Tindakan mematikan Bengis Aktivis Salim Kancil Atas Perkara Tambang Besi

Website Islam Institute

Tindakan mematikan Bengis Aktivis Lumajang Salim Kancil Atas Perkara Penolakan Tambang Pasir Besi

Waktu itu Salim tengah menggendong cucunya yang baru berumur 5 tahun, mengetahui ada yang Hadir berbondong dan memperlihatkan gelagat tidak baik Salim membawa cucunya masuk.

Islam-institute.com, LUMAJANG – Sekali lagi aksi anarkis kepada pejuang pembela keamanan lingkungan kembali terjadi. Sabtu, 26 September 2015, 2 orang masyarakat desa Selok Awar-Awar yang dikenal selaku aktivis penolak tambang pasir yang tergabung dalam Forum KomunikasiMasyarakat Peduli Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang diambil paksa dari rumahnya, lalu dianiaya oleh kira-kira 40 orang sampai mengakibatkan 1 orang meninggal dan 1 orang cedera parah.

Tosan didatangi serombongan orang pada kisaran pukul 07.30. Kira-kira 40 orang dengan mempergunakan kendaraan bermotor mendatangi rumah Tosan dengan membawa pentungan kayu, pacul, celurit dan batu. Tanpa beberapa bicara mereka lalu menghajar Tosan di rumahnya, Tosan berusaha menyelamatkan diri dengan mempergunakan sepeda tapi cepat dapat dikejar oleh gerombolan ini. Tosan ditabrak dengan motor di lapangan tidak jauh dari rumahnya. Tidak berhenti disitu, gerombolan ini kembali mengeroyok Tosan dengan bermacam senjata yang mereka bawa sebelumnya. Tosan bahkan ditelentangkan ditengah lapangan dan dilindas motor beberapa kali. Gerombolan ini menghentikan aksinya dan berangkat meninggalkan Tosan sesudah 1 orang masyarakat bernama Ridwan Hadir dan melerai.

seusai selesai menghajar Tosan, gerombolan ini mengalihkan tujuannya ke rumah Salim. Waktu itu Salim tengah menggendong cucunya yang baru berumur 5 tahun, mengetahui ada yang Hadir berbondong dan memperlihatkan gelagat tidak baik Salim membawa cucunya masuk. Gerombolan tersebut langsung menangkap Salim dan mengikat dia dengan tali yang telah disiapkan. Mereka lalu menyeret Salim dan membawanya ke Balai Desa Selok Awar-Awar yang berjarak 2 kilometer dari rumahnya.

 

Sejauh perjalanan ke Balai Desa, gerombolan ini terus menghajar Salim dengan senjata-senjata yang mereka bawa disaksikan masyarakat yang ketakutan dengan aksi ini. Di Balai Desa, tanpa mengindahkan bahwa masih ada beberapa anak kecil yang tengah ikut pelajaran di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), gerombolan ini menyeret Salim masuk dan terus menghajarnya. Di Balai desa, gerombolan ini telah mempersiapkan alat setrum yang lalu dipakai untuk menyetrum Salim beberapa kali.

Tidak berhenti sampai disitu mereka juga membawa gergaji dan dipakai untuk menggorok leher Salim. Tetapi ajaibnya nyaris seluruh siksaan dengan benda tajam yang ditujukan ke tubuh Salim seakan tidak mempan. Menyaksikan keadaan sebenarnya bahwa Salim tidak dapat dilukai dengan benda tajam dan kondisi balai desa yang masih ramai, gerombolan tersebut lalu membawa Salim yang masih dalam kondisi terikat melewati jalan kampung ke arah makam yang lebih sepi. Di tempat ini mereka lalu mencoba lagi menyerbu salim dengan bermacam senjata yang mereka bawa. Baru sesudah gerombolan ini menggunakan batu untuk memukul, Salim ambruk ke tanah. Mendapati itu, mereka lalu memukulkan batu beberapa kali ke kepala Salim. Di tempat inilah lalu Salim meninggal dengan posisi tertelungkup dengan kayu dan batu berserakan disekitarnya.

Aksi anarkis yang terjadi di desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang ini kian mengatakan dengan tegas bahwa penjagaan kepada masyarakat yang berjuang mempertahankan lingkungan dan ruang hidupnya belum terjamin di negeri ini. Sebelum kejadian penyerbuan yang menyebabkan tewasnya Salim, Forum hubungan Warga Peduli Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang telah mengadukan ancaman yang dialamatkan untuk mereka. Pada 11 September 2015, Forum telah memberitahukan secara legal ancaman untuk Tosan ke Polsek Pasirian, tapi laporan ini tidak memperoleh tanggapan yang cukup. Sebab nama-nama mereka yang memberikan ancaman sama sekali tidak diproses oleh pihak kepolisian. Orang-orang yang diadukan tersebut juga yang lalu sungguh-sungguh melaksanakan penyerbuan kepada Tosan dan Salim. Kalau pihak kepolisian mempunyai kesungguhan untuk menjaga keamanan masyarakat, sesungguhnya kejadian tragis ini tidak Penting wajib terjadi.

Perihal penolakan masyarakat kepada aktivitas pertambangan, sesungguhnya juga telah berlangsung lama. Bukan cuma di Selok Awar-Awar, penolakan aktivitas pertambangan di pesisir selatan Lumajang sudah menimbulkan keresahan dan penolakan di bermacam tempat. sebelum ini di Desa Wotgalih, Kecamatan Yosowilangun, aktivitas pertambangan yang dilaksanakan oleh PT ANTAM juga sudah menimbulkan konflik. Konflik serupa juga muncul di desa Pandanarum dan Pandanwangi, Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang. Panjangnya daftar konflik akibat aktivitas pertambangan pasir besi di wilayah pesisir selatan Lumajang ini rupanya tidak jadi pelajaran bagi Pemerintah Kabupaten Lumajang beserta aparat keamanannya.

Walaupun sudah beberapa diketahui bahwa tambang-tambang tersebut beberapa yang beroperasi secara tidak resmi dan merusak lahan pertanian pesisir pantai sehingga rentan berkonflik dengan kepentingan petani penggarap lahan pesisir, sama sekali tidak ada tindakan tegas yang dilaksanakan oleh pemerintah dan aparat penegak hukum. Padahal kalau situasi ini terus dibiarkan, konflik yang terjadi akibat aktivitas pertambangan akan terus memburuk di Kabupaten Lumajang.

Oleh karena itu, Tim Advokasi Tolak Tambang Pasir Lumajang yang terdiri dari: Laskar Hijau, WALHI Jawa Timur, KONTRAS Surabaya, dan LBH Cacat dengan ini mengumumkan:

Mendesak Kepolisian dan aparat penegak hukum lainnya untuk serius dalam menyelidiki para pelaku pembunuhan masal kepada Salim Kancil dan Tosan sampai aktor intelektual (intellectual daader) dibalik kejadian aksi anarkis di desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang tersebut, dan mengganjar pelaku dengan hukuman seberat-beratnya sesuai pasal 340 KUHP.

Mendesak Pemerintah Daerah Kabupaten Lumajang untuk cepat menutup semua pertambangan pasir di pesisir selatan Lumajang.

Meminta supaya Lembaga Penjagaan Saksi dan Korban (LPSK) untuk cepat memberikan penjagaan kepada saksi dan korban. Meminta Komnas HAM supaya cepat turun ke lapangan dan melaksanakan Investigasi.

Meminta Komnas Penjagaan Anak Indonesia (KPAI) untuk memberikan trauma healing untuk anak dan cucu dari alm. Salim Kancil serta anak kecil PAUD yang melihat insiden penganiayaan alm Salim Kancil di Balai Desa Selok Awar-Awar. (AL/ARN/Kontras)

Contact person :

Rere Christanto  ( Walhi Jatim) 083857642883

Fatkhul Khoir  (KontraS Surabaya) 081230593651

A’ak Abdullah Al Kudus (Laskar Hijau) 081337339911

Hari Kurniawan (LBH Cacat) 081216182423

You might like

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.