UNICEF kritik keras Pembunuhan masal atas 2.200 Anak Yaman

UNICEF kritik keras Pembunuhan masal atas 2.200 Anak Yaman

JENEWA – Kepala UNICEF sudah mengkritik keras “pembunuhan masal” lebih dari 2.200 bocah-bocah selama perang yang sedang berlangsung di Yaman, mengingatkan bahwa jutaan bocah-bocah lain ketika ini sedang menderita kesengsaraan dalam krisis kemanusiaan yang dalam perang yang dipaksakan di negara itu.

“Konflik tanpa henti di Yaman sudah memotivasi sebuah negara yang telah berada di tepi jurang jatuh ke kedalaman jurang yang dalam,” kata direktur eksekutif UNICEF, Henrietta Fore dalam sebuah pernyataan terhadap awak media di Jenewa pada hari Selasa (03/07) seusai kunjungannya ke negara yang dilanda perang itu.

Baca: PBB: Gabungan Saudi Bertanggung Jawab atas Sebagian Besar Kematian Anak Yaman

Fore menceritakan pengamatannya soal “3 tahun perang intens yang terjadi seusai banyak dekade keterbelakangan dan ketidakpedulian global yang kronis berdampak pada bocah-bocah.”

Loading...
loading...

UNICEF menjelaskan pada hari Selasa bahwa lebih dari 2.200 anak sudah meninggal dunia dan 3.400 lainnya cedera selama konflik 3 tahun di Yaman

“Ini cuma angka yang dapat kami verifikasi. Angka sejatinya dapat lebih tinggi lagi,” kata Fore, menulis bahwa “ndak ada pembenaran demi pembunuhan masal ini.”

Fore mengingatkan bahwa terlepas dari kematian dan cedera, jutaan bocah-bocah Yaman sudah putus sekolah sementara tidak sedikit lainnya dipaksa demi bertempur dengan pihak yang tak sama dalam konflik, merid, kelaparan dan mati sebab penyakit yang dapat dicegah seperti kolera.

Bocah-bocah terdiri dari setengah dari hampir 22 juta warga Yaman yang bergantung pada sokongan kemanusiaan demi kelangsungan hidup mereka.

Baca: Studi: Gabungan Saudi Bertanggung Jawab Atas Wabah Kolera di Yaman

Kepala UNICEF mengingatkan bahwa kekuatiran global kalau sistem kesehatan dan pendidikan Yaman bakal runtuh pada dasarnya sudah terwujud, dengan catatan “Kekuatiran soal keruntuhan sekarang sudah melampaui itu. (ARN)



Source by Muhammad Zuhdi

loading...

You might like

About the Author: Muhammad Zuhdi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *