Ternyata, Mencium Tangan Orang Shalih Itu Sunnah

Mencium Tangan – Ada sebagian golongan Islam yang hobby mempermasalahkan cium tangan orang shalih, orang alim, atau orang tua sendiri. Mereka beranggapan bahwa perbuatan cium tangan ialah guluw. Yaitu sikap keterlaluan yang dicegah oleh syari’at Islam. Padahal soal cium tangan ini telah jadi kebutuhan kita dalam rangka penghormatan kpd orang-orang yang layak dihormati. Mereka ialah orang tua kita, Orang-orang alim atau ulama yang shalih. Atau bahkan penguasa yang shalih kita boleh mencium tangannya. Untuk lebih percaya bahwa perbuatan cium tangan itu nggak menabrak sunnah, mari kita ikuti penjelasan dari Abou Fateh berikut ini…. 

MENCIUM TANGAN ORANG TUA ATAU ORANG ALIM

Oleh: Abou Fateh

Perlu diketahui bahwa mencium tangan orang yang saleh, penguasa yang bertakwa dan orang kaya yang saleh ialah perkara mustahabb (sunnah) yang dilike Allah. Hal ini berdasarkan hadits-hadits Rasulullah dan dan atsar para sahabat, yang akan kita sebutkan berikut ini.

Di antaranya, hadits riwayat al-Imam at-Tirmidzi dan lainnya, bahwa ada dua orang Yahudi bersepakat menghadap Rasulullah. Salah seorang dari mereka berkata: “Mari kita berangkat menghadap -orang yang mengaku- Nabi ini untuk menanyainya soal sembilan ayat yang Allah turunkan kpd Nabi Musa”. Target kedua orang Yahudi ini ialah hendak mencari kelemahan Rasulullah, sebab beliau ialah seorang yang Ummi (nggak membaca dan nggak mecatat). Mereka menganggap bahwa Rasulullah nggak mengetahui soal sembilan ayat tersebut. Tatkala mereka sampai di depan Rasulullah dan menanyakan prihal sembilan ayat yang diturunkan kpd Nabi Musa tersebut, maka Rasulullah menerangkan kpd keduanya secara rinci nggak kurang suatu apapun. Kedua orang Yahudi ini amat terkejut dan terkagum-kagum dengan penjelasan Rasulullah. Keduanya orang Yahudi ini lalu langsung mencium kedua tangan Rasulullah dan kakinya. Al-Imam at-Tarmidzi berkata bahwa kulitas hadits ini Hasan Shahih#.

Abu asy-Syaikh dan Ibn Mardawaih meriwayatkan dari sahabat Ka’ab ibn Malik, bahwa ia berkata: “Tatkala turun ayat soal (diterimanya) taubat-ku, saya mendatangi Rasulullah lalu mencium kedua tangan dan kedua lututnya”#.

Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam kitabnya al-Adab al-Mufrad bahwa sahabat ‘Ali ibn Abi Thalib sudah mencium tangan al-‘Abbas ibn ‘Abd al-Muththalib dan kedua kakinya, padahal ‘Ali lebih tinggi derajatnya dari pada al-‘Abbas. Tapi sebab al-‘Abbas ialah pamannya sendiri dan seorang yang saleh maka dia mencium tangan dan kedua kakinya tersebut#.

Sedemikian juga dengan ‘Abdullah ibn ‘Abbas, salah seorang dari kalangan sahabat yang masih muda waktu Rasulullah meninggal. ‘Abdullah ibn ‘Abbas berangkat kpd sebagian sahabat Rasulullah lainnya untuk menuntut ilmu dari mereka. Suatu waktu beliau berangkat kpd Zaid ibn Tsabit, salah seorang sahabat senior yang paling beberapa mecatat wahyu. Waktu itu Zaid ibn Tsabit sedang keluar dari rumahnya. Menyaksikan itu, dengan cepat ‘Abdullah ibn ‘Abbas memegang tempat pijakan kaki dari pelana binatang tunggangan Zaid ibn Tsabit. ‘Abdullah ibn ‘Abbas menyongsong Zaid untuk menaiki binatang tunggangannya tersebut. Tapi tiba-tiba Zaid ibn Tsabit mencium tangan ‘Abdullah ibn ‘Abbas, sebab dia ialah keluarga Rasulullah. Zaid ibn Tsabit berkata: “Seperti inilah kami memperlakukan keluarga Rasulullah”. Padahal Zaid ibn Tsabit jauh lebih tua dari ‘Abdullah ibn ‘Abbas. Atsar ini diriwayatkan oleh al-Hafizh Abu Bakar ibn al-Muqri dalam Juz Taqbil al-Yad.

Ibn Sa’d juga meriwayatkan dengan sanad-nya dalam kitab Thabaqat dari ‘Abd ar-Rahman ibn Zaid al-‘Iraqi, bahwa ia berkata: “Kami sudah mendatangi Salamah ibn al-Akwa’ di ar-Rabdzah. Lalu ia mengeluarkan tangannya yang besar seperti sepatu kaki unta, lalu dia berkata: “Dengan tanganku ini saya sudah membaiat Rasulullah”. Oleh karenanya lalu kami meraih tangan beliau dan menciumnya”#.

Juga sudah diriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa al-Imam Muslim mencium tangan al-Imam al-Bukhari. Al-Imam Muslim berkata kepadanya:

?????? ???????? ???? ??????????? ????????.
“Seandainya anda mengizinkan pasti saya cium kaki anda”#.

Dalam kitab at-Talkhish al-Habir, al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani menuliskan selaku berikut: “Soal problem mencium tangan ada beberapa hadits yang dikumpulkan oleh Abu Bakar ibn al-Muqri, beliau mengumpulkannya dalam satu juz full. Di antaranya hadits ‘Abdullah ibn ‘Umar, dalam menceritakan suatu kejadian di masa Rasulullah, beliau berkata:

??????????? ???? ?????????? ?????? ????? ???????? ????????? ???????????? ?????? ?????????? (???? ??? ????)
“Maka kami mendekat kpd Rasulullah lalu kami cium tangan dan kakinya”. (HR. Abu Dawud)

Di antaranya juga hadits Shafwan ibn ‘Assal, dia berkata: “Ada seorang Yahudi berkata kpd temannya: Mari kita berangkat kpd Nabi ini (Muhammad). Cerita lengkapnya seperti tertulis di atas. Lalu dalam lanjutan hadits ini disebutkan:

?????????? ?????? ?????????? ????????: ????????? ??????? ???????.
“Maka keduanya mencium tangan Nabi dan kakinya lalu berkata: Kami bersaksi bahwa engkau seorang Nabi”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Para Penulis Kitab-kitab Sunan (al-Imam at-Tirmidzi, al-Imam an-Nasa’i, al-Imam Ibn Majah, dan al-Imam Abu Dawud) dengan sanad yang kuat.
Juga hadits az-Zari’, bahwa ia termasuk iring-iringan utusan ‘Abd al-Qais, bahwa ia berkata:

??????????? ??????????? ???? ???????????? ??????????? ???? ?????????? ?????? ????? ???????? ?????????.
“Maka kami bergegas turun dari kendaraan kami lalu kami mencium tangan Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam”. (HR. Abu Dawud)

Dalam hadits soal kejadian al-Ifk (tersebarnya berita dusta bahwa as-Sayyidah ‘Aisyah berbuat zina) dari ‘Aisyah, bahwa ia berkata: “Abu Bakar berkata kepadaku:

???????? ??????????? ????????.
“Berdirilah dan cium kepalanya (Rasulullah)”. (HR. Ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir)#.

Dalam kitab sunan yang 3 (Sunan Abu Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasa-i) dari ‘Aisyah, bahwa ia berkata:

??? ???????? ??????? ????? ???????? ??????? ????????? ???????? ?????????? ????? ???? ?????????? ??????? ????? ???????? ???????? ????? ????????? ???????? ????????? ???????????? ????????????? ???? ??????????? ????????? ????? ?????? ????????? ??????? ???????? ?????????? ???????? ?????????????? ?????????????? ???? ???????????.
“Saya nggak pernah menyaksikan seorangpun lebih mirip dengan Rasulullah dari Fathimah dalam sifatnya, cara hidup dan gerak-geriknya. Tatkala Fathimah datang kpd Rasulullah, maka Rasulullah berdiri menyambutnya lalu mengambil tangan Fathimah, lalu Rasulullah mencium Fathimah dan membawanya duduk di tempat duduk beliau. Dan apabila Rasulullah datang kpd Fathimah, maka Fathimah berdiri menyambutnya lalu mengambil tangan Rasulullah, lalu mencium Rasulullah, sesudah itu ia mempersilahkan beliau duduk di tempatnya”.

Sedemikian penjelasan al-Hafizh Ibn Hajar dalam kitab at-Talkhish al-Habir.
Dalam hadits yang terakhir disebutkan, juga terdapat dalil soal kebolehan berdiri untuk menyambut orang yang masuk datang ke suatu tempat, kalau memang bermaksud untuk menghormati bukan untuk menyombongkan diri dan menampakkan keangkuhan.

Sedangkan hadits riwayat al-Imam Ahmad dan al-Imam at-Tirmidzi dari Anas ibn Malik yang menyebutkan bahwa para sahabat kalau mereka menyaksikan Rasulullah mereka nggak berdiri untuknya sebab mereka mengetahui bahwa Rasulullah nggak menyukai hal itu, hadits ini nggak memperlihatkan kemakruhan berdiri untuk menghormati. Pemaknaan hadits ini bahwa Rasulullah nggak menyukai hal itu sebab beliau takut akan diharuskan hal itu atas para sahabat. Dengan seperti ini, Rasulullah nggak menyukai hal itu sebab beliau berharap keringanan bagi ummatnya. Sebagaimana telah diketahui bahwa Rasulullah kadang suka melaksanakan sesuatu tapi ia meninggalkannya walaupun ia menyukainya sebab beliau berharap keringanan bagi ummatnya.

Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Abu Dawud dan al-Imam at-Tirmidzi bahwa Rasulullah bersabda:

???? ??????? ???? ??????????? ???? ?????????? ???????? ??????????????? ?????????? ???? ???????? (?????? ??? ?????? ??????????)

berdiri yang dicegah dalam hadits ini ialah berdiri yang biasa dikerjakan oleh orang-orang Romawi dan Persia kpd raja-raja mereka. Kalau mereka ada di suatu majelis lalu raja mereka masuk, maka mereka berdiri untuk raja tersebut dengan Tamatstsul; artinya berdiri terus sampai sang raja berangkat meninggalkan majelis atau tempat tersebut. Ini yang dimaksud dengan Tamatstsul dalam bahasa Arab.

Sedangkan riwayat yang disebutkan oleh sebagian orang bahwa Rasulullah menarik tangannya dari tangan orang yang hendak menciumnya, ini ialah hadits yang amat lemah menurut ahli hadits#.

Maka amat aneh bila ada orang yang menyebut-nyebut hadits dla’if  ini dengan maksud menjelekkan perbuatan mencium tangan. Bagaimana dia meninggalkan sekian beberapa hadits shahih yang membolehkan mencium tangan, dan dia berpegangan dengan hadits yang amat lemah untuk melarangnya!?

Hasbunallah.

Jasa Website Alhadiy

You might like

About the Author: admin

4 Comments

  1. Orang-orang Wahabi memang aneh bin ajaib. Kasus ini sama denga kassus dzikir berjama’ah. Para pengikut Wahabi mencela Cium Tangan orang-orang Shalih dan dzikir berjama’ah hanya berdasarkan dalil-dalil yang sangat lemah. Padahal keduanya adalah amalan Sunnah yg memiliki dasar dalil yg lebih kuat. Itulah Wahabi, beruntunglah mereka yang sudah pada tobat dari kekeliruan ala Wahabi.

    Tentang Dzikir Jama’ah bisa dibaca di sini

    1. mas mamo ,Abu hannan semakin menyesatkan pengunjung Blognya ,biasa mengikuti Tradisi Wahabi / Salafi yang menyebarkan Bid`ah Dolalah sambil mematikan Sunnah. saya mo komen disana males dia suka seenaknya meng hapus atau tdk menampilkan komentar.

KOLOM KOMENTAR ANDA :