Ummat Islam, Belajarlah !

Ummat Islam, Belajarlah!  Entah sebab apa atau bagaimana ummat Islam Indonesia ini. Kok begitu mudah digiring ke arena demonstrasi yang enggak jarang berakhir aksi anarkis dan huru-hara. Akhirnya ummat Islam sendiri yang jadi korban dan merugi. sesudah mereka cedera sibuk menyalahkan sana-sini, padahal cedera itu ialah konsekwensi logis dari sebuah demonstrasi besar di mana pun di dunia. Semestinya Ummat Islam belajar. Tetapi rupanya Ummat Islam enggak pernah mau belajar dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya, padahal semuanya dipicu oleh karena dan pola penggiringan yang sama.
Apa buktinya ummat Islam enggak pernah mau belajar dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya. Buktinya, mereka masih tetap mau dipanas-panasi dengan berbagai dalil agama. Ujung-ujungnya mereka mau saja bersusah payah melaksanakan demonstrasi, yang ujung-ujungya bahkan merugikan ummat Islam dan citra Islam. Citra Islam Rahmatan lil Alamin dicemari oleh aksi-aksi anarkis yang semestinya enggak perlu terjadi seandainya mereka enggak berdemonstrasi.
Berikut ini ialah tulisan Prof. Sumanto Al Qurtuby yang mencoba mengingatkan pola-pola yang sama untuk menggiring Ummat Islam melaksanakan kesalahan-kesalahan yang sama. Entah kapan mereka mau belajar sehingga menyadari kekhilafan yang terus berulang ini.
Selamat mengikuti tulisan Prof. Sumanto Al Qurtuby berjudul: “Dari Bu Mega sampai Koh Ahok” …..

Dari Bu Mega hingga Koh Ahok

Dulu, “mereka” ramai-ramai menolak Megawati Soekarnoputri selaku Presiden RI sebab menurut mereka, dalam Islam, seorang wanita “haram” jadi pemimpin politik apalagi memimpin sebuah negara. Berbagai dalil mereka kumpulkan untuk menyokong pendapat-pendapat mereka. Berbagai fatwa pun mereka himpun untuk menyokong argumen-argumenya. Walaupun Bu Mega terang beragama Islam, mereka nggak peduli. Bahkan mereka menuding Bu Mega itu “Islam Hindu” cuma sebab sang ayah mempunyai hubungan sejarah dengan Bali.
Dulu pula, “mereka” ramai-ramai menentang, menolak, dan menjegal KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur selaku Presiden RI. Kali ini alasan pengharaman mereka sebab Gus Dur buta. Menurut mereka, dalam Islam, seorang pemimpin negara nggak boleh mempunyai “cacat fisik”. Lagi-lagi mereka menghimpun berbagai teks, dalil, dan fatwa untuk menyokong, memeperkuat, dan melegitimasi pandangan dan sikapnya.
Padahal Gus Dur seorang tokoh Muslim terkenal di seantero jagat, pemimpin ormas Islam terbesar di Tanah Air, Nahdlatul Ulama (NU), kyai yang terlalu mumpuni wawasan keislamannya, berpuluh-puluh tahun belajar Islam di pesantren, Mesir, dan Irak, ahli Bahasa Arab dan kitab-kitab keislaman, putra seorang eks Menteri Agama dan pejuang bangsa (KH A. Wahid Hasyim), cucu seorang ulama besar, pahlawanan nasional, dan pendiri NU (Syeikh Hasyim Asy’ari). Kurang apa coba “Islam”-nya Gus Dur? Kenapa mereka tolak juga?
Dulu pula, meski nggak berlebihan dulu, mereka juga ramai-ramai menentang dan menolak Pak Joko Widodo. Kali ini alasannya sebab beliau seorang “Islam abangan” lah, “Islam KTP” lah, “Islam Kejawen” lah, nggak mampu mengucapkan kalimat “as-salamu alaikum warahmatullah wa barakatuh” dengan fasih, apalagi ngomong Bahasa Arab. Kalau Bu Mega dituduh dekat dengan Hindu, Pak Joko Widodo dituduh dekat dengan Kristen. Dekat dengan Kristen saja dipersoalkan apalagi Kristen beneran. Lagi-lagi, seperti biasa, mereka mengumpulkan sejumlah dalil untuk menyokong pandangan dan argumentasinya.

Ummat Islam

Sekarang, mereka ramai-ramai lagi gerudag-geruduk kesana-kemari. Kali ini targetnya Koh Ahok. Lebih brutal lagi serbuan mereka ke Ahok sebab si Koh ini telah Cina, Kristen pula. Sebab berstatus “minoritas ganda”, Koh Ahok lebih mudah jadi target empuk kampanye hitam oleh para pecundang agama dan politik ini. Berbagai dalil tumpah-ruah dilansir untuk menyokong pandangan, argumen, sikap, dan tindakan gelap-mata dan membabi buta mereka. Para mafia agama dan politik inipun rajin konsolidasi dan kusak-kusuk untuk menjegal Ahok.
Uniknya atau lucunya, kenapa “mereka” nggak mempersoalkan Pak SBY, Pak Wiranto, atau Pak Prabowo Subiyanto? Bukankah mereka, sebagaimana Bu Mega dan Pak Joko Widodo, juga sama-sama “Muslim abangan”?? Jadi, masihkah anda percaya, jikalau apa yang “mereka” lakukan itu “atas nama” atau “untuk membela” Islam”??
Sumanto Al Qurtuby

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :