Tiga Tokoh Ini Berjasa Besar Tanamkan Keindonesiaan dan Keislaman

Loading...

Dalam panggung sejarah Indonesia, kita mengenal tiga Ulama kharismtik; KH Hasyim Asy’ari, KH Wahid Hasyim, dan KH Abdurahman Wahid (Gus Dur). Ketiga tokoh tersebut satu sama lain mempunyai keterikatan darah dantidak bisa dipungkiri, jasa mereka luar biasa, khususnya dalam merajut kualitas bangsa.

Mbah Hasyim selaku pendiri NU sumbangsih pemikirannya, kinerjanya, dan manfaatnya terus mengakar sampai sekarang. Sedangkan Kyai Wahid ialah tokoh terpenting dalam pembentukan kesatuan hidup berbangsa dan bernegara, ini beliau lalui pada ketika Indonesia sedang genting-gentingnya menentukan penjuru hidup gagasan dan ideologi.

Lantas Gus Dur tak kalah dengan Kakek dan Bapaknya, Gus Dur dikenal selaku Bapak Pluralisme Indonesia, pemikirannya sempat menghentak jagad Indonesia, apalagi pada ketika sebagai Presiden Republik Indonesia, beliau sering dinilai kontroversial. Akan tetapi, beberapa orang menjelaskan, Gus Dur melampaui zamannya. Dan Gus Dur selalu menjelaskan, Sejarah bakal membuktikannya.

Tulisan ini bakal menyampaikan pemahaman terdalam para Kyai yang mempunyai jiwa mulia terhadap Indonesia. Meminjam Istilah yang dipopulerkan Gus Mus, Kita ini ialah orang Indonesia yang beragama Islam. Kita tidak orang Islam yang kebetulan dilahirkan di Indonesia.

Berangkat dari hal tersebut, aku ingin membaca eksmplar untuk eksmplar apa yang sudah ditularkan tiga generasi hebat itu, sehingga harumnya mewangi sampai sekarang.

Keindonesiaan KH Hasyim Asyari

KH Hasyim Asyari lahir dengan nama lengkap Muhammad Hasyim Asyari ibn Abd Al-Wahid ibn Abd Al-Halim (mempunyai gelar Pangeran Bona) ibn Abd Al-Rahman (dikenal dengan Jaka Tingkir Sultan Hadiwijaya) Ibn Abd Allah ibn Abd Al-Aziz ibn Abd Al-Fatih ibn Maulana Ishaq dari Raden Ain Al-Yaqin (yang disebut Sunan Giri). Beliau lahir di Gedang, desa di daerah Jombang, Jawa Timur, hari Selasa Kliwon 24 Dzu Al-Qaidah 1287 H. Bertepatan dengan tanggal 14 Februari 1871. KH. Hasyim Asyari wafat pada jam 03.45 Dinihari tanggal 25 Juli 1947 bertepatan dengan 7 Ramdhan tahun 1366 H dalam usia 79 tahun. (Lihat bukuIntelektualisme Pesantren, Seri 2: 2003, hlm. 319).

Di awali dari mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama (NU), bareng dengan ulama besar di Jawa lainnya, KH. Abdul Wahab dan KH Bishri Syansuri. Mbah Hasyim memulai kiprahnya dalam aktifitas gerakan sosial-keagamaan. Bahkan berbagai pandangan menjelaskan, getolnya Mbah Hasyim melawan dominasi penjajah di period kolonial Belanda dan Jepang, beliauseringkali terjebak dengan maslah-masalah sosial-politik.

Bakal tetapi, bagi beliau hal tersebut lumrah dan beliau melakoninya tanpa menyerah, dengan tujuanagar Indonesia terbebas dari hegemoni penjajahan yang mengusik kedamaian bangsa. Aku pernah membaca buku biografi Gus Dur yang ditulis Greg Barton, ada hal menarik soal bagian perlawanan dan pengorbanan yang dilaksanakan oleh Mbah Hasyim untuk menjaga harkat martabat bangsa dan agama, bahwa Mbah Hasyim yang dinilai makar dari perintah Jepang, lantas ditangkap, dengan alasan beliau menolak membungkuk hormat menuju arah matahari terbit/memuja kaisar Jepang.

Dari membelotnya Mbah Hasyim tersebut, beliau dipukuli tentara Jepang, sampai lengan kanan Mbah Hasyim tak lagi berfungsi normal. Akan tetapi, tak lama lantas, Jepang sadarmenangkap Mbah Hasyim seorang kyai kharismatik sama saja membikin malapetakanya sendiri, akhirnya Jepang melepaskan Mbah Hasyim.

Kejadian ini tak saja menggambarkan Mbah Hasyim dari sisi religiusitasnya, melainkan gambaran besarnya ialah kecintaan beliau terhadap Indonesia. Mentaati perintah Jepang dengan menyembah Jepang sama saja dengan meng-amini kedaulatan Jepang di negeri sendiri.

Selain itu, yang paling fenomenal dalam ingatan sejarah kita, dengan heroik dan lantang Mbah Hasyim menjelaskan, sama sekali tak bertentangan antara agama dan nasionalisme, nasionalisme ialah bagian dari agama, dan keduanya saling menguatkan.Hukum membela negara dan melawan penjajahan bagian dari kewajiban, dan tak bertentangan dengan hukum manapun, termasuk hukum agama.

Dari situlah terlahir Resolusi Jihad, pada titik ini ghirah Indonesia terbangun untuk melawan penjajahan. Fatwa beliau dalam hal membela negara merupakan bukti nyata kecintaan dan penghayatannya terhadap jiwa keindonesiaan seorang Kyai.

Masih beberapa cerita dan bukti dari kecintaan Mbah Hasyim terhadap Keindonesiaan-nya, apalagi Mbah Hasyim ialah guru para kyai. Seperti itu beberapa yang beliau warisi dan tularkan terhadap generasi sekarang, khususnya generasi-generasi NU.

Satu hal lagi, tak kalah perlunya, Mbah Hasyim di dalam karya-karyanya, dan pengajian-pengajiannya selalu menekankan, bahwa dalam hidup berbangsa, bernegara, dan beragama, hal utama yang wajib ditanamkan ialah sikap toleransi dan hidup berdampingan secara damai.

Pesan beliau yang amat terkenal, Jangan jadikan perbedaan pandangan selaku karena perpecahan dan permusuhan. Sebab yang seperti ini itu merupakan kejahatan besar yang bisa meruntuhkan bangunan warga, dan menutup pintu kebaikan di penjuru mana saja.

Keindonesiaan KH Wahid Hasyim

KH. Wahid Hasyim lahir dengan nama lengkap Abdul Wahid Hasyim, ialah putra dari KH. Muhammad Hasyim Asyari seorang pendiri organisasi keagamaan terbesar di Indonesia (Nahdlatul Ulama).

Kyai Wahid lahir pada tanggal 1 Juni 1914 di Tebuireng. Pada ketika itu, Indonesia masih di bawah penjajahan Belanda. Usia 7 tahun, Kyai Wahid belajar agama langsung kepada ayahnya. sesudah berumur 10 tahun, Kyai Wahid mulai berkelana dari satu pesantren menuju pesantren yang lain di sekitar Tebuireng. Usia 17 tahun Kyai Wahid berangkat menuju Mekah untuk menimba ilmu. Kyai Wahid ialah sosok intelektual yang cerdas dan pintar, beliau menguasai tiga bahasa, Arab, Inggris, dan Belanda. Bekal itulah yang membawa beliau bergaul dengan beberapa macam literasi, proses otodidak membawa beliau tak diragukan kapasitas pengetahuannya. (Lihat buku,Intelektualisme Pesantren, seri 3: 2003, hlm. 81).

loading...

Tak berselang lama, di usia beliau yang masih amat muda, 24 tahun, beliau telah berusaha melakukan perubahan. Fokus pembaharuan beliau diarahkan pada empat bidang; keagamaan, politik, sosial, dan pendidikan. Beliau menyerukan mengenai perlunya melawan para penjajah, melalui jalur pendidikan politik dan pembaharuan pemikiran. untuk beliau cita-cita bangsa, dari segi apapun dan manapun bakal tertunaikan dengan bagus, kalau Indonesia merdeka. Dengan itu, beliau terus menerus melaksanakan peningkatan terhadap sumber daya manusia.

sesudah satu tahun beliau berkiprah, nama Kyai Wahid semakin meroket, didaulatnya Kyai Wahid selaku Ketua Majelis Islam Ala Indonesia (MIAI). Dan Kyai Wahid pun pernah menjabat selaku Mentri Agama.

Beberapa hal menarik dari Kyai Wahid, khususnya pada ketika perumusan dasar Negara Indonesia. Di mana Kyai Wahid sebagai bagian anggota bentukan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Kyai Wahid pada posisinya mempunyai peranan penting, khususnya dalam menyumbat pertentangan untuk pertentangan mengenai dasar negara.

Beliau di saban rapat sanggup mengimbangi rekan-rekannya (walaupun dari back-ground tak sama). Akan tetapi, lumrah hal tersebut terjadi bagi Kyai Wahid, sebab beliau ialah pemakan literasiyang rakus. Sebagaimana apa yang pernah diutarakan Gus Dur, bahwa di rumahnya perpustakaan pribadi Kyai Wahid kayak gitu beberapa koleksinya, dari mulai buku, koran, dan data/laporan-laporan penting.

Singkat cerita, melalui perundingan sengit, akhirnya dasar negara oleh BPUPKI disepakti, M. Yamin menamainya selaku Piagam Jakarta. Yang melahirkan tujuh kata, Ketuhanan dengan Menjalankan Syariat Islam untuk Pemeluknya.Ditambah dengan empat sila lainnya.Nantinya, butir-butir tersebut termaktub dalam pembukaan konstitusi Negara Republik Indonesia.

Bakal tetapi, hasil itu melahirkan polemik baru bagi kesatuan Indonesia. Tujuh kata tak mewakili dan tak menggambarkan Indonesia yang beraneka ragam. Sehingga pada satu momen tertentu, perwakilan Islam dikumpulkan, salah satunya ialah Kyai Wahid (selaku perwakilan Islam dan NU), dengan pemikiran matang, beliau mengusulkan, wajib ada perubahan, khususnya yang sebagai garis sengketa antar kelompok nasionalis Islam, nasionalis sekuler, dan non-Islam, beliau mengusulkan, Ketuhanan Yang Maha Esa, selaku pengganti dari tujuh kata yang bakal membawa malapateka.

Di lihat dari seklumit narasi di atas, menunjukan, Kyai Wahid ialah seorang Indonesia Sejati. Keindonesiaannya sudah membawa beliau pada keputusan yang arif dan bijaksana, untuk memikirkan kesatuan dan persatuan insan Indonesia. Amat pantas kalau beberapa yang menyebutnya selaku penggerak motor nasionalisme. Inilah ijtihad kebangsaan Kyai Wahid, yang memahami kalau dasar Islam/negara Islam berlebihan beresiko untuk masa depan Indonesia.

Keindonesiaan KH Abdurrahman Wahid

Abdurrahman Addakhil seperti ini nama lengkapnya. Akan tetapi, belakangan kata Addakhil tak lumayan dikenal diganti nama Wahid, Abdurrahman Wahid, dan lantas lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. Gus ialah panggilan kehormatan khas Pesantren kepada seorang anak kyai, yang berarti abang atau mas. Gus Dur ialah putra pertama dari enam bersaudara yang dilahirkan di Denanyar Jombang Jawa Timur pada tanggal four Desember 1940, anak dari KH. Wahid Hasyim dan Nyai Hj. Sholehah.

Bercakap-cakap Gus Dur tidak bakal pernah punya ujung, ia ialah makhluk dari beberapa paradigma. Meminjam istilah Herbert Marcuse,One-Dimensional Man, dan Gus Dur ialah narasi besar soal itu. Beberapa hal menarik mengkaji Gus Dur; seninya, kecintaannya terhadap musik klasik eropa, humornya, dan sebagainya. Problem keindonesiaan, jangan sekali-kali meragukan Gus Dur.

Ada dua sisi menarik dari keindonesiaan Gus Dur, di satu sisi paham kebangsaannya dan di sisi lain pehamamannya mengenai tradisi Islam kayak gitu mendalam. Dan Gus Dur mempunyai kesanggupan untuk memadukan kedua hal tersebut. Dan tak cuma teoritis atau sekedar wacana, dalam praksis Gus Dur selalu konsisten membela kaum-kaum yang tertindas. Tak berlebihan kalau beberapa orang yang menyebutnya selaku Bapak Pluralisme.

Dalam hal ini aku cuma ingin berbicara berbagai hal yang pernah dilaksanakan oleh Gus Dur selaku bukti keindonesiaannya. Sebagaimana halnya di Papua, bagi orang Papua Gus Dur ialah Bapak Perdamaian, kesaksian hal ini di amini oleh orang-orang Papua. Menurut mereka Gus Dur lah yang mengembalikan nama Papua, yang awalnya pada ketika Orba menyebut diri selaku Papua ialah tabu, mereka diberi nama Irian. Dan pada ketika tahun 2000 saat Gus Dur sebagai Presiden, beliau merestui Papua menggelar kongres dan memberikan dukungan biaya, bagi mereka inilah ruang demokrasi sesungguhnya, hak identitas secara suku, budaya, politik diakui.

Selain itu, Gelar Bapak Tionghoa diterima oleh Gus Dur, selaku rasa terima kasih mereka terhadap jasa-jasa Gus Dur, yang sudah memberikan hak terhadap etnis Tionghoa secara politik maupun sosial. Di sinilah jasa Gus Dur menjadikan warga negara setara, Gus Dur membebaskan diskriminasi warga Tionghoa.

Itulah dua contoh agung yang dicontohkan Gus Dur, kalau kita bedah, masih beberapa lagi jasa-jasa Gus Dur terhadap kaum minoritas yang tertindas. Gus Dur yang terlahir dari kultur Pesantren, mempunyai prinsip kemanusiaan universal; hak beragama/berkeyakinan (hifzh al-din), hak berpikir/berpendapat (hifzh al-Aql), hak atas kehormatan tubuh dan kesehatan reproduksi (hifzh al-Irdh wa al-nasl), dan hak kepemilikan atas harta/benda (hifz al-mal). Untuk lebih papar bagaina wacana Gus Dur dalam persoalan HAM, sebab hal ini menjadiconcernperhatian Gus Dur. Kita bisa temukan dalam tulisannya bertema Hukum Pidana Islam dan Hak-hak Asasi Insan. Beberapa yang menarik dari tulisan tersebut.

Akhir kata

Sebenarnya, masih beberapa narasi-narasi menarik yang ingin disuguhkan dan wajib ribuan bahkan puluhan ribu halaman untuk menerangkan ketiga tokoh itu. Bakal tetapi, gambaran singkat tersebut bisa sebagai inspirasi yang berguna untuk menggugah kesadaran keindonesiaan kita.

Aku tutup tulisan ini dengan wasiat dari Mbah Hasyim, Adapun amal shalih ialah sifat yang umum pada saban perbuatan yang memberi faedah kepada sesama hamba dan negara, dan memberi manfaat kepada warga, baik individu, sekarang dan masa bakal datang.

loading...

Oleh Aswab Mahasin
Penulis ialah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussaadah Kebumen, Jawa Tengah.

Loading...

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :