Tradisi Sedekah Laut itu ‘Syirik’ ?

Tradisi Sedekah Laut itu ‘Syirik’ ?

Tradisi Sedekah Laut itu ‘Syirik’ ?

Semenjak beberapa hari yang lalu, agak heboh di media sosial terkait penyelenggaraan ritual tradisi sedekah laut. Warga tradisional menganggap bahwa sedekah laut Adalah ritual yang telah ada semenjak zaman nenek moyang. Tujuannya tidak lain ialah selaku sebuah penghormatan kepada para leluhur, selaku aktifitas gotong royong yang juga menandakan rasa syukur warga kepada karunia Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sedekah laut biasa ditunaikan tiap-tiap 1 tahun sekali. Selama ini, prosesnya berjalan lancar tanpa hambatan pihak lain yang menganggap bahwa ritual tersebut bagian dari kesesatan atau kesyirikan. Tapi entah mengapa baru-baru ini, di beberapa daerah ditolak oleh suatu kubu dan beranggapan bahwa itu tidak sesuai dengan Syariat Islam.

Di Bantul misalnya, kubu tersebut mengobrak-abrik tatanan kursi dan meja di tempat. Kecuali itu, mereka memasang spanduk bertuliskan ‘Kami Tidak mau seluruh kesyirikan berbalut budaya, sedekah laut atau selainnya’. Kata seorang masyarakat yang jadi saksi mata waktu kejadian, mereka meminta supaya ritual sedekah bumi dibubarkan sebab dinilai syirik dan musrik, serta bertentangan dengan agama.

(Sumber: https://m.detik.com/news/berita-jawa-tengah/d-4254941/tradisi-sedekah-laut-bantul-dibubarkan-warga-mereka-bilang-syirik)

melansir twit dari akun twitter @AfifFuadS (Afif Fuad Saidi), tema pembubaran ialah soal “kemusyrikan” dan tidak mau menerima budaya luhur nenek moyang kita, ini soal puritanisme, konservatisme agama kelompok-kelompok kecil yang kian memperoleh tempat di Warga.

Ini alarm warning bagi kita seluruh, bahwa mereka telah bernyali bertindak anarkis mengatasnamakan Agama. Ini Adalah ulah kubu yang selama ini sering membid’ahkan, mengkafirkan yang lain dan tidak mau ada asimilasi budaya luhur dengan agama yang masing-masing kita anut.

Paham puritanisme, tekstual dan egois dalam beragama ini bahaya. Diawali oleh Intolransi, sebuah pemahaman yang tidak sama dengannya ialah salah, mengakui yang paling benar dan lantas eklusifivisme tercipta. Intoleransi akan melahirkan radikalisme, sikap intoleran saat disertai tindakan inilah radikalisme. Tatkala mereka telah merasa besar dan bernyali melawan, kejadian diatas (pembubaran ritual sedekah laut) ialah contoh nyata, bagaimana kalau tidak sepaham, tak sama, dirusaknya, dihancurkannya. Dan pada akhirnya sikap ini akan melahirkan apa yg disebut terorisme, mereka akan melaksanakan teror pada apa yang dinilai tidak sama, merusak, menghabisi bahkan, ya, atasnama agama mereka, atas nama tuhan mereka. ini bahaya!

Loading...
loading...

Bantul, Yogyakarta ialah kota budaya. Kota dengan sederet peninggalan budaya yang tidak ternilai harganya. Sekarang bagian adat budayanya dirusak, dikecam oleh mereka yang mabuk agama. Jangan biarkan, tindak, dan jangan takut. Jangan kalah oleh kubu kecil yang akan merusak damai bangsa ini.

Menurut dia, kejadian ini Adalah awal atas tindakan radikal kubu tersebut, kalau tidak dilawan maka akan terus dan akan kian jadi. Tidak ada aksi anarkis dalam Agama. Kita telah lama hidup dalam gandeng mesra budaya nenek moyang dan agama yang kita anut, dan tidak problem. Kalau waktu ini mereka bernyali congak, ini ialah salah kita seluruh, yang diam atas ulah mereka selama ini. Mereka ada di mana-mana dan kita membiarkannya. Lawan! Indonesia bukan tempat bagi pemeluk konservatism agama, ‘Sing waras ojo ngalah’.

Indonesia pada bentangan Bhineka tunggal ika dan pancasila selaku payung teduhnya, konsensus kebangsaan wajib kita jaga bareng. Rajut indah toleransi ini wajib kita rawat bareng, lawan kalau ada ada yg mencoba merusaknya! Kalau ini dibirakan, anak cucu kita tidak akan menyaksikan betapa moyang kita dahulu punya tradisi luhur yang pada muaranya sarat dengan nilai-nilai luhur agama, toleransi, kedamaian, gotong royong dan persatuan dalam ragam perbedaan.

Kalau ini dibiarkan, maka anak cucu kita tidak akan mampu menghirup udara kedamaian, kerukunan dan toleransi. Inginkah anak cucu kita bernasib seperti anak kecil di negara-negara konflik yang mereka berteriak atasnama agama? jangan sampai!

Terakhir ia menuliskan bahwa Indonesia damai dan toleran sebab budaya luhur moyang mampu bersanding mesra dengan pemaknaan agama yang kita anut. Pluralitas ialah sebuah keniscayaan. Jangan beri tempat pada mereka yg mencoba memonopli bangsa ini atasnama agama. Lawan!

Dalam bagian Qaidah Fiqhiyah, masyarakat NU mengenal prinsip ‘Al muhafadzatu ala qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah’ (usaha pelestarian nilai-nilai (luhur) yang baik di masa lalu dan melaksanakan adopsi nilai-nilai baru yang lebih baik). Artinya, saat ada sebuah budaya atau tradisi di suatu daerah yang baik, maka NU tidak serta merta menolaknya cuma sebab dinilai tidak sesuai dengan syariat Islam. NU menerima dan lantas menyelaraskannya dengan nilai-nilai Islami, supaya budaya dan tradisi itu terus menerus ada dan tidak bertentangan dengan syariat agama. Karena power dan ciri khas bangsa Indonesia ada pada tradisi dan budayanya yang bermacam. Kalau tidak dirawat, hilanglah seluruh tergerus dan tertelan zaman yang makin tua dan rapuh.
Selaku anak muda, tentu kita Penting melestarikannya tanpa ada embel-embel tudingan sesat yang mengatasnamakan agama.

Vinanda Febriani

(Suaraislam)

Loading...


Suara Islam Shared by Ahmad Zaini

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *