TGH Shaleh Hambali, Jimat NU di Pulau Lombok

Loading...

Pulau Lombok di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mempunyai luas sekitar 4,7 kilometer persegi sebagai wilayah dakwah Tuan Guru Haji (TGH) Muhammad Shaleh Hambali (1895-1968). Ulama kharismatik dari Desa Bengkel, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat, NTB ini merupakan Rais Syuriyah pertama PWNU NTB.

Dakwah untuk menyebarkan Islam Ahlussunnah wal jema\’ah yang dilakukannya di Pulau Lombok tidaklah mudah mengingat tantangan ketika itu kerap membahayakan jiwa dan raganya bahkan mengancam kehidupan warga. Sebagaimana dakwah yang dilaksanakan saat pemberontakan PKI pun terjadi di Lombok.

Ulama yang pun dikenal dengan sebutan Tuan Guru Bengkel ini sebagai tempat penjagaan bagi warga. Mereka merasa terancam dengan gerakan PKI yang tak segan melaksanakan kekerasan kepada warga ketika itu. Lantas, TGH Shaleh Hambali yang dikenal selaku ulama istimewa yang beberapa mempunyai karomah menurut warga berkisar dijadikan tempat mengadu dan meminta nasihat.

Warga berduyun-duyun mendatangi kediaman Tuan Guru Bengkel yang ketika itu telah mendirikan Pondok Pesantren Darul Quran. Mereka meminta bimbingan Tuan Guru Bengkel untuk berhadapan dengan ancaman yang dilaksanakan para oknum PKI yang membahayakan jiwanya.

Selain memberikan sejumlah wirid dan doa, TGH Shaleh Hambali pun memberikan perhatian kepada seluruh warga supaya mereka menancapkan bendera Nahdlatul Ulama (NU) di depan rumahnya masing-masing. Tuan Guru Bengkel menjamin keamanan warga dengan bendera NU tersebut.

Cerita tersebut diriwayatkan oleh Cucu TGH Shaleh Hambali, TGH Halisussabri.NU Onlineberkesempatan menemui Tuan Guru Halisussabri di Pondok Pesantren Darul Quran di tengah perhelatan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU pada 23-25 November 2017 di NTB.

Ketika itu warga ramai-ramai mencancapkan bendera NU. Masing-masing mereka melukis sendiri lambang NU dengan cara disemprot, ujar TGH Halisussabri.

untuk warga Lombok, Tuan Guru Bengkel selama ini sanggup mengayomi warga dengan karomah dan keistimewaannya. Oleh karena itu, ulama yang lahir pada 7 Ramadhan 1313 ini dijadikan semacam jimat penjagaan dari keaganasan PKI.

Tidak cuma pada ilmu keagamaan, kesaktiannya pun pun diakui saat para tokoh nasional pun kerap berkunjung kepadanya untuk meminta nasihat ketika Indonesia dalam keadaan terjajah. Tokoh-tokoh NU sebagaimana KH Wahab Chasbullah, KH Saifuddin Zuhri, Subhan ZE, dan lain-lain pernah mengunjungi kediaman Tuan Guru Bengkel.

Kayak gitu pun Presiden Seokarno. Ia pernah mendatangi Tuan Guru Bengkel pada 1953. Kedatangannya itu pun disambut antusias warga Desa Bengkel. Soekarno dengan gaya khasnya memberikan orasi di tengah-tengah warga Bengkel ketika itu. Dokumentasi tersebut terpampang papar di ruang galeri Pesantren Darul Quran.

Ketika ini, TGH Shaleh Hambali bisa dikatakan selaku patok utama ulama yang berjasa menyebarkan NU dan Aswaja di tanah Nusa Tenggara Barat. Ia mempunyai optimisme tinggi saat jamiyah NU mempunyai visi mendakwahkan Islam dengan sebenar-benarnya dan sebaiknya-baiknya serta memperkuat wawasan kebangsaan dan jiwa nasionalisme di dada bangsa Indonesia.

Ketika ini, ulama yang mangkat pada Sabtu, 15 Jumadil Akhir bertepatan dengan tanggal 7 September 1968 itu dimakamkan di depan Masjid Jami Shaleh Hambali di Bengkel. Masjid ini terletak berkisar 200 meter dari Pondok Pesantren Darul Quran di Jalan TGH Shaleh Hambali. Ketika ini pesantren dipimpin oleh sang cucu, TGH Halisussabri itu mempunyai santri berkisar 1500 orang yang berasal dari beberapa daerah sebagaimana Bali dan Sumbawa. Pun mengembangkan sejumlah lembaga sosial, sebagaimana panti asuhan anak yatim.

Riwayat Tuan Guru Bengkel

Nama kecilnya ialah Muhammad Shaleh, sedangkan Hambali dibelakang nama tersebut ialah dinisbatkan kepada nama ayahnya yang bernama Hambali. Dia ialah putra bungsu dari delapan bersaudara, yaitu Abu, Fatimah, Amsiah, Rukiyah, Selamin, Syamsiyah, Khadijah, dan Muhammad Shaleh. Beliau ialah putra dari pasangan Hambali dan Halimah (alias Inaq Fatimah).

Dia dilahirkan hampir mirip dengan kelahiran Nabi Saw, artinya saat masih dalam kandungan berumur 6 bulan ayahnya disapa menghadap oleh Yang Maha Kuasa (meninggal jagat), dan saat dia sudah lahir dan sudah berumur 6 bulan, dia ditinggal oleh ibundanya tercinta menyusul ayahnya (meninggal dunia). Maka saat itu jadilah dia anak yatim piatu yang tak mempunyai ayah dan ibu. Lantas ia diambil dan diasuh oleh pamannya yang bernama H Abdullah (alias Bapak Rajab).

loading...

Menurut info yang dihimpunNU On-line, Muhammad Shaleh dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan keluarga yang religius dan patuh menjalankan agama. Orang tua dia ialah warga biasa yang mempunyai dedikasi dan loyalitas yang tinggi pada syiar Islam di kampungnya, sekalipun bapaknya tidak seorang kyai (Tuan Guru). Tetapi ia dikenal selaku orang yang memilikighirahkeislaman yang tinggi dan dikenal sebagaikhadamkiai.

Tuan Guru Haji Muhammad Shaleh Hambali mulai belajar mengaji pada usia 7 tahun. Dia belajar agama secara teratur kepada seorang guru Al-Quran yang ahli tajwid bernama Ramli alias Guru Sumbawa di Desa kelahirannya Bengkel. Ini merupakan langkah awal dari pola umum pendidikan Islam tradisional. Anak-anak seusianya kala itu mulai diajarkan membaca ejaan Arab.

Setelah belajar pada Ramli, 5 tahun lamanya, TGH Shaleh Hambali melanjutkan pendidikan menuju Mekkah selama lebih tidak cukup 9 tahun, yaitu pada tahun 1912 sampai 1921. Ia pun menuntut ilmu agama kepada sejumlah ulama, bagus fiqih, tafsir, tasawuf, dan ilmu-ilmu agama yang lain. Keberangkatan dia menuju tanah suci Mekkah pun bareng ibu angkatnya (Inaq Rajab-istri H Abdullah) sampai ibu angkatnya meninggal jagat di Mekkah pada bulan haji.

Selama menuntut ilmu di Mekkah, dia beberapa belajar kepada sejumlah ulama terkemuka, diantaranya ialah: Syekh Stated al-Yamani, Syekh Hasan bin Syekh Stated al-Yamani, Syekh Alawi Maliki al-Makki, Syekh Hamdan al-Maghrabi, Syekh Abdusstar Hindi, Syekh Stated al-Hadrawi Makki, Syekh Muhammad Arsyad, Syekh Shaleh Bafadhol, Syekh Ali Umairah al-Fayumi al-Mishra.

Selain kepada ulama-ulama di atas, dia pun belajar kepada ulama-ulama Indonesia yang bermukim di tanah suci, antara lain, TGH Umar (Sumbawa), TGH Muhammad Irsyad (Sumbawa), TGH Haji Utsman (Serawak), KH Muchtar (Bogor), KH Misbah (Banten), TGH Abdul Ghani (Jemberana-Bali), TGH Abdurrahman (Jemberana-Bali), TGH Utsman (Pontianak), TGH Umar (Kelayu-Lombok), TGH Abdul Hamid (Pagutan-Lombok), TGH Asyari (Sekarbela-Lombok), dan TGH Yahya (Jerowaru-Lombok).

Kitab-kitab tasawuf yang beberapa dipelajari oleh Tuan Guru Bengkel pada guru-gurunya ialah kitab-kitab yang ditulis oleh Imam Ghazali sebagaimana:Minhajul Abidin, Bidayatul Hidayah, danIhya Ulumuddin. Lalu, kitabKifayatul Atqiyakarangan Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Syata al-Dimyathi yang merupakan komentar dariKifayatul Atqiya ila Thariqatul Awliyakarya Zainuddin al-Malibary. Lantas kitabHidayatus SalikindanSairus Salikinkarya Syekh Abdus Shomad Al-Palimbani dalam bahasa melayu.

untuk Tuan Guru Bengkel, dakwah jangan cuma berupa ceramah dan kata-kata, tetapi pun karya. Dakwah bakal abadi kalau menuliskannya dalam bentuk karya. Tercatat, TGH Shaleh Hambali mempunyai 17 karya kitab.

Ketika ini, keberadaan 17 kitab dan manuskrip karya Tuan Guru Bangkel ditashih oleh seorang nazir atau pemangku, Baehaqi Syakbani bin TGH Muhammad Zain Masbagik. Adapun 17 kitab karya Tuan Guru Bengkel selaku berikut:

  1. Luqhtatul Jawharati fi Bayanil Ghina Iwalmutaqqirati (selesai ditulis Jumat, 13 Januari 1933).
  2. Permaiduri (1969)
  3. Ilmu Mantiq (1969)
  4. Hidyatul Atfali fi Tajwidi Kalam Ilahil Mutaali (1934)
  5. Talimus Shibyani bi Gahyatil Bayani (1935)
  6. Washiyyatul Mustafa Li Ali Al-Murtadha (1937)
  7. Al-Mawa Izus Shalihiyyati Fil Ahaditsin Nabawiyyati (1945)
  8. Manzharul Amradi fi Bayani Qith Athin Minal Itiqadi ( editor, 1949)
  9. Intan Berlian (Perhiasan) Laki Perempuan (1951)
  10. Risalah Kecil Pada Menyatakan Thawaf Perempuan yang Haid atau Nifas (1954)
  11. Jamuan Tersaji pada Manasik Haji (1952)
  12. Cempaka Mulia Perhiasan Manusia (1956)
  13. Bintang Perniagaan pada Kelebihan Perusahaan (1957)
  14. Jalan Kemenangan pada Menyatakan Jalan Taubat yang Sebenarnya (1964)
  15. Tujuh Belas Wirid (Ratiul Barakah) (1965)
  16. Piagama Beserta Ayat Al-Quran
  17. Dalilul Haul

Sebelum wafat, ia sempat berwasiat kepada keluarga dan segenap santrinya, wasiat itu berbunyi:Pertama, peliharalah persatuan dan kesatuan di antara sesamamu.Kedua, belajarlah pada guru yang beraliran Ahlussunnah wal jemaah.Ketiga, peliharalah Yayasan Perguruan Darul Quran dan usahakanlah supaya berkembang.

loading...

Pesan tersebut terlukis rapi di dinding pesantren supaya sebagai perhatian para muridnya. Ia pun selalu menekankan wawasan kebangsaan kepada para santrinya serta supaya terus memegang teguh ajaran para ulama dan pendiri bangsa. (Fathoni Ahmad/NU On-line)

Loading...

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :