Ternyata, Sa’i Membaca Syiir Ya Lal Wathon, Ibadah Sa’i Sah

Loading...

Ternyata, Sa’i Membaca Syiir Ya Lal Wathon, Ibadah Sa’i Sah! Jagat media sosial, Senin (26/2/2018) ramai dengan hasil bahtsul masail yang ditulis M Asnawi Ridwan, Wakil Sekretaris LBM (Lembaga Bahtsul Masail) PBNU. Isinya, bahwa, membaca atau melantunkan syiir Ya Lal Wathon waktu penyelenggaraan sai, ialah sah.

Bahkan ini jadi sebuah kebaikan, syaratnya tidak disuarakan dengan arogan sampai mengganggu yang lain. Alasannya cinta tanah air ialah kewajiban saban muslimin. Terlebih lagi, waktu ini ajaran cinta tanah air beberapa yang tidak memahaminya.

Pertanyaannya: Apakah Syiir Ya Lal Wathon dapat masuk ketagori dzikir? Ya. Sebab syiir tersebut mengajak pada 2 kebaikan, yaitu ingat untuk Allah dan mengajak cinta tanah air, sedemikian Kyai Asnawi Ridwan, dalam penjelasannya.

Bahtsul Masail ini, terang Kyai Asnawi, dilatari dengan ramainya (pro-kontra) soal penyelenggaraan ibadah sai, sebab diantara ritualnya ada yang diselingi dengan membaca teks Pancasila, sebagaimana yang dikerjakan muthawif bernama KH Said Khumaidy, pengurus MUI Kabupaten Lamongan.

Ada yang menyebutnya sesat, tidak punya adab, bahkan haram sebab tidak ada dalam tuntunan Nabi Muhammad saw. Seperti disampaikan sekretaris jendral Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umroh Republik Indonesia (AMPHURI), Firman M Nur, bahwa hal tersebut (pembacaan Pancasila) tidak sesuai dengan sunnah dan menyelisihi apa yang dianjurkan oleh salaf utawa bidah.

Kyai Asnawi menerangkan, lantunan Syiir Ya Lal Wathon, lagu wajibnya NU ialah termasuk dzikir sebab mengajak untuk kebaikan. Sementara menggaungkan syiir yang bertemakan dzikir pada Allah dan cinta tanah air ialah sunnah baik di dalam masjid terlebih lagi di luar masjid, tegasnya.

Lebih rincinya, sedemikian catatan Kyai Asnawi, berikut saya sampaikan ulasan soal hukum penyelenggaraan sai berselibkan syiir ya lal wathon tersebut. Ke-1, berdasar sabda Nabi Saw, artinya: Dijadikannya Thawaf di baitullah, Sai antara ShofaMarwah, dan melempar jimar ialah untuk menjaga konsistensi diri dalam berdzikir pada Allah.

Dari hadits ini tertera secara terang bahwa thawaf, sai, dan melempar jumrah ialah bagian ibadah yang wajib diisi full dengan dzikir untuk Allah SWT. Tidak sepatutnya bila dalam penyelenggaraan ritual ibadah tersebut ternyata kita lalai (ghoflah) dari dzikir untuk Allah, terlebih lagi masih membawa kebiasaan maksiat dan belum mau bertaubat, jelasnya.

loading...

Apakah syiir ya lal wathan termasuk kategori dzikir?

Jadi, lanjutnya, sai tidak cuma diisi dengan kalimat-kalimat doa, tapi juga dianjurkan untuk melafadlkan dzikir-dzikir. Apakah syiir ya lal wathan termasuk kategori dzikir? Ya, tegasnya seraya menuturkkan bahwa syiir tersebut mengajak pada 2 kebaikan yaitu ingat untuk Allah dan mengajak cinta tanah air.

Ke-2, terlebih lagi, waktu ini ajaran cinta tanah air beberapa yang tidak memahaminya. Padahal, tidak mencintai NKRI beserta perangkatnya ialah perbuatan dosa. Maka, diharuskan untuk cepat bertaubat, terlebih waktu melakukan ibadah sai.

Hal yang sama juga pernah disampaikan Prof Dr Kasuwi Saiban, MAg, Guru Besar Universitas Merdeka Malang. Dr Kasuwi juga tidak setuju jika membaca Pancasila itu dihukumi sesat atau bidah yang melenceng.Stigma bidah melenceng tampak emosional, tanpa didasari dalil yang akurat baik naqly maupun aqly, tulisnya.

Sungguh hal itu belum pernah dikerjakan oleh seorang ulama pun, tetapi bukan artinya hal-hal yang belum dikerjakan ulama terdahulu semuanya melenceng. Bahkan di sini Penting adanya kreatifitas berpikir ulama kontemporer Indonesia untuk menjawab permasalahan baru yang terus berkembang di warga.

Problem-masalah baru yang terus bermunculan itu tidak boleh dibiarkan tanpa kepastian hukum, bahkan wajib cepat diselesaikan dengan metode insyai; yaitu menetapkan hukum baru dengan metode yang sudah digariskan oleh para ulama ushul terdahulu.

Telah saatnya ulama Indonesia menyaksikan suatu permasalahan tidak cuma terbatas pada ranah qauly yang berupa produk fiqih seperti yang sudah ditulis dalam kitab-kitab klasik yang tentu Adalah potret dari keadaan waktu itu, terangnya.

Lebih dari itu ulama kontemporer Indonesia, lanjutnya, wajib menyaksikan ranah manhajy yang berupa metode dalam memproduk fiqih tersebut sehingga fiqih jadi hidup sesuai dengan situasi dan keadaan yang selalu berkembang.

Sebab itulah Imam Syafii selama kurun waktu kehidupan beliau membikin 2 madzhab; yaitu qaul qadim (saat beliau masih di Baghdad) dan qaul jadid (saat beliau di Mesir). Di kalangan Nahdlatul Ulama, penyelesaian problem secara manhajy ini sejatinya telah diamanatkan MUNAS NU Lampung tahun 1992, tegasnya.

 

loading...

(mky/duta.co)

Loading...

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :