujud adalah adanya tempat untuknya.

    Dan ini adalah bathil, karena Allah memiliki sifat Qidam.

    So, segala sesuatu yang keberadaannya tidak lepas dari tempat, maka keberadaannya tanpa tempat adalah sesuatu yang mustahil. Namun dzat yang keberadaannya tidak terikat dengan tempat, keberadaanya tanpa tempat bukan hal yang mustahil.

    Kalau dibaca ulasan di atas, kesalahan Firanda banyak yang berasal dari pijakan pemikirannya yang menggunakan hukum untuk benda yang diterapkan kepada Allah, walau masih banyak kesalahan fatal lainnya.

    1. Dan datang Abu haamid Al-Gozzaali lalu iapun menulis kitab “Ihyaa (Uluum Ad-Diin-pent)”… dan dia memenuhi kitab tersebut dengan hadits-hadits yang batil –dan dia tidak mengetahui kebatilan hadits-hadits tersebut-

      Kebiasaan kelompok ini, menjatuhkan pribadi ulama untuk menjauhkan karya mereka dari umat. Sebagaimana yang ia telah lakukan kepada Imam Abdul Qahir Al Baghdadi, guru Imam Al Baihaqi, yang ia katakan bukan muhaddits.

      Nah, kali ini Firanda menyerang Imam Al Ghazali dengan pernyataan Ibnu Al Jauzi. Yang anetangkap, intinya ia ingin menyatakan “Jangan merujuk Al Ihya!” Karena bla…bla…bla…

      Ok, ane jawab nukilan pernyataan Ibnu Al Jauzi di atas. Jika pernyataan itu dari Ibnu Al Jauzi, maka hal itu tidaklah mengherankan karena beliau menurut para ulama amat tasahul (bermudah-mudah) dalam menghukumi hadits sebagai maudhu. Kitab Al Maudhuat karya beliau sendiri dah dikritik banyak ulama, karena memasukkan hadits-hadits shahih dan hasan di dalamnya, juga hadits-hadits dhaif. Imam Imam As Siyuthi menulis dua kitab La’ali Al Mashnu’ah dan An Nukat, untuk menyanggah Al Maudhuat.

      Sehingga para ulama menyarankan agar tidak langsung menghukumi hadits dengan status maudhu’ hanya dengan dicantumkannya dalam Al Maudhuat Ibnu Al Jauzi sebelum membaca karya Imam As Suyuthi tersebut.

      Adapan hadits maudhu dalam Al Ihya, tidaklah banyak sebagaimana dikatakan Imam Al Iraqi pentahrij hadits Ihya. Jika ada dhaifnya itu juga lumrah karena mayoritas pembahasan dalam Al Ihya berkisar mengenai fadhail, sebagaimana dinyatakan Al Aidrus Ba Alawi dalam Ta’rif Al Ihya’.

      Memang ada pembahasan masalah akidah, dalam Bab Qawaid Al Aqaid. Namun kalau dihitung hadits yang tercantum di situ ada total 66 dengan pengulangan. Yang shahih dan hasan jumlahnya 47, dan yang tidak dihukumi oleh Imam Al Iraqi jumlahnya 9.

      Yang dihukumi dhaif ada hanya 9, itupun penghukuman atas isnad bukan hadits. Hingga ada kemungkinan haditsnya bisa shahih. Dan beberapa hadits yang dinyatakan isnadnya dhaif pun berhubungan dengan fadhail ilmu, walau ditulis dalam bab Al Qawaid Al Aqaid.

      Coba bandingankan dengan Al Uluw, yang merupakan kitab akidah yang dijadikan rujukan kelompok ini. Jumlah haditsnya sebanyak 279. Dan yang dinilai dhaif serta maudhu’ jumlahnya mencapai 158, alias 56 % nya!

      So, gak masalah merujuk Al Ihya’ karena haditsnya lebih sehat dibanding Al Uluw, yang dijadikan rujukan oleh Firanda.

  38. rontoklah sudah hujjah pemahaman jism,
    artikel yg bagus….,mohon izin menimba ilmu nya,dan izin copas ke pc dan laptop ane,kang syahid,…trims..

  39. wahabi..wahabi….tersesat kq bangga….. 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳

  40. Firanda nyatanya sesat dengan tipu daya ilmu yang dipengaruhi hawa nafsu juga syaithan laknatullah. Hati2 lah ikhwan bahawa syaithan itu tukang yang mahir dalam melakukan kerja2 menyesatkan manusia, hawa nafsu itu alatan syaithan semata dan kita manusia ini menjadi bahan yang mahu diolah oleh syaithan. Oleh itu tundukkan hawa nafsu moganya ia tidak menjadi alat kepada syaithan dan menghindarkan kita dari tipu daya. Sejarah telah membuktikan bahwa manusia yang bertaraf wali yang telah beribadah beratus tahun, mempunyai karromah luar biasa bisa ditipu oleh syaithan melalui hawa nafsu.
    Begitulah juga Ibnu Taimiyah, Muhammad Abdil Wahab dan kader2 nya yang menjadi dai yang menyesatkan umat.

  41. mantab mas Ustadz Ahmad…

    Jawaban mas ustadz:

    Kesimpulan prematur ke 5 dari Ustadz Firanda menunjukkan dengan jelas Jika ustad Firanda tidak bisa memahami keberadaan Tuhan ”Allah” jika tidak disifati dengan sifat-sifat Makhluk. Oleh karena itu beliau katakan : ”Pensifatan seperti ini (yaitu : tidak di dalam alam dan tidak di luar alam, tidak di atas dan tidak di bawah) merupakan sifat-sifat sesuatu yang tidak ada”. Hhal ini terjadi karena Ustadz Firanda menggunakan UKURAN-UKURAN dan sifat-sifat MAKHLUK untuk menunjukkan keberadaan Tuhan (Allah). Dia (Ustadz Firanda ) lupa jika ALLAH BUKANLAH MAKHLUK yang bisa disifati dengan sifat-sifat Makhluk. Ustadz Firanda juga lupa jika Allah mengatakan ”Tidak ada sesuatupun yang menyerupainya”. Fahamkah Ustadz Firanda dengan kalimat: ”TIDAK ADA YANG MENYERUPAINYA? ”

    jelas sudah pemahan firanda itu,apa dan bagai mana ….dan termasuk golongan apa….

  42. Lihat kata Firanda : Pensifatan seperti ini (yaitu : tidak di dalam alam dan tidak di luar alam, tidak di atas dan tidak di bawah) merupakan sifat-sifat sesuatu yang tidak ada. Jika perkaranya demikian maka sesungguhnya orang yang beraqidah terhadap Allah seperti ini telah jatuh dalam tasybiih. Yaitu mentasybiih (menyerupakan) Allah dengan sesuatu yang tidak ada atau mentasybiih Allah dengan sesuatu yang mustahil.

    Ini suatu pernyataan pengingkaran sifat qidam Allah. Apakah mereka tidak sadar, bahwa dulu alam pernah tidak ada.

    Lalu bagaimana Allah bisa disandarkan pada sifat dilauar dan didalam ataupun arah dan tempat. Bagaimanakah mereka memahami Allah sudah ada sebelum ada sesuatu ?

    Apakah mereka meyakini qidamnya alam?

    ataukah mereka meyakini Allah berubah sifatNya setelah menciptakan Alam ?

    Maha suci Allah dari apa-apa yang mereka sifatkan.

  43. Hemmmm…, hampir dua jam membaca Bantahan Mas Ahmad Syahid kepada Firanda sungguh terasa asik enak dibaca, jadi tambah ilmu. Point demi point hujjag Ustadz Firanda rontok berguguran bagaikan daun-daun kering yg jatuh dari dahannya. Sungguh tak berdaya, mau lari kemana wahai Firanda sang Pendusta Murokkab?

    Di bagian terakhir ini semakin kuat membuktikan ternyata gelar S2 Madinah tidak bernilai apa-apa jika sang penyandang gelar tsb tak memiliki daya nalar yg prima. Pernyataan2 kontradiktif Firanda seperti terbaca dalam artikel di atas semakin mengundang sinisme yg eronis, oh…. hanya segini toh ilmu yg dimiliki lulusan Madinah yg diasuh oleh Para dedengkot Wahabi? Wallohu a’lam….

    Syukron Mas Ahmad Syahid, Mas Admin Ummati dan semua pemerhati yang jujur hatinya. Kesombongan Firanda dan ustadz-ustadz Wahabi lainnya memang sudah saatnya dibungkam agar tidak menular ke pemuda-pemuda muslimin yg lemah akalnya. Hanya orang-orang yg lemah aqal yg bisa diperdaya tipu muslihat Wahabi.

    Barokallohu fikum, alhamdulillah….

KOLOM KOMENTAR ANDA :