Tokoh Wahabi Indonesia Dapat Teguran Menteri Dakwah Arab Saudi

Tokoh Wahabi Indonesia Dapat Teguran Menteri Dakwah Arab Saudi. Syaikh Jiilan menekankan supaya para aktivis dakwah Wahabi lebih melapangkan dada untuk saling menasihati. Dan ndak terjebak ke dalam fanatisme kubu. Bagian wujudnya ialah membuka diri kepada orang lain dan memperluas referensi.
“Jangan membatasi diri dengan satu atau dua ulama; satu atau dua buku saja (selaku rujukan). Pakai juga yang lain! Sehingga saat ada orang yang hendak mengkritik, mereka ndak memperoleh celah.” Ujarnya yang lebih merupakan teguran kepada para tokoh Wahabi Indonesia.
Di depan Pendakwah Salafi, Pejabat kementrian agama Saudi Ingatkan supaya hati-hati keluarkan kata Bid’ah. Deputi Menteri bidang Da’wah pada Kementerian Urusan Keislaman, Da’wah dan Penyuluhan Arab Saudi Dr. Ahmad Jiilan berdialog dengan sejumlah aktivis media dan pendakwah Salafi.
Di antara tokoh Wahabi Indonesia yang datang pada acara itu ialah :
1. Pembina Radio Rodja Ustadz Badrussalam
2. Pembina Surau TV Ustadz Muhamamd Elvi Syam
3. Direktur Wesal TV Ustadz Afifudin Rohaly
4. sekretaris jendral Asosiasi Radio- Televisi Islam Indonesia (ARTVISI) Ustadz Diding Sobarudin dan perwakilan dari Jurnalis Islam Bersatu (JITU).

Para Tokoh Wahabi Indonesia Diingatkan Supaya Mengambil Pandangan Beberapa Ulama

Syaikh Jiilan menekankan supaya ummat Islam ndak mengambil pandangan cuma dari beberapa ulama saja, tetapi ambillah dari ulama di berbagai negeri.
“Saya ndak menyalahkan kalian menggunakan Syaikh Bin Baz, sebab beliau ialah ulama ummat, bukan ulama Kerajaan. Tetapi saya ingin kalian juga mengambil ulama Yaman, Mesir, Suriah, dan juga ulama Indonesia (selaku rujukan),” papar Dr. Ahmad Jiilan
Menurut Syaikh Jillan, sikap hormat mesti diberikan ke ulama Indonesia sebab mereka yang jadi teladan ummat.
“Sisi lain yang juga perlu diperhatikan, manusia itu mengikuti ulama negerinya. Seiring dengan penghormatan kalian kepada ulama Saudi dan lainnya, kalian mesti menghormati dan mengambil ilmu dari para teladan ummat di Indonesia,” tegas beliau.
Syaikh Jiilan berpendapat, bila ada seorang tokoh yang telah berjasa selama puluhan tahun dalam dakwah Islam, mereka mesti dihormati. “Datangilah mereka,” tandasnya.
Belajar dari Sikap Ibnu Taimiyah
Sementara itu, Deputi bidang Media Kementerian Agama Arab Saudi Dr Rasyid Az-Zahrani, yang juga datang dalam perbincangan itu, menyebutkan sikap mulia Ibnu Taimiyah yang dapat dicontoh. Dalam dakwah Islam, Ibnu Taimiyah sudah berhadapan dengan pertentangan kuat dari seorang ahli kalam. Tapi saat orang itu meninggal dunia, Ibnu Taimiyah menanggung ongkos hidup istri dan keluarganya. Ia ndak menjadikan orang yang berseberangan selaku musuh yang mesti dibenci, tetapi selaku peluang dakwah yang berkemungkinan besar menerima jalan kebenaran.
Selain itu, penyebaran dakwah Islam juga dihambat oleh fenomena sebagian pendakwah yang keras dalam bersikap dan menuduh tiap-tiap orang yang ia lihat salah selaku ahli bid’ah. Selain mempersempit dakwah, tindakan ini menurut dia, mirip dengan orang-orang yang berlebih-lebihan dalam takfir.
“Jangan berlebihan mudah menuding; ini bid’ah, itu bid’ah. Bila keterlaluan, maka ini akan menjerumuskan ke dalam takfir serampangan (mengkafirkan orang yang ndak berdasar),” ujar Dr. Ahmad Jiilan.

Mengharap bersatunya para tokoh Wahabi Indonesia

Menurut beliau, orang yang beberapa manfaat bagi ummat selama mereka bagian dari ahli Sunnah, perlu didekati dan dirangkul. Bukan dijauhi. Karena, sempitnya pandangan sebagian pendakwah itu sudah membikin mereka terpecah-pecah dan ndak menyatu.
Maka ini mesti dihindari, dan hendaknya berusaha untuk lebih lapang dada dan terbuka. Ia berkeinginan bila umur panjang, ndak lagi menyaksikan perpecahan di antara mereka.
“Saya berkeinginan bila umur panjang, dan kita berjumpa lagi dua atau 3 tahun lagi. Saya ndak menemui lagi perpecahan di antara salafi.” Ujar beliau full ingin akan bersatunya para tokoh Wahabi Indonesia.
source

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :