Tulisan Gus Dur: Islam dan Dialog Antar-Agama

Tulisan Gus Dur: Islam dan Dialog Antar-Agama

Tulisan Gus Dur: Islam dan Dialog Antar-Agama

Charles Torrey dalam disertasi doktor-nya di Universitas Heidelburg tahun 1880-an, menyampaikan bahwa Al-qur’an mempunyai keistimewaan, berupa penggunaan istilah-istilah profesi demi mengumumkan keyakinan agama. Disebutkannya ayat; “barang siapa memberikan pinjaman yang baik pada Allah, maka bakal diberi imbalan berlipat ganda” (man yuridhi al-Allaha qardlan hasanan fa yudhaa’ifahu), yang artinya bukan sebuah transaksi kredit melainkan  penyelenggaraan amal kebajikan. Contoh lain, ialah; “barang siapa menghendaki panenan  yang baik di akhirat, bakal Ku-tambahi panenannya” (man kaana yuridhu hartsa al-akhirati nazid lahu fi-hartsihi) –yang lagi-lagi mempergunakan kata panenan selaku penunjuk terhadap amal kebajikan/amal sholeh.

Di sini, Torrey juga mempergunakan sebuah ayat lain demi menuding terhadap perbedaan antara Islam dan agama-agama lain, tanpa menolak pengakuan kebenaran agama-agama tersebut. “Sesiapa saja mengambil selain Islam selaku agama, maka amal kebajikannya ndak bakal diterima oleh Allah, dan dia di akhirat kelak bakal sebagai orang yang merugi perdagangannya” (man yabtaghi ghaira al-Islama diinan falan yuqbala minhu wa huwa fi al-akhirati min al-khasirin), ayat ini menuding perbedaan dalam keyakinan antara Islam dan agama-agama lain. Perbedaan antara Islam dan agama lain, dalam ayat  ini terang menuding terhadap problem keyakinan, dengan ndak menolak kerjasama antar Islam dan berbagai agama lainnya.

Dengan seperti inilah, perbedaan keyakinan ndak membatasi atau mencegah kerjasama antara Islam dan agama-agama lain, terutama dalam hal-hal yang menyangkut kepentingan ummat insan. Penerimaan Islam bakal kerjasama itu,  tentunya bakal dapat ditujukan dalam praktek kehidupan, apabila ada dialog antar agama dalam kehidupan. Dengan kata lain,  prinsip pemenuhan kebutuhan berlaku dalam hal ini, seperti adagium ushul fiqh/teori legal hukum Islam; “sesuatu yang membikin sebuah kewajiban agama ndak terwujud tanpa kehadirannya, bakal sebagai wajib pula” (ma la an-yatimu al-wajibu illa bihi fahuwa wajibun) ndak bakal terlaksana, sebab itu dialog antar agama juga sebagai kewajiban.

*****

Kitab suci Al-qur’an juga mengumumkan: “sesungguhnya sudah Ku-ciptakan kalian selaku laki-laki dan wanita, dan  Ku-jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bangsa supaya kalian saling mengenal” (inna khalaqnaakum min dzakarin wa untsa wa ja’alnaakum syu’uban wa qabaa’ila li  ta’arafu), menuding terhadap perbedaan pandangan yang selalu ada antara laki-laki dan wanita serta antar berbagai bangsa atau suku bangsa. Dengan seperti inilah, perbedaan pandangan merupakan sebuah hal yang diakui Islam, sebab yang dicegah ialah perpecahan dan keterpisahan (tafarruq).

Tentu saja, antara berbagai keyakinan ndak perlu dipersamakan secara total, sebab masing-masing mempunyai kepercayaan/aqidah yang dinilai benar. Dalam hal ini, sama kedudukannya dengan penafsiran-penafsiran itu kepada aqidah keyakinan masing-masing. Dalam Konsili Vatikan II yang dipimpin Paus Yohanes XXIII dari tahun 1962 sampai 1965, menyebutkan bahwa para uskup yang sebagai peserta menghormati saban usaha mencapai kebenaran, walaupun tetap percaya bahwa kebenaran abadi cuma ada dalam ajaran masing-masing agama, ndak perlu diperbandingkan atau dipertentangkan.

Dengan seperti inilah, sebagai jelaslah bahwa yang dapat di-kerjasama-kan antara berbagai sistem keyakinan itu ialah bagaimana menangani kehidupan masarakat, sebab masing-masing mempunyai keharusan menciptakan kesejahteraan lahir (keadilan dan kemakmuran) dalam kehidupan bareng, walaupun bentuknya berbeda-beda. Di sinilah, nantinya, terbentuk persamaan antar agama, bukannya dalam ajaran/aqidah yang dianut. Sebab ukuran capaian wajib mempergunakan bukti-bukti empirik, seperti tingkat penghasilan rata-rata masyarakat masarakat ataupun hitungan total kepemilikan –misalnya, telpon atau kendaraan per 10.000 keluarga. Dengan seperti inilah, ukuran rata-rata tingkat kepemilikan dapat dipersamakan oleh capaian-capaian tersebut. Sedangkan yang ndak, seperti ukuran keadilan, dapat diamati secara empirik pula dalam kehidupan sebuah sistem kemasyarakatan.

*****

Yang dikemukakan di atas ialah persamaan-persamaan antara berbagai agama. Lalu, bagaimana halnya dengan ayat Al-qur’an, seperti; “dan orang-orang Yahudi dan Kristen ndak bakal rela kepadamu, sampai engkau mengikuti kebenaran/aqidah mereka” (wa lan tardha an-kal yahudu wa la al-nashara hatta tattabi’a millatahum). Jika kita bersikap seperti inilah, hal itu sesungguhnya wajar-wajar saja, sebab menyangkut pemerimaan keyakinan/aqidah. Selama Nabi Muhamad saw masih berkeyakinan; “Tuhan ialah Allah dan beliau sendiri ialah utusan Allah swt”, selama itu pula orang-orang Yahudi dan Kristen ndak dapat menerima (artinya ndak rela terhadap) keyakinan/aqidah tersebut. Sama halnya dengan sikap kaum muslimin sendiri, selama orang Kristen percaya bahwa Yesus ialah anak Tuhan dan orang Yahudi percaya bahwa mereka ialah ummat pilihan Tuhan, maka selama itu pula kaum muslimin ndak bakal rela terhadap kedua agama tersebut.

Dalam arti, ndak menerima ajaran mereka, tetapi hal itu ndak menghalangi para pemeluk ketiga agama itu demi bekerjasama dalam hal muamalat, yaitu membenahi nasib bareng dalam mencapai kesejahteraan materi. Mereka dapat bekerjasama demi mengatur kesejahteraan materi  tersebut dengan mempergunakan ajaran masing-masing. Cukup indah, tetapi sederhana bukan?

Jakarta, 26 Agustus 2002
Duta Masarakat Baru

Source by Ahmad Naufal

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

KOMENTAR: Jika ada artikel yang salah, dll, silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.