‘Ulama’ sesudah Pilkada DKI

‘Ulama’ setelah Pilkada DKI

‘Ulama’ sesudah Pilkada DKI

Dalam bahasa Indonesia ada sejumlah kata-kata yg mengalami pergeseran makna. Baik pergeseran makna meluas ataupun menyempit. Misalnya kata “madrasah” dulu dimaknai “sekolah”, sekarang berubah jadi “sekolah islam”. Kata “guru” dulu punya makna “orang yg mengajari sesuatu” sekarang berubah makna jadi “pengajar di sekolah”. Seperti ini juga makna “Ulama”; semenjak adanya pilkada Jakarta tahun sekarang mulai mengalami pergeseran makna. Jikalau dulu Ulama itu punya ciri2 selaku berikut:

1. Menguasai bermacam bidang Ilmu agama seperti Nahwu, Sharof, Balaghah, Fiqh, Ushul Fiqh dll.

2. Tawadhu’ atau rendah hati, tidak teriak-teriak menjelaskan bahwa dia ialah ulama, bahkan senantiasa merasa tidak patut disebut selaku ulama.

3. Mampu dipercaya, tidak membikin dan menyebarkan berita hoax atau fitnah.

Loading...
loading...

4. Ceramah dan khotbahnya senantiasa menyejukkan bagi siapa saja yg mendengarnya.

5. Tidak suka unjuk rasa sebab sungguh bukan ajaran kanjeng Nabi.

Ciri-ciri di atas dapat kita temukan pada sosok ulama seperti pada gambar ini. Mbah Kholil Bangkalan, Hadratus syekh Hasyim Asy’ary, gus Mus, gus Dur, kyai Hamid dan lain2.
Jikalau sekarang ada orang yang punya ciri seperti di bawah ini; tapi anehnya juga disebut selaku “ULAMA”. 1. Tidak Penting menguasai bermacam bidang ilmu, asal telah jadi pengurus teras organisasi keagamaan, pakai jubah dan sorban serta senantiasa teriak “ALLAHU AKBAR” maka otomatis akan disebut ulama.

2. Teriak-teriak menyampaikan “KAMI ADALAH ULAMA” biar ummat dan aparat hormat. Kalau terkena Perkara pidana maka ummat mesti tahu bahwa ulama sudah dikriminalisasi. Mereka buat tagar #saveulama.

3. Tidak peduli mau itu berita HOAX ataupun fitnah tetap saja disebarkan dengan massif biar dinilai selaku sebuah kebenaran oleh ummat.

4. Ceramah dan khotbahnya senantiasa menyuarakan kebencian dan perpecahan, memprovokasi ummat supaya tidak suka pemimpinnya dan bersiap revolusi, menuding yg lain selaku munafiq, fasik bahkan murtad, full dengan caci maki seraya bertakbir.

5. Mengajak ummat untuk saban waktu melaksanakan unjuk rasa seraya menjanjikan pahala dan surga.

Sumber: IG m.bahrunnajach

(suaraislam)

Loading...


Suara Islam by Ahmad Zaini

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

KOLOM KOMENTAR ANDA :