Fikih Islam

Tips Tarawih Ngebut, tapi Sah Secara Fiqh

Iklan

Sebenarnya kemarin sudah aku posting Dalil Bolehnya Tarawih Tremendous Ngebut Walau Tanpa Thuma’ninah, akan tetapi Thumakninah yang tak diharuskan ialah menurut madzhab selain Syafiiyah, sebenarnya kalau pembaca pernah ngaji fiqh dan pernah membicarakan konsep Hukum bagi orang awam pasti bakal taslim dengan postingan tersebut. Sebab konsep bagi awam ialah Al-Amy La Madzhaba lahu, dan konsep ini tak bakal aku ulas disini sebab bisa berakibat Tasahhul Fiddin.

Sesuai Judul diatas pembahasan kali ini terkhusus pada sahnya shalat secara fiqh syafii tidak madzhab lain dan tidak secara Tasawuf. dan pembahasan disini cuma mengambil Rukun wajib versi madzhab syafi’i yangpernah diterbitka di NU On-line Oleh Mas Abdurrohim dan disini sedikit aku tambah keterangan.

Ada berbagai ideas secara fiqih selaku aturan dalam melakukan shalat dengan cepat.

  1. Niat dan Takbir

Takbiratul Ihram dilaksanakan bersamaan dengan niat di dalam hati. Keduanya merupakan bagian daripada rukun shalat. Lafadz takbiratul Ihram ialah Allahu Akbar ( ) atau Allahul Akbar ( ). Dua lafadz takbir ini diizinkan, kecuali oleh Imam Malik, sehingga ulama menyarankan supaya cuma mempergunakan lafadz “Allahu Akbar”, untuk menghindari khilaf ulama.

Niat di dalam hati. Adapun melafadzkan niat dihukumi sunnah supaya lisan bisa membantu hati dalam menghadirkan niat. Niat shalat wajib cuma perlu memenuhi 3 unsur, yaitu: (1). Qashdul fi’il (menyengaja suatu perbuatan) sebagaimana lafadh Ushalli (sengaja saya shalat…); (2). Ta’yin (menentukan kategori shalat), sebagaimana Dhuhur, ‘Asar, dan lain-lain; dan (3) Fardliyyah (menyatakan kefardluannya), sebagaimana lafadz ‘Fardlan’.

Sedangkan shalat sunnah (kecuali sunnah muthlaq) cuma perlu memenuhi 2 unsur, yaitu Qashdul Fi’li dan Ta’yin. Misalnya shalat tarawih, maka niatnya lumayan dengan lafadh “sengaja saya shalat tarawih” atau “sengaja saya shalat qiyam ramadlan”, telah mencukupi.

seusai takbir disunnahkan membaca do’a Iftitah, dan ini bisa ditinggalkan.

Tambahan aku: Maksudnya tak usah melafalkan niat, langsung saja Takbiratul Ihram disertai niat dalam hati dengan niat”sengaja saya shalat tarawih” atau saya menyengaja ”shalat tarawih” kalau diarabkan lumayan nawaitu Tarawiha, sesudah takbir langsung membaca fatihah tanpa doa iftitah.

  1. Membaca Surah Al-Fatihah

Membaca surah al-Fatihah hukumnya wajib, tak bisa ditinggalkan. Dalam hadits shahih dijelaskan ” (Tak shalat kecuali dengan surah Al-Fatihah)”. Dalam hal ini, diperlukan kemahiran membaca cepat dengan tetap menjaga makhrijul huruf dan tajwidnya. Bila sanggup, boleh saja membaca dengan satu kali nafas atau washol seluruhnya selama tak mengubah makna.

Membaca surah al-Qur’an sesudah al-Fatihah, hukumnya sunnah. Bila ditinggalkan maka tak disunnahkan sujud sahwi. Oleh sebab, Imam hendaknya tetap membaca surah walaupun pendek, bahkan walaupun satu ayat.

Sedangkan bagi makmum, sering kali tak mempunyai lumayan waktu membaca surah Al-Fatihah bila menanti imam selesai. Oleh sebab itu, makmum hendaknya bisa memperkirakan lama bacaan surah Imam atau membaca al-Fatihah bersamaan dengan Imam, atau pada pertengahan bacaan Al-Fatihah imam lalu disambung kembali ketika selesai mengucapkan amin.

Dalam membaca surah al-Fatihah, ada berbagai hal yang perlu diperhatikan, di antaranya:

a. Ulama Syafi’i dan ulama lainnya memperbolehkan membaca surah Al-Fatihah dalam shalat dengan bagian qira’ah sab’ah, dan tak membolehkan qira’ah syaddah. Tetapi apabila membaca dengan qira’ah syaddah tanpa terjadi perubahan pada maknanya, tak ada tambahan atau pengurangan huruf maka shalatnya tetap sah.

b. Wajib membaca surah Al-Fatihah dengan keseluruhan huruf-hurufnya dan tasydid-tasydinya yang berjumlah 14 tasydid.

c. Apabila membaca dengan Lahn (irama/langgam) yang mengubah makna maka tak sah bacaan dan shalatnya bila disengaja. Bila tak sengaja maka wajib diulang bacaannya.

Tambahan Aku: Maksud fatihah diwashalkan ialah menyambung antara ayat satu dengan ayat seterusnya tanpa berhenti/waqaf dengan satu nafas, misal:

Bismillahirrahmaanirrahiimilhamdulillahirabbil ‘aalamiinarrahmaanirrahim dan seterusnya.
Lalu kalau imam berlebihan cepat fatihahnya dan makmum tak bisa merampungkan bacaan fatihah maka bisa langsung Rukuk dengan mengikuti Qaul Ulama yang memperbolehkan langsung rukuk ( baca 3. Tertinggal Fatihah Imam disini)

  1. Ruku’, I’tidal, Sujud dan Duduk Diantara Dua Sujud

Yang terpenting dari rukun-rukun shalat diatas ialah thuma’ninah. Thuma’niah ialah berhenti sejenak sesudah bergerak, lamanya sekadar membaca tasbih (Subhanallah). Kira-kira 1 detik atau tak sampai 1 detik.

Bacaan dalam ruku’, i’tidal, sujud dan duduk diantara dua sujud hukumnya sunnah, sehingga bisa ditinggalkan. Tetapi shalat cepat, bacaan tersebut amat mencukupi untuk membacanya sehingga sebaiknya tak ditinggalkan.

Tambahan Aku: Spesial pada Shalat sunnah (sebagaimana tarawih ini) sebagian Ulama Syafiiyah tak menghukumi wajib Thuma’ninah dalam i’tidal dan duduk diantara 2 sujud(lihat i’anah atthalibin).

Lama Bacaan Subhanallah itu relatif, ada yang 1 detik, 2 detik, 3 detik bahkan ada yang cuma setengah detik. yang terpenting dari gerakan Thuma’ninah ialah diam walau sebentar.

  1. Tasyahud
    Tasyahud akhir hukumnya wajib, sehingga tak boleh ditinggalkan. Sedangkan tasyahhud awal bagi shalat yang lebih dari 2 raka’at hukumnya sunnah, sehingga bisa saja ditinggalkan, tetapi disunnahkan sujud sahwi, bagus ditinggalkan sebab lupa maupun sengaja. Tasyahhud dibaca secara sir (lirih) berdasarkan ijma’ kaum muslimin.

Shalat tarawih dikerjakan dengan 2 raka’at satu kali salam, artinya cuma ada tasyahhud akhir.

Bacaan Tasyahhud

Ada berbagai bacaan tasyahhud sebagaimana dalam riwayat-riwayat hadits. Diantaranya :

a. Riwayat Ibnu Mas’ud :

b. Riwayat Ibnu ‘Abbas :

c. Riwayat Abu Musa al-Asy’ari :

d. Riwayat lainnya :

Imam Al-Baihaqi menjelaskan bahwa yang tsabit dari Rasulullah Noticed ada tiga hadits: hadits Ibnu Ma’sud, Ibnu ‘Abbas dan Abu Musa al-Asy’ari. Ulama lainnya menjelaskan bahwa ketiganya shahih, dan yang paling shahih hadits Ibnu Mas’ud

Imam al-Nawawi menjelaskan, boleh menggunakan tasyahhud yang mana saja, sebagaimana nash Imam al-Syafi’i dan ulama lainnya. Tetapi, menurut Imam al-Syafi’i, yang paling utama (afdlol) ialah hadits Ibnu ‘Abbas sebab ada tambahan lafadh al-Mubarakatu ().

Bolehkah Membuang Bagian Daripada Tasyahhud?

Dalam hal ini, ada berbagai rincian, bahwa lafadz al-Mubarakatu, al-Shalawatu, al-Thayyibatu, dan al-Zakiyyatu ( ) hukumnya sunnah, tidak syarat daripada tasyahhud.

Seandainya juga membuang semuanya lalu mempersingkatnya sebagai “At-Tahiyyatu Lillahi Assalamu’alaika Ayyuhannabiyyu… dan seterusnya ( … ), maka hukumnya boleh. Dalam hal ini, tak ada perbedaan didalam madzhab Syafi’iyah.

Sedangkan lafadh “Assalamu’alaika Ayyuhannabiyyu .. dan seterusnya ( … ), wajib dibaca semuanya. Tetapi dalam dalam ini juga masih ada pengecualian yaitu pada lafadh “Wa Rahmatullah wa Barakatuh ( )”.

Bolehkah Membuang Lafadh ” “?

Dalam hal ini, setidaknya ada tiga pandangan:

Pertama, pandangan yang paling shahih, ialah tak boleh membuang satu juga dari lafadh tersebut.

Kedua, boleh membuang dua lafadh tersebut” “.

Ketiga, boleh membuang lafadh “wa Barakatuh ( )”, tetapi tak boleh membuang lafadh “wa Rahmatullah ( )”.

Diantara ulama Syafi’iyah, ada yang menjelaskan bahwa boleh mempersingkat tasyahhud dengan semisal lafadh
.
Lafadh Salam dalam Tasyahhud

Lafadh salam dalam beberapa riwayat mempergunakan Alif Lam (AL), yaitu dan .., akan tetapi sebagian riwayat ada yang tak menyertakan Ali Lam (AL) yaitu.

Sebagian ulama Syafi’iyah menjelaskan, keduanya (bagus dengan AL atau tanpa AL) hukumnya boleh, akan tetapi yang paling utama (afdlol) ialah mempergunakan Alil Lam (AL) sebab riwayatnya lebih beberapa dan dalam rangka kehati-hatian (ihtiyath).

Tertib dalam Membaca Tasyahhud

Tertib (urut) dalam membaca tasyahhud hukumnya sunnah, tak wajib. Seandainya juga mendahulukan bagian satu dengan yang lain, maka diizinkan menurut pandangan yang shahih yang dipilih (al-shahih al-mukhtar). Tetapi ada pula pandangan yang tak memperbolehkan.

  1. Shalawat Kepada Nabi Saw

Shalawat kepada Nabi Muhammad Saw sesudah tasyahhud akhir hukumnya wajib, sehingga tak sah shalat seseorang apabila meninggalkan shalawat. Sedangkan shalawat kepada keluarga Nabi tak wajib dalam madzhab Syafi’i, akan tetapi hukumnya sunnah menurut pandangan yang shahih serta masyhur. Sebagian ulama Syafi’i menjelaskan tetap wajib.

Lafadh shalawat yang afdlol ialah

Diantaranya pun yang wajib ialah boleh mempergunakan lafadh atau atau atau , tetapi didalam madzhab Syafi’i ada yang tak membolehkan lafadh tersebut kecuali lafadh Allahumma Shalli ‘alaa Muhammad ( ).

Do’a sesudah tasyahhud hukum sunnah, sehingga bisa ditinggalkan.

Tambahan Aku: Menjadi minimal shalawat dalam Tasyahud ialah Allahumma Shalli ‘ala Muhammad, lalu salam(shalawat kepada keluarga nabi dan shalawat ibrahimiyah ialah sunnah)

Salam dalam rangka keluar dari shalat termasuk bagian daripada rukun/fardlu shalat. Bila ditinggalkan maka tak sah shalat seseorang. Salam yang sempurna mempergunakan lafadh Assalamu’alaikum wa Rahmatullah menuju kanan satu kali dan menuju kiri satu kali.

Salam yang wajib cuma satu kali, sedangkan salam kedua hukumnya sunnah sehingga bila ditinggalkan tak bakal merusak shalat.

Lafadh Salam

Lafadh salam ialah Assalamu’alaikum ( ). Bila mengucapkan salam dengan Salamun ‘Alaikum ( ) tak mencukupi menurut pandangan yang lebih shahih (Ashoh), tetapi menurut pandangan yang Ashoh, boleh seandainya mengucapkan salam dengan lafadh ‘Alaikumussalam ( ).

Demikian berbagai hal terkait dengan mempersingkat shalat, akan tetapi tetap menjaga aturan-aturan yang telah diterangkan oleh para ulama. Semoga berguna.

Paripurnaning Atur

(Tambahan aku)

Ideas diatas ialah tips shalat cepat dengan cuma mengambil yang rukun/wajib saja, kalau ingin shalat yang sempurna maka para ulama menganjurkan belajar khusyuk, tak tergesa dan menjalankan seluruh sunnah sunnah shalat.

Sebagaimana Imam Al-Ghazali mengibaratkan gerakan dan bacaan dalam shalat itu sebagaimana jasad, sedangkan khusyu dan tumakninah ialah ruhnya. Masih beberapa para mushallin yang berjasad bagus, bahkan sempurna tanpa cacat, akan tetapi tidak mempunyai ruh. Akhirnya, shalatnya cuma sebatas ritual, tidak sumber spiritual.

Tetapi shalat cepat tidak berarti tak khsuyuk, terkadang dengan shalat cepat seseorang bisa konsentrasi meraih kekhusyukan ibarat naik motor semakin cepat semakin konsentrasi, bakal tetapi kadang khusyuk pun diraih dengan pelan dan full ketenangan. Intinya siapapun yang shalat cepat ataupun tenang dan pelan kita Husnudzan saja ” ooh, orang ini sedang belajar khsuysuk. Wallahu a’lam..

Tulisan Milik Mas Abdurrohim

Tambahan Oleh Aku Sendiri(Hamim Mustofa Nerashuke)

Tips Tarawih Super Cepat Dan Sah Menurut Fiqh Syafi'iyah
IklanJasa Web Alhadiy
Tags

Related Articles

Jika ada ditemukan artikel yang salah, dan lain-lannya, silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker