Ustadz Firanda Berhujjah dengan Hujjah Dusta dan Palsu (2)

Ustadz Firanda Rontok Atas pengakuan Bahwa Para Ulama Berkonsesnsus Allah Berada di Langit

… Lanjutan Sekelumit Usaha Mengungkap Tipu Muslihat Ustadz Firanda …

Oleh: Ustadz Ahmad Syahid

 

Di kajian bagian pertama telah dibicarakan bagaimana tulisan Ustadz Firanda yang ternyata dibangun di atas hujjah-hujjah dusta dan palsu sehingga tulisan tersebut jadi tanpa arti atau hampa makna.  Maka di bagian kedua ini akan disajikan kajian lebih menukik dan lebih mendalam mengenai hal gugur dan rontoknya argument yang dipertunjukkan Firanda. Rontoknya Firanda atas pengakuan Bahwa Para Ulama Berkonsesnsus Allah Berada di Langit, ini terbukti dengan terlalu telak dan transparan alias terang cetho welo-welo tanpa ragu atas rontoknya argument Ustadz Firanda. Mari kita lihat bersama-sama dan silahkan kaji kembali bagi anda yang telah mempunyai perangkat ilmunya….

Ustadz Firanda menjelaskan :

Perkataan salaf dan para ulama mutaqoddimin yang menunjukan bahwa Allah berada di atas langit

Adapun perkataan para ulama yang menunjukan bahwasanya Allah berada di atas langit maka sangatlah beberapa. Perkataan mereka sudah dikumpulkan oleh Al-Imam Al-Muhaddits Ad-Dzahabi As-Syafii dalam kitabnya Al-’Uluw li Al-’Aliyyi Al-’Adziim (mampu di download di http://www.waqfeya.com/book.php?bid=2414dan http://www.waqfeya.com/book.php?bid=2413 dua cetakan dengan dua pentahqiq yang tak sama) sedemikian juga kitab Al-Ijtimaa’ al-Juyuusy Al-islaamiyyah karya Ibnul Qoyyim (mampu di download di http://www.waqfeya.com/book.php?bid=2835). Sungguh dua kitab ini sudah mengumpulkan beberapa sekali perkataan sahabat, para salaf, dan para ulama dari abad yang berbeda-beda dan dari madzhab yang berbeda-beda.

Oleh karenanya tak ada seorang ulama salafpun –apalagi para sahabat- yang perkataannya menunjukan bahwasanya Allah tak berada di atas.

Jawab: Tahukah Ustadz Firanda kalau Penulis kitab Al-Uluw al-Hafidz adzahabi sudah tobat dan meninggalkan kitab itu,  sehingga beliau mecatat sebuah risalah yang diberi nama Zaghlul Ilmi ? Dan dalam risalah itu pulalah Adzahabi mencantumkan nasehatnya untuk Ibnu Taimiyah? Lalu kenapa Ustadz Firanda masih menganjurkan Orang untuk mempelajarinya? Tahukah ustadz Firanda kalau 98%  sanad dan riwayat atsar yang terdapat dalam kitab al-Uluw ialah tak sah , Mungkar bahkan PALSU alias MAUDHU?  Begitu juga halnya dengan kitab Ijtimaa al-juyusy al-Islamiyah percis tak jauh beda dengan riwayat atau sanad yang <em>terdapat dalam kitab al-uluw, 98%  tak Sah, Mungkar bahkan Maudhu'</em>.  Jika tak percaya silahkan sampaikan atsar dari kedua kitab itu Insya Allah akan saya kasih tahu statusnya, lalu silahkan Ustadz Firanda lakukan cek n recek untuk membuktikan sendiri kebenaran yang coba saya tunjukkan itu.  Hal ini saya sampaikan semata–mata cuma untuk mengingatkan<em> fa dzakkir Fa inna dzikro tanfa'ul muminin, semoga Allah memberikan Hidayah kpd kita seluruh untuk mengikuti kebenaran.

Bukti bahwa Al-Hafidz Adz-Dzhabi sudah berlepas diri dari kitab yang dikarangnnya (Al-Uluw) terdapat dalam sampul manuskrip kitab tersebut :

Inilah bukti scan manuskrip mengenai hal Adz-dzhabi bertaubat dari faham sesat.

 (1)

 

 

(2)

Terjemah dari bukti scan manuskrip Adz-dzhabi taubat dari faham sesat:

KEMBALINYA  (TOBATNYA) ADZ-DZAHABI DARI KITAB INI ( AL-ULUW LIL ALIYYIL GHOFFAR )

Dalam sampul manuskrip kitab Al-Uluw lil Aliyyil Ghoffar karya Adz-Dzahabi terdapat pernyataan bahwa Imam Adz-dzahabi sudah kembali ( tobat) dari Aqidah yang ditulisnya dalam kitab tersebut. Pernyataan ini ditulis langsung  oleh pembuat Manuskrip (nasikhul kitab) tahun 804 hijriyah yaitu : Al-hafidz Ibn Nashir ad-din ad-dimasqi Abu Abdullah Muhammad bin Abdillah bin muhammad bin Ahmad al-qoisi al-hamawi as-asyafi’i yang meninggal pada Tahun 842 hijriyah. (1)

Beliau berkata: berkata penulis (ad-adzahabi-pent)  bagi dia Allah atas apa yang saya dapatkan dari tulisan yang terdapat dalam catatan / pinggir halaman kitab (hamisy) yang telah tercetak (al-musawwadah) , tahun 798 hijriyah bahwasannya didalamnya terdapat Hadist-hadist yang terlalu lemah dan perkataan – perkataan dari firqoh-firqoh yang jauh melebar  dalam ibarat-ibarat yang mereka gunakan , maka saya tak setuju atas ibarat-ibarat itu dan saya juga tak jadi Muqollid kpd mereka , semoga Allah mengampuni mereka , dan saya tak berpegang (al-tazim) dengannya (ibarat-ibarat itu – pent) atas apa yang saya kumpuylkan selama ini, dengan inilah (keputusan ini-pent) saya ber-agama dan saya tahu bahwasannya Allah tak ada yang menyerupai-NYA sesuatu pun, Allah maha suci dan maha tinggi.

  1. Bioghrafi beliau terdapat dala kitab Al-dou’ al-lami’ li ahli qorni tasi’ juz 8 halaman 103 karya al-Hafidz As-sakhowi beliau berkata : Adz-Dzahabi ialah bagian gurunya.

Perhatikan pernyataan Adz-dzahabi diatas:  “Saya tak setuju dengan ibarat (pernyataan-pernyataan) itu, dan saya pun tak mengikuti mereka (pernyataan-pernataan yang dinukil Adz-Dzahabi dalam Al-uluw yang pernah beliau tulis-pent).

Kemudian siapakah para Imam yang nama-namanya beliau kumpulkan dalam Al-uluw? Kalau Adz-Dzahabi sendiri tak setuju dan tak mengikutinya? Cepat buang jauh- jauh kitab Al-uluw dan kitab Ijtima Juyusy al-islamiyah.

Berikut ialah risalah Adz-Dzahabi Untuk Ibnu Taimiyah:

Dalam risalah Bayân Zghl al-‘Ilm, adz-Dzahabi menuliskan ungkapan yang diperuntukan bagi Ibn Taimiyah selaku berikut [Secara lengkap dilansir oleh asy-Syaikh Arabi at-Tabban dalam kitab Barâ-ah al-Asy’ariyyîn Min ‘Aqâ-id al-Mukhâlifîn, lihat kitab j. 2, h. 9/ bukunya ada sama saya]:

“Hindarkanlah olehmu rasa takabur dan sombong dengan ilmumu. Alangkah bahagianya dirimu kalau engkau selamat dari ilmumu sendiri sebab engkau menahan diri dari sesuatu yang datang dari musuhmu atau engkau menahan diri dari sesuatu yang datang dari dirimu sendiri. Untuk Allah, kedua mataku ini tak pernah mendapati orang yang lebih luas ilmunya, dan yang lebih kuat kecerdasannya dari seorang yang bernama Ibn Taimiyah. Keistimewaannya ini ditambah lagi dengan sikap zuhudnya dalam makanan, dalam pakaian, dan kepada wanita.  Lantas ditambah lagi dengan konsistensinya dalam membela kebenaran dan berjihad sedapat mungkin walau dalam kondisi apapun.

Sungguh saya telah lelah dalam menimbang dan mengamati sifat-sifatnya ( Ibn Taimiyah ) ini sampai saya merasa bosan dalam waktu yang terlalu panjang. Dan ternyata saya medapatinya mengapa ia dikucilkan oleh para warga Mesir dan Syam (sekarang Siria, lebanon, Yordania, dan Palestina) sampai mereka membencinya, menghinanya, mendustakannya, dan bahkan mengkafirkannya, ialah tak lain sebab dia ialah seorang yang takabur, sombong, rakus kepada kehormatan dalam derajat keilmuan, dan sebab sikap dengkinya kepada para ulama terkemuka. Anda lihat sendiri, alangkah besar bencana yang ditimbulkan oleh sikap “ke-aku-an” dan sikap kecintaan kepada kehormatan semacam ini!”.

Adapun nasehat adz-Dzahabi kepada Ibn Taimiyah yang ia tuliskan dalam risalah an-Nashîhah adz-Dzahabiyyah, secara lengkap dalam terjemahannya selaku berikut [Teks lebih lengkap dengan aslinya lihat an-Nashîhah adz-Dzahabiyyah dalam dalam kitab Barâ-ah al-Asy’ariyyîn Min ‘Aqâ-id al-Mukhâlifîn, j. 2, h. 9-11]:

“Segala puji bagi Allah di atas kehinaanku ini. Ya Allah berikanlah rahmat bagi diriku, ampunilah diriku atas segala kecerobohanku, peliharalah imanku di dalam diriku.

Oh… Alangkah sengsaranya diriku sebab saya tidak banyak sekali mempunyai sifat sedih!!
Oh… Alangkah disayangkan ajaran-ajaran Rasulullah dan orang-orang yang konsisten dengannya sudah beberapa berangkat!!
Oh… Alangkah rindunya diriku kpd saudara-saudara sesama mukmin yang dapat membantuku dalam menangis!!
Oh… Alangkah sedih sebab sudah hilang orang-orang (saleh) yang merupakan pelita-pelita ilmu, orang-orang yang mempunyai sifat-sifat takwa, dan orang-orang yang merupakan gudang-gudang bagi segala kebaikan!!
Oh… Alangkah sedih atas kian langkanya dirham (mata uang) yang halal dan kian langkanya teman-teman yang lemah halus yang menentramkan. Alangkah beruntungnya seorang yang disibukan dengan membenahi aibnya sendiri dari pada ia mencari-cari aib orang lain. Dan alangkah celakanya seorang disibukan dengan mencari-cari aib orang lain dari pada ia membenahi aibnya sendiri.
hingga kapan engkau (Wahai Ibn Taimiyah) akan terus memperhatikan kotoran kecil di dalam mata saudara-saudaramu, sementara engkau melupakan cacat besar yang nyata-nyata berada di dalam matamu sendiri?!

hingga kapan engkau akan senantiasa memuji dirimu sendiri, memuji-muji pikiran-pikiranmu sendiri, atau cuma memuji-muji ungkapan-ungkapanmu sendiri?! Engkau senantiasa mencaci-maki para ulama dan mencari-cari aib orang lain, padahal engkau tahu bahwa Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian menyebut-menyebut orang-orang yang sudah mati di antara kalian kecuali dengan sebutan yang baik, sebab sesungguhnya mereka sudah menuntaskan apa yang sudah mereka perbuat”.

Benar, saya sadar bahwa mampu saja engkau dalam membela dirimu sendiri akan berkata kepadaku: “Sesungguhnya aib itu ada pada diri mereka sendiri, mereka sama sekali tak pernah merasakan kebenaran ajaran Islam, mereka betul-betul tak mengetahui kebenaran apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad, memerangi mereka ialah jihad”. Padahal, sesungguhnya mereka ialah orang-orang yang terlalu mengerti kepada segala macam kebaikan, yang apa bila kebaikan-kebaikan tersebut dilaksanakan maka seorang manusia akan jadi terlalu beruntung. Dan sungguh, mereka ialah orang-orang yang tak mengenal (tak mengerjakan) kebodohan-kebodohan (kesesatan-kesesatan) yang sama sekali tak memberikan manfa’at kpd diri mereka. Dan sesungguhnya (Sabda Rasulullah); “Di antara tanda-tanda baiknya keislaman seseorang ialah apa bila ia meninggalkan sesuatu yang tak memberikan manfa’at bagi dirinya”. (HR. at-Tirmidzi)

Hai Syekh…! (Ibn Taimiyah), untuk Allah, berhentilah, janganlah terus mencaci maki kami. Benar, engkau ialah seorang yang pandai memutar argumen dan tajam lidah, engkau tak pernah mau diam dan tak tidur. Waspadalah engkau, jangan sampai engkau terjerumus dalam berbagai kesesatan dalam agama. Sungguh, Nabimu (Nabi Muhammad) terlalu tidak suka dan mencaci perkara-perkara [yang ekstrim]. Nabimu mencegah kita untuk beberapa menanyakan ini dan itu. Beliau bersabda: “Sesungguhnya sesuatu yang paling ditakutkan yang saya khawatirkan atas umatku ialah seorang munafik yang tajam lidahnya”. (HR. Ahmad)

Kalau beberapa bicara tanpa dalil dalam problem hukum halal dan haram ialah perkara yang akan menjadikan hati itu terlalu keras, maka terlebih lagi kalau beberapa bicara dalam ungkapan-ungkapan [kelompok yang sesat, seperti] kaum al-Yunusiyyah, dan kaum filsafat, maka telah terlalu terang bahwa itu akan menjadikan hati itu buta.

Untuk Allah, kita ini sudah jadi bahan tertawaan di depan beberapa makhluk Allah. Maka sampai kapan engkau akan terus berbicara cuma mengungkap kekufuran-kekufuran kaum filsafat supaya kita mampu membantah mereka dengan logika kita??

Hai Bung…! Padahal engkau sendiri sudah menelan berbagai macam racun kaum filsafat beberapa kali. Sungguh, racun-racun itu sudah sudah membekas dan menggumpal pada tubuhmu, sampai jadi bertumpuk pada badanmu.

Oh… Alangkah rindunya kpd majelis yang di dalamnya diisi dengan tilâwah dan tadabbur, majelis yang isinya menghadirkan rasa takut kpd Allah sebab mengingt-Nya, majelis yang isinya diam dalam berfikir.

Oh… Alangkah rindunya kpd majelis yang di dalamnya disebutkan mengenai hal orang-orang saleh, sebab sesungguhnya, saat orang-orang saleh tersebut disebut-sebut namanya maka akan turun rahmat Allah. Bukan sebaliknya, kalau orang-orang saleh itu disebut-sebut namanya maka mereka dihinakan, dilecehkan, dan dilaknat.

Pedang al-Hajjaj (Ibn Yusuf ats-Tsaqafi) dan lidah Ibn Hazm ialah laksana dua saudara kandung, yang kedua-duanya engkau satukan jadi satu kesatuan di dalam dirimu. (Engkau berkata): “Jauhkan kami dari membahas mengenai hal “Bid’ah al-Khamîs”, atau mengenai hal “Akl al-Hubûb”, tetapi berbicaralah dengan kami mengenai hal berbagai bid’ah yang kami anggap selaku sumber kesesatan”. (Engkau berkata); Bahwa apa yang kita bicarakan ialah murni selaku bagian dari sunnah dan merupakan dasar tauhid, barangsiapa tak mengetahuinya maka dia seorang yang kafir atau seperti keledai, dan siapa yang tak mengkafirkan orang semacam itu maka ia juga sudah kafir, bahkan kekufurannya lebih buruk dari pada kekufuran Fir’aun. (Engkau berkata); Bahwa orang-orang Nasrani sama seperti kita. Untuk Allah, [ajaran engkau ini] sudah menjadikan beberapa hati dalam keraguan. Seandainya engkau menyelamatkan imanmu dengan dua kalimat syahadat maka engkau ialah orang yang akan memperoleh kebahagiaan di akhirat.

Oh… Alangkah sialnya orang yang jadi pengikutmu, sebab ia sudah mempersiapkan dirinya sendiri untuk masuk dalam kesesatan (az-Zandaqah) dan kekufuran, terlebih lagi kalau yang jadi pengikutmu tersebut ialah seorang yang lemah dalam ilmu dan agamanya, pemalas, dan bersyahwat besar, tapi ia membelamu mati-matian dengan tangan dan lidahnya. Padahal hakekatnya orang semacam ini, dengan segala apa yang ia perbuatan dan apa yang ada di hatinya, ialah musuhmu sendiri. Dan tahukah engkau (wahai Ibn Taimiyah), bahwa kebanyakan pengikutmu tak lain kecuali orang-orang yang “terikat” (orang-orang bodoh) dan lemah akal?! Atau jika tak sedemikian maka dia ialah orang pendusta yang berakal tolol?! Atau jika tak sedemikian maka dia ialah aneh yang serampangan, dan tukang membikin makar?! Atau jika tak sedemikian maka dia ialah seorang yang [terlihat] ahli ibadah dan saleh, tapi sejatinya dia ialah seorang yang tak paham apapun?! Jika engkau tak percaya kepadaku maka periksalah orang-orang yang jadi pengikutmu tersebut, timbanglah mereka dengan adil…!

Wahai Muslim (yang dimaksud Ibn Taimiyah), adakah layak engkau mendahulukan syahwat keledaimu yang senantiasa memuji-muji dirimu sendiri?! hingga kapan engkau akan tetap menemani sifat itu, dan berapa beberapa lagi orang-orang saleh yang akan engkau musuhi?! hingga kapan engkau akan tetap cuma membenarkan sifatmu itu, dan berapa beberapa lagi orang-orang baik yang akan engkau lecehkan?!

hingga kapan engkau cuma akan mengagungkan sifatmu itu, dan berapa beberapa lagi orang-orang yang akan engkau kecilkan (hinakan)?!
hingga kapan engkau akan terus bersahabat dengan sifatmu itu, dan berapa beberapa lagi orang-orang zuhud yang akan engkau perangi?!
hingga kapan engkau cuma akan memuji-muji pernyataan-pernyataan dirimu sendiri dengan berbagai cara, yang untuk Allah engkau sendiri tak pernah memuji hadits-hadits dalam dua kitab shahih (Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim) dengan caramu tersebut?!

Oh… Seandainya hadits-hadits dalam dua kitab shahih tersebut selamat dari keritikmu…! Tetapi sebalikanya, dengan semaumu engkau sering merubah hadits-hadits tersebut, engkau menjelaskan ini dla’if, ini tak benar, atau engkau berkata yang ini mesti ditakwil, dan ini mesti diingkari.

Tidakkah sekarang ini saatnya bagimu untuk merasa takut?! Bukankah saatnya bagimu sekarang untuk bertaubat dan kembali (kpd Allah)?! Bukankah engkau sekarang telah dalam umur 70an tahun, dan kematian sudah dekat?! Tentu, untuk Allah, saya mungkin mengira bahwa engkau tak akan pernah ingat kematian, sebaliknya engkau akan mencaci-maki seorang yang ingat akan mati! Saya juga mengira bahwa mungkin engkau tak akan menerima ucapanku dan mendengarkan nesehatku ini, sebaliknya engkau akan tetap mempunyai keinginan besar untuk membantah lembaran ini dengan tulisan berjilid-jilid, dan engkau akan merinci bagiku berbagai rincian bahasan. Engkau akan tetap senantiasa membela diri dan merasa menang, sehingga saya sendiri akan berkata kepadaku: “Sekarang, telah cukup, diamlah…!”.

Kalau penilaian kepada dirimu dari diri saya seperti ini, padahal saya terlalu menyangi dan mencintaimu, maka bagaimana penilaian para musuhmu kepada dirimu?! Padahal para musuhmu, untuk Allah, mereka ialah orang-orang saleh, orang-orang jenius, orang-orang terkemuka, sementara para pembelamu ialah orang-orang fasik, para pendusta, orang-orang tolol, dan para pengangguran yang tak berilmu.

Saya terlalu ridla kalau engkau mencaci-maki diriku dengan terang-terangan, tapi diam-diam engkau mengambil manfaat dari nasehatku ini. “Sungguh Allah sudah memberikan rahmat kpd seseorang, kalau ada orang lain yang menghadiahkan (memperlihatkan) kepadanya akan aib-aibnya”. Sebab memang saya ialah manusia beberapa dosa. Alangkah celakanya saya kalau saya tak bertaubat. Alangkah celaka saya kalau aib-aibku dibukakan oleh Allah yang maha mengetahui segala hal yang ghaib. Obatnya bagiku tiada lain kecuali ampunan dari Allah, taufik-Nya, dan hidayah-Nya.

Segala puji cuma milik Allah, Shalawat dan salam semoga terlimpah atas tuan kita Muhammad, penutup para Nabi, atas keluarganya, dan para sahabatnya sekalian. Terjemahan ini saya Nukil dari situs “kenapa takut Bid`ah . word Press . com”

 

Lanjutan:
Ustadz Firanda menjelaskan :

Perkataan para ulama Asyaa’iroh yang mengakui Allah di atas langit

Ternyata kita dapati bahwasanya sebagian pembesar madzhab Asyaa’iroh juga mengakui keberadaan Allah di atas langit. Sebagaimana hal ini sudah ditegaskan oleh Imam Al-Baihaqi dalam kitabnya Al-Asmaa’ wa As-Sifaat (2/308)

Beliau berkata, “Dan atsar dari salaf seperti hal ini (yaitu bahwasanya Allah berisitwa di atas ‘arsy -pent) beberapa. Dan madzhab As-Syafii radhiallahu ‘anhu menunjukan di atas jalan ini, dan ini madzhab Ahmad bin Hanbal…Dan Abu Hasan Ali bin Ismaa’iil Al-’Asy’ari berpendapat bahwasanya Allah melaksanakan suatu fi’il (perbuatan) di ‘arsy yang Allah namakan istiwaa’… Dan Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Mahdi At-Thobari dan juga para ahli nadzor bahwasanya Allah ta’aalaa di langit di atas segala sesuatu, ber-istiwa di atas ‘arsynya, yaitu maknanya Allah di atas ‘arsy. Dan makna istiwaa’ ialah tinggi di atas sebagaimana kalau dikatakan “saya beristiwa’ di atas binatang”, “saya beristiwa di atas atap”, maknanya yaitu saya tinggi di atasnya, “Matahari beristiwa di atas kepalaku”

Dari penjelasan Al-Imam Al-Baihaqi di atas nampak ;
– Banyaknya atsar dari salaf mengenai hal Allah di atas.
– Ini merupakan madzhab As-Syafi’i dan madzhab Imam Ahmad bin Hanbal
– Ini merupakan madzhab sebagian pembesar Asyaa’iroh seperti Abul Hasan Al-Asy’ari dan Abul Hasan At-Thobari.

Jawab: sebaiknya Ustadz Firanda juga menyertakan perkataan Al-Imam Al-baihaqi dalam Asma wa sifat halaman 410 , beliau berkata : ” dan Dzat yang Qodim yang maha suci ialah Tinggi diatas Arsy tak duduk , tak juga berdiri , tak menempel tak juga terpisah ( wala mubayin lil arsy) dari Arsy , kalau yang diinginkan dengan mubayanah itu ialah Makna menjauh atau berpisah , sebab menempel dan terpisah merupakan kebalikannya , dan berdiri dan duduk ialah sifat Jisim (tubuh-pent) , dan Allah azza wa jalla satu somad yang tak lahir tak pula melahirkan , yang tak ada satupun bandingannya tak boleh disifati dengan sifat-sifat Jisim (tubuh-pent) , lantas pensifatan akan ketinggian Allah tak cuma disebutkan oleh Al-baihaqi tetapi juga dikatakan oleh Ibnu mahdi dan Imam At-thobari dimana maksud mereka semuanya ialah ketinggian martabat dan kedudukan sama sekali bukan ketiunggian fisik dan dzat sebagaimana yang diinginkan oleh Ustadz firanda , jadi qoul yang dinukil oleh Ustadz Firanda ini bahkan menyokong pandangan Ulama Asy’ariyah yang menetapkan ketinggian martabat kedudukan dan kekuasaan.

Begitu juga kalau Ustadz Firanda menyertakan perkataan Imam al- Baihaqi dalam kitabnya al-i`tiqod ” halaman 69 – 73 tepatnya pada halaman 72 beliau katakan : ringkasnya (bil-jumlah) wajib diketahui bahwa ” Istiwa allah ” yang maha suci dan maha tinggi bukanlah Istiwa yang lurus dari yang bengkok bukan pula berdiam dalam tempat , bukan pula menempel / menyatu disalah satu makhluknya , akan tetapi Istiwa diatas Arsy nya sebagaimana dikabarkan tanpa Bagaimana dan DIMANA tak menyatu tak pula terpisah (ba inun) dari seluruh Makhluknya dan bahwasannya kedatangan Allah bukanlah kedatangan dari tempat ke tempat dan tanpa Gerakan dst….. perhatikanlah beliau menafikan kata DIMANA ,  ” kesimpulan dari atsar yang dibawakan oleh Ustadz Firanda ini beserta isinya menunjukan kalau Al-Baihaqi dan Ulama yang disebutkannya berharap Istiwa dalam makna: ”ketinggian Martabat , kedudukan dan kekuasaan.  Sama sekali bukan ketinggian Fisik (Dzat) sebagaimana yang di inginkan Ustadz Firanda.

Ustadz Firanda menjelaskan:

Pertama : Imam Abul Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah

Merupakan perkara yang mengherankan bahwasanya diantara para ulama yang menyebutkan konsensus salaf tersebut ialah Imam besar kaum Asyaa’iroh yaitu Imam Abul Hasan Al-’Asy’ari yang hidup di abad ke empat Hijriah. Dialah nenek moyang mereka, guru pertama mereka, sehingga merekapun berintisab (berafiliasi) kpd nama beliau jadi firqoh Asyaa’iroh.

Berkata Imam Abul Hasan Al-’Asy’ari rahimahullah dalam kitabnya Risaalah ila Ahli Ats-Tsagr:

Ijmak kesembilan :
Dan mereka (para salaf) berkonsensus (ijmak) … bahwasanya Allah ta’aala di atas langit, diatas arsyNya bukan di bumi. Hal ini sudah ditunjukan oleh firman Allah
أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ

Apakah kau merasa aman kepada Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama-sama kau (QS Al-Mulk : 16).

Dan Allah berfirman
إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ
kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya (QS Faathir : 10).

Dan Allah berfirman
الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى‏

“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwa di atas Arasy.” (QS. Thâhâ;5)
Dan bukanlah istiwaa’nya di atas arsy maknanya istiilaa’ (menguasai) sebagaimana yang dikatakan oleh qodariah (Mu’tazilah-pent), sebab Allah Azza wa Jalla senantiasa menguasai segala sesuatu. Dan Allah mengetahui yang tersembunyi dan yang lebih samar dari yang tersembunyi, tak ada sesuatupun di langit maupun di bumi yang tersembunyi bagi Allah, sampai seakan-akan Allah selalu datang bersama-sama segala sesuatu. Hal ini sudah ditunjukan oleh Allah Azza wa Jalla dengan firmanNya
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

Dia bersama-sama kau dimana saja kau berada (QS Al-Hadiid : 4)
Para ahlul ilmi menafsirkan hal ini dengan ta’wil yaitu bahwasanya ilmu Allah meliputi mereka di mana saja mereka berada” (Risaalah ilaa Ahli Ats-Tsagr 231-234)

Ini merupakan hikayat kumpulan perkataan Ahlul Hadits dan Ahlus Sunnah

….

Dan bahwasanya Allah –subhaanahu- diatas arsyNya, sebagaimana Allah berfirman
الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى‏

“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwa di atas Arasy.” (QS. Thâhâ;5)
Dan Allah mempunyai dua tangan tanpa ditanyakan bagaimananya… dan Allah mempunyai muka… (Maqoolaatul Islaamiyiin 1/345).

Jawab:

Kebesaran nama Al- Imam Abul Hasan Al-Asy`ari membikin begitu beberapa orang yang ingin mendimpleng / menumpang dalam nama besarnya. Bahkan tak jarang perkataan-perkataan aneh muncul dalam kitab-kitab yang dinisbatkan kpd beliau, sehingga beberapa Ahli dalam lingkungan Ulama Asy’ariyah meragukan keaslian kitab-kitab yang dinisbatkan kpd beliau. Hal ini pulalah yang lantas memotivasi Al-Hafidz Ibnu Asakir untuk menerangkan kebohongan-kebohongan yang dinisbatkan kpd Sang Imam , beliau mecatat sebuah kitab Tabyinul Kadzib al- Muftari ‘ala al- Imam Abul Hasan Al-Asy’ari.

Akidah shahihah yang dianut salaf as-shalih ialah Allah ada tanpa tempat dan arah. Kekeliruan Ustadz Firanda ialah menukil perkataan sang Imam dari kitab-kitab yang oleh kalangan Asy’ariyah sendiri kitab-kitab tersebut tak dipakai selaku pegangan Utama seperti kitab Al-ibanah , Maqolat Islamiyyin , risalah ila ahli tsagr dan yang lainnya.  Kalangan Asy’ariah cuma mempergunakan pernyataan-pernyataan Sang Imam yang betul-betul Tsabit dari sang Imam bukan kitab-kitab Muharraf (yang sudah diubah ) oleh tangan–tangan Jail seperti hasyawiyun.  Karena Pemahaman teks Mutasyabihat secara literal bukanlah Manhaj al- Imam Abul Hasan Al- Asyari,   seperti yang dinyatakan oleh al-Imam Ibnu 'Asakir dalam kitab Tabyinul kadzibil muftari, begitu juga ditegaskan oleh al-imam tajuddin al-subki dalam tobaqot syafiiyah.

Coba perhatikan pernyataan Imam abul hasan al-asy`ari:

”Allah ada tanpa tempat , menciptakan Arsy dan kursi tanpa butuh kpd keduanya selaku tempat , dan Allah sesudah menciptakan tempat , tetap seperti sebelum menciptakan tempat.” ( tabyinul kadzibil muftari hal 150).

Oleh sebab itu bagi siapapun termasuk ustadz Firanda kalau ingin mengambil Hujjah Untuk mempelajari ( menyerbu ) Asy’ariyyin ambil dan pelajarilah Tabyinul Kadzib karya Al-Hafidz Ibn ‘Asakir.  Sehingga apa yang didakwakan Ustadz firanda bahwa : para Ulama Asy’ariyah pun mengakui Kalau Allah berada dilangit, ialah dakwa’an yang tertolak sebab kitab-kitab yang dijadikan sandaran oleh ustadz firanda, dikalangan kalangan Asy’ariyah pun tak menggunakannya selaku pegangan Utama, sebab kitab-kitab tersebut tak Tsabit dan tak lagi murni Asli karangan Sang Imam.

 

Bukti kedua yang dijadikan Hujjah oleh ustadz Firanda:

Kedua : Abu Bakr Al-Baaqillaani (wafat 403 H)

Beliau berkata dalam kitabnya Al-Ibaanah

“Kalau dikatakan : Apakah kalian menjelaskan bahwa Alla berada dimana-mana?, dikatakan : Kita berlindung kpd Allah (dari perkataan ini-pent). Akan tetapi Allah beristiwa di atas ‘arsy-Nya sebagaimana Allah kabarkan dalam kitabNya “ArRahman di atas ‘arsy beristiwaa”, dan Allah berfirman “Ke-Nyalah naik perkatan-perkataan yang baik”, dan Allah berfirman “Apakah kalian merasa aman dari Allah yang berada di atas?”

Beliau berkata, “Jika seandainya Allah di mana-mana maka Allah akan berada di perut manusia, di mulutnya, …

(Sebagaimana dinukil oleh Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Al-’Uluw 2/1298 (Mukhtsor Al-’Uluw 258)).

Jawab :

1. pernyataan beliau bahwa Allah ada di mana–mana ialah respon kepada Jahmiyah dan Mutazilah</strong> yang mengumumkan Allah berada dimana – mana sementara Aqidah Ahlu Sunnah ( Asyariyah ) ialah Allah ada tanpa tempat dan tanpa Arah.

2. pernyataan beliau : Allah beristiwa di atas ‘arsy-Nya sebagaimana Allah kabarkan dalam kitabNya “ArRahman di atas ‘arsy beristiwaa”, ialah Manhaj atau metodologi Tafwidh (bagian dari dua metodologi yang dipakai Ulama asy’ariyah dalam memahami ayat Mutasyabihat) pernyataan beliau ini merupakan bantahan bagi kaum Mujassimah (wahabiyah) yang mengartikan Istawa dengan arti yang Bathil mereka mengartikan Istawa dengan : Istiqroru Dzat ( berdiamnya Dzat Allah dilangit ).

  1. bukti yang dibawakan Ustadz Firanda ini bahkan jadi Bumerang bagi Ustadz Firanda dan golongannnya yang mengartikan Istawa dengan makna Istiqror ( berada / berdiam ) sebab Al- Baqilani tak menentukan arti secara Spesial untuk lafadz Istawa , yang beliau katakan ialah : ” Akan tetapi Allah beristiwa di atas ‘arsy-Nya sebagaimana Allah kabarkan dalam kitabNya “ArRahman di atas ‘arsy beristiwaa”,  perhatikan:  sebagaimana Allah kabarkan dalam kitabNya “ArRahman di atas ‘arsy beristiwaa”, inilah yang disebut Tafwidh yang juga di tolak oleh Ustadz Firanda dan kelompoknya.

Bukti ke 3 yang dibawakan Ustadz Firanda:

Ketiga : Imam Al-Baihaqi (wafat 458 H)

Beliau berkata dalam kitabnyaAl-I’tiqood wal Hidaayah ilaa Sabiil Ar-Rosyaad, tahqiq : Abul ‘Ainain, Daar Al-Fadhiilah, cetakan pertama bab Al-Qoul fi Al-Istiwaaa’ (hal 116)

“Dan maksud Allah ialah Allah di atas langit, sebagaimana firmanNya, “Dan sungguh saya akan menyalib kalian di pangkal korma”, yaitu di atas pangkal korma. Dan Allah berfirman “Berjalanlah kalian di bumi”, maksudnya ialah di atas muka bumi. Dan saban yang di atas maka dia ialah samaa’. Dan ‘Arsy ialah yang tertinggi dari benda-benda yang di atas. Maka makna ayat –wallahu a’lam- ialah “Apakah kalian merasa aman dari Dzat yang berada di atas ‘arsy?”.

Jawab : lagi-lagi ustadz Firanda menyebut Nama Al-Hafidz Al- baihaqi untuk menyokong hipotesanya , dan Amat disayangkan Ustadz firanda cuma mengambil pernyataan Al- Baihaqi yang belum tuntas untuk menyokong kesimpulan Bathilnya. Saya minta Ustadz firanda untuk membaca tulisan Al-Baihaqi secara utuh dalam bab Al-qoul fil Istiwa jangan main  penggal–penggal begitu sebab akan memberikan pemahaman yang salah.  Coba baca terus sampai halaman selanjutnya yang memperlihatkan kalau Al-baihaqi  ”cuma”  sedang menyebutkan ayat dan hadist yang berhubungan dengan istawa belum kpd kesimpulan, sebagaimana potongan bab oleh Ustadz Firanda seakan itu ialah kesimpulan sang Imam al- baihaqi dalam memahami Istawa.

 

Sementara kesimpulan yang shahih dari sang Imam ialah : ” ( wa Fil Hitungan total ……) kesimpulannya ialah wajib diketahui bahwa Itiwa Allah yang maha suci dan maha tinggi, bukanlah Istiwa tegak dari yang bengkok, bukan pula Ber Diam (berada) pada tempat, tak pula bersentuhan dengan suatu apapun dari makhluknya, akan tetapi Istiwa diatas Arsynya sebagaimana yang dikabarkan tanpa bagaimana dan Dimana, tak menyatu tak pula terpisah (ba inun) dari seluruh Makhluknya. Dan datangnya Allah bukanlah datang dari tempat ke tempat , dan datangnya Allah tak dengan Gerakan, dan turunnya pun bukan dengan berpindah, dan nafsnya bukanlah Tubuh (jisim) dan Wajahnya tak lah gambar (shuroh), dan tangannya Bukanlah Anggota Tubuh, dan matanya bukanlah bola mata, cuma saja sifat-sifat ini sudah ditetapkan maka kami mengatakannya dengan menafikan bagaimananya.  Allah berfirman:  “Ndak ada sesuatu pun yang menyerupainya dan ber Firman: “Ndak ada yang sebanding dengannya dan Allah berfirman : “Apakah engkau tahu nama bagi dia… ”

Coba bandingkan Aqidah sang Imam (al-Baihaqi) dengan Aqidah Salafiyyin ( Wahabiyyin ) Aqidah sang Ustadz  Firanda yang menjelaskan Istiwa dengan Istiqror ( berdiam / bertempat ) yang menjelaskan Istiwa dengan qu’ud ( jongkok) Julus ( duduk) sebagaimana dinyatakan Imam Imam mereka :  menjelaskan Allah duduk di kursi, disebutkan dalam kitab ” Fathul Majid ” hal. 356, penulis abdurrahman bin hasan bin muhammad bin abdil Wahhab. Cet. Darusalam riyad. Dan masih beberapa lainnya seperti hamud at- tuwajiri , bin baz dll

Kesimpulan: bukti ketiga yang dibawakan Ustadz Firanda ini Bahkan jadi senjata makan tuan , yang membabat habis Aqidah Ustadz firanda dan kelompoknya yang mengartikan Istiwa dengan berdiam bertempat dan duduk dikursi diatas Arsy. Dari 3 bukti yang dibawakan sang Ustadz ini ternyata mempunyai pemahaman yang tak sama dengan apa yang dipahami Ustadz Firanda cs , sehingga pengakuan Ustadz Firanda lagi-lagi gugur sebab sang Ustadz salah dalam memahaminya akibat dari pemahaman yang dipenggal–penggal.

Terlebih Imam Al- baihaqi dalam kitab inipun, sesudah menyebutkan kesimpulan tadi , memberikan kaidah yang tak dipakai bahkan tak ditampilkan oleh ustadz firanda yaitu beliau berkata : “Sudah mengabarkan kpd kami muhammad bin abdullah al-hafidz memberitakan kpd kami abu bakar bin muhammad bin ahmad bin ba lawih , menjelaskan kpd kami muhammad bin bisr bin mator menjelaskan al-haitsam bin Khorijah menjelaskan kpd kami al-walid bin muslim beliau berkata : sudah ditanya Al- Auza’i , Imam malik , sufyan ats-tsauri dan laits bin sa`ad mengenai hal ayat-ayat ini ( ayat mutasyabihat / Istiwa dll-pent) mereka semuanya menjawab:  ”Ammiruha kama Jaa’at tanpa bagaimana”.  Perhatikanlah para Imam itu menjawab : ”lewati saja sebagaimana dia datang tanpa membagaimanakan”.  Lantas untuk mempertegas ini Al-baihaqi juga menyebutkan dengan sanadnya dari sufyan bin Uyainah bahwa:  Tiap-tiap sifat yang Allah sifati dirinya dalam KITAB-nya maka penjelasannya (tafsirnya) ialah membacanya lalu diam.

Bandingkan dengan metodologi kaum salafiyyin wahabiyyin termasuk Ustadz firanda yang mengharuskan ayat-ayat itu difahami dengan Dzahir dan hakekat dari saban lafadz dalam ayat itu ( lihat risalah at-tadmuriyah – Ibnu taimiyah).  Bahkan mereka mensifati Allah dengan Riwayat-riwayat yang tak sah, isroiliyat , Mungkar dan maudhu’  seperti yang tertera dalam Kitab Tauhid Karya Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab, kitab Rodd alal jahmiyah karya Ad-darimi kitab al-Uluw adz-dzahabi,  kitab Ijtima’  juyusy Ibnu Qoyyim dan kitab-kitab pegangan mereka lainnya seperti risalah al-hamawiyah dan al-Arsy karya Ibnu Taimiyah, terlalu jauh dari petunjuk para Aimmah.

hingga disini kiranya tanggapan (bantahan) atas beberapa materi pokok, dalam tulisan Ustadz Firanda dimana pengakuan :

  1. Para ulama Islam sudah berkonsensus bahwa Allah berada di atas.  —————  Cuma berdasar kpd Riwayat – riwayat yang Ndak Sah, Mungkar bahkan Palsu ( maudhu’)  sebagaimana sudah kita kaji bersama-sama ternyata dari 13  riwayat yang dibawakan Ustadz Firanda itu semuanya GUGUR

  2. Perkataan para ulama Islam (dari kalangan Sahabat, para Tabi’iin, dan yang lainnya) mengenai hal keberadaan Allah di atas sangatlah beberapa.  —————-——  pengakuan ini pun gugur, sebab dua kitab yang dijadikan sandaran Oleh Ustadz Firanda ( al-Uluw dan Ijtimaal-juyusy ) cuma bersandarkan kpd riwayat-riwayat yang tak Sah , Mungkar bahkan Maudhu

  3. Penjelasan bahwa ternyata sebagian pembesar dari para ulama Asyaa’iroh juga berpendapat bahwasanya Allah berada di atas langit.  ——————— pengakuan ini juga Gugur, sebab:

1. Ustadz Firanda dalam pembuktian perkataan Ulama Asy’ariyah , mengambil sandaran dari kitab-kitab yang tak dipakai oleh ulama Asy`ariyah.

2. ustadz Firanda salah dalam memahami perkataan Ulama Asy`ariyah dalam hal ini Al-baqilani yang mempergunakan Manhaj Tafwidh,  kekhilafan  pemahaman Ustadz Firanda diakibatkan sebab ” membaca ” tak secara utuh, tak secara komprehensif sebagaimana sudah dibuktikan dalam kajian di atas.

3. Ustadz Firanda cuma mengambil potongan-potongan (cut paste) pembahasan para Ulama Asy`ariyah, terlebih Sang Ustadz Firanda tak mengindahkan / memperhatikan Metodologi yang ditetapkan oleh Ulama Ahlu Sunnah (Asy’ariyah).  Sehingga ustadz Firanda tak sanggup membedakan antara Manhaj Tafwidh dan Manhaj Takwil yang kedua-duanya merupakan metodologi yang dipakai Ulama Ahlu Sunnah (Asy’ariyah).

Itulah inti dari tulisan Ustadz firanda yang semunya telah Gugur.  Dan yang selanjutnya ialah kajian atau kritisi Ustadz Firanda kepada tulisan Ustadz Abu salafy. Untuk memperjelas persoalan mungkin perlu juga untuk disimak mudah-mudahan ada faidahnya.

 

B E R S A M B U N G …..

Firanda VS Ahmad Syahid – Ummatipress.com

You might like

About the Author: admin

166 Comments

  1. nilah pemahaman Imam Syafi’i tentang Hadits Jariyah :

    Berkata Imam asy-Syafi’i –rahimahullah- :

    واختلف عليه في إسناده ومتنه، وهو إن صح فكان النبي – صلى الله عليه وسلم – خاطبها على قَدرِ معرفتها، فإنها وأمثالها قبل الإسلام كانوا يعتقدون في الأوثان أنها آلهة في الأرض، فأراد أن يعرف إيمانها، فقال لها: أين اللَّه؟ حتى إذا أشارت إلى الأصنام عرف أنها غير مؤمنة، فلما قالت: في السماء، عرف أنها برئت من الأوثان، وأنها مؤمنة بالله الذي في السماء إله وفي الأرض إله، أو أشار، وأشارت إلى ظاهر ما ورد به الكتاب.

    “Dan telah terjadi khilaf pada sanad dan matan nya (hadits jariyah), dan seandainya shohih Hadits tersebut, maka adalah Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- bertanya kepada hamba tersebut menurut kadar pemahaman nya, karena bahwa dia (hamba) dan kawan-kawan nya sebelum Islam, mereka meyakini bahwa berhala adalah Tuhan yang ada di bumi, maka Nabi ingin mengetahui keimanan nya, maka Nabi bertanya : “Dimana Allah ?” sehingga apabila ia menunjuk kepada berhala, Nabi mengetahui bahwa ia bukan Islam, maka manakala ia menjawab : “Di atas langit” Nabi mengetahui bahwa ia terlepas dari berhala dan bahwa ia adalah orang yang percaya kepada Allah yaitu Tuhan di langit dan Tuhan di bumi, atau Nabi mengisyarah dan ia mengisyarah kepada dhohir yang datang dalam Al-Quran”.

    [Lihat Kitab Tafsir Imam asy-Syafi’i pada surat al-Mulk -قال الله عزَّ وجلَّ: أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ -] dan [Lihat Kitab Manaqib Imam Syafi’i jilid 1 halaman 597 karangan Imam Baihaqqi, pada Bab -ما يستدل به على معرفة الشَّافِعِي بأصول الكلام وصحة اعتقاده فيها- ]

    PERHATIKAN SCAN KITAB MANAQIB IMAM SYAFI’I DI BAWAH INI :

    واختلف عليه في إسناده ومتنه

    “Dan telah terjadi khilaf pada sanad dan matan nya”

    Maksudnya : Pada Hadits Jariyah telah banyak terjadi perbedaan pendapat ulama Hadits, baik dalam keshohihan sanad nya atau dalam matan nya, sepantasnya Hadits ini ditinggalkan bagi orang yang ingin beraqidah dengan aqidah yang selamat, karena ketidak-jelasan status Hadits ini.

    وهو إن صح فكان النبي – صلى الله عليه وسلم – خاطبها على قَدرِ معرفتها

    “dan seandainya shohih Hadits tersebut, maka adalah Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- bertanya kepada hamba tersebut menurut kadar pemahaman nya”

    Maksudnya : Bila ternyata Hadits Jariyah itu benar Hadits Shohih, atau bagi orang yang menganggapnya sebagai Hadits Shohih, maka jangan di telan mentah-mentah, pahami dulu bagaimana maksud Nabi sesungguhnya dalam Hadits tersebut, Imam Syafi’i mengatakan bahwa maksud Nabi bertanya kepada hamba itu dengan pertanyaan “Dimana Allah” adalah bertanya menurut kemampuan kepahaman hamba tersebut, artinya Nabi bertanya “Siapa Tuhan nya” sebagaimana didukung oleh sanad dan matan dalam riwayat yang lain, Nabi tidak bermaksud menanyakan arah atau tempat keberadaan Allah.

    فإنها وأمثالها قبل الإسلام كانوا يعتقدون في الأوثان أنها آلهة في الأرض

    “karena bahwa dia (hamba) dan kawan-kawan nya sebelum Islam, mereka meyakini bahwa berhala adalah Tuhan yang ada di bumi”

    Maksudnya : Cara Rasulullah bertanya untuk mengetahui status nya muslim atau non muslim dengan pertanyaan “Dimana Allah” adalah menyesuaikan dan mempertimbangkan keadaan hamba tersebut yang masih awam, karena mereka sebelum datang Islam, mereka menyembah dan meyakini bahwa berhala yang bertempat di bumi adalah Tuhan mereka, maka sesuailah keadaan tersebut dengan pertanyaan Nabi “Dimana Allah”. Sementara Allah tidak seperti Tuhan-Tuhan mereka yang bertempat.

    فأراد أن يعرف إيمانها، فقال لها: أين اللَّه؟

    “maka Nabi ingin mengetahui keimanan nya, maka Nabi bertanya : Dimana Allah ?”

    Maksudnya : Nabi bertanya “Dimana Allah” untuk mengetahui status keimanan hamba tersebut, artinya Rasul bertanya siapa Tuhan yang ia imani, Nabi tidak bermaksud bertanya dimana tempat berhala nya berada bila hamba itu seorang penyembah berhala, dan tidak bermaksud menanyakan dimana tempat Allah berada bila hamba tersebut percaya kepada Allah, tapi hanya menanyakan apakah ia beriman kepada Allah atau bukan.

    حتى إذا أشارت إلى الأصنام عرف أنها غير مؤمنة

    “sehingga apabila ia menunjuk kepada berhala, Nabi mengetahui bahwa ia bukan Islam”

    Maksudnya : Mempertimbangkan keadaan orang-orang dimasa itu yang masih banyak menyembah berhala, maka ketika Rasul ingin mengetahui status hamba tersebut, Rasul bertanya dengan pertanyaan “Dimana Allah” agar muduh bagi nya menjawab bila ia penyembah berhala, maka ia menunjukkan tempat berhala yang ia sembah, dan otomatis diketahui bahwa ia bukan orang yang percaya kepada Allah.

    فلما قالت: في السماء، عرف أنها برئت من الأوثان

    “maka manakala ia menjawab : “Di atas langit” Nabi mengetahui bahwa ia terlepas dari berhala”

    Maksudnya : Ketika hamba itu menjawab “Di atas langit” maka Nabi mengetahui bahwa ia adalah bukan penyembah berhala, jawaban hamba ini juga tidak bisa dijadikan alasan bahwa Nabi mengakui “Allah bersemayam di atas langit” karena tidak ada hubungan antara jawaban dan pertanyaan Nabi, seperti dijelaskan di atas bahwa maksud Nabi bertanya demikian adalah ingin mengetahui status hamba muslim atau non muslim, maka jawaban hamba ini dipahami sesuai dengan maksud dari pertanyaan, Nabi tidak menanyakan apakah ia berakidah “Allah ada tanpa arah dan tempat” atau “Allah ada di mana-mana” atau “Allah bersemayam di atas langit” atau lain nya, bukan itu masalah nya di sini.

    وأنها مؤمنة بالله الذي في السماء إله وفي الأرض إله

    “dan bahwa ia adalah orang yang percaya kepada Allah yaitu Tuhan di langit dan Tuhan di bumi”

    Maksudnya : Dan dari jawaban hamba tersebut dapat diketahui bahwa ia adalah orang yang percaya kepada Allah yaitu Tuhan di langit dan Tuhan di bumi, ini poin penting yang harus digaris-bawahi oleh para Salafi Wahabi yang menduga “Allah bersemayam di atas ‘Arasy”. Imam Syafi’i membungkam akidah sesat Salafi Wahabi dengan pernyataan beliau “Allah yaitu Tuhan di langit dan Tuhan di bumi”. Allah di langit bukan berarti Allah berada atau bersemayam di langit, dan Allah di bumi bukan berarti Allah berada di bumi atau di mana-mana, tapi Allah adalah Tuhan sekalian alam, baik di langit atau di bumi, makhluk di langit bertuhankan Allah, dan makhluk di bumi juga bertuhankan Allah, inilah akidah Imam Syafi’i bahwa “Allah ada tanpa arah dan tempat” sebagaimana akidah Ahlus Sunnah Waljama’ah Salaf dan Khalaf, pernyataan Imam Syafi’i ini menepis semua pemahaman salah dari Hadits Jariyah tersebut.

    أو أشار، وأشارت إلى ظاهر ما ورد به الكتاب

    “atau Nabi mengisyarah dan ia mengisyarah kepada dhohir yang datang dalam Al-Quran”

    Maksudnya : Bahkan Imam Syafi’i berkata kemungkinan tanya-jawab Nabi dan hamba di atas tidak pernah ada, Nabi hanya mengisyarah tidak bertanya dengan kata-kata, dan hamba juga menjawab nya dengan isyarah tanpa kata, dan kata-kata di atas hanya berasal dari perawi atau pemilik hamba yang menceritakan kejadian tersebut, maka tidak mungkin sama sekali menjadikan Hadits Jariyah ini sebagai bukti kebenaran akidah Wahabi.

  2. Inilah pemahaman Imam Syafi’i tentang Hadits Jariyah :

    Berkata Imam asy-Syafi’i –rahimahullah- :

    واختلف عليه في إسناده ومتنه، وهو إن صح فكان النبي – صلى الله عليه وسلم – خاطبها على قَدرِ معرفتها، فإنها وأمثالها قبل الإسلام كانوا يعتقدون في الأوثان أنها آلهة في الأرض، فأراد أن يعرف إيمانها، فقال لها: أين اللَّه؟ حتى إذا أشارت إلى الأصنام عرف أنها غير مؤمنة، فلما قالت: في السماء، عرف أنها برئت من الأوثان، وأنها مؤمنة بالله الذي في السماء إله وفي الأرض إله، أو أشار، وأشارت إلى ظاهر ما ورد به الكتاب.

    “Dan telah terjadi khilaf pada sanad dan matan nya (hadits jariyah), dan seandainya shohih Hadits tersebut, maka adalah Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- bertanya kepada hamba tersebut menurut kadar pemahaman nya, karena bahwa dia (hamba) dan kawan-kawan nya sebelum Islam, mereka meyakini bahwa berhala adalah Tuhan yang ada di bumi, maka Nabi ingin mengetahui keimanan nya, maka Nabi bertanya : “Dimana Allah ?” sehingga apabila ia menunjuk kepada berhala, Nabi mengetahui bahwa ia bukan Islam, maka manakala ia menjawab : “Di atas langit” Nabi mengetahui bahwa ia terlepas dari berhala dan bahwa ia adalah orang yang percaya kepada Allah yaitu Tuhan di langit dan Tuhan di bumi, atau Nabi mengisyarah dan ia mengisyarah kepada dhohir yang datang dalam Al-Quran”.

    [Lihat Kitab Tafsir Imam asy-Syafi’i pada surat al-Mulk -قال الله عزَّ وجلَّ: أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ -] dan [Lihat Kitab Manaqib Imam Syafi’i jilid 1 halaman 597 karangan Imam Baihaqqi, pada Bab -ما يستدل به على معرفة الشَّافِعِي بأصول الكلام وصحة اعتقاده فيها- ]

    واختلف عليه في إسناده ومتنه

    “Dan telah terjadi khilaf pada sanad dan matan nya”

    Maksudnya : Pada Hadits Jariyah telah banyak terjadi perbedaan pendapat ulama Hadits, baik dalam keshohihan sanad nya atau dalam matan nya, sepantasnya Hadits ini ditinggalkan bagi orang yang ingin beraqidah dengan aqidah yang selamat, karena ketidak-jelasan status Hadits ini.

    وهو إن صح فكان النبي – صلى الله عليه وسلم – خاطبها على قَدرِ معرفتها

    “dan seandainya shohih Hadits tersebut, maka adalah Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- bertanya kepada hamba tersebut menurut kadar pemahaman nya”

    Maksudnya : Bila ternyata Hadits Jariyah itu benar Hadits Shohih, atau bagi orang yang menganggapnya sebagai Hadits Shohih, maka jangan di telan mentah-mentah, pahami dulu bagaimana maksud Nabi sesungguhnya dalam Hadits tersebut, Imam Syafi’i mengatakan bahwa maksud Nabi bertanya kepada hamba itu dengan pertanyaan “Dimana Allah” adalah bertanya menurut kemampuan kepahaman hamba tersebut, artinya Nabi bertanya “Siapa Tuhan nya” sebagaimana didukung oleh sanad dan matan dalam riwayat yang lain, Nabi tidak bermaksud menanyakan arah atau tempat keberadaan Allah.

    فإنها وأمثالها قبل الإسلام كانوا يعتقدون في الأوثان أنها آلهة في الأرض

    “karena bahwa dia (hamba) dan kawan-kawan nya sebelum Islam, mereka meyakini bahwa berhala adalah Tuhan yang ada di bumi”

    Maksudnya : Cara Rasulullah bertanya untuk mengetahui status nya muslim atau non muslim dengan pertanyaan “Dimana Allah” adalah menyesuaikan dan mempertimbangkan keadaan hamba tersebut yang masih awam, karena mereka sebelum datang Islam, mereka menyembah dan meyakini bahwa berhala yang bertempat di bumi adalah Tuhan mereka, maka sesuailah keadaan tersebut dengan pertanyaan Nabi “Dimana Allah”. Sementara Allah tidak seperti Tuhan-Tuhan mereka yang bertempat.

    فأراد أن يعرف إيمانها، فقال لها: أين اللَّه؟

    “maka Nabi ingin mengetahui keimanan nya, maka Nabi bertanya : Dimana Allah ?”

    Maksudnya : Nabi bertanya “Dimana Allah” untuk mengetahui status keimanan hamba tersebut, artinya Rasul bertanya siapa Tuhan yang ia imani, Nabi tidak bermaksud bertanya dimana tempat berhala nya berada bila hamba itu seorang penyembah berhala, dan tidak bermaksud menanyakan dimana tempat Allah berada bila hamba tersebut percaya kepada Allah, tapi hanya menanyakan apakah ia beriman kepada Allah atau bukan.

    حتى إذا أشارت إلى الأصنام عرف أنها غير مؤمنة

    “sehingga apabila ia menunjuk kepada berhala, Nabi mengetahui bahwa ia bukan Islam”

    Maksudnya : Mempertimbangkan keadaan orang-orang dimasa itu yang masih banyak menyembah berhala, maka ketika Rasul ingin mengetahui status hamba tersebut, Rasul bertanya dengan pertanyaan “Dimana Allah” agar muduh bagi nya menjawab bila ia penyembah berhala, maka ia menunjukkan tempat berhala yang ia sembah, dan otomatis diketahui bahwa ia bukan orang yang percaya kepada Allah.

    فلما قالت: في السماء، عرف أنها برئت من الأوثان

    “maka manakala ia menjawab : “Di atas langit” Nabi mengetahui bahwa ia terlepas dari berhala”

    Maksudnya : Ketika hamba itu menjawab “Di atas langit” maka Nabi mengetahui bahwa ia adalah bukan penyembah berhala, jawaban hamba ini juga tidak bisa dijadikan alasan bahwa Nabi mengakui “Allah bersemayam di atas langit” karena tidak ada hubungan antara jawaban dan pertanyaan Nabi, seperti dijelaskan di atas bahwa maksud Nabi bertanya demikian adalah ingin mengetahui status hamba muslim atau non muslim, maka jawaban hamba ini dipahami sesuai dengan maksud dari pertanyaan, Nabi tidak menanyakan apakah ia berakidah “Allah ada tanpa arah dan tempat” atau “Allah ada di mana-mana” atau “Allah bersemayam di atas langit” atau lain nya, bukan itu masalah nya di sini.

    وأنها مؤمنة بالله الذي في السماء إله وفي الأرض إله

    “dan bahwa ia adalah orang yang percaya kepada Allah yaitu Tuhan di langit dan Tuhan di bumi”

    Maksudnya : Dan dari jawaban hamba tersebut dapat diketahui bahwa ia adalah orang yang percaya kepada Allah yaitu Tuhan di langit dan Tuhan di bumi, ini poin penting yang harus digaris-bawahi oleh para Salafi Wahabi yang menduga “Allah bersemayam di atas ‘Arasy”. Imam Syafi’i membungkam akidah sesat Salafi Wahabi dengan pernyataan beliau “Allah yaitu Tuhan di langit dan Tuhan di bumi”. Allah di langit bukan berarti Allah berada atau bersemayam di langit, dan Allah di bumi bukan berarti Allah berada di bumi atau di mana-mana, tapi Allah adalah Tuhan sekalian alam, baik di langit atau di bumi, makhluk di langit bertuhankan Allah, dan makhluk di bumi juga bertuhankan Allah, inilah akidah Imam Syafi’i bahwa “Allah ada tanpa arah dan tempat” sebagaimana akidah Ahlus Sunnah Waljama’ah Salaf dan Khalaf, pernyataan Imam Syafi’i ini menepis semua pemahaman salah dari Hadits Jariyah tersebut.

    أو أشار، وأشارت إلى ظاهر ما ورد به الكتاب

    “atau Nabi mengisyarah dan ia mengisyarah kepada dhohir yang datang dalam Al-Quran”

    Maksudnya : Bahkan Imam Syafi’i berkata kemungkinan tanya-jawab Nabi dan hamba di atas tidak pernah ada, Nabi hanya mengisyarah tidak bertanya dengan kata-kata, dan hamba juga menjawab nya dengan isyarah tanpa kata, dan kata-kata di atas hanya berasal dari perawi atau pemilik hamba yang menceritakan kejadian tersebut, maka tidak mungkin sama sekali menjadikan Hadits Jariyah ini sebagai bukti kebenaran akidah Wahabi.

  3. Teman2 Salafy Wahabi sebaiknya baca dulu artikelnya sebelum berkomentar, sebab apa yg dikomentarkan itu ternyata sudah ada penjelasannya di artikel.

    Sempatkanlah baca dulu artikelnya itu akan berakibat baik buat antum2 semuanya, nanti kalau ada yg tidak ngerti bertanyalah, insyaallah Mas Admin dan teman2 di Ummati siap menjelaskannya.

    Demikian himbauan saya, semoga berkenan dg himbauan saya yg bernada prihatin dg sikap teman2 Salafy Wahabi yg asal koment saja.

  4. Afwan … sebelomnya … kalo memang Allah itu ” Ada tanpa tempat dan tanpa arah “, coba akhi sebutkan hadis dan segala riwayatnya, dan ada dimana serta kitab apa yg menelaah hal tersebut …. kalo memang hadis ” Allah beristawa di atas arsy-nya” itu salah …..

    Lalu mengapa di Site ini ada “Musik”, padahal bukankah musik itu diharamkan?, apalagi ditujukan untuk masalah syariat… Apakah itu bid’ah hasanah??? ( apakah kita tidak menjadi Tashabuh nasharo?, atau anda akan mengatakan bahwa Hadis yg “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”.
    merupakan hadis maudh’u? )

    ”fa inna asdaqol haditsi kitabullah wa khoirul haddihadyi muhammad salolauhu alaiwasalam wa sarol umuri mukhdatsatuha wa kulla mukhdasatin bidahtin wakulla bidatin dholala wakulla dhollati finnar” — anda akan katakan hadis ini maudhu juga??berikan buktinya!

    Kalo mengenai masalah forum mencari kebenaran ga peduli siapa gan itu, mau ustadnya ustad…mau Sahabat “Ridhuanallahu Aj’main” pun .. kalo dia benar maka berhak untuk membuktikan keotentikan ucapannya
    ga perduli siapapun yg dihadapi jangan mencari alasan. Kebenaran cuma satu soalnya gan.

    “Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu dan telah kucukupkan nikmat padamu dan Aku ridla Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Maidah: 3)

    1. Core…@

      Dalilnya yaitu ayat: “LIATSA KAMItSLIHI … dst”
      Jadi Kalau Allah ada bertempat dan berarah itu artinya menyerupai makhluk yg juga bertempat dan dan ada di suatu arah, paham antum?

      Mmm, yg mengharamkan music itu Wahabi atas nama Islam. Baca sejarah atau biografi Nabi Saw. beliau disambut dg musics rebana oleh kaum Ansor di saat hijrah ke Madinah. Dan masih banyak lagi fakta2 sejarah semacam ini.

      Capek deh, ngomong sama Wahabi, sudah berkali-kali dibilangin jangan asal comot hadits dan ayat Qur’an masih saja melakukannya. Mending kalau ngerti maksudnya, apakah antum mengerti makksud dari hadits dan ayat yg antum comot itu? coba jelaskan maksudnya deh, pingin tahu saya.

  5. @anto: semua muslim ya pake Alqur`an dan hadist! tapi apa terus kita jadi sok pinter dan tidak butuh keterangan dari para sahabat rosul serta para alim ulama dalam memahafi Alqur`an dan Sunnah tsb,,jika tidak mau susah(ribet) dalam menuntut ilmu,,apa saudaraku lupa hadist nabi ttg menuntut ilmu,,pikirkan lagi!!

  6. Assalamu’alaikum
    mas Dianth….jadi kangen sama mas, gimana kabar?

    Dalil-dalil tentang ketinggian Dzat Allah di atas ‘Arsy, di atas langit, di atas seluruh makhlukNya terbagi dalam berbagai sisi pendalilan. Pada tiap sisi pendalilan terdapat banyak dalil. Sisi-sisi pendalilan tersebut di aadalah Penyebutan ‘alFauqiyyah (ketinggian) Allah dengan kata penghubung ‘min’. Seperti dalam firman Allah:

    وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ دَابَّةٍ وَالْمَلَائِكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ () يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

    “ dan milik Allah sajalah segala yang ada di langit dan di bumi berupa makhluk melata dan para Malaikat, dalam keadaan mereka tidaklah sombong. Mereka takut terhadap Rabb mereka yang berada di atas mereka, dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan” (Q.S AnNahl:49-50).
    Ibnu Khuzaimah –rahimahullah- meyatakan:

    فأعْلمَنا الجليلُ جلَّ وعلا في هذهِ الآيةِ أنَّ ربَّنا فوقَ ملائكتهِ، وفوقَ ما في السَّماواتِ وما في الأرضِ مِنْ دَابَّةٍ، وأَعْلَمَنا أنَّ ملائكتَهُ يخافونَ ربَّهم الذي فوقهم

    “Maka Allah Yang Maha Mulya dan Maha Tinggi memberitahukan kepada kita dalam ayat ini bahwa Rabb kita berada di atas para MalaikatNya, dan berada di atas segala yang ada di langit dan di bumi berupa makhluk melata, dan (Allah) mengkhabarkan kepada kita bahwa para Malaikat takut terhadap Rabb mereka yang berada di atas mereka” (Lihat Kitaabut Tauhid karya Ibnu Khuzaimah halaman 111).
    Perhatikanlah, Ibnu Khuzaimah memahami ayat tersebut bahwa memang Allah Ta’ala berada di atas seluruh makhlukNya. Siapakah Ibnu Khuzaimah sehingga kita perlu mengambil rujukan (tentang Ketinggian Allah ini) darinya? Ibnu Khuzaimah adalah salah seorang ulama’ bermadzhab Asy-Syafi’i. Beliau merupakan salah satu murid al-Bukhari. Al-Bukhari dan Muslim juga mengambil ilmu (hadits) darinya, namun tidak dikeluarkan dalam As-Shahihain. Ibnu Khuzaimah adalah guru Ibnu Hibban al-Busty, sedangkan Ibnu Hibban adalah guru al-Haakim.
    Al-Hafidz Adz-Dzahaby menyatakan tentang Ibnu Khuzaimah:

    محمد بن إسحاق بن خزيمة بن المغيرة بن صالح بن بكر. الحافظ الحجة الفقيه، شيخ الاسلام، إمام الائمة، أبو بكر السلمي النيسابوري الشافعي

    “ Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah bin alMughirah bin Sholih bin Bakr. (Beliau) adalah al-Hafidz, al-Hujjah, alFaqiih, Syaikhul Islam, Imamnya para Imam. Abu Bakr As-Sulamy anNaisabuury Asy-Syaafi’i (bermadzhab Asy-Syafi’i)(Lihat Siyaar A’laamin Nubalaa’ juz 14 halaman 365).
    Sisi pendalilan yang pertama ini juga sebagaiman disebutkan dalam hadits Nabi, bahwa Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam menyatakan kepada Sa’ad bin Mu’adz ketika Sa’ad memberi keputusan terhadap Bani Quraidzhah:

    لقدْ حَكَمَ فيهمُ اليومَ بحُكْمِ اللهِ الذي حَكمَ بهِ مِنْ فوقِ سبعِ سماواتٍ

    “ Sungguh engkau telah menetapkan hukum (pada hari ini) dengan hukum Allah yang telah Allah tetapkan dengannya dari atas tujuh langit” (diriwayatkan oleh anNasaa-i dalam Manaaqibul Kubraa, Ibnu Sa’ad dalam atThobaqoot, atThohaawy dalam Syarh al-Maa’niy, al-Haakim dalam al-Mustadrak. Al-Hafidz Ibnu Hajar menghasankan hadits ini dalam Takhriijul Mukhtashor.

  7. السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ,

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ – أَعُوْذُ بِاللِه مِنَ الشََّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

    Pada Buku = RASIONALITAS AL-QUR’AN = Studi Kritis atas Tafsir Al-Manar ( yang membahas kesesatan para Dedemit WAHABI ) = karya – M.Quraish Shihab . MA. = di Halaman 74 nomor 3 menyatakan :

    “ Syaikh Abdul Ghani ar-Rafi , mengajarkannya ( kepada Rasyid Redha al-Mu’tazili ) sebagian dari kitab hadits NAIL al AUTHAR yang dikarang oleh : asy-Syaukani yang bermadzhab Syi’ah Zaidiyah “

    …Ulama Besar Syi’ah dijadikan MASCOT oleh para DEDENGKOT WAHABI…lucu…maksud hati ingin meluruskan AQIDAH ….akhirnya …berkolaborasi dengan Aqidah Syi’ah….Na’udzubillah tsumma Na’udzubillah.

    وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

    لا تجتمع هذه الأمة على ضلا

    “Umat ini tidak akan bersepakat diatas Kesesatan.”

    (HR. Asy-Syafi’I dalam Ar-Risalah)

    http://thesaltasin.wordpress.com/2011/09/16/o/

    1. Tulisan Mr Dufal yg demam blogger itu udah dibantah oleh Ustadz Ahmad Syahid, silahkan baca yg teliti dan gunakan nalarmu. Dikasih nalar/jalan pikiran oleh Allah maka gunakanlah sebaik-baiknya jangan sia-siakan akal pikiran n nalar antum. ….

      Ahmad Syahid: dufal , bagi saya tidak penting ada tanggapan atau tidak dari Ustadz firanda , yang terpenting bagi saya adalah ” menyampaikan kebenaran ” , setelah itu gugurlah kewajiban atas diri saya. Karena banyak orang awam yang terbawa oleh tipu muslihat Ustadz Firanda ya seperti dufal ini.

      Dufal mengatakan :
      : Didalam kitab al Arba’in an Nawawiyyah Imam Nawawi Rahimahullah membuka kitabnya dengan pembahasn tentang Hadits Niat. Dst…..

      Jawab : Hadist yang coba dufal kemukakan untuk membantah Kaidah Ahlu Sunnah bahwa : ” dalam hal Aqidah Ulama Ahlu Sunnah tidak menggunakan Khobarul ahad ” , sangatlah tidak nyambung , dufal sejak kapan Niat menjadi masalah Aqidah……? Dufal , Rosul mengatakan ” Innamal A`malu binniyyat ” , Rosul mengaitkan Niat dengan amal perbuatan dufal , bukan keyakinan (Aqidah). Sehingga `Amalul mukallaf itu masuk dalam pembahasan Ilmu fikih , disitulah Niat menjadi pembeda antara `adah dan Ibadah jadi maaf anda salah sambung dufal.

      Dufal menulis :
      Point ke 2
      : ini salah satu bukti yang menunjukan bahwa sejatinya ahmad syahid tidak paham dengan salafus sholeh ( salafi / wahabi ) dalam memperlakukan Hadits-hadits Dho’if yang ke Dho’ifan nya lemah (tidak parah). Dst……..

      Jawab : sungguh ironi lagi-lagi dufal gak nyambung dengan poin yang coba dibantahnya , dufal juga menulis ” salafus sholeh ( salafi / wahabi ) ” , salafus shalih kok salafi / wahabi , dufal dufal…… Istilah salafu shalih aja gak ngerti……..

      Dufal menulis :
      point ke 3
      :Setelah membaca pengakuan ahmad syahid ini,timbul keinginan bagi saya untuk mempertanyakan bagaimana sikap kelompok mereka (Asy’ariyyah/aswaja) dalam memperlakukan Hadits – hadits Nabi Saw yang berikut ini dst……..:

      Jawab : dufal , sampean ini mau menyanggah artikel saya , atau mau nanya cara men Jama` dan men-taufiq……? Kalo mau tahu Coba pelajarilah Ushul Fiqh Bab at-Ta`arrudh wa at-tarjih agar sanggahan dufal tidak berubah menjadi permohonan.

      Dufal mengatakan :
      point ke 4
      : Mengapa mesti ikut cara pendalilan kelompok Asy’ariyyah?orang jelas-jelas beda kok di ikutin,Aneh! Dan kalau kita mau objektif seperti apa yang ahmad syahid katakan,tentu kita akan menilai Ustad Firanda jauh lebih baik, sebab bukti yang ada bersamanya.Namun jika ahmad tetap memaksa untuk menyalahkan ustad Firanda,kenapa ahmad syahid tidak membawakan perkataan imam Al-Auzaai yang membantah perkataan beliau yang di bawakan ustad Firanda??? ahmad masih bisa mikir kan??.

      Jawab : 1. karena Asy`ariyah adalah Ahlu Sunnah sepanjang masa , sejak taubatnya Al-Imam Abul Hasan Al-as`ary dari faham Mu`tazilah Hingga hari ini , inilah Aqidah yang dianut mayoritas Ulama diberbagai penjuru dunia Islam.

      2. cara pendalilan ustadz firanda yang separo-separo (hanya mengambil yang mendukung saja ) adalah cirri Khas pendalilan Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid`ah , sebagaimana dinyatakan oleh Imam As-syathibi dalam al-`itisham , dufal bias cros cek dib log Ummati judul artikel ” cirri-ciri aliran sesat menurut as-syathibi semuanya ada di salafi wahabi” silahkan di cek.

      3. pernyataan Imam Al-Auzai yang tidak dibawakan ustadz firanda sudah saya bawakan dalam artikel ini , hanya karena artikel ini cukup panjang -+ 70 halaman oleh Mas admin Ummati dibikin ber seri. Sabar ya insya Allah lengkap kok…

      Dufal menulis :
      Point ke 5
      : Para ulama dalam men jarh seorang perawi tidak selamanya sejalan,bahkan terkadang perawi yang di ta’dil dalam saat yang sama juga di jarh oleh ulama yang lain.Fenomena seperti ini biasa terjadi di kalangan ulama jarh dan ta’dil.Hanya saja ahmad syahid yang baru bangun dari tidur panjang. Dst……

      Jawab : dufal baru nyambung nih saya jawab sekilas saja ya…..

      1.betul jika Ulama Ahli Jarh wa Ta`dil tidak selamanya sepakat dalam menjarh atau men Ta`dil , hanya saja dikalangan Ulama Jarh wa Ta`dil ada kaidah yang disepakati bahwa : jika seorang Rawi di Jarh tetapi juga ada yang men Ta`dil maka Jarh lebih di kedepankan ( digunakan) ketimbang ta`dil.

      2. dufal , dalam sanad riwayat ini bukan hanya al-mashishi yang menjadi masalah , tetapi rawi sebelumnya malah tertuduh dusta yaitu Ibrahim bin al-haitsam al-baladi , jadi tolong al-haitsam juga dufal sebut jangan disembunyiin.

      3. pembawaan riwayat Al-mashishi oleh adz-dzahabi bukan berarti bahwa Al-mashishi adalah Tsiqoh , dan perlu Dufal ketahui jika adz-dzahabi juga banyak membawakan riwayat riwayat Maudhu` ( palsu ) dalam kitabnya al-uluw.

      dufal menulis :
      point ke 6
      : dalam point ini saya tidak akan memaksakan diri untuk menyanggah,sebab saya belum menemukan biografi dari rowi-rowi yang menyampaikan riwayat tersebut.untuk itu saya lebih memilih bersikap diam sambil mencari biografi dari rowi-rowi tersebut.. semoga Allah Ta’ala memudahkan saya untuk menemukannya..amin..

      jawab : terimakasih untuk diamnya

      dufal menulis :
      point ke 7
      : Saya pikir Ahmad syahid lemah dalam mengkaji setiap teks yang ada dalam riwayat yang dibawakan ustad Firanda.Terbukti ahmad syahid coba mencari kesalahan dari riwayat tersebut dengan secara sengaja menjadikan titik pangkalnya pada kata-kata “seluruh ummat”. Padahal kita tau bahwa inti dari riwayat tersebut bertitik pangkal pada kata “FITROH”,yang kemudian di jeneralisasikan kepada seluruh ummat.Artinya,seandainya saja fitroh manusia tidak di palingkan maka selama itu juga seluruh ummat (termasuk ahmad syahid) akan meyakini bahwa Allah Ta’ala berada diatas langit.Namun jika kita bertitik pangkal seperti halnya Ahmad syahid,maka jangankan Fir’aun, ahmad Syahid aja tidak meyakini bahwa Allah berada di ata langit beserta Dzat-Nya (bukan Derajat).benar kan???

      Jawab : 1. dufal sumber hokum dalam Islam adalah Qur`an dan Hadist , sejak kapan Fitroh menjadi sumber hokum…..? aya – aya wae dufal nih..

      2. jika dufal pernah membaca kitab Al-uluw karya adz-dzahabi niscaya dufal akan banyak dapati jika Adz-dzahabi pun banyak menyesalkan perkataan ” beserta Dzatnya ” ( bidzatihi ) , ad-dzahabi menganggap kata Bi dzatihi ( dengan Dzatnya) adalah Fudulul kalam yang sepantasnya ditinggalkan , dufal belum pernah baca al-uluw benarkan…..?

      Dufal menulis :
      point ke 8:
      : Betapapun ustad Firanda telah berusaha menghadirkan fakta-fakta yang menunjukan perkataan para Ulama,namun selama itu pula Ahmad syahid mencoba mematahkan hujjah-hujjah yang di bawakan ustad Firanda dengan fakta-fakta yang menurut saya,tidak cukup untuk dikataan sebagai bukti.sebagai contoh:Ustad firanda membawakan riwayat yang menunjukan perkataan Utsman Bin Saiid Ad Daarimi, bahwa kaum muslimin telah bersepakat dst…

      Jawab : Dufal , Abu Said ustman ad-darimi adalah Mujassim terkenal Ahli Bid`ah , silahkan dufal baca kitab karya beliau Radd ala Bisyr al muraisy , orang ini punya Aqidah yang sama persis dengan Aqidah Yahudi silahkan dufal baca karyanya , kecuali jika dufal juga doyan sama Aqidah yahudi ya terserah dufal.

      Dufal menulis :
      point ke 9
      Ahmad syahid katakan: Abu Hurairah,Rosulullah SAW bersabda,” seorang: Selain meyakini Allah Ta’ala bersemayam di atas Arsy menurut dengan kehendak-Nya,pada saat yang sama ahlussunnah juga menetapkan Ma’iyyah (kebersamaan Allah)dengan sebagian Makhluknya (Ma’iyyah khusus) dan menetapkan kebersamaan Allah dengan seluruh makhluk-Nya (ma’iyyah umum)..
      sabda Nabi SAW,”Sesungguhnya Allah yang engkau berdo’a kepadanya,lebih dekat kepada seseorang di antara kamu dari pada leher binatang tunggangannya.(mutafaqqun alaih dan selainnya..lafadz hadit ini milik Ahmad)
      Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitabnya – At Taanbiihaatul lathiifah (hlm.66)-,”Dan apa bila ada yang bertanya: sesungguhnya Allah itu maha tinggi diatas makhluk-Nya,bagaimana mungkin bisa dikatakan Allah bersama dan dekat dengan mereka?Maka jawabnya, Allah tetap bersama hambanya tetapi Dia maha tinggi di atas makhluk-Nya,dan pokok pembahasan ini adalah pokok yang telah tetap di dalam alQur’an,as-sunnah dan Ijma Ummat.Dan Allah itu tidak sama dengan suatu apa pun juga dala semua sifat-Nya”.selesai penukilan (syarah Aqidah ahlu sunnah wal jama’ah.oleh ustad Yazid bin Abdul Qadir jawas).

      Jawab :
      1. Dufal , nt tahu dari mana jika : Allah Ta’ala bersemayam di atas Arsy …..? emang ada ya dalam Al-qur`an Allah bersemayam……? Jangan ngarang dufal .

      2. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di itu siapa…..? terus Yazid bin abdul qodir jawwas itu siapa……? Gak mutu ah.

      3. dufal dimanakah saya pernah mengatakan : ” Abu Hurairah,Rosulullah SAW bersabda,” seorang: Selain meyakini Allah Ta’ala bersemayam di atas Arsy menurut dengan kehendak-Nya,pada saat yang sama ahlussunnah juga menetapkan Ma’iyyah (kebersamaan Allah) dst….” Dufal error…..

      dufal menulis :
      point ke 10
      : Alhamdulillah,status hujjah masih tetap kuat karena dua alasan.Pertama:Abu saiid menyandarkan aqidahnya kepada seluruh ummat yang belum di palingkan Fitroh nya.dan apa yang menjadi sandaran Abu saiid ad daarimi selaras dengan apa yang di kabarkan oleh Allah Ta’ala dalam al Qur’an yang Artinya: “Mereka takut kepada Rabb yang (berkuasa) di atas mereka dan melaksanakan apa yang di perintahkan (kepada mereka).(Qs; An-Nahl :50).Sandaran aqidah Abu saiid ad Daarimi tidak hanya selaras dengan firman Allah Ta’ala,bahkan Rasulullah dalam Sabdanya sangat sesuai dengan sandaran Aqidah abu saiid ad Daarimi.berikut sabda Nabi SAW.” Dimana Allah? ia (budak wanita) menjawab,”Allah itu di atas langit,” lalu Rasulullah Saw bersabda lagi,”Siapa Aku? Engkau adalah Rasulullah,”jawabnya.Rasulullah Saw Bersabda,”Merdekakanlah ia,karena sesungguhnya ia seorang mukminah”.(Shahih Muslim (no:537) dan selain nya dari sahabat Muawiyyah bin hakam as- Sulami rahimahullah).bahkan aqidah abu Saiid ad Daarimi mendapa dukungan penuh dari para Imam founder Mdzhab semisal,Imam Abu Hanifah,Imam Malik,Imam Syafi’i Dan Imam Ahmad sebagaimana yang dikatakan Al Hafidz Ibnu Katsir Rahimahullah…dan yang ke dua: Terkenal atau tidaknya seseorang,bukanlah ukuran mutlak untuk menilai seseorang itu berada diatas kebenaran..Wallahu A’lam..

      Jawab : 1. lagi – lagi Fitroh dijadikan alas an , dufal , anak yang baru lahir itu dalam keadaan Fitroh , makanya dufal sama Abu Said belajar Aqidahnya sama anak-anak yang baru lahir aja ya……..? Nabi dan Rosul gak perlu diutus , biarkan anak-anak aja yang ngajarin Tauhid , terus itu doktor2 yang di universitas2 saudi diganti aja sama anak-anak ya …bayarnya cukup biscuit , susu sama maenan bayar doctor mahal dufal he he he …..

      2. soal hadist jariyah bahasanya panjang lebar , lagi pula yang dibahas adalah artikel saya yang membatalkan klaim Ijmak Ustadz Firanda. Bukan soal hadist jariyah , kalo dufal mau bela ustadz firanda yang nyambung ya…….?

      3. soal dukungan penuh dari para Imam founder Mdzhab semisal,Imam Abu Hanifah,Imam Malik,Imam Syafi’i Dan Imam Ahmad sebagaimana yang dikatakan Al Hafidz Ibnu Katsir (menurut dufal), sangat janggal banget soalnya Imam Abu Hanifah meninggal tahun 150 hijriyah , -+ setelah 50 tahun Imam Abu hanifah meninggal Abu said baru dilahirkan tapi bisa ngasih dukungan…..? ah yang bener aja dufal…..?

      4. lalu Imam Malik yang lahir tahun 93 hijriyah meninggal tahun 179 hijriyah , artinya ketika Imam Malik meninggal Abu said ad-darimi baru dilahirkan 29 tahun kemudian kok bisa ya Imam Malik ngasih dukungan penuh sama orang yang belum dilahirkan……….?

      5. Begitu juga Imam Syafi`I yang meninggal tahun 204 hiriyah yang artinya setelah Imam syafi`I meninggal , 6 Tahun kemudian Abu said ad-darimi baru dilahirkan kok bisa ya Imam Syafi`I kata dufal (mungkin gurunya dufal) ngasih dukungan juga sama orang yang belum lahir …..Aaaah……. dufal ngebo`ongnya keterlaluan .

      6. imam ahmad meninggal tahun 241 , sedangkan abu said ustman ad-darimi meninggal tahun 280 , jika umur ad-darimi 70 tahun maka ketika Imam Ahmad meninggal ad-darimimi berusia 31 tahun , lalu kapankah Imam Ahmad mendukung ad-darimi …….? Pasti setelah ad-darimi dianggap matang keilmuannya oleh Imam Ahmad , katakanlah pada usia 40 tahun ad-darimi dianggap matang dalam keilmuan berarti dukungan Imam Ahmad untuk ad-darimi terjadi setelah 10 tahun Imam Ahmad meninggal , apa dufal menganggap jika Roh Imam Ahmad gentayangan setelah 10 tahun meninggal hanya untuk memberikan dukungan kepada ad-darimi……..?

      dufal menyandarkan pernyataannya ini kepada Ibnu Katsir se jahil itukah Ibnu Katsir……? Dufal telas berbohong atas nama Al-Imam Ibnu Katsir dan para Imam Madzhab.

      Saya mohon dufal untuk tidak terlalu fanatic (ghuluw) terhadap faham wahabi , saya mohon dufal untuk berfikir ulang , mumpung masih ada kesempatan untuk taubat, carilah kebenaran karena kebenaran lebih berhak untuk diikuti ketimbang fanatisme buta.

      Jika dufal mau , sampaikanlah artikel ini kepada Ustadz Firanda saya yakin beliau jauh lebih kompeten untuk menyanggahnya , dufal janganlah kau pikul beban diluar kemampuanmu.

    1. intermezzo aja dulu deh, sekalian mancing2 biara wahabiun dateng mari.

      ane dapatkan dari FB sohib airmata tarzo, mohon dipahami yang bahasa londo.

      Keluarga Saudi selama ini mengklaim diri mereka sebagai “Pelayan
      Haramain”, tetapi kenyataan yang benar adalah mereka budak zionis. Sejak
      awal Saudi Wahabia berkomplot mendukung dan rela zionis menduduki
      Palestina.
      Sumpah setia mereka kepada zionis dinyatakan dalam sebuah dokumen
      yang ditandatangani sendiri oleh Ibnu Saud.
      Dalam dokumen tersebut juga tersirat adanya kesepakatan sebelumnya
      bahwa Saudi Wahabia akan dijamin tetap berkuasa asal Palestina diberikan
      kepada kaum Zionis. Hal ini ditunjukkan oleh pernyataan Ibnu Saud:
      “I…..also believe that Britain does not leave its view even tip”, yang
      maksudnya kurang lebih “Saya juga meyakini bahwa Inggris tidak akan
      bergeser dari pandangannya walau seujung jari pun”.

      Saudi Arabia and Zionists, Brothers until victory or death
      Book on workshops Daily: Saudi Arabia and the Zionist Brothers until
      victory or death
      Its published manuscripts of the book had been prepared and
      researcher of Israeli anti-racist Zionist Professor Israel Shahak, the
      manuscript written in Hebrew, the colleague Yitzhak Sarai translated
      into Arabic and disseminating the disposal (because he did not complete)
      on a daily workshops.
      In the book shows the late thinker, the critical role played by Britain
      in creating racial entity in Saudi Arabia and his brother Talmud in
      Palestine.
      The document was signed by Ibn Saud of the French pledge to give
      Palestine to the Jews (“I’m the Sultan Abdul Aziz Bin Abdul Rahman Al
      Saud al-Faisal acknowledged and admitted to Sir Percy Cox delegate of
      Great Britain, I have no objection to give Palestine to the Jews or
      other poor also believe that Britain does not leave its view even tip”)
      Ibn Saud had served head of the Zionist state and dreaming for this
      moment in the future.
      Picture of Ibn Saud gathering and King Faisal of Iraq and leaders of the
      Zionist Organization on board Lauren in 1949.

  8. @abu umar cuma bisa tanya gak bisa jawab
    @ibnu suradi cuma ngeyel, seolah-olah dia aja yang paling nyunnah
    @Abdullah selalu aja cari-cari object buat didebat, tapi giliran ditunjukin bingung.
    Aneh-aneh aja orang wahabiyun. Kalau mau sunnah bener-bener, tahajut aja ente laksanain jangan putus, mau bener lagi puasa dah senin kamis, mau hebat nyunnah jangan ngomong agama kalau gak ngarti. setahun aja ente laksanain.

  9. Abu Sa’id ad-Darimi, penulis al-Radd ala Bisyr Al-Marisi mengatakan, sebagaimana dikutip oleh Ibnu Taimiyyah dalam Dar ‘di-Ta’arud tanpa ada koreksi (2 / 28-29):

    Abu Sa’id berkata:

    Allah Ta’ala memiliki batas yang tidak ada yang tahu kecuali Dia dan tidak diperbolehkan bagi siapa pun untuk membayangkan batas untuk membatasi-Nya dalam dirinya sendiri, bagaimanapun, ia percaya pada batas dan menyerahkan pengetahuan itu kepada Allah. Tempatnya (Makan) juga memiliki batas dan Dia pada ‘Arsh-Nya di atas tujuh langit –
    jadi ini adalah dua batas.

    koment ana : Pantaskah kita mengambil keterangan atau riwayat seseorang yang memberi batas kepada Allah ?

    Ahlussunah wal jamaah insyaallah berkah.

    1. Apakah wahabi memahami Allah di atas arsy Nya seperti Abu Sa’id ad-Darimi ?

      Kalau tidak berarti anda telah mentakwilnya

      kalau anda mengatakan Allah diatas arsy secara hakiki, tapi anda mengatakan Allah tidak terbatas maka perkataan itu bertentangan dengan keyakinan anda atau keyakinan anda adalah keyakinan yang saling bertentangan. Karena Allah diatas arsy secara hakiki itu pasti lah memberi batas kepada Allah, karena bila ada sesuatu dibawah ZatNya, maka zatNya itu mempunyai batas. Kalau tidak demikian maka anda pakai bahasa dan makna apa?

      Renungkanlah wahai pengikut wahabi….. Apakah anda mau mengambil akidah yang rancu, absurd dan bertentangan dengan akal, bahasa dan nash ini ? bukankah Allah sempurna dan bukankah berukuran dan terbatas adalah sifat mahluk?

      kalau anda tidak setuju dengan perkataan saya…. silahkan beri jawabannya.

      1. Mas @dianth, ane rasa cukup berat pertanyaan itu, ilmu mereka belum sampai kepada ZatNya yang Maha Agung.
        Dimana langit aja dah muter2, apalagi Zat Nya.

  10. Ahmad Syahid:
    Abdullah , silahkan sampaikan artikel diatas kepada Ustadz wahabi yang paling `alim , paling mengerti Ilmu Hadist dan sanad , kalo ustadz tersebut sudah membantahnya silahkan sampaikan lagi disini biar kita kaji bersama , semoga dengan cara ini muncul keyakinan akan kebenaran artikel diatas ,

    sebab abu jauza hanya memberi catatan pada 3 qoul , masih ada 10 qoul yang tidak dikomentari oleh abu jauza , terlebih 3 catatan abu jauza begitu mudah terlihat dan terbongkar ke ngawurannya. insya Allah kita semua sabar menunggu bantahan dari ustadz wahabi yang paling ngerti ilmu Hadist.

    Sudah di jawab oleh Ust. Abul Jauza, ustadz, silahkan di komentari:

    http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/10/beberapa-catatan-tentang-ijmaa.html

    (Kolom komentar)

    <b[1. Qutaibah bin Sa’iid]

    Pak Ust. Ahmad Syahid mengkritik riwayat jalur An-Naqosiy, sedangkan Ust. Abul Jauzaa menggunakan jalur Abu Ahmad Al-Hakim yang menurut beliau SHAHIH.

    Ada komentar pak Ustadz?, mengenai jalur riwayat yang digunakan Ust. Abul Jauza

    [2. Abu ‘Utsmaan Ash-Shaabuuniy]

    Ust. Ahmad mempersoalkan nukilan Adz-Dzhahabi, Ust. Abul Jauza jelaskan bahwa itu ada dalam Kitab ‘Aqiidatus-Salaf Ashhaabil-Hadiits (Ash-Shobuni), apakah Ust. Ahmad bisa mengeceknya?

    Untuk masalah Tafwidh, sepertinya ada perbedaan…Tafwidh versi Ust. Abul Jauza adalah Tafwidh Kaifiyat sedangkan versi Ust. Ahmad adalah Tafwidh Ma’na (CMIIW), saya usul masalah Tafwidh ini dibahas berikutnya saja.

    [3. Abu Zur’ah Ar-Raaziy dan Abu Haatim Ar-Raaziy rahimahumallaah]

    Ust. Ahmad menganggap perawi dalam riwayat ini adalah MAJHUL, apakah Ust. Ahmad sudah mengecek Kitab Syarh Ushuulil-I’tiqaad seperti yang dijelaskan Ust. Abul Jauza?

    Tolong dijelaskan perawinya

    [4. Al-Auza’iy]

    Ust. Ahmad menganggap riwayat Al-Awza’i PALSU tanpa memberikan penjelasan mengenai para perawi nya, sedangkan Ust. Abul Jauza memberikan nukilan penilaian terhadap para perawi dan menurut beliau Dha’if/kalaupun Sangat Dha’if pun TIDAK HARUS PALSU.

    Silahkan Ust. Ahmad Syahid jelaskan para perawi Riwayat Al-Awza’i tersebut

    Semoga Allah tambahkan kebaikan kepada Umat Nabi yang senantiasa jujur dan senantiasa merasa takut berdusta karena diperhatikan Allah…Amin

  11. Abdullah , silahkan sampaikan artikel diatas kepada Ustadz wahabi yang paling `alim , paling mengerti Ilmu Hadist dan sanad , kalo ustadz tersebut sudah membantahnya silahkan sampaikan lagi disini biar kita kaji bersama , semoga dengan cara ini muncul keyakinan akan kebenaran artikel diatas ,

    sebab abu jauza hanya memberi catatan pada 3 qoul , masih ada 10 qoul yang tidak dikomentari oleh abu jauza , terlebih 3 catatan abu jauza begitu mudah terlihat dan terbongkar ke ngawurannya. insya Allah kita semua sabar menunggu bantahan dari ustadz wahabi yang paling ngerti ilmu Hadist.

  12. akmal ismail assalafy:
    Oh ya syahid en fren, kalau lu mau dalam-dalaman masalah sanad hadits, monggo aja lu kirim bantahan sama salah seorang murid terbaiknya Syaikh Muqbil, Ustadz Zulkarnain, pengelola situs an-nashihah.com, lu pade kan memang hobi banget jidal, biar dipatahin habis 2 an keganjilan sanad yang lu bawa…

    hehehe… 😆 satu lagi pelawak SaWah komeng…

    Eh Bang, ko’ malah bawa2 nama Ust. Zulkarnain kalo cm mo ngebahas masalah sanad Hadits. Knape bukannye Firanda aje yg ente tawarin, jangan2 Firanda emang bener kagak nguasain SANAD HADITS… 🙄 🙄 🙄

  13. Putry rembullan flppy:
    Berhati”lah terhadap ahlul bid’ah….khusunya sufi ala asyarioh…

    wah mulai ada yang kuran ajar nih.

    masalah bid’ah cari lapak lain…oke

    masalah sufi dan tasawuf ente daapt kunjungi di blog artikelislami, or mutiarazuhud. mari sama belajar jangan ada yang mengangap ente sepeti KATAK DALAM TEMPURUNG buka ckrawala ente.

    kalo ga bisa komen untuk artikel diatas ga usah komen ya…… resapi aja dan semoga akhi (ente laki2 or prmp or banci) dapat hidayah

  14. akmal ismail assalafy:
    Oh ya syahid en fren, kalau lu mau dalam-dalaman masalah sanad hadits, monggo aja lu kirim bantahan sama salah seorang murid terbaiknya Syaikh Muqbil, Ustadz Zulkarnain, pengelola situs an-nashihah.com, lu pade kan memang hobi banget jidal, biar dipatahin habis 2 an keganjilan sanad yang lu bawa…

    janganlah mencoba melempar sembunyi tangan. jika ente merasa ada yang ga beres dan ga bener atas jawaban pengunjung ummati khususnya tanggapan ustad @ahmadsyahid ya…. dibantah aja langsung. atau suruh ustad ente datang kemari, ana yakin kita khususnya ana sendiri yang fakir ini akan belajar dari antum. eiiiiiiit jangan dikira kita tidak berani mengunjungi blog atau diskusi di tempat yang ente sebutkan (sebelum ente membunuh karakter), banyak pengalaman yang kuran enak diskusi di blog wahabi antar lain di blokir.

    @akmal kembali ke topik diatas sudah ente baca dengan cermat? kalo sudah tunjukkan kesalahan atasa jawaban ustad @ahmadsyahid seperti abujauza lakukan, jujur ana masih percaya ama ustad@ahmadsyahid didasari penunjukkan referensi yang adil oleh beliau dalam menjawab bantahan firanda al kaszabi dan abujauza.

    kalo akhi @akmal belum baca yang jangan komentar atau mancing2 mengalihkan perhatian. FAIR kan?

    akhi kalo niat ente mencari kebenaran dan ilmu maka bukalah hati dan fikiran seluas2nya biar dapat hidayah. gunakan referensi yang banyak sebagai bahan perbandingan, ketahuilah WAHABI dan penjelmaan lainnya (slafy, salafywahabi, ahlussunnahwaljamaah versi wahabi, pengikut sunnah, assunnah, JI, HTI, MMI, LDII, darulhadist dll) dimata kami adalah golongan muslim yang terdoktrinasi islam tanpa madzhab (walau mereka mempunyai mazhab baru: ibn abdul wahab)

    gini ajalah tunjukkan hujjah yang salah dari hujjah nya ustad@ahmadsyahid di atikel diatas biar keliatan apakah ente benar2 mencari ilmu atau sekedar mengeraskan HATI.

  15. semilir angin sepoi2 di luar rumah, kuat kencang sinyal wireless serasa..
    terlihat gugusan bintang nun jauh di sana,.. jemari tangan ku mulai lagi melangkah,..ku buka situs lama,yg sering di hampiri kaum aswaja maupun kaum sa-wah,..salafy tobat,..

    di antara halamannya ku baca,..

    Kitab: Mukhtasor ‘Ulu Li ‘Aliyyil ‘Azhim.
    Pengarang: Syamsuddin Az-Zahabi.
    Pentahkik: Nasiruddin Al-Bani.
    Cetakan: Maktab Islami.
    Mukasurat: 71.

    Kenyataan teks Al-Bani bersumber kitab di atas :

    “ Apabila kamu telah mendalami perkara tersebut, denganizin Allah kamu akan faham ayat-ayat Al-Quran dan Hadith Nabai serta kenyataan para ulama Salaf yang telah dinyatakan oleh Az-Zahabi dalam kitabnya ini Mukhtasor bahawa erti dan maksud sebalik itu semua adalah makna yang thabit bagi Allah iaitu ketinggian Allah pada makhluk-makhlukNya ( bukan ketinggian tempat), istawanya Allah atas arasyNya layak bagi keagonganNya dan Allah tidak ber arah dan Allah tidak bertempat”.

    serasa lega di hati..syeh al banni pun mengatakan hal yg sama…

    1. setahu ana syekh Albani selalu mencla mencle dalam mentahqiq kitab. semoga ana salah (fakir ilmu).

      diantara ulama wahabi saling mengkafirkan satu sama lain, jadi kita harus hati2 dalam menyikapi perkataan mereka.

  16. semenjak kawan2 wahabi di ummati spt,ibnu abi irfan,yusuf ibrahim,abu hanan hilang dr perdaran spt nya tak ada kawan2 wahabi spt mereka,…
    yg ada hanya…..??? he..he…

    1. Setahu aku yg ahlul bid’ah itu Wahabi, kalau Asy’ariyah sih Ahlussunnah wal jamaah. Baca sejarah dong biar tak tertipu oleh kaum Wahabi yg ngaku-ngaku ahlussunnah. Wahabi emang ahlussunnah dari Hongkong? 😆 😆 😆

  17. Pengalaman ana ketika nangkring di situs wahabi, maka ana akhirnya diblokir atau koment ana yg tak ditampilin. Ana mau lihat bagaimana abul jauza, emang udah saatnya abul jauza dikunjungi.

  18. @akmal, Wah wah wah, mau tau kenapa saya jadi anonim? Karena ana kagak ngerti munculin nama ana. Sekali ana coba pake pasword email, yg muncul nama kesejatian, karena dulu ana pernah mau buat blog di blogspot atas nama itu. Jadi ente simak aja lah, ana udah mulai nangkring ke situsnya abul jauza kok, n’ ente boleh kasih tahu ama dia nama ana dianth di ummati.

  19. Wah wah wah, mau tau kenapa saya jadi anonim? Karena ana kagak ngerti munculin nama ana. Sekali ana coba pake pasword email, yg muncul nama kesejatian, karena dulu ana pernah mau buat blog di blogspot atas nama itu. Jadi ente simak aja lah, ana udah mulai nangkring ke situsnya abul jauza kok, n’ ente boleh kasih tahu ama dia nama ana dianth di ummati.

  20. Oh ya syahid en fren, kalau lu mau dalam-dalaman masalah sanad hadits, monggo aja lu kirim bantahan sama salah seorang murid terbaiknya Syaikh Muqbil, Ustadz Zulkarnain, pengelola situs an-nashihah.com, lu pade kan memang hobi banget jidal, biar dipatahin habis 2 an keganjilan sanad yang lu bawa…

    1. hahahahahahahahahaha abu umar bawa dukun sakti nih, ampe nyerang berjamaah, abis ini gandeng umar patek nih, kan Mas Syahid dah jelaskan perihal abu jauza, lu bedua punya mata taro di dengkul sih, makanya baca lg yg sebelumnya, jgn tuh otak cuma buat bikin radikal aja….merasa paling benar, shaf paling rapet tapi sukses mencetak teroris….inna lillahi….

    2. akmal ismail assalafy@

      Nantangin melu ente? Ustadz Zulkarnaen itu jujur nggak? Jangan2 sama saja dg Ustadz2 Salafy yg lainnya yg gemar menilep komentar?

      Nanti cape-cape nulis gak ditampilin alian diblokir, gemana kalau seperti itu? Kalau cuman COPAS sih gak apa-apa gak ditampilin, tapi kalau nulis sendiri terus tak ditampilin gemana tuh?

        1. Pak Abdullah itu kok sama dg Abu Umar, sama-sama O’OT deh. Itu kan udah dilabas oleh Mas Ahmad Syahid? Ketinggalan info ya, makanya simak baik-baik, jangan nafsu doang yg digedein. Neh simak jawaban Mas Syahid kepada Abul Jauza yg jaahil kembarannya Firanda, sama2 jahil n pedusta! Orang2 kaya gini nte ambil ilmunya makin tersesat nte Pak Dul?

          klik n baca baik-baik deh : http://ummatipress.com/2011/10/18/firanda-ustadz-pendusta-gemar-berhujjah-dengan-hujjah-palsu-full-dusta/comment-page-1/#comment-16309

    3. akmal ismail assalafy@

      Nantangin melulu ente? Ustadz Zulkarnaen itu jujur nggak? Jangan2 sama saja dg Ustadz2 Salafy yg lainnya yg gemar menilep komentar?

      Nanti cape-cape nulis gak ditampilin alian diblokir, gemana kalau seperti itu? Kalau cuman COPAS sih gak apa-apa gak ditampilin, tapi kalau nulis sendiri terus tak ditampilin gemana tuh?

      1. Waaah……., putri-putri Aswaja cakep-cakep, nyarinya di mana ya yg kaya gini? kwk kkkwkkwkkwkwk, afwan jangan dituduh ngeres ya?

        Maju terus Mbak Putri wa Mbak Aryati …. Abu Umar sliding pakai dua kaki secara bersamaan aja Mbak, bisa nggak, kwk kwkw kwkwk…. :mrgreen: :mrgreen: :mrgreen:

    4. He he he…rupanya diam-diam mereka mengakui kwalitas teman-teman ummati. Hingga mereka ngajukan “ustadz-ustadznya” untuk berdebat. Ada yang ngajukan si Jauza dan ada yang ngajukan Zulqarnain yang katanya murid dari Maha Guru mereka yang di Yaman.

      Keliatan sekali, mereka gak punya apa-apa untuk melawan argumen teman-teman di sini. Hingga para guru mereka perlu ikut maju untuk menghadapi teman-teman di sini.

      1. Jangan GR dulu bung 😀 Itu khusus buat saudara Ahmad Syahid yang sudah mempelajari ilmu hadits, tapi agak tersesat pemahamannya. Nah, karena dia sering ngawur dalam masalah sanad hadits, makanya dipersilahkan untuk mencocokkan dengan sanad yang benar.

      2. mereka tega ya. Gurunya disuruh debat. Ga punya adab. Ane mah ogah kalo disuruh manggilin guru ane utk debat. Paling kalo dah kedesek, ane tanya guru ane, bukannya nyuruh guru ane berdebat.

        1. Bukan guru dul, saya belum pernah berguru ke sana. Karena beliau lebih tahu ilmu hadits, ya saya serahkan kepada beliau. Saya nggak mau sok pinter asal mangap kayak AI.

          1. bukannya ente biasa asal mangap dul?
            Si bedul dah ngaku tuh bhw dia ga ngatri hadits
            ga punya ilmunya katanya
            jangan2 ga punya guru juga
            :mrgreen:

  21. Ternyata memang ummati dipenuhi oleh para pelawak. Ahmad Syahid dengan mudahnya dibongkar oleh abu jauza. si dianth malah cuma berani jadi anonim disitusnya abu jauza, takut dibikin malu dia kali, si prass karena ndak bisa bantah abu jauza malah nyindir en bilang kalau abu jauza muhaddits baru. Eh muncul pula ustadzah baru bernama putri kharisma, waduh 2 betul 2 terhibur kita berkunjung ke ummati, pada lucu orangnya semua, hik hik….

  22. Kelihatannya Habib Munzir tidak menguasai ilmu hadits, jadi kalau ditanyakan tentang status hadits yang dibawakan, akan selalu berkata “guru saya musnid yang hafal 300.000 hadits beserta sanadnya sambung sampai Rasulullah”. Lalu dianggap sanad itu cuma dari Yaman, yang dari Mekkah dan Madinah nggak?

    Makanya saudara Ahmad Syahid jadi kebingungan untuk memlintir sanad hadits seperti yang dilakukan Second Prince. Begitu mudahnya dibantai sama ustadz Abul Jauzaa.

    1. abdullah, omonganmu ngaco belepotan gede huntu, gak ada adab-adabnya sama sekali. emangnya kamu siapa??? knapa lo bawa2 nama habib segala. memangnya kamu lebih mulia. habib menunjukkan tawadhu beliau sehingga menyebut gurunya, kenapa kamu suudzhon beliau tidak menguasai ilmu hadist? atau kamu sendiri merasa lebih mulia dari beliau, kamu merasa lebih pintar dan menguasai ilmu hadis? takabur lo, takabur sifat iblis. apa bedanya lo ma iblis??

  23. jawaban untuk ust firanda yg sangat ilmiah dan tajam :mrgreen:

    anak buah nya masih mencari2 topik baru “Dimanakah Surga dan Neraka” ??? :mrgreen:

    mbok ya tanggapi saja jawaban saudara Ahmad Syahid…. atau Cat got your tongue? :mrgreen: :mrgreen:

  24. memang apa hubungannya kebaradaan surga/neraka dgn Allah?

    apakah nte akan bilang Allah ada disurga?qiqiqi kaya nashoro ya Bapa disrga

    1. Ya Mas, arahnya kelihatannya akan menuju ke pemahaman seperti itu, emang Wahabi itu ilmunya nyontek Nashoro n Yahudi, Bapa di sorga, hik hik hik…. 😆 😆 😆

  25. @nasrulloh
    @putri
    @artikelislami
    @bang nur
    @supernova
    @dianth

    salafy converts to islam??? mimpi kali yeeeee
    salafy back to dinar? absolutely always

  26. Ada banyak riwayat dari Malik tentang ketika ditanya tentang makna dari istawaa Allah. Salah satunya menyatakan bahwa ia berkata, “Al-Kayf marfuu”, dan yang lain lagi “Al-Kayf ghayr maquul.” Pernyataan-pernyataan ini berarti bahwa kayf adalah mustahil, yaitu istawaa tidak memiliki kaifiyah/cara, karena atribut-atribut Allah yang tidak memiliki kaifiyah. Riwayat-riwayat ini lebih kuat daripada riwayat yang mengatakan “kayf tidak diketahui,” dan sesuai dengan perkataan terkenal dari Salaf “bilaa kayf,” yang berarti “tanpa bagaimana,” yaitu tanpa suatu cara/kaifiyah/bentuk.

    قال القرافي: ومعنى قول مالك الاستواء غير مجهول أن عقولنا دلتنا على الاستواء اللائق بالله وجلاله وعظمته وهو الاستيلاء دون الجلوس ونحوه مما لا يكون إلا في الأجسام. وقوله والكيف غير معقول معناه أن ذات الله لا توصف بما وضعت له العرب لفظ كيف, وهو الأحوال المتنقلة والهيئات الجسمية .. فلا يعقل ذلك في حقه لاستحالته في جهة الربوبية (ج .13 / ص 0,242).

    Al-Qaraafiyy, yang merupakan salah satu ulama terbesar dalam sejarah, dan ahli pada madrasah Imam Malik, mengatakan:

    “Maksud perkataan Imam Malik bagaimananya istiwaa tidak diketahui adalah bahwa pikiran kita ditujukan kepada istiwaa’ yang layak bagi Allah sesuai kemuliaan dan kebesaranNya, yaitu ‘istiilaa (penguasaan), dan tidak duduk atau sejenisnya, yang tidak bisa dilakukan selain oleh tubuh. Adapun Perkataan Imam Malik itu “kayf adalah mustahil,” berarti bahwa Allah sendiri tidak dikaitkan dengan kata yang orang Arab gunakan yaitu “kayf” , yang adalah keadaan sementara dan bentuk penampilan tubuh, dan ini adalah mustahil, karena tidak mungkin bahwa Allah harus dikaitkan dengan makna seperti itu. (Dħakħiirah, 13/243). “

  27. Abu Umar:
    ente itu pamer muka ya.. tuh mukamu beneran ga? harusnya ya ga diumbar seperti itu. Bisa membangkitkan Syahwat lho.. huik huik huik huik huik

    Allahu Akbar langsung kejadian yaa hadiriiin…..
    kutipan artikel diatas:

    “Oh… Alangkah sialnya orang yang menjadi pengikutmu (samplenya sudah ada koq), karena ia telah mempersiapkan dirinya sendiri untuk masuk dalam kesesatan (az-Zandaqah) dan kekufuran, terlebih lagi jika yang menjadi pengikutmu tersebut adalah seorang yang lemah dalam ilmu dan agamanya, pemalas, dan bersyahwat besar , namun ia membelanya mati-matian (dan ngeles abis-abisan, pent) dengan tangan dan lidahnya.”

  28. Ketika Imam Malik, Imam Syafe’i, dan lain-lain ditanya tentang penafsiran ayat al-rahman` ala al-`arsy istawa khususnya, dan tentang ayat-ayat serupa pada umumnya, mereka selalu mengatakan Menerima ayat-ayat dan hadits sebagaimana datangnya tanpa meyakini bahwa maknanya berhubungan dengan cara / kaifiyah , gambaran , bentuk dan sejenisnya.”

    Imam Ahmad Ibn Hanbal berkata: “Allah menyebutkan istiwa dan istiwa hanya apa yang Allah sebutkan tentang hal itu, bukan apa yang manusia bayangkan tentang hal itu.”

    sebagaimana ucapan Imam Sulaiman Al – khitabi : kita membenarkannya tapi tidak menetapkannya seperti keadaan ini.

    Ini semua adalah tafwidh…. tidak berhubungan dengan kaifiyah dan bukan kaifiyah…..tidak seperti wahabi yang menetapkan kaifiyah bagi Allah dengan memaknai zhahirnya, lalu menyerahkan pengetahuan kaifiyahnya itu kepada Allah.

      1. hi hi hi…. padahal ana udah datang… dia malah kabur…..

        jangan-jangan dia lagi dikemplang ama emaknya gara-gara tarik-tarik kaki emaknya…. tobat kang.

        1. iya kemana nih boss abu? ane mau pesen 2kg buat cuciin panci & wajan hati ane yg sedikit berdebu……tuh kang dianth dah jawab sedikit yg ente tanya, puas ga???

  29. tapi saya juga berharap Mas Syahid, Mas Dianth & lainnya bisa menjawab pertanyaan abu umar, supaya dia puas & semoga menerima argumen-2 dari rekan-2 Ummati….

    1. nah inilah yang ana maksud. ana kawatir keluar dari konteks topik jika dijawab, tapi itu terserah pengunjung blog.

      abu umar lebih baik memberi komen atas bantahan mas@ahmadsyahid

  30. @Abu Umar

    jawabannya pasti ada akhi, cuman ente saya rasa lebih bijak menanggapi artikel diatas, minimal menanggapi jawaban mas@ahmadsahid atas tulisan abu jauza

  31. Bantahan sanggahan kalian itu cukup mudah.. cuma di tanya :
    Dimanakah letak surga dan neraka? Apakah pengetian langit menurut Asy’ariyah/Sufi dan sejenisnya?
    Pertanyaan itu saja tidak bakal bisa jawab. jawabnya pun nanti muter2 kaya gangsing. huehehehe..

    1. ngapain ane jawab ente
      ente asal ditanya, ga mau jawab
      asal dijawab, nanya lg pertanyaan yg sama
      jd yg muter2 ky himar di penggilingan itu ente
      ente ky anak kecil yg wangkeng
      tau wangkeng ga? :mrgreen:

    2. ok lah saya jawab aja….

      Menurut sebagian ulama Surga dan neraka ada di langit

      langit adalah alam bagian atas bumi kita dari perspektif kita dan langit juga berarti tempat bagi bumi, karena bumi pun berada di langit.

      nah sudah saya jawab. terus ente mau katakan apa?

      1. juga perlu diingat bhw langit akan pecah saat qiamat.

        Pertanyaan sdh dijawab. Skrg bagaiman pendapat Anda hai Abu Himar, mengenai keberadaan surga, apakah ia ada di langit ataukah dimana?

    3. @ abu umar
      ngak salah tuh tuduhan
      waktu ente nanya dimana alloh ?, berkali kali dijawab sama sy wallohuallam kita kagak tau dan aqidah kita ngak memakai dimana dan bagaimana. itu jawabannya
      trus ana tanya kalo menurut ente alloh dimana? (pertannyaan 1)
      trus ana tanya lagi kalo jawaban ente menuju diatas arsy, langit atau apalah
      pertanyaan ke 2) dimana alloh ketika alloh belum menyiptakan apapun?

      baik pertanyaan 1 & 2 ngak ada tuh jawaban malahan ente ngebahas yang lain lagi tentang isra mi’raj lah tentang surga lah.
      sekali lagi mana jawaban anda untuk saya
      yang ngak pernah jawabtuh dari golongan kami atau ente?
      yang muter muter siapa?
      dasar kalo ngomong seenaknya sy jd esmosi, tapi inget yang disarankan ama temen temen sabar sabar wahai diri.

  32. @Abu Umar

    tolong akhi sesuaikan dengan topik artikel diatas, jika ente memang lilahita’ala menyebarkan pengetahuan dan mencari kebenaran aqidah mari diskusi secara ilmiah tanpa membunuh karakter sesama muslim.

    pertanyaan dan bantahan sesuaikan dengan topik diatas, mengenai tashauf, kesufian ente bisa datangi blog mas AI atau mutiarazuhud, dan bantahlah dengan adil. jika ente masih keras hati SILAKAN MUBAHALA di blog mas AI.

    1. sepertinya ga akan berani, kalo berani juga salut sama abu umar & berharap dia mau menerima kebenaran dari rekan-2 ASWAJA tampilkan…

      1. setidaknya kita memberi alasan2 (hujjah) sesuai dengan salafussaleh yang bersanad, untuk proses menerima alasan tersebut butuh fikiran dan hati terbuka dengan niat lillahita’ala mencari aqidah yang benar.

        kita tidak bisa membunuh karakter lawan diskusi begitu saja kalo niat kita memberi alasan kenapa aqidah kita dan mereka berbeda walau sama2 bersyahadat, artinya kiat usahakan memeberi jawaban dan alasan dengan adab. seperti dicontohkan penyebar islam di tanah jawa dan nusantara ini, seandainya para ulama jawa dan nusantara langsung membunuh karakter masyarakat awam apa jadinya.

        1. Dan (orang-orang durhaka) berkata: “Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu (di dunia) kami anggap sebagai orang-orang yang jahat (hina). (shaad: 62)

  33. kalo kata si bedul, orang macam dia dan Abu Umar itu cuma pemandu sorak. Bisa kebayang ga, jenggotan, pegang pom2, loncat2 sambil teriak give me W, give me A, give me H, dst :mrgreen:

  34. ini baru komentar bermutu :mrgreen:
    ngadepin orang macem Abu Umar emang ga perlu serius
    orang mabok diajak ngomong serius emang ga bakal nyambung.

  35. alhamdulillah

    semua masih pada jalur topik

    terimaksih mas @ahmadsyahid atas bantahannya thd tulisan abu jauzah. sangat ilmiah dengan referensi yang cukup dan adil

    saya berharap siapa saja yang berkunjung di topik dan blog ini mejadi lebih faham mengenai ilmu diinulislam.

    KITA BISA MENILAI SIAPA YANG LEBIH ILMIAH. @ALL WAHABIUN SILAKAN DISKUSI DENGAN ILMIAH ATAS ARTIKEL DIATAS, ANA AKAN BELAJAR DARI ANTUM SEKALIAN

  36. Bang Nur: “Surga ada di bawah telapak kaki Ibu” ini perkataan Rasulullah SAW, jangan di ta’wil (kan ente anti ta’wil…)

    hahaha selingan segar nih…. 😆

    “Neraka ada di hati ente” ini perkataan Bang Nur, nah kalo yg ini silahkan dita’wil

    Pengertian langit : menurut ilmu arsitektur yg ane pelajari, langit adalah merupakan bagian dari interior rumah yg dalam bahasa tekniknya disebut ceiling/plafond, untuk bahasa tukang kadang disebut eternit.

    wakakak….Abu Umar ayo kite bikin group lawak aja nyok….???

    1. Kwk kwk kwk… sampai ngakak ana bersama teman-teman di sini. Wah makin lucu para Wahabiyyin. Mereka gak mampu sanggah artikel Mas Syahid, terus bikin thread sendiri-sendiri, tapi jadi lucu banget neh Wahabiyyin. 😛 😛 😛 😛

      Bravo Bang Nur…. Maju teruuusss…. ➡ ➡ ➡

  37. Abu Umar:
    Dimanakah letak surga dan neraka? Apakah pengetian langit menurut Asy’ariyah/Sufi dan sejenisnya?
    Pertanyaan begini saja tidak bsa jawab. pasti muter2 jawabnya. tuh menandakan aqidah kalian tuh salah. Karena ga bisa jawab sepeser pun..
    huahahahahahahahaha.. huahahahahahaha

    “Surga ada di bawah telapak kaki Ibu” ini perkataan Rasulullah SAW, jangan di ta’wil (kan ente anti ta’wil…)

    “Neraka ada di hati ente” ini perkataan Bang Nur, nah kalo yg ini silahkan dita’wil

    Pengertian langit : menurut ilmu arsitektur yg ane pelajari, langit adalah merupakan bagian dari interior rumah yg dalam bahasa tekniknya disebut ceiling/plafond, untuk bahasa tukang kadang disebut eternit.

    wakakak….Abu Umar ayo kite bikin group lawak aja nyok….???

    1. Ada lagi neh…Sorga di bawa naungan pedang (HR Hakim)
      Kaum anti takwil”Gak boleh ditakwilkan, karena itu tahrif! Harus makna hakiki! Kalau tidak percaya letak keberadaan surga di bawah pedang berarti menentang hadits shahih! Kafir!

      Hidup Wahaby!

      1. Hidup Salafi Wahabi!!! Hore…!!!
        Awas jangan ditakwil, kan haram takwil, ya kan? Lingit di Bawah naungan pedang, lihat pedang nte ada sorga gak di bawah pedang nte.

        Bravo Mas Naka, mantab deh.

        Buat lucu-lucuan aja tuh anak2 Wahabi yg kosong ilmu tapi pada sok tahu n berlagak bak ulama.

  38. Abu Umar benar2 gak mutu babar blas, semoga dapat ilmu setelah menyimak apa yg diposting di Ummati. Tapi sayang, karena hatinya keras dan membatu rupanya membuat orang Wahabi tulen ini masih enggan membaca artikel2 yg ada di Ummati.

    Lihat komntarnya, nyaris semuanya tidak ada yg nyambung dg artikel. Menunjukkan dg jelas bahwa orang Wahabu yg satu ini memang benar2 Jahil. Semoga dapat ilmu setelah sering berkunjung di blog Ummati ini, amin.

    Bagi teman ASWAJA kalau ada Wahabi yg koment terlalu jauh melenceng dari tema artikel mohon tidak usah ditanggapi. Atau boleh ditanggapi dg ketawa aja. Syukron katsiir….

    1. Abu umar memang kaki tangan wahabi tulen, mungkin hidup dan mata pencahariannya disokong real dinasti saud dari arab saudi, jadi membela mati2an aqidah dan paham menyimbang wahabi demi perut dia dan keluarganya, walau dia tau wahabi itu paham menyimpang.

      1. mochrosi @
        Maaf ya, udah dijawab Mas Syahid. Antara ana dan Mas Ahmad Syahid adalah Sesama pecinta kebenaran tidak boleh saling berebut tampil, ana sdh serahkan bulat2 ke Mas Syahid di atas.

        Ini Jawaban Mas Syahid atas kejahilan Abul Jauza silahkan simak pakai akal Nte:

        Ahmad Syahid: Ahmad Syahid says:
        October 20, 2011 at 12:44 am

        Tanggapan atas sekelumit catatan abu jauza atas pembelaannya terhadap firanda dalam blognya beliau menulis :

        Tulisan kali ini akan sedikit membahas tanggapan seorang mukhaalif atas artikel yang ditulis Ustadz Firanda hafidhahullah di : http://www.firanda.com/index.php/artikel/31-bantahan/76-mengungkap-tipu-muslihat-abu-salafy-cs. Sayang sekali, harapan saya mendapatkan faedah dari tulisan mukhaalif tersebut sia-sia karena apa yang ditulisnya hanyalah daur ulang perkataan ngawur kawan-kawannya terdahulu, yang ia kemas dengan bungkus baru. But,…the content remains the same. Nothing’s new….

        Tanggapan saya :

        Sampah sekalipun ketika didaur ulang dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat , sayang abu jauza tidak dapat mengambil faidah dari tulisan yang konon menurutnya adalah daur ulang dari perkataan ngawur , tanpa mampu menunjukkan perkataan siapa yang didaur ulang ……? Lalu dimana letak ngawurnya …..? atau malah tulisan abul jauza yang daur ulang dan ngawur…..? mari kita lihat.

        Strike to the point, berikut ulasannya :
        1. Qutaibah bin Sa’iid
        Ustadz Firanda hafidhahullah berkata :
        Beliau[1] berkata :
        هذا قول الائمة في الإسلام والسنة والجماعة: نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه ، كما قال جل جلاله:الرحمن على العرش استوى
        “Ini perkataan para imam di Islam, Sunnah, dan Jama’ah ; kami mengetahui Robb kami di langit yang ketujuh di atas ‘arsy-Nya, sebagaimana Allah Jalla Jalaaluhu berfirman : Ar-Rahmaan di atas ‘arsy beristiwa” (Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1103 no 434)
        Adz-Dzahabi berkata, “Dan Qutaibah -yang merupakan seorang imam dan jujur- telah menukilkan ijmak tentang permasalahan ini. Qutaibah telah bertemu dengan Malik, Al-Laits, Hammaad bin Zaid, dan para ulama besar, dan Qutaibah dipanjangkan umurnya dan para hafidz ramai di depan pintunya” (Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1103).

        Mukhaalif berkata :
        Qutaibah bin Said syeikh Khurosan tidak diragukan ke-imamannya, hanya saja riwayat ini diriwayatkan oleh Abu Bakar an-Naqosy seorang Pemalsu hadist. Llihat Lisanul Mizan juz 5 hal 149, an-Naqosy juga disebutkan dalam al-Kasyf al-Hatsist tentang rawi-rawi yang tertuduh dengan pemalsuan dengan nomer 643, meninggal tahun 351 hijriyah. Sementara Abu Ahmad al-Hakim meninggal tahun 398 hijriyah terpaut waktu 39 tahun, sehingga tidaklah benar jika dia meriwayatkan dari Abul abbas as-siraj, karena as-siraj lahir pada tahun 218 h meninggal tahun 313 , dalam usia 93 tahun , sebagaimana disebutkan dalam Tarikh baghdad juz 1 hal 248. Artinya ketika as-siraj meninggal al-hakim baru berusia 7 tahun bagaimana bisa shahih riwayatnya? Jelas ucapan ini adalah Dusta yang dibuat an-naqosy, terlebih an-naqosy terkenal sebagai pemalsu !

        Saya jadi heran kenapa Ustadz Firanda sebagai salah satu tokoh Salafi (wahabi) Indonesia kok ber-Hujah dengan yang dusta alias Palsu? Dengan demikian Status Hujjah ini: gugur!

        (Abul-Jauzaa’) berkata :
        Atsar Al-Imaam Qutaibah bin Sa’iid rahimahullah tersebut shahih. Yang disebutkan oleh Adz-Dzahabiy merupakan bagian dari perkataan beliau yang panjang mengenai ketetapan-ketetapan ‘aqiidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Atsar tersebut diriwayatkan oleh Abu Ahmad Al-Haakim rahimahullah sebagai berikut (saya ringkas matannya) :
        سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ إِسْحَاقَ الثَّقَفِيَّ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا رَجَاءٍ قُتَيْبَةَ بْنَ سَعِيدٍ، قَالَ: ” هَذَا قَوْلُ الأَئِمَّةِ الْمَأْخُوذِ فِي الإِسْلامِ وَالسُّنَّةِ: الرِّضَا بِقَضَاءِ اللَّهِ، ………وَيَعْرِفَ اللَّهَ فِي السَّمَاءِ السَّابِعَةِ عَلَى عَرْشِهِ كَمَا قَالَ: الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى
        Aku mendengar Muhammad bin Ishaaq Ats-Tsaqafiy, ia berkata : Aku mendengar Abu Rajaa’ Qutaibah bin Sa’iid berkata : “Ini adalah perkataan para imam yang diambil dalam Islam dan Sunnah : ‘Ridlaa terhadap ketetapan Allah…… dan mengetahui Allah berada di langit yang tujuh, di atas ‘Arsy-Nya, sebagaimana firman Allah : ‘Ar-Rahmaan di atas ‘Arsy beristiwa’. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah’ (QS. Thaha : 5)…..” [Syi’aar Ashhaabil-Hadiits, hal. 30-34 no. 17, tahqiq : As-Sayyid Shubhiy As-Saamiraa’iy, Daarul-Khulafaa’, Cet. Thn. 1404 H; sanadnya shahih].
        Muhammad bin Ishaaq Ats-Tsaqafiy, ia adalah Abul-‘Abbaas As-Sarraaj; seorang yang haafidh, tsiqah, lagi mutqin. Lahir tahun 218 H, dan wafat pada usia 95/96/97 tahun [lihat : Zawaaid Rijaal Shahiih Ibni Hibbaan oleh Yahyaa bin ‘Abdillah Asy-Syahriy, hal. 1117-1124 no. 520, desertasi Univ. Ummul-Qurra’].
        Catatan penting : Abu Ahmad Al-Haakim, lahir tahun 285 H, dan wafat tahun 378 H. Abul-’Abbaas As-Sarraaj sendiri merupakan syaikh dari Al-Haakim [lihat muqaddimah kitab Syi’aar Ashhaabil-Hadiits, hal. 11]. Oleh karena itu, tidak benar klaim mukhaalif bahwa Abu Ahmad Al-Haakim tidak meriwayatkan dari As-Sarraaj. Apalagi jelas, Al-Haakim menyampaikan riwayat dengan perkataan : ‘sami’tu’ (aku mendengar) dari As-Sarraaj.
        Adapun Qutaibah bin Sa’iid, maka telah mencukupi apa yang disebutkan di atas. Beliau lahir tahun 150 H, dan wafat tahun 240 H [At-Taqriib, hal. 799 no. 5557, tahqiq : Abu Asybal Al-Baakistaaniy; Daarul-‘Aashimah].
        Konsekuensinya – bagi mukhaalif – perkataan ‘syaikh Khurasaan yang tidak diragukan keimamannya’ ini harus Anda ambil, karena atsar tersebut shahih dan dikatakan oleh orang yang Anda akui keimamannya.

        Tanggapan saya ( ahmad Syahid ) : 1. bukankah riwayat yang dibawakan abul jauza ini adalah daur ulang dari riwayat yang oleh dibawakan ustadz firanda ……? Yang dinukil dari kitab al-uluw ……?

        2. abu jauza menghukumi riwayat ini shahih , tanpa mampu menunjukkan jika an-naqosy yang tertuduh sebagai pemalsu hadist adalah tsiqoh yang dapat diambil riwayatnya , abu jauza malah menampilkan bioghrafi rawi yang sama sekali tidak tertuduh , sementara rawi yang tertuduh ” an-naqosy ” tidak dia tampilkan sama sekali.

        3. abu jauza mengatakan : ” Konsekuensinya – bagi mukhaalif – perkataan ‘syaikh Khurasaan yang tidak diragukan keimamannya’ ini harus Anda ambil, karena atsar tersebut shahih dan dikatakan oleh orang yang Anda akui keimamannya ” ,

        inilah perkeliruan dan ngawurnya abul jauza , sebab jangankan perkataan Ulama , sabda Nabi pun jika dalam sanad riwayatnya terdapat Rawi yang tertuduh, maka hokum dari riwayat perkataan Nabi tadi menjadi dhaif bahkan maudhu` jika dalam sanadnya terdapat seorang pemalsu seperti an-Naqqosy , atau abu jauza tidak mengerti syarat shahihnya sebuah sanad……?

        Daur ulang kedua abu jauza :

        2. Abu ‘Utsmaan Ash-Shaabuuniy.
        Ustadz Firanda hafidhahullah berkata :

        Beliau berkata, “Para Ahli Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah di atas langit yang tujuh di atas ‘arsy-Nya sebagaimana tertuang dalam Al Kitab (Al Qur’an)….
        Para ulama dan pemuka umat dari generasi salaf tidak berselisih bahwasanya Allah di atas ‘arsy-Nya dan ‘arsy-Nya berada di atas langit-Nya.” (Aqidatus Salaf wa Ashaabil hadiits hal 44)
        Adz Dzahabi berkata, “Syaikhul Islam Ash Shabuni adalah seorang yang faqih, ahli hadits, dan sufi pemberi wejangan. Beliau adalah Syaikhnya kota Naisaburi di zamannya” (Al-’Uluw 2/1317)
        Mukhaalif berkata :
        Yang shahih dari Ucapan Imam As-shobuni hanya : “Para Ahli Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah di atas langit yang tujuh di atas ‘arsy-Nya sebagaimana tertuang dalam Al Kitab (Al Qur’an) …. kata-kata setelah ini (para pemuka dst….) adalah tambahan yang entah Imam aDzahabi dapat dari mana? Silahkan rujuk ”Majmu`ah ar-Rosail al-Muniriyah juz 1 hal 109 risalah as-Shobuni, pernyataan al-imam as-Shobuni ini sama sekali tidak mendukung klaim Ijma’ tentang keberadaan Allah di langit sebagaimana yang di Klaim oleh Ustadz firanda. Inilah yang disebut dengan tafwidh yang juga ditolak oleh Salafi Wahabi. Status Hujjah salah alamat!.

        Saya (Abul-Jauzaa’) berkata :
        Nampaknya Anda setengah sadar dalam melakukan bantahan. Kalimat :
        وعلماء الأمة وأعيان الأئمة من السلف – رحمه الله – لَم يختلفوا في أن الله على عرشه، وعرشه فوق سمواته،……
        “Para ulama dan pemuka umat dari generasi salaf tidak berselisih bahwasanya Allah di atas ‘arsy-Nya dan ‘arsy-Nya berada di atas langit-Nya…..”
        adalah kalimat asli Ash-Shaabuuniy dalam kitabnya yang berjudul ‘Aqiidatus-Salaf wa Ashhaabil-Hadiits, bukan tambahan Adz-Dzahabiy rahimahullah. Perkataan Adz-Dzahabiy rahimahullah yang dinukil hanyalah berkaitan dengan informasi singkat biografi Abu ‘Utsmaan Ash-Shaabuuniy. Tidakkah Anda membaca scan kitabnya yang dinukil Ustadz Firanda[2] ? Atau,… Anda memang tidak pernah membaca kitab ‘Aqiidatus-Salaf Ashhaabil-Hadiits-nya Ash-Shaabuuniy ?.
        Saya tambahkan versi cetakan dari lain penerbit dan muhaqqiq :

        [Terbitan : Maktabah Al-Imaam Al-Waadi’iy, Cet. 1/1428, tahqiq : Abu ‘Abdirrahmaan ‘Abdul-Majiid Asy-Syamiiriy, hal. 22-23].
        Bantahan dan tanggapan mukhaalif itulah yang salah alamat, tidak akurat, dan mengada-ada. Adakah sumber penukilan perkataan seseorang yang lebih valid daripada penukilan kitab tulisannya sendiri ?. Sebagaimana komentar saya sebelumnya, kali ini Anda juga harus membesarkan jiwa Anda menerima kenyataan perkataan Ash-Shaabuuniy yang – mungkin tidak Anda inginkan – bertentangan dengan apa yang Anda yakini saat ini.

        Tanggapan saya (ahmad Syahid ) : andai abu jauza membaca utuh tulisan ash-shobuni , nisacaya abu jauza akan malu sebab sesungguhnya Ash-shobuni adalah seorang Mufawwidh , tolong abu jauza perhatikan dengan seksama scan kitab yang dibawakannya sendiri diatas , pada baris ketiga dari bawah , dalam scan tersebut terdapat pernyataan ash-shobuni yang sangat jelas menunjukkan jika beliau adalah seorang Mufawwidh

        ويمرو نه علي ظا هره ؤيكلو ن علمه الي الله الخ ,,,,,,,,,

        Pernyataan ash-shobuni ini luput dari perhatian abu jauza , lihatlah jika ash-shobuni mewakilkan imunya ( maknanya) kepada Allah , inilah Tafwidh yang shorih dari sang Imam , yang sangat berbeda dengan metodologi kaum wahabiyyin dimana mereka (wahabiyyin termasuk abu jauza ) menolak Tafwidh karena menurut dia dan golongannya , bahwa Tafwidh (menyerahkan makna kepada Allah) adalah penyimpangan, bid`ah dan Ilhad .

        Saya (ahmad Syahid) ucapkan : kali ini Anda juga harus membesarkan jiwa Anda menerima kenyataan perkataan Ash-Shaabuuniy yang – mungkin tidak Anda inginkan – bertentangan dengan apa yang Anda yakini saat ini.

        Abu jauza berkata :

        3. Abu Zur’ah Ar-Raaziy dan Abu Haatim Ar-Raaziy rahimahumallaah.
        Ustadz Firanda hafidhahullah berkata :
        Berkata Ibnu Abi Hatim :
        “Aku bertanya pada bapakku (Abu Hatim-pent) dan Abu Zur’ah tentang madzhab-madzhab ahlussunnah pada perkara ushuluddin dan ulama di seluruh penjuru negeri yang beliau jumpai serta apa yang beliau berdua yakini tentang hal tersebut? Beliau berdua mengatakan, “Kami dapati seluruh ulama di penjuru negeri baik di hijaz, irak, syam maupun yaman berkeyakinan bahwa:
        Iman itu berupa perkataan dan amalan, bertambah dan berkurang…
        Allah ‘azza wa jalla di atas ‘arsy-Nya terpisah dari makhluk-Nya sebagaimana Dia telah mensifati diri-Nya di dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menanyakan bagaimananya, Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat”(Syarh Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah karya Al-Laalikaai 1/198)
        Ibnu Abi Haatim juga berkata berkata,
        “Aku mendengar bapakku berkata, ciri ahli bid’ah adalah memfitnah ahli atsar, dan ciri orang zindiq adalah mereka menggelari ahlussunnah dengan hasyawiyah dengan maksud untuk membatalkan atsar, ciri jahmiyah adalah mereka menamai ahlussunnah dengan musyabbihah, dan ciri rafidhoh adalah mereka menamai ahlussunnah dengan naasibah.” (selesai)
        Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah wal jama’ah lil imam al Laalikai 1/200-201
        Mukhaalif berkata :
        Riwayat ini tidak sah dinisbatkan kepada Abu Zur’ah begitu juga jika dinisbatkan kepada Abu hatim. Riwayat ini diriwayatkan dari tiga jalur sebagaimana disebutkan oleh Adz-Dzahzbi dalam Al-Uluw. Dua jalur pertama terdapat dua Rawi yang majhul, keduanya yaitu : Ali ibn Ibrohim meriwayatkan dari Ibn Jami’ , rawi majhul yang satunya Al-hasan bin Muhammad bin Hubaisy Al Muqri tidak ada bioghrafi yang jelas tentangnya dan tidak ada seorangpun Ahli jarh wa ta’dil yang men-tsiqoh-kannya dan dia adalah Majhul. Sebagaimana riwayatnya terdapat dalam sarh Sunnah Al-Lalikai juz 1 hal 176 , jalur ketiga atsar ini diriwayatkan oleh Ibn Murdik jarak kematiannya dengan Abu Hatim 60 tahun sebagaimana disebutkan dalam Tarikh Baghdad juz 12 hal 30.

        Seperti diketahui secara luas oleh ahli bahwa Abu Zur’ah dan Abu Hatim tidak dikenal berbicara dalam masalah seperti ini sebagaimana keduanya juga dikenal tidak mempunyai karya tulis dalam Bab Aqidah persis seperti teman keduanya yaitu Imam Ahmad Ibn Hambal yang juga mengatakan: “Tidak ada yang melewati jembatan Baghdad orang yang lebih Hafidz dari Abu Zur’ah, beliau adalah termasuk salah satu Wali Abdal yang dengannya Bumi terjaga.”

        Saya Ahmad Syahid katakan: Andai pernyataan sepert itu Muncul dari golongan Asy’ariyah atau Sufiyah Pasti kaum wahabiyyin akan menuduh Kafir, Musyrik, dan Ahli Bid’ah!
        Status Hujjah gugur , karena rawi-rawinya Majhul.

        Saya (Abul-Jauzaa’) berkata :
        Katanya, riwayat perkataan dua imam tersebut lemah (dla’iif) dengan sebab adanya para perawi majhuul. Mari kita lihat sanad riwayat yang dibawakan oleh Al-Imaam Al-Laalikaa’iy rahimahullah :
        أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُظَفَّرِ الْمُقْرِئُ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَبَشٍ الْمُقْرِئُ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي حَاتِمٍ، قَالَ: سَأَلْتُ أَبِي وَأَبَا زُرْعَةَ عَنْ مَذَاهِبِ أَهْلِ السُّنَّةِ فِي أُصُولِ الدِّينِ، وَمَا أَدْرَكَا عَلَيْهِ الْعُلَمَاءَ فِي جَمِيعِ الأَمْصَارِ، وَمَا يَعْتَقِدَانِ مِنْ ذَلِكَ، فَقَالا: أَدْرَكْنَا الْعُلَمَاءَ فِي جَمِيعِ الأَمْصَارِ حِجَازًا وَعِرَاقًا وَشَامًا وَيَمَنًا فَكَانَ مِنْ مَذْهَبِهِمُ:……
        Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Al-Mudhaffar Al-Muqriy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-Husain bin Muhammad bin Habsy Al-Muqriy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad ‘Abdurrahmaan bin Abi Haatim, ia berkata : ”Aku pernah bertanya kepada ayahku dan Abu Zur’ah tentang madzhab Ahlus-Sunnah dalam ushuuluddiin (pokok-pokok agama) dan apa yang mereka temui dari para ulama di seluruh pelosok negeri dan yang mereka berdua yakini tentang hal itu, maka mereka berdua berkata : ”Kami telah bertemu dengan para ulama di seluruh pelosok negeri, baik di Hijaz, ’Iraq, Mesir, Syaam, dan Yaman, maka yang termasuk madzhab mereka adalah : …….. (kemudian beliau menyebut macam-macam ’aqiidah, sebagaimana telah dituliskan Ustadz Firanda di atas) [Syarh Ushuulil-I’tiqaad, 1/176].

        Keterangan perawi :
        a. Muhammad bin Al-Mudhaffar bin ’Aliy bin Harb, Abu Bakr Al-Muqri’ Ad-Diinawariy; seorang syaikh yang shaalih, mempunyai keutamaan, lagi shaduuq. Wafat 415 H [Taariikh Baghdaad, 4/430 no. 1624, tahqiq : Dr. Basyaar ’Awwaad Ma’ruuf; Daarul-Gharb, Cet. 1/1422 H].
        b. Al-Husain bin Muhammad bin Habsy, Abu ’Aliy Ad-Diinawariy Al-Muqri’; seorang yang tsiqah lagi ma’muun [lihat : Taariikh Islaamiy oleh Adz-Dzahabiy, 26/538-539, tahqiq : Dr. ’Umar bin ’Abdis-Salaam At-Tadmuriy; Daarul-Kitaab Al-’Arabiy, Cet. 1/1409 H].
        c. Abu Muhammad ‘Abdurrahmaan bin Abi Haatim; ia adalah anak dari Abu Haatim Ar-Raaziy, seorang imam yang tidak perlu ditanyakan lagi.
        Kesimpulan : Sanad riwayat ini shahih. Tidak ada rawi majhuul sebagaimana klaim mukhaalif.

        Konsekuensinya, Anda (mukhaalif) juga harus menerima dan membuang jauh-jauh perkataan Anda di atas. Apapun dalihnya. Abu Zur’ah dan Abu Haatim adalah imam yang terpercaya menurut Anda.
        Itulah perkataan empat orang ulama yang disepakati keimamannya antara ’Wahabiy’ dan mukhaalif. Sengaja saya hanya batasi bahasannya untuk empat imam saja. Saya tidak membahas tuduhan ngawur mukhaalif terhadap Ibnu Qutaibah, Ibnu Khuzaimah[3], Ad-Daarimiy, dan Abu ’Umar Ath-Thalamankiy rahimahumullah sebagai mujassim. Begitu juga tuduhan ngawur lainnya terhadap Ibnu Baththah rahimahullah sebagai pemalsu hadits. Begitu juga ulasan ngawur-nya terhadap aqwaal para imam. Mungkin bisa dilakukan lain waktu, lain orang, bahkan – mungkin – oleh Ustadz Firanda sendiri.[4]
        Akhirnya,… sesuatu yang tidak bisa diraih semuanya, tidaklah ditinggalkan semuanya. Semoga yang sedikit ini dapat memberikan manfaat bagi saya dan rekan-rekan.

        Wallaahu a’lam bish-shawwaab.
        [abul-jauzaa’ – sardonoharjo, ngaglik, sleman, yk – next, job from boss must be done tonite].

        Tanggapan saya ( ahmad syahid ) : tiga orang rawi majhul yang saya maksud adalah : 1. ali bin Ibrahim , 2. al-hasan bin muhammad bin hubaisy al-muqri , 3 . ibn murdik .

        Sangat disayangkan bighrafi yang didatangkan oleh abu jauza adalah : 1. Muhammad bin Al-Mudhaffar bin ’Aliy bin Harb, Abu Bakr Al-Muqri’ Ad-Diinawariy; 2. Al-Husain bin Muhammad bin Habsy, Abu ’Aliy Ad-Diinawariy Al-Muqri, 3. Abu Muhammad ‘Abdurrahmaan bin Abi Haatim.

        Sangat tidak nyambung , ( yang saya sebut majhul yang mana……? yang dibawakan abu jauza yang mana …..? ) upaya abu jauza hanyalah pemaksaan kehendak yang tidak akan tercapai , sebab syeikh kontradiktif pun (al-albani) mengakui dalam mukhtasor ala-uluw halaman 205 , jika dalam sanad- sanad ini ( riwayat dari abu hatim dan abu zur`ah) ada beberapa orang yang tidak dia ketahui alias majhul , kecuali jika abu jauza merasa lebih hebat dari syaikhnya yang kontradiktif itu.

        Catatan abu jauza :

        [1] Maksudnya, Qutaibah bin Sa’iid rahimahullah.
        [2] Kitab yang beliau nukil adalah terbitan Daarul-Minhaaj, Cet. 1/1423 H, dengan tahqiq : Abul-Yamiin Al-Manshuuriy.
        [3] Telah ada artikel yang menyebutkan biografi Ibnu Khuzaimah rahimahullah : http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/09/biografi-ibnu-khuzaimah.html
        [4] Sebenarnya, Ustadz Firanda lah yang berhak menjawab apa yang dituliskan dan disebarkan mukhaalif tersebut. Dan saya yakin, tidaklah terlampau sukar bagi beliau untuk menjelaskan kekeliruan argumentasi susunan mukhaalif tersebut.
        Namun, ada perkataan mukhaalif tersebut yang benar tentang atsar Al-Auza’iy rahimahullah, ia adalah atsar lemah (dilemahkan oleh muhaqqiq kitab Al-Asmaa’ wash-Shifaat : ‘Abdullah Al-Haasyidiy, 2/304 dengan sebab Muhammad bin Katsiir). Namun harus juga dikatakan, apa yang dijelaskan Ustadz Firanda dalam artikelnya sudah lebih dari cukup bagi orang yang fair dan bisa berpikir jernih, tanpa dikotori nafsu ’asal bantah’ sebagaimana dilakukan mukhaalif.

        Tanggapan saya : 1. riwayat dari al-auza`I bukanlah atsar , 2. riwayat qoul al-auza`I adalah Madhu` bukan hanya dhaif. 3. entah siapa yang lebih layak menyandang : ” orang yang fair dan bisa berpikir jernih, tanpa dikotori nafsu ’asal bantah’ sebagaimana dituduhkan abu jauza.

        Demikian tanggapan atas catatan abu jauza.

        1. artikel firanda sudah dibabat habis , catatan abu jauza juga sudah dilibas , karena kebenaran adalah kebenaran yang jika ia datang akan menghancurkan kebathilan seperti kebathilan artikel firanda dan kebathilan sekelumit catatan abu jauza , yang hanya mampu mengomentari 3 dari 13 qoul firanda yang dibabat habis .

          tidak ada pilihan lain bagi kaum wahabi kecuali berfikir ulang atas keyakinannya selama ini , lalu tobat.

  39. Dimanakah letak surga dan neraka? Apakah pengetian langit menurut Asy’ariyah/Sufi dan sejenisnya?
    Pertanyaan begini saja tidak bsa jawab. pasti muter2 jawabnya. tuh menandakan aqidah kalian tuh salah. Karena ga bisa jawab sepeser pun..
    huahahahahahahahaha.. huahahahahahaha

          1. percuma juga dijawab, la wong dalam topik aja sudah dijawab dg bukti-2 dari Mas Syahid, ga mau mengakui kebenarannya bahwa apa yang firanda & abu jauza posting itu tidak benar….

    1. Pertanyaan orang jaahil tak per dijawab kecuali dg diam atau tersenyum aja, oke Abu Umar?

      Lihat nih contoh Wahabi berkoment tidak bermutu, padahal koment seperti ini sudah berkali-kali muncul dari dia.

      1. ente itu pamer muka ya.. tuh mukamu beneran ga? harusnya ya ga diumbar seperti itu. Bisa membangkitkan Syahwat lho.. huik huik huik huik huik

        1. Ngeres banget banget pikiran Abu Umar, pantesan gak bisa koment cerdas seperti teman-teman Aswaja yg cerdas-cerdas.

          Semoga antum selamat dari pikiran ngeres, banyak-banyak lah istighfar.

          1. Tenang Mbak Putri, jangan takut sama Abu Umar, mulai sekarang aku temenin biar Abu Umar tak berani macem-macem lagi, awas dia nanti aku kasi sliding pitulikur biar tersungkur, hei hei hei……… 😆

  40. Kalau diingat-ingat :
    Pertama-tama, ada yang menuduh Abu Salafi dusta. Kemudian Abu Salafi hanya menyatakan “kebakaran jenggot”, mana yang sadis? Kemudian dari Madinah malah mengatakan “dusta” kepada yang mengucap dusta.
    Kemudian, ada yang menuduh Habibana dusta, eh artikelnya ditarik. Ya wajar akhirnya Ustadz Ahmad Syahid mengungkap “kedustaan yang sebenarnya”. Eh … ada yang kebakaran jenggot menuduh Ustadz Ahmad Syahid dusta. Dengan santunya Ustadz Ahmad Syahid bertanya, “Anda menuduh saya dusta? jangan-jangan malah anda yang ketipu”. Setelah baca tanggapan Ustadz Ahmad Syahid, jelaslah …. entah siapa yang lebih layak menyandang : ” orang yang fair dan bisa berpikir jernih, tanpa dikotori nafsu ’asal bantah’ sebagaimana dituduhkan abu jauza”. Terima kasih Ustadz Ahmad Syahid … semoga hari-hari Anda selalu dalam naungan dan rahmat Allah SWT.

  41. kok cuma kroco terus yang ke ummati siiih …….biang nya suruh kesini tuh biar babak belur kayak ibnu suradi n abu umar ………..skarang mereka ganti nama yang lain dasar wataknya wababrot kalau kalah hujjah gitu ….he he he :mrgreen:

  42. mantab mas syahid,…
    buka semua tabir gelap kaum wahabbi,….menjadi.. 💡 💡
    seterang benderang nya..rembulan.. 💡 💡
    he..he…thanks mas..

  43. Tanggapan atas sekelumit catatan abu jauza atas pembelaannya terhadap firanda dalam blognya beliau menulis :

    Tulisan kali ini akan sedikit membahas tanggapan seorang mukhaalif atas artikel yang ditulis Ustadz Firanda hafidhahullah di : http://www.firanda.com/index.php/artikel/31-bantahan/76-mengungkap-tipu-muslihat-abu-salafy-cs. Sayang sekali, harapan saya mendapatkan faedah dari tulisan mukhaalif tersebut sia-sia karena apa yang ditulisnya hanyalah daur ulang perkataan ngawur kawan-kawannya terdahulu, yang ia kemas dengan bungkus baru. But,…the content remains the same. Nothing’s new….

    Tanggapan saya :

    Sampah sekalipun ketika didaur ulang dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat , sayang abu jauza tidak dapat mengambil faidah dari tulisan yang konon menurutnya adalah daur ulang dari perkataan ngawur , tanpa mampu menunjukkan perkataan siapa yang didaur ulang ……? Lalu dimana letak ngawurnya …..? atau malah tulisan abul jauza yang daur ulang dan ngawur…..? mari kita lihat.

    Strike to the point, berikut ulasannya :
    1. Qutaibah bin Sa’iid
    Ustadz Firanda hafidhahullah berkata :
    Beliau[1] berkata :
    هذا قول الائمة في الإسلام والسنة والجماعة: نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه ، كما قال جل جلاله:الرحمن على العرش استوى
    “Ini perkataan para imam di Islam, Sunnah, dan Jama’ah ; kami mengetahui Robb kami di langit yang ketujuh di atas ‘arsy-Nya, sebagaimana Allah Jalla Jalaaluhu berfirman : Ar-Rahmaan di atas ‘arsy beristiwa” (Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1103 no 434)
    Adz-Dzahabi berkata, “Dan Qutaibah -yang merupakan seorang imam dan jujur- telah menukilkan ijmak tentang permasalahan ini. Qutaibah telah bertemu dengan Malik, Al-Laits, Hammaad bin Zaid, dan para ulama besar, dan Qutaibah dipanjangkan umurnya dan para hafidz ramai di depan pintunya” (Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1103).

    Mukhaalif berkata :
    Qutaibah bin Said syeikh Khurosan tidak diragukan ke-imamannya, hanya saja riwayat ini diriwayatkan oleh Abu Bakar an-Naqosy seorang Pemalsu hadist. Llihat Lisanul Mizan juz 5 hal 149, an-Naqosy juga disebutkan dalam al-Kasyf al-Hatsist tentang rawi-rawi yang tertuduh dengan pemalsuan dengan nomer 643, meninggal tahun 351 hijriyah. Sementara Abu Ahmad al-Hakim meninggal tahun 398 hijriyah terpaut waktu 39 tahun, sehingga tidaklah benar jika dia meriwayatkan dari Abul abbas as-siraj, karena as-siraj lahir pada tahun 218 h meninggal tahun 313 , dalam usia 93 tahun , sebagaimana disebutkan dalam Tarikh baghdad juz 1 hal 248. Artinya ketika as-siraj meninggal al-hakim baru berusia 7 tahun bagaimana bisa shahih riwayatnya? Jelas ucapan ini adalah Dusta yang dibuat an-naqosy, terlebih an-naqosy terkenal sebagai pemalsu !

    Saya jadi heran kenapa Ustadz Firanda sebagai salah satu tokoh Salafi (wahabi) Indonesia kok ber-Hujah dengan yang dusta alias Palsu? Dengan demikian Status Hujjah ini: gugur!

    (Abul-Jauzaa’) berkata :
    Atsar Al-Imaam Qutaibah bin Sa’iid rahimahullah tersebut shahih. Yang disebutkan oleh Adz-Dzahabiy merupakan bagian dari perkataan beliau yang panjang mengenai ketetapan-ketetapan ‘aqiidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Atsar tersebut diriwayatkan oleh Abu Ahmad Al-Haakim rahimahullah sebagai berikut (saya ringkas matannya) :
    سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ إِسْحَاقَ الثَّقَفِيَّ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا رَجَاءٍ قُتَيْبَةَ بْنَ سَعِيدٍ، قَالَ: ” هَذَا قَوْلُ الأَئِمَّةِ الْمَأْخُوذِ فِي الإِسْلامِ وَالسُّنَّةِ: الرِّضَا بِقَضَاءِ اللَّهِ، ………وَيَعْرِفَ اللَّهَ فِي السَّمَاءِ السَّابِعَةِ عَلَى عَرْشِهِ كَمَا قَالَ: الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى
    Aku mendengar Muhammad bin Ishaaq Ats-Tsaqafiy, ia berkata : Aku mendengar Abu Rajaa’ Qutaibah bin Sa’iid berkata : “Ini adalah perkataan para imam yang diambil dalam Islam dan Sunnah : ‘Ridlaa terhadap ketetapan Allah…… dan mengetahui Allah berada di langit yang tujuh, di atas ‘Arsy-Nya, sebagaimana firman Allah : ‘Ar-Rahmaan di atas ‘Arsy beristiwa’. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah’ (QS. Thaha : 5)…..” [Syi’aar Ashhaabil-Hadiits, hal. 30-34 no. 17, tahqiq : As-Sayyid Shubhiy As-Saamiraa’iy, Daarul-Khulafaa’, Cet. Thn. 1404 H; sanadnya shahih].
    Muhammad bin Ishaaq Ats-Tsaqafiy, ia adalah Abul-‘Abbaas As-Sarraaj; seorang yang haafidh, tsiqah, lagi mutqin. Lahir tahun 218 H, dan wafat pada usia 95/96/97 tahun [lihat : Zawaaid Rijaal Shahiih Ibni Hibbaan oleh Yahyaa bin ‘Abdillah Asy-Syahriy, hal. 1117-1124 no. 520, desertasi Univ. Ummul-Qurra’].
    Catatan penting : Abu Ahmad Al-Haakim, lahir tahun 285 H, dan wafat tahun 378 H. Abul-‘Abbaas As-Sarraaj sendiri merupakan syaikh dari Al-Haakim [lihat muqaddimah kitab Syi’aar Ashhaabil-Hadiits, hal. 11]. Oleh karena itu, tidak benar klaim mukhaalif bahwa Abu Ahmad Al-Haakim tidak meriwayatkan dari As-Sarraaj. Apalagi jelas, Al-Haakim menyampaikan riwayat dengan perkataan : ‘sami’tu’ (aku mendengar) dari As-Sarraaj.
    Adapun Qutaibah bin Sa’iid, maka telah mencukupi apa yang disebutkan di atas. Beliau lahir tahun 150 H, dan wafat tahun 240 H [At-Taqriib, hal. 799 no. 5557, tahqiq : Abu Asybal Al-Baakistaaniy; Daarul-‘Aashimah].
    Konsekuensinya – bagi mukhaalif – perkataan ‘syaikh Khurasaan yang tidak diragukan keimamannya’ ini harus Anda ambil, karena atsar tersebut shahih dan dikatakan oleh orang yang Anda akui keimamannya.

    Tanggapan saya ( ahmad Syahid ) : 1. bukankah riwayat yang dibawakan abul jauza ini adalah daur ulang dari riwayat yang oleh dibawakan ustadz firanda ……? Yang dinukil dari kitab al-uluw ……?

    2. abu jauza menghukumi riwayat ini shahih , tanpa mampu menunjukkan jika an-naqosy yang tertuduh sebagai pemalsu hadist adalah tsiqoh yang dapat diambil riwayatnya , abu jauza malah menampilkan bioghrafi rawi yang sama sekali tidak tertuduh , sementara rawi yang tertuduh ” an-naqosy ” tidak dia tampilkan sama sekali.

    3. abu jauza mengatakan : ” Konsekuensinya – bagi mukhaalif – perkataan ‘syaikh Khurasaan yang tidak diragukan keimamannya’ ini harus Anda ambil, karena atsar tersebut shahih dan dikatakan oleh orang yang Anda akui keimamannya ” ,

    inilah perkeliruan dan ngawurnya abul jauza , sebab jangankan perkataan Ulama , sabda Nabi pun jika dalam sanad riwayatnya terdapat Rawi yang tertuduh, maka hokum dari riwayat perkataan Nabi tadi menjadi dhaif bahkan maudhu` jika dalam sanadnya terdapat seorang pemalsu seperti an-Naqqosy , atau abu jauza tidak mengerti syarat shahihnya sebuah sanad……?

    Daur ulang kedua abu jauza :

    2. Abu ‘Utsmaan Ash-Shaabuuniy.
    Ustadz Firanda hafidhahullah berkata :

    Beliau berkata, “Para Ahli Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah di atas langit yang tujuh di atas ‘arsy-Nya sebagaimana tertuang dalam Al Kitab (Al Qur’an)….
    Para ulama dan pemuka umat dari generasi salaf tidak berselisih bahwasanya Allah di atas ‘arsy-Nya dan ‘arsy-Nya berada di atas langit-Nya.” (Aqidatus Salaf wa Ashaabil hadiits hal 44)
    Adz Dzahabi berkata, “Syaikhul Islam Ash Shabuni adalah seorang yang faqih, ahli hadits, dan sufi pemberi wejangan. Beliau adalah Syaikhnya kota Naisaburi di zamannya” (Al-‘Uluw 2/1317)
    Mukhaalif berkata :
    Yang shahih dari Ucapan Imam As-shobuni hanya : “Para Ahli Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah di atas langit yang tujuh di atas ‘arsy-Nya sebagaimana tertuang dalam Al Kitab (Al Qur’an) …. kata-kata setelah ini (para pemuka dst….) adalah tambahan yang entah Imam aDzahabi dapat dari mana? Silahkan rujuk ”Majmu`ah ar-Rosail al-Muniriyah juz 1 hal 109 risalah as-Shobuni, pernyataan al-imam as-Shobuni ini sama sekali tidak mendukung klaim Ijma’ tentang keberadaan Allah di langit sebagaimana yang di Klaim oleh Ustadz firanda. Inilah yang disebut dengan tafwidh yang juga ditolak oleh Salafi Wahabi. Status Hujjah salah alamat!.

    Saya (Abul-Jauzaa’) berkata :
    Nampaknya Anda setengah sadar dalam melakukan bantahan. Kalimat :
    وعلماء الأمة وأعيان الأئمة من السلف – رحمه الله – لَم يختلفوا في أن الله على عرشه، وعرشه فوق سمواته،……
    “Para ulama dan pemuka umat dari generasi salaf tidak berselisih bahwasanya Allah di atas ‘arsy-Nya dan ‘arsy-Nya berada di atas langit-Nya…..”
    adalah kalimat asli Ash-Shaabuuniy dalam kitabnya yang berjudul ‘Aqiidatus-Salaf wa Ashhaabil-Hadiits, bukan tambahan Adz-Dzahabiy rahimahullah. Perkataan Adz-Dzahabiy rahimahullah yang dinukil hanyalah berkaitan dengan informasi singkat biografi Abu ‘Utsmaan Ash-Shaabuuniy. Tidakkah Anda membaca scan kitabnya yang dinukil Ustadz Firanda[2] ? Atau,… Anda memang tidak pernah membaca kitab ‘Aqiidatus-Salaf Ashhaabil-Hadiits-nya Ash-Shaabuuniy ?.
    Saya tambahkan versi cetakan dari lain penerbit dan muhaqqiq :

    [Terbitan : Maktabah Al-Imaam Al-Waadi’iy, Cet. 1/1428, tahqiq : Abu ‘Abdirrahmaan ‘Abdul-Majiid Asy-Syamiiriy, hal. 22-23].
    Bantahan dan tanggapan mukhaalif itulah yang salah alamat, tidak akurat, dan mengada-ada. Adakah sumber penukilan perkataan seseorang yang lebih valid daripada penukilan kitab tulisannya sendiri ?. Sebagaimana komentar saya sebelumnya, kali ini Anda juga harus membesarkan jiwa Anda menerima kenyataan perkataan Ash-Shaabuuniy yang – mungkin tidak Anda inginkan – bertentangan dengan apa yang Anda yakini saat ini.

    Tanggapan saya (ahmad Syahid ) : andai abu jauza membaca utuh tulisan ash-shobuni , nisacaya abu jauza akan malu sebab sesungguhnya Ash-shobuni adalah seorang Mufawwidh , tolong abu jauza perhatikan dengan seksama scan kitab yang dibawakannya sendiri diatas , pada baris ketiga dari bawah , dalam scan tersebut terdapat pernyataan ash-shobuni yang sangat jelas menunjukkan jika beliau adalah seorang Mufawwidh

    ويمرو نه علي ظا هره ؤيكلو ن علمه الي الله الخ ,,,,,,,,,

    Pernyataan ash-shobuni ini luput dari perhatian abu jauza , lihatlah jika ash-shobuni mewakilkan imunya ( maknanya) kepada Allah , inilah Tafwidh yang shorih dari sang Imam , yang sangat berbeda dengan metodologi kaum wahabiyyin dimana mereka (wahabiyyin termasuk abu jauza ) menolak Tafwidh karena menurut dia dan golongannya , bahwa Tafwidh (menyerahkan makna kepada Allah) adalah penyimpangan, bid`ah dan Ilhad .

    Saya (ahmad Syahid) ucapkan : kali ini Anda juga harus membesarkan jiwa Anda menerima kenyataan perkataan Ash-Shaabuuniy yang – mungkin tidak Anda inginkan – bertentangan dengan apa yang Anda yakini saat ini.

    Abu jauza berkata :

    3. Abu Zur’ah Ar-Raaziy dan Abu Haatim Ar-Raaziy rahimahumallaah.
    Ustadz Firanda hafidhahullah berkata :
    Berkata Ibnu Abi Hatim :
    “Aku bertanya pada bapakku (Abu Hatim-pent) dan Abu Zur’ah tentang madzhab-madzhab ahlussunnah pada perkara ushuluddin dan ulama di seluruh penjuru negeri yang beliau jumpai serta apa yang beliau berdua yakini tentang hal tersebut? Beliau berdua mengatakan, “Kami dapati seluruh ulama di penjuru negeri baik di hijaz, irak, syam maupun yaman berkeyakinan bahwa:
    Iman itu berupa perkataan dan amalan, bertambah dan berkurang…
    Allah ‘azza wa jalla di atas ‘arsy-Nya terpisah dari makhluk-Nya sebagaimana Dia telah mensifati diri-Nya di dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menanyakan bagaimananya, Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat”(Syarh Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah karya Al-Laalikaai 1/198)
    Ibnu Abi Haatim juga berkata berkata,
    “Aku mendengar bapakku berkata, ciri ahli bid’ah adalah memfitnah ahli atsar, dan ciri orang zindiq adalah mereka menggelari ahlussunnah dengan hasyawiyah dengan maksud untuk membatalkan atsar, ciri jahmiyah adalah mereka menamai ahlussunnah dengan musyabbihah, dan ciri rafidhoh adalah mereka menamai ahlussunnah dengan naasibah.” (selesai)
    Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah wal jama’ah lil imam al Laalikai 1/200-201
    Mukhaalif berkata :
    Riwayat ini tidak sah dinisbatkan kepada Abu Zur’ah begitu juga jika dinisbatkan kepada Abu hatim. Riwayat ini diriwayatkan dari tiga jalur sebagaimana disebutkan oleh Adz-Dzahzbi dalam Al-Uluw. Dua jalur pertama terdapat dua Rawi yang majhul, keduanya yaitu : Ali ibn Ibrohim meriwayatkan dari Ibn Jami’ , rawi majhul yang satunya Al-hasan bin Muhammad bin Hubaisy Al Muqri tidak ada bioghrafi yang jelas tentangnya dan tidak ada seorangpun Ahli jarh wa ta’dil yang men-tsiqoh-kannya dan dia adalah Majhul. Sebagaimana riwayatnya terdapat dalam sarh Sunnah Al-Lalikai juz 1 hal 176 , jalur ketiga atsar ini diriwayatkan oleh Ibn Murdik jarak kematiannya dengan Abu Hatim 60 tahun sebagaimana disebutkan dalam Tarikh Baghdad juz 12 hal 30.

    Seperti diketahui secara luas oleh ahli bahwa Abu Zur’ah dan Abu Hatim tidak dikenal berbicara dalam masalah seperti ini sebagaimana keduanya juga dikenal tidak mempunyai karya tulis dalam Bab Aqidah persis seperti teman keduanya yaitu Imam Ahmad Ibn Hambal yang juga mengatakan: “Tidak ada yang melewati jembatan Baghdad orang yang lebih Hafidz dari Abu Zur’ah, beliau adalah termasuk salah satu Wali Abdal yang dengannya Bumi terjaga.”

    Saya Ahmad Syahid katakan: Andai pernyataan sepert itu Muncul dari golongan Asy’ariyah atau Sufiyah Pasti kaum wahabiyyin akan menuduh Kafir, Musyrik, dan Ahli Bid’ah!
    Status Hujjah gugur , karena rawi-rawinya Majhul.

    Saya (Abul-Jauzaa’) berkata :
    Katanya, riwayat perkataan dua imam tersebut lemah (dla’iif) dengan sebab adanya para perawi majhuul. Mari kita lihat sanad riwayat yang dibawakan oleh Al-Imaam Al-Laalikaa’iy rahimahullah :
    أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُظَفَّرِ الْمُقْرِئُ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَبَشٍ الْمُقْرِئُ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي حَاتِمٍ، قَالَ: سَأَلْتُ أَبِي وَأَبَا زُرْعَةَ عَنْ مَذَاهِبِ أَهْلِ السُّنَّةِ فِي أُصُولِ الدِّينِ، وَمَا أَدْرَكَا عَلَيْهِ الْعُلَمَاءَ فِي جَمِيعِ الأَمْصَارِ، وَمَا يَعْتَقِدَانِ مِنْ ذَلِكَ، فَقَالا: أَدْرَكْنَا الْعُلَمَاءَ فِي جَمِيعِ الأَمْصَارِ حِجَازًا وَعِرَاقًا وَشَامًا وَيَمَنًا فَكَانَ مِنْ مَذْهَبِهِمُ:……
    Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Al-Mudhaffar Al-Muqriy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-Husain bin Muhammad bin Habsy Al-Muqriy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad ‘Abdurrahmaan bin Abi Haatim, ia berkata : ”Aku pernah bertanya kepada ayahku dan Abu Zur’ah tentang madzhab Ahlus-Sunnah dalam ushuuluddiin (pokok-pokok agama) dan apa yang mereka temui dari para ulama di seluruh pelosok negeri dan yang mereka berdua yakini tentang hal itu, maka mereka berdua berkata : ”Kami telah bertemu dengan para ulama di seluruh pelosok negeri, baik di Hijaz, ’Iraq, Mesir, Syaam, dan Yaman, maka yang termasuk madzhab mereka adalah : …….. (kemudian beliau menyebut macam-macam ’aqiidah, sebagaimana telah dituliskan Ustadz Firanda di atas) [Syarh Ushuulil-I’tiqaad, 1/176].

    Keterangan perawi :
    a. Muhammad bin Al-Mudhaffar bin ’Aliy bin Harb, Abu Bakr Al-Muqri’ Ad-Diinawariy; seorang syaikh yang shaalih, mempunyai keutamaan, lagi shaduuq. Wafat 415 H [Taariikh Baghdaad, 4/430 no. 1624, tahqiq : Dr. Basyaar ’Awwaad Ma’ruuf; Daarul-Gharb, Cet. 1/1422 H].
    b. Al-Husain bin Muhammad bin Habsy, Abu ’Aliy Ad-Diinawariy Al-Muqri’; seorang yang tsiqah lagi ma’muun [lihat : Taariikh Islaamiy oleh Adz-Dzahabiy, 26/538-539, tahqiq : Dr. ’Umar bin ’Abdis-Salaam At-Tadmuriy; Daarul-Kitaab Al-’Arabiy, Cet. 1/1409 H].
    c. Abu Muhammad ‘Abdurrahmaan bin Abi Haatim; ia adalah anak dari Abu Haatim Ar-Raaziy, seorang imam yang tidak perlu ditanyakan lagi.
    Kesimpulan : Sanad riwayat ini shahih. Tidak ada rawi majhuul sebagaimana klaim mukhaalif.

    Konsekuensinya, Anda (mukhaalif) juga harus menerima dan membuang jauh-jauh perkataan Anda di atas. Apapun dalihnya. Abu Zur’ah dan Abu Haatim adalah imam yang terpercaya menurut Anda.
    Itulah perkataan empat orang ulama yang disepakati keimamannya antara ’Wahabiy’ dan mukhaalif. Sengaja saya hanya batasi bahasannya untuk empat imam saja. Saya tidak membahas tuduhan ngawur mukhaalif terhadap Ibnu Qutaibah, Ibnu Khuzaimah[3], Ad-Daarimiy, dan Abu ’Umar Ath-Thalamankiy rahimahumullah sebagai mujassim. Begitu juga tuduhan ngawur lainnya terhadap Ibnu Baththah rahimahullah sebagai pemalsu hadits. Begitu juga ulasan ngawur-nya terhadap aqwaal para imam. Mungkin bisa dilakukan lain waktu, lain orang, bahkan – mungkin – oleh Ustadz Firanda sendiri.[4]
    Akhirnya,… sesuatu yang tidak bisa diraih semuanya, tidaklah ditinggalkan semuanya. Semoga yang sedikit ini dapat memberikan manfaat bagi saya dan rekan-rekan.

    Wallaahu a’lam bish-shawwaab.
    [abul-jauzaa’ – sardonoharjo, ngaglik, sleman, yk – next, job from boss must be done tonite].

    Tanggapan saya ( ahmad syahid ) : tiga orang rawi majhul yang saya maksud adalah : 1. ali bin Ibrahim , 2. al-hasan bin muhammad bin hubaisy al-muqri , 3 . ibn murdik .

    Sangat disayangkan bighrafi yang didatangkan oleh abu jauza adalah : 1. Muhammad bin Al-Mudhaffar bin ’Aliy bin Harb, Abu Bakr Al-Muqri’ Ad-Diinawariy; 2. Al-Husain bin Muhammad bin Habsy, Abu ’Aliy Ad-Diinawariy Al-Muqri, 3. Abu Muhammad ‘Abdurrahmaan bin Abi Haatim.

    Sangat tidak nyambung , ( yang saya sebut majhul yang mana……? yang dibawakan abu jauza yang mana …..? ) upaya abu jauza hanyalah pemaksaan kehendak yang tidak akan tercapai , sebab syeikh kontradiktif pun (al-albani) mengakui dalam mukhtasor ala-uluw halaman 205 , jika dalam sanad- sanad ini ( riwayat dari abu hatim dan abu zur`ah) ada beberapa orang yang tidak dia ketahui alias majhul , kecuali jika abu jauza merasa lebih hebat dari syaikhnya yang kontradiktif itu.

    Catatan abu jauza :

    [1] Maksudnya, Qutaibah bin Sa’iid rahimahullah.
    [2] Kitab yang beliau nukil adalah terbitan Daarul-Minhaaj, Cet. 1/1423 H, dengan tahqiq : Abul-Yamiin Al-Manshuuriy.
    [3] Telah ada artikel yang menyebutkan biografi Ibnu Khuzaimah rahimahullah : http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/09/biografi-ibnu-khuzaimah.html
    [4] Sebenarnya, Ustadz Firanda lah yang berhak menjawab apa yang dituliskan dan disebarkan mukhaalif tersebut. Dan saya yakin, tidaklah terlampau sukar bagi beliau untuk menjelaskan kekeliruan argumentasi susunan mukhaalif tersebut.
    Namun, ada perkataan mukhaalif tersebut yang benar tentang atsar Al-Auza’iy rahimahullah, ia adalah atsar lemah (dilemahkan oleh muhaqqiq kitab Al-Asmaa’ wash-Shifaat : ‘Abdullah Al-Haasyidiy, 2/304 dengan sebab Muhammad bin Katsiir). Namun harus juga dikatakan, apa yang dijelaskan Ustadz Firanda dalam artikelnya sudah lebih dari cukup bagi orang yang fair dan bisa berpikir jernih, tanpa dikotori nafsu ’asal bantah’ sebagaimana dilakukan mukhaalif.

    Tanggapan saya : 1. riwayat dari al-auza`I bukanlah atsar , 2. riwayat qoul al-auza`I adalah Madhu` bukan hanya dhaif. 3. entah siapa yang lebih layak menyandang : ” orang yang fair dan bisa berpikir jernih, tanpa dikotori nafsu ’asal bantah’ sebagaimana dituduhkan abu jauza.

    Demikian tanggapan atas catatan abu jauza.

  44. alhamdulilah semua pada jalur nya (baca topik diatas)

    @abdullah tolong ente kunjungi blog mas AI dan bantah semua isi blog mas AI jangan mengumbar kata2 tanpa isi setiap.

    mas @AI tolong ditunggu di blog mas, itupun kalo @Abdullah mau 😀

  45. Dasar keras kepala nih si syahid ama para cheer leadernya ummati, tuh hujjah lu yang rapuh gampang banget dibongkar oleh abul jauza, mau ngomong apa lagi lu, bilang orang pendusta ternyata 3 jari malah menunjuk ke badan lu sendiri. Apalagi kalau langsung firanda yang ngebantah lu. Tapi pasti aje seperti tuduhan lu kepada salafiyin, ujung 2 nya lu bakalan ngeyel juga…

    1. akmal ismail as salafy@

      Hik hik hik, antum kebakaran jenggot rupanya? Kalau ana tidak salah baca waktu itu antum yg nantangin Mas Ahmad syahid agar membantah Tulisan Ustadz Firanda. Eh, begitu dibantah antum malah semakin kebakaran jenggot.

      Tenang antum ya, nanti Abul Jauza yg antum kira shohih dalam tanggapannya kepada Mas Ahmad Syahid nanti biar ana tanggapi di sini. Sabarlah menunggu sebab ana baru lihat, ana akan kaji tulisannya. Kalau ternyata dalam bantahannya ada yg perlu diluruskan maka insyaallah akan ana koreksi tanpa tedeng aling-aling. Prinsipnya adalah kebenaran harus ditegakkan di muka bumi sampai kiamat. Okelah kalau begitu, hik hik hik….

    2. yaah kroco2 wahabbi yg cumanya bisa omdo… ❗
      wkwkwk :mrgreen: …la wong para ustadz nya aja punya blog pake moderasi mlulu.. 🙄
      takut kebongkar satu persatu.. 💡 .wkwk…kirim comment gak pernah nampil,.. 🙄
      yg nggak pake moderasi akhirnya takut juga,…die pake juga..wkwwk.. :mrgreen:

  46. maaf, klo boleh coment. Secara pribadi kami lihat dan amati kaum salafi wahabi itu rata rata klo gak salah malah semuanya sesuai dgn pepatah jawa ‘isok o pinter rumongso ojo mung rumongso pinter’ . Kaum wahabi sangat merasa pintar sekali…. Namun yg paling gampang pintar merasa tidak pernah d lakukan… Sungguh ini kenyataan yg ada saat ini. Untuk Ustadz ahmad syahid terus brjuang tegakkan kebenaran Ahlussunah sejati. Syukron. Matur suwun.

  47. maaf, klo boleh coment. Secara pribadi kami lihat dan amati kaum salafi wahabi itu rata rata klo gak salah malah semuanya sesuai dgn pepatah jawa ‘isok o pinter rumongso ojo mung rumongso pinter’ . Kaum wahabi sangat merasa pintar sekali…. Namun yg paling gampang pintar merasa tidak pernah d lakukan… Sungguh ini kenyataan yg ada saat ini. Untuk Ustadz ahmad syahid terus brjuang tegakkan kebenaran Ahlussunah sejati. Syukron.

  48. @abdullah
    “Ar-Rahmaan di atas ‘Arsy beristiwa’. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah’ (QS. Thaha : 5)”
    Apa maksud ayat ini menurut ente?
    Allah punya 99 namaNya, ini baru satu.

    1. Abdullah , anda bisa tunjukkan saya berdusta dalam hal apa……? ala kulli haal terimakasih atas pemberitahuannya , insya Allah akan segera saya tanggapi catatan abu jauza apakah saya yang berdusta ( tuduhan abdullah ) atau abdullah yang terkena tipu muslihat abu jauza , nanti kita lihat.

      1. Kata “dusta” sedang diobral sekarang, Firanda dibilang dusta, kalau ada yang bilang Ahmad Syahid dusta wajar dong 😆 . Yang tentang ulama yang mengatakan Allah lebih dekat di puncak gunung, saya pernah baca ini dusta, tapi saya lupa sumbernya.

        Langsung saja jawab di kolom komentar. Kemarin ada asy’ariyyah yang ngeyel tentang bahasa Arab dilayani kok. Yang penting bukan komentar asal mangap kaya AI, ucep atau putri, kalau itu pasti kena filter.

        1. hehehe
          komentar asal mangap ya? Emangnya komentar kamu ada mutunya?
          Kalo tdk bs komentar dg benar, ngaku saja.
          Percuma bicara dalil dg orang sepertimu.

        2. Itulah hebatnya @abdullah, belum apa2 aja sudah bilang dusta, lihat tulisan disono, perhatiin bae-bae yah, jangan asal ucap dustalah, komen2 ente aje ane liat ente kurang ilmu. jangan asal nguap lah.
          Kalau mau diskusi boleh2 aja yuuk…..

          1. abdullah menuduh semua dukun & penyembah tempat angker itu ASWAJA, tidak terima kalo para teroris di Indonesia itu fahamnya WAHABI…..bicara tanpa bukti, padahal teroris dari WAHABI itu sudah terbukti, dari teroris Indo-Al Qaeda…..bener-2 payah otaknya, jalan pikirannya si Abdullah, bicara tanpa bukti, hawa nafsu aja di dlm kepalanya

          2. mana nih abdullah ??? saya kasih komen : abdullah menuduh semua dukun & penyembah tempat angker itu ASWAJA, tidak terima kalo para teroris di Indonesia itu fahamnya WAHABI…..bicara tanpa bukti, padahal teroris dari WAHABI itu sudah terbukti, dari teroris Indo-Al Qaeda…..bener-2 payah otaknya, jalan pikirannya si Abdullah, bicara tanpa bukti, hawa nafsu aja di dlm kepalanya

          3. hanya bantahan ke dua agak nyambung, tapi tetap aja menunjukkan perkataan tafwidh, bantahan lainnya tidak lengkap….

            1.Abu Bakar an-Naqosy seorang Pemalsu hadist….. mana bantahannya?

            3. Al-hasan bin Muhammad bin Hubaisy Al Muqri tidak ada bioghrafi yang jelas tentangnya dan tidak ada seorangpun Ahli jarh wa ta’dil yang men-tsiqoh-kannya dan dia adalah Majhul…. kok malah menggunakan Taariikh Islaamiy oleh Adz-Dzahabiy, justru Adz Zahabi yang menganggap kuat al muqri inilah inilah yang dibantah oleh AhmadSyahid dari keterangannya diatas.

          4. nggak jelas,seperti atsar ibnu ma,sud yg melarang zikir yg die kata shohih,wkwkw..
            muhaddist baru kali ya abul jauzaa itu…

  49. Ibnu Abi Irfan sdh tak berani berkoar-koar lagi di blog Aswaja seperti Ummati ini. Kapok dia rupanya, argument nya selalu dipatahkan oleh rekan2 Aswaja yg pintar-pintar seperti Mas Diant, Mas Ahmad Syahid, Joyo Marto, eh Mas Joyo ke mana ya? Dulu ane sering lihat kok sekarang tidak kelihatan lagi? semoga selalu sehat wal afiat semuanya, amin….

  50. Alhamdulillah wa syukrulillah bi aunillah akhirnya dusta murokkabnya Firanda berhasil dibongkar tuntas. Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kaum Wahabi Salafi yg gemar berdusta.

    Bagaimana dg blognya Abul Jauza, feeling ane blog tsb juga banyak sekali dustanya. Bagi yg sudah nyampai ilmunya tolong dibongkar juga dong. Hallo Mas Diant, antum nih ane harapkan partisipasinya.

    Bongkar Abul Jauza lalu poskan sebagai komentar di sini, biar nanti Mas Admin Ummati yg memutuskan untuk diposting sebagai artikel. Begitu kan Mas Admin? 😆 😆 😆

  51. Wahabi sudah biasa n sudah tradisi mereka berkomentar sebelum baca artikel. Maklum lah mereka itu kaum JAAHIL MUROKKAB, contohnya seperti Cah Ndeso alias Ibnu Suradi alias Wahabi-wahabi yg lain. Komentar pun keluar topik menunjukkan sangat jelas mereka itu orang2 jaahil murokkab. Persis benar apa kata Mbak Putri Karisma, komentnya yg kritis kepada komentator Wahabi membuka kesadaran kita bahwa memang kaum Wahabi terbukti rata-rata Jaahil Murokkab, alias telmi alias tidak nyambung kalau berkomentar terhadap suatu artikel. Sebal juga sih terhadap kaum jaahil yg sok berilmu padahal kosong ilmu. Kalaupun ada ilmu adalah ilmu COPAS yg belum mereka paham atas yg diCopasnya. :mrgreen:

  52. Biasanya orang klw di kasih tau dgn kasar pasti ngeyel biarpun salah, lha saya udh di kasih tau scara halus dan rohmatan lil alamin ko’ masih ngeyel terus.. Piye iki mas.. Hik hik hik.. Maju terus dgn ramah aswajaku..

  53. Matur Nuwun Kang Syahid , semoga ini menjadi benteng bagi keluarga kita dari virus wahabi yang memang saat ini bergentayangan disekitar kita .

    1. Cah Ndeso@

      Gaya Nte kok sama persis dg gayanya Ibnu Suradi, kembarannya atau Nte sendiri Ibnu Suradi? Koment nya sama-sama gak mutu, n ngulang2 apa yg udah dikoment-kan di Dusta Firanda Satu. E e… kamu ketahuan, qi qi qi…. 🙄 🙄 🙄

      1. Cah Ndeso Ibnu Suradi, baca dulu baru koment ya. Kebiasaan Wahabi deh, koment dulu tanpa baca apa yg di komentarinya. Jika antum dah baca, tentunya antum tidk akan ngawur berkoment, lihat bagaimana argument Firanda rontok satu persatu tanpa ampun. 😆 😆 😆

  54. @Admin dan @ustad AS
    Pencerahan yang good, apakah fitnah firanda akan terus berjalan.
    Ane sedih, apakah ini telah terjadi fitnah akhir zaman, semoga ane gak ngalamin kiamat kubro, karena itu adalah sejelek-jelek manusia.
    Ya Allah ampuni aku hambaMu ini yang lemah dan bodoh, yang hanya mengemis dan mengais-ngais doa dan ridoMu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.