Tulisan Gus Dur: Gandhi, Islam dan Aksi anarkis

Tulisan Gus Dur: Gandhi, Islam dan Aksi anarkis

Ulang tahun ke-101 Mahatma Gandhi, bulan Oktober yang lalu dirayakan secara sederhana. Tokoh pejuang berkebangsaan India ini terkenal dengan ajaran yang menentang aksi anarkis (satya graha), yang digunakannya dalam perjuangan menuntut kemerdekaan secara damai bagi India dari tangan Inggris. Demi itu, ia meninggalkan praktek hukum yang amat menguntungkan di Afrika Selatan, dan kembali ke India demi memimpin perjuangan kemerdekaan. Sebab hal itu dilakukannya tanpa kekerasaan, maka kita yang melaksanakan peperangan melawan Belanda dalam menuntut kemerdekaan, cenderung demi meremehkan arti perjuangan damai yang mereka lakukan. Ini ialah wajar saja, yang ndak wajar ialah kecenderungan melihat rendah perjuangan kemerdekaan di India itu. Sikap inilah yang perlu kita ubah , supaya ndak mewarnai hubungan kita dengan negeri-negeri lain.

India, seusai perang kemerdekaan setelah, ternyata menumbuhkan dua hal yang amat penting, yaitu ketundukan terhadap hukum dan berani mengembangkan identitas bangsa tersebut. Ketundukan terhadap hukum itu nampak nyata dalam kehidupan sehari-hari, seperti waktu seorang tamtama polisi menulis dalam buku catatannya hal-hal yang membikin ia menahan/menangkap seseorang. sesudah keterangan tertulis itu dibacakan terhadap si tertangkap, maka ia diminta menyepakati “pra/kabar acara polisi!” itu, maka dokumen yang bertanda tangan masyarakat itu, dijadikan pegangan demi memeriksanya dengan teliti dan mengadilinya di pengadilan, jika memang ia pantas diganjar. Dengan kata lain, cuma orang yang memang ada indikasi kuat secara obyektiflah yang ditahan, bukannya keterangan oknum polisi tersebut. Karenanya masyarakat negara India lebih tidak sedikit dilindungi oleh hukum, dibandingkan masyarakat negara kita di negeri sendiri.

Tetapi, ini ndak artinya undang-undang (law) di India telah mencerminkan keadilan, sebab memang ndak seperti inilah halnya. Tidak sedikit undang-undang yang dihasilkan Lok Sabha, ndak menuntaskan problem hak-hak bocah-bocah dan wanita, dan juga penjagaan terhadap kerja paksa (Bounded Labour). Kedudukan buruh paksa itu amat rendah secara sosial,  hal ini diperkuat oleh agama Hindu dengan sistem kastanya. Datanglah Gandhi dengan ajakan menciptakan masarakat tanpa kasta, dan melihat mereka dari kasta terbawah (Sudra) selaku harijan (anak tuhan). Ternyata, penolakannya atas aksi anarkis menumbuhkan rasa perikemanusiaan yang amat dalam pada diri Gandhi. Dan ini pula, yang membikin orang-orang Indofundamentalis/ekstrim membunuhnya pada tahun 1948.

*****

Islam juga mengajarkan hidup tanpa aksi anarkis. Satu-satunya alasan demi mempergunakan aksi anarkis, ialah kalau kaum muslimin diusir dari tempat tinggal mereka (idza ukhiriju min diyarihim). Itupun masih pro kontra, bolehkah kaum muslimin menghabisi orang lain, kalau jiwanya sendiri ndak terancam? Demikianlah Islam berjalan berabad-abad lamanya tanpa aksi anarkis, termasuk penyebaran agama tersebut di negeri ini. Alangkah jauh bedanya dengan sikap sementara fundamentalis/teroris muslim dimana-mana dewasa ini. Terjadi  pergolakan berdarah di sementara daerah, seperti Poso, Sulawesi Tengah dan Ambon/Maluku, Begitu juga, mereka yang berhaluan “garis keras” di kalangan berbagai gerakan Islam di sini, berlalu-lalang kian-kemari membawa pedang, celurit, bom, granat serta senapan rakitan.  Perbuatan itu terang melangar undang-undang, tetapi tanpa ada tindakan apapun dari pemerintah.

Bahkan banyak kategori gerakan memberlakukan pembersihan/sweeping dan memecat kendaraan demi diperiksa sesuka hati. Pernah juga terjadi, dikerjakan sweeping atas coffee house di Kemang, Jakarta, untuk demi menegakkan syari’ah Islamiah di negeri ini. Anehnya, botol-botol <i>sandich</i> dipecahkan dibuang ke lantai, sebab berharga murah, sebaliknya <i>wishky</i> dan <i>vodka</i> yang berharga mahal dibawa pulang dalam keadan utuh, mungkin demi dijual lagi. Sikap  mendua yang materialistik ini memperkuat dugaan bahwa di antara para fundamentalis itu ada orang-orang bayaran dari luar. Masalahnya, mengapakah para pemimpin berbagai gerakan tersebut ndak dapat mengendalikan anak buah mereka ?

Sikap mempergunakan aksi anarkis itu, juga ndak tidak banyak didorong oleh berbagai produk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD I dan DPRD II) diberbagai wilayah, seperti di Sumatra Barat, Garut, Tasikmalaya dan Pemekasan berkecenderungan demi memberlakukan syari’ah Islamiyah secara formal. Umpamanya saja dalam bentuk peraturan daerah, hal itu melambangkan kuatnya ghirah demi menolak tindakan-tindakan yang bertentangan dengan syari’ah Islamiyah ketika masa orde baru. Jadi, sejatinya sikap itu ndak tak sama jauh dengan orang-orang fundamentalis itu. Karenanya, sidang kabinet di waktu penulis masih sebagai Presiden mengambil keputusan bahwa Pemerintah Daerah (Perda) yang berlawanan dengan Undang-undang Dasar (UUD) dinilai ndak berlaku. Penulis beranggapan, keputusan para pendiri negara ini termasuk 7 (tujuh) orang pemimpin berbagai gerakan Islam, demi memisahkan agama dan negara, masih berlaku dan belum dicabut oleh siapapun.

****

Lalu, mengapakah ada orang-orang fundamentalis itu yang umumnya terdiri dari orang-orang muda yang terampil yang cakap secara teknis, akan tetapi ndak pernah terang diri mereka secara psikologis? Jawabnya sejatinya sederhana saja. Pertama sebab orang-orang itu menyaksikan kaum muslimin tertinggal jauh ke belakang dari orang-orang lain. Nah, “ketertinggalan” itu mereka kejar secara fisik, yaitu mempergunakan aksi anarkis demi menghalangi kemajuan materialistik dan duniawi itu. Mereka lebih mementingkan berbagai institusi kaum muslimin, dan ndak percaya bahwa budaya kaum muslimin dapat mendukung mereka demi meninggalkan kelompok-kelompok lain.  Nantinya “mengejar ketertinggalan” dengan cara  penolakan atas “Budaya Barat” bakal dilupakan, sebab kecakapan yang mereka miliki berasal dari “Dunia Barat”.

Aspek kedua dari munculnya gerakan-gerakan fundamentalistik ini ialah proses pendangkalan agama yang menghinggapi kaum muda muslimin sendiri. Sebab mereka kebanyakan ialah ahli matematika dan ilmu-ilmu eksakta lainya, para ahli ekonomi yang full dengan hitungan-hitungan rasional dan para dokter yang senantiasa bekerja secara empirik. Dengan sendirinya ndak ada waktu bagi mereka demi mempelajari agama Islam dengan mendalam. Karenanya, mereka mencari jalan pintas dengan kembali terhadap sumber-sumber teksual Islam seperti Al-Qur’an dan Al-Hadist, tanpa mempelajari berbagai penafsiran dan pendapat-pendapat hukum Akhwalul Kulkumi yang telah berjalan berabad-abad lamanya.

Sebab itulah, mereka mencukupkan diri dengan sumber-sumber tekstual yang ada. Sebab mereka biasa menghafal berbagai nama obat-obatan <i>(Vademecum)</i> dan benda-benda lain, dengan mudah mereka menghafal ayat-ayat dan hadist-hadist dalam hitungan total besar yang menimbulkan kekaguman orang. Sebab itu mereka merasa iri terhadap para ahli agama, tetapi sebab pengetahuan mereka yang amat terbatas soal Islam, akhirnya membikin mereka fundamentalis. Sebab sumber-sumber tertulis itu diturunkan dalam abad ke-7 sampai ke-8 masehi di Jazirah Arabia tentu dibutuhkan penafsiran yang kontemporer dan bertanggungjawab demi memahami kedua sumber tertulis diatas. Tetapi akibatnya bagi kaum muslimin lainnya dan bagi seluruh duania pula amat drastis, tindak aksi anarkis yang telah biasa mewarnai langkah-langkah mereka, dinilai oleh masarakat dunia selaku ciri khas gerakan Islam. Jadi, respon pertanyaan diatas sejatinya sederhana saja, walaupun tampaknya rumit, bukan?

Jakarta, 8 November 2002

Kedaulatan Rakyat

Source by Ahmad Naufal

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

KOMENTAR: Jika ada artikel yang salah, dll, silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.