Tulisan Gus Dur: Islam, antara Tahu dan Mengerti

Tulisan Gus Dur: Islam, antara Tahu dan Mengerti

Tulisan Gus Dur: Islam, antara Tahu dan Mengerti

Dalam sebuah perjumpaan di Beirut ibu kota Lebanon penulis menerangkan soal Kemajuan Islam di Indonesia. Ada yang bersamaan dengan Kemajuan Islam dan ada pula yang tak sama. Sehingga mau tidak mau kita wajib mempergunakan study wilayah Islam (Islamic Tempat Studies), yang secara umum dibagi enam wilayah oleh penulis, yaitu kajian Islam di wilayah Afrika Hitam, Afrika Utara, masarakat Arab, kajian Islam di masyarakat-masyarakat Asia Selatan (Bangladesh-Nepal-Pakistan-India-Srilanka), kajian Islam di wilayah Asia Tenggara (termasuk Indonesia) dan kajian Islam di wilayah negara-negara berindustri maju (Jepang-Korea Selatan-Amerika Serikat-Canada dan negara-negara Eropa Barat). Kajian wilayah itu tentu saja empirik atau berdasar keadaan sebenarnya yang ada.

Umpamanya saja para Ulama (seperti para kiai, Syekh dan Tuan Guru) di negeri kita, yang memperkenankan para perempuan penganut mereka bersalaman mencium tangan mereka. Ini tidak ada di wilayah lain, kecuali Islam di wilayah Afrika Hitam, sebab kaidah hukum Islam (qa’idah fiqhiyyah) yang dipakai di Indonesia juga tak sama, yaitu “Segala sesuatu tergantung pada maksudnya” (Al-Umur bi maqa sidihah). Mustahil wanita yang mencium tangan ulama dengan maksud yang negatif melainkan cuma untuk menghormati beliau-beliau saja. Ini tentu saja berhadapan dengan hukum agama yang formal, yaitu perempuan yang bukan pasangan atau saudara –(bukan muhrim), tidak boleh bersentuhan sama sekali.

Dalam uraiannya itu, penulis juga menyebutkan mendiang Syekh Abdul Halim Mahmud yang lantas jadi Syekh Al-Azhar menutup telinga kalau menguping seorang wanita membaca al-Qur’an dengan suara lantang di depan orang beberapa. Beliau beranggapan suara wanita ialah “aurat” yang tidak layak dilihat atau didengar laki-laki. Pandangan beliau yang terlalu konservatif itu tentu saja tidak diikuti siapapun di negeri kita. Di sinilah perbedaan kita rasakan antara tiap-tiap wilayah dunia Islam yang wajib diketahui.

Sedemikian pula, penulis menyampaikan soal bermacam karena yang pada akhirnya memunculkan sikap anggota milisi di kalangan kaum Muslimin (berhalauan keras) yang pada akhirnya menumbuhkan terorisme di kalangan mereka. Terorisme itu ada yang bersifat sementara, seperti terjadi di beberapa tempat, tetapi ada pula yang bersifat permanen seperti pemboman Kendat (suicidal bombing). Bermacam ragam teori dikemukakan orang, baik bersifat kultural, ekonomis antropologis, maupun sebab-sebab lain, akan tetapi sesungguhnya perbuatan itu sendiri memperlihatkan perasaan putus asa di kalangan mereka sendiri, yang bahkan dibesar-besarkan oleh “analisa” serba tanggung di kalangan mereka, sehingga masalahnya makin jadi kompleks bagi wilayah yang terkena.Dalam hal ini beberapa timbul pertanyaan-pertanyaan dari hadirin, khususnya Soal sikap para pejuang Palestina yang tergabung dalam Fidaiyyin, Hamas dan lain-lain. Penulis tetap pada pendirian bahwa sesungguhnya perjuangan mereka berubah jadi tindak aksi anarkis, sebab mereka sendiri merasa “jalan lain” -seperti perundingan, dengan pihak Israel sudah mencapai kegagalan total. Sebab perundingan jadi sebuah proses yang berjalan berlebihan lama, kesabaran mereka habis, dan mereka cuma menyaksikan tindak aksi anarkis selaku “satu-satunya” jalan yang wajib ditempuh untuk mencapai kemerdekaan yang adil.

Loading...
loading...

Kondisi ini sama dengan yang dinikmati sebagian para pejuang kita distop masa Perang Gerilya yang kita lancarkan kepada serdadu Belanda menjelang pertengahan 1949 di semua Indonesia. Kalau seandainya LN Pallar tidak sukses merebut simpati PBB akan perdamaian dan kemerdekaan yang kita proklamirkan pada 17 Agustus 1945, serta Hatta cs tidak sukses “memaksa” pihak Belanda untuk bernegosiasi soal kemerdekaan kita pada Konfrensi Meja Bundar (KMB) di negeri Belanda, tentu akan terjadi hal yang sama, yaitu terorisme dan pengunaan aksi anarkis, dalam hal ini antara para pejuang kita di 1 pihak dan serdadu Belanda di pihak lain. Masalahnya, kita “beruntung” pihak lawan juga terdesak dan siap bernegosiasi, yang artinya pejuang kita menyaksikan ‘sikap mengalah’ dalam beberapa hal muncul dari pihak lain, dengan seperti ini perundingan bisa langsungkan. Dari Perkara Indonesia-Belanda berlangsung teori Von Clausewitz, yaitu perundingan ialah kelanjutan dari perang yang tidak mencapai maksud.

Kondisi di Palestina sekarang ini ialah kebalikan dari gambaran di atas. Yasser Arafat bahkan berlebihan lemah untuk “memaksakan” perdamaian atas bangsa Palestina, sedangkan Ariel Sharon berlebihan lemah untuk “memaksa” bangsa Israel supaya bernegosiasi dengan pihak Palestina. Di sinilah tragisnya dan di sini pula terletak “jalan buntu” yang semestinya dibuka untuk perundingan antara ke-2 belah pihak. Kita berkeinginan “jalan tengah” yang diambil baru-baru ini, seperti inisiatif Sharon menyampaikan Menlu Shalom untuk bernegosiasi dengan Presiden Mesir Hosni Mubarak di Roma, dikombinasikan dengan paket dukungan keuangan diusulkan PM Ahmad Qorei dari Eropa Barat sebesar 2,4 Milyar dollar AS untuk pihak Palestina baru-baru ini, akan membawa ke-2 belah pihak kembali ke meja perundingan dalam jangka panjang.

*****

Kembali ke konfrensi kerja regional yang digelar Lebret Center di Beirut tadi. Penulis berhadapan dengan juga sebuah pertanyaan dari seorang perempuan kelahiran dan berbangsa Jerman anak cucu Turki, penulis di bermacam media Jerman, Dr Saliha Scheinhardt Sapcioglu,. Sebelas tahun lalu, ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri 37 orang intelek Turki mati secara terlalu menyedihkan di lantai 12 di sebuah hotel kecil di kota Sivas, sebuah kota kecil di wilayah Timur Turki. Mereka terbakar hidup-hidup, sebab seorang mubaliqh lokal memerintahkan warga setempat untuk melaksanakan pembakaran tersebut.

Ia berkata bagaimana bisa saya jelaskan hal itu ke publik Jerman?” katanya dengan suara yang terlalu sedih. Bahwa Islam ialah agama toleransi, sedangkan saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri mereka dibunuh atas perintah seorang Mubaliqh lokal? Ibu Saliha itu menanyakan dalam bahasa Inggris dengan suara terbata-bata ke penulis, yang tercengang atas pertanyaan yang tidak terduga itu. Para peserta lain dan peyelenggara konfrensi kerja itu juga Ikut tercengang. Penulis menjawab: Ibu wajib membedakan dulu, antara tahu dan mengerti (know and understand). Dalam Islam dikenal perbedaan ini, yang tahu (Arif) belum tentu mengerti (Alim), seperti ini pula sebaliknya. Yang tahu belum tentu mengerti nilai kemanusiaan yang ada dalam jiwa seorang manusia. Sebaliknya yang mengerti tidak mengetahui bahwa tindakan mematikan dengan jalan membakar itu, akan merusak citra Islam dan juga merusak prikemanusiaan secara keseluruhan. Respon penulis itu, rupanya mengena  di hati penulis perempuan Turki  yang terlalu terkenal namanya di media Jerman itu ia mencium lutut penulis dan berkata terbata-bata dan mengumumkan: Telah sebelas tahun saya mencari respon ini, Alhamdulillah saya mendapatkannya sekarang.

Penulis tercengang atas pernyataan itu, dan meminta supaya supaya pimpinan Sidang Koferensi Kerja Regional yang terdiri dari bermacam bangsa tersebut merecord apa yang jadi dialog antara penulis dan ibu Saliha dari Turki itu mengisi media Jerman secara luas, dan hasilnya dikirimkan ke penulis di Indonesia. Mereka setuju, dan Ibu Saliha itu juga setuju untuk nantinya mengunjungi ke Indonesia atas undangan penulis. Jelaslah, bahwa kita selaku bangsa Muslim berhak memimpin dan mengarahkan dunia Islam di waktu-waktu yang akan Hadir? Tetapi hal itu mudah dikatakan akan tetapi sulit Dilakukan, bukan?

Jakarta, 17 Desember 2003 (Kedaulatan Rakyat)

Loading...

Source by Ahmad Naufal

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *