Usaha Politisasi Portal-islam.id atas Alfateka Joko Widodo dan Nasihat Penting Muhammad Ali

Semangat Persaudaraan dalam Asian Games 2018
Loading...

Usaha Politisasi Portal-islam.id atas Alfateka Joko Widodo dan Nasihat Penting Muhammad Ali

Alfatihah mendadak viral beberapa hari terakhir ini. Meminjam istilah Ahmad Khadafi (kolega saya di IAIN Surakarta), orang-orang mendadak jadi polisi-makhroj. Mereka menyalahkan Joko Widodo dan seakan malih rupa jadi ustad yang paling fasih bacaannya. Tidak ketinggalan, tentu saja, Portal Islam membikin tulisan provokatif: Menjawab Masalah Kekhilafan Makna Alfateka dan Viral Video Joko Widodo “Alfatekah” Diketawain Hadirin di Pembukaan MTQ.

Pada tulisan Menjawab Masalah Kekhilafan Makna Alfateka dikatakan: Allah tengah memperlihatkan siapa sosok sesungguhnya dari pemimpin kita (Joko Widodo). Tulisan itu juga menyebut bahwa yang salah ujar itu pasti jarang mengucapkan kalimat-kalimat thayibah. Ditegaskan pula bahwa kekhilafan pengucapan bukan hal sepele. Alfatika/alfateka, menurut mereka, artinya kesewenangan; menghabisi; aksi anarkis.

Pola Portal Islam juga senantiasa sama. Kalau ada sesuatu yang tengah ramai diperbincangkan khalayak, khususnya yang menyangkut hal buruk dari pemerintah, akan dicarikan komentar netizen. Komentar itu tentu wajib bernada buruk, bahkan kadang agresif. Tulisan berjudul Viral Video Joko Widodo “Alfatekah” Diketawain Hadirin di Pembukaan MTQ ialah contohnya. Beberapa tulisan di website mereka yang diproduksi dengan pola serupa itu. Terlalu mengagumkan, mengingat mereka punya energi berlimpah untuk melaksanakan hal itu, terus menerus, nyaris sejauh tahun (politik).

loading...
Saya kira, keributan atas “hal kecil” ini dipicu motif politis belaka. Sebab pemilihan presiden telah makin dekat. Ndilalah Joko Widodo yang berucap. Andai bukan dia, tentu seluruh akan tenang-tenang saja.

Toh masih sering kita jumpai di masjid-masjid kampung para imam yang melafalkan Al-fatihah dengan “kearifan lokal” masing-masing. Dan kita tidak pernah ribut. Kita tidak pernah mencacinya.

Di tengah-tengah gelaran Pemilihan Umum seperti sekarang ini hal terberat untuk ditunaikan ialah berlaku adil. Adil semenjak dalam pikiran, seperti kata Pram. Objektif dalam menyaksikan segala sesuatu. Jernih dalam mendudukkan saban masalah. Berat, jadi adil, objektif dan jernih sesungguhnya berat sekali. Cuma orang-orang “terpilih” yang sanggup melakukannya.

Dalam buku Thomas Hauser saya menemukan 1 kutipan cakep dari Muhammad Ali: waktu muda, saya ikut ajaran yang tidak menghormati orang lain dan menjelaskan bahwa orang kulit putih ialah iblis. Saya salah. Kelir kulit tidak membikin seseorang jadi iblis. Itu ialah soal hati dan jiwa dan pikiran. Apa yang ada di luar ialah hiasan. Tidak suka seseorang sebab kelir kulitnya itu salah. Sama-sama salah; tidak peduli siapa yang tidak suka. Seluruh orang, seluruh kelir kulit, wajib berusaha untuk saling mengenal.

Di masa sekarang, pernyataan Muhammad Ali itu patut kita renungkan. Kebencian atas “kelir kulit” dalam pernyataan di atas dapat kita ganti dengan pilihan politik, agama, suku, Suku dan lainnya. Karena, sungguh tidak semestinya kita saling benci dan memusuhi cuma sebab “tak sama”.

IslamiDotCo by Ahmad Naufal

Loading...

INFO POPULER

______________________
loading...

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

KOLOM KOMENTAR ANDA :