Terlalu Cinta Tanah Air, 2 Ulama NU ini Ciptakan Lagu Kemerdekaan

Sangat Cinta Tanah Air, 2 Ulama NU ini Ciptakan Lagu Kemerdekaan

Terlalu Cinta Tanah Air, 2 Ulama NU ini Ciptakan Lagu Kemerdekaan

Oleh M. Rikza Chamami

Dunia pesantren mengenal rabithah (hubungan guru-murid) yang terlalu kuat. Guru senantiasa jadi inspirasi para santri-santrinya yang pernah mengaji. Sedemikian pula guru, senantiasa suka kalau menyaksikan para santrinya sukses berkhidmah di tengah masarakat luas. Tugas selaku guru seakan tuntas mempunyai generasi penerus. Santri juga merasa gembira sebab dapat meneruskan manfaat ilmu dari para guru-gurunya.

Sedemikian pula tampaknya yang dinikmati oleh guru-murid yang sama-sama berjuang meraih kemerdekaan Republik Indonesia dan mendirikan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU). Siapatah dia? KHR Asnawi Kudus (1861-1959 M) dan KH Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971). Dua tokoh pesantren ini dikenal selaku sosok guru dan murid yang saling menyokong satu dan lainnya dalam segala hal perjuangan menegakkan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.

KHR Asnawi ialah salah seorang guru dari KH Abdul Wahab Chasbullah saat mencari ilmu di Makkah bersama-sama KH Bisri Sjansuri Jombang, KH Dahlan Pekalongan, KH Kamal Hambali Kudus, KH Mufid Kudus dan KH Ahmad Muchid Sidoarjo (Minan Zuhri: 1983). KHR Asnawi terlalu lama bermukim di Makkah jadi guru di Masjidil Haram dan mengajar ilmu agam di rumah pondokannya.

Sedemikian pula KH Abdul Wahab Chasbullah disebutkan mulai belajar di Makkah semenjak usia 27 tahun dan mukim selama lima tahun (Ubaidillah Sadewa: 2014). Di antara guru Mbah Wahab selain KHR Asnawi selama belajar di Makkah ialah Syaikh Mahfudz Termas (tasawwuf dan ushul fiqih), Syaikh Mukhtaram Banyumas (Fathul Wahab), Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau (fiqih), Syaikh Baqir Yogyakarta (manthiq), Syaikh Asy’ari Bawean (ilmu hisab), Syaikh Sa’id Al Yamani (nahwu), Syaikh Sa’id Ahmad Bakry Syatha (nahwu), Syaikh Abdul Karim Al Daghestany (Kitab Tuhfah), Syaikh Abdul Hamid Kudus (ilmu ‘arudl dan ma’ani) dan Syaikh Umar Bajened (fiqih).

Dari sisi nasab, kedua Kyai ini sama-sama anak cucu dari Walisongo. KHR Asnawi anak cucu dari Sunan Kudus Sayyid Ja’far Shodiq dan KH Abdul Wahab Chasbullah ialah keturuan dari Maulana Ishaq (ayahanda Sunan Giri). Sehingga terlalu wajar, dalam bidang perjuangan dan keilmuan antara keduanya terlalu mempunyai kemiripan. Antusias dalam mencari ilmu dan ketegasan dalam menjalankan hukum agama juga jadi komitmen keduanya.

Bagian perjuangan yang ndak pernah dilupakan oleh kedua Kyai ini ialah dalam mengusir penjajah. Power ilmu dan santri yang dimilikinya, baik di Kudus dan Jombang digerakkan untuk mengusir penjajah dari bumi Indonesia. Kedaulatan Indonesia terlalu dibela mati-matian. Apalagi penjajah datang di bumi Indonesia terlalu mengganggu hak asasi manusia dan membawa misi menghanguskan Islam yang telah dipeluk oleh warga Indonesia.

Semenjak masih ada di Makkah, KHR Asnawi dan KH Abdul Wahab Chasbullah telah merancang bagaimana Indonesia yang terjajah oleh Belanda itu sanggup merdeka. Mbah Asnawi bersama-sama dengan Mbah Wahab, KH Abbas Jember dan KH Dahlan Kertosono mendirikan Sarekat Islam (SI) Cabang Makkah. Gerakan nasionalisme telah digaungkan dari tanah haram dengan menguatkan eksistensi SI dalam merespon pergerakan nasional. Sepulangnya ke Indonesia, dua Kyai ini masih menggelorakan cinta tanah air dan bertekad mengusir penjajah.

KHR Asnawi yang merupakan Penasehat SI Cabang Kudus dengan gagah berani membikin fatwa: “Haram hukumnya menyamai pakaian Belanda (bercelana, berjas, berdasi dan bertopi)”. Fatwa ini diindahkan oleh seluruh warga Kudus dan sekitarnya. Dalam memperjuangkan hak muslim di Kudus, KHR Asnawi pernah dipenjara oleh Belanda, sebab fitnah penjajah “geger pecinan”.

Dan malah dari balik jeruji hotel prodeo, dakwah KHR Asnawi kian kuat dan seluruh santri membala mati-matian dengan tidak suka penjajah dan minta KHR Asnawi dibebaskan. Antusias kebangsaan ditanamkan oleh KHR Asnawi kpd murid-muridnya. Mbah Asnawi mendirikan organisasi dan madrasah sebelum kemerdekan: Jam’iyyatun Nashihin, Nahdlatul Ulama dan Madrasah Qudsiyyah.

Hal yang sama juga dilaksanakan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah. Organisasi SI masih digeluti selama berada di Surabaya. Gerakan nyata Mbah Wahab dalam menyokong kemerdekaan telah ndak perlu ditanyakan lagi. Kemerdekaan dan hengkangnya penjajah jadi komitmen Mbah Wahab yang ndak sanggup ditawar-tawar lagi. Indonesia, Islam dan kerukunan bangsa Indonesia perlu diwujudkan.

Persinggungan dan keakraban Mbah Wahab dengan Agus Salim, Ki Hadjar Dewantara, W. Wondoamiseno, Hendrick Sneevliet, Alimin, Muso, Abikusno Tjokrosujono dan Soekarno membuatnya kian kuat merancang pergerakan cinta tanah air. Termasuk peran Mbah Wahab dalam mendirikan Islam Studie Club bersama-sama Dr Soetomo pada 1920. Termasuk Mbah Wahab mulai mendirikan organisasi dan madrasah sebelum kemerdekaan: Tashwirul Afkar, Nahdlatul Wathan dan Nahdlatut Tujjar.

Karya Lagu Pesantren
Di antara wujud kebanggaan dan kecintaan KHR Asnawi dan KH Abdul Wahab Chasbullah ditunjukkan dengan karya seninya. Dua kyai ini dikenal selaku sosok yang ‘alim dalam agama dan ahli membikin syi’ir (lagu khas pesantren berbahasa Arab). Apalagi dalam catatan sejarah, Mbah Wahab belajar ilmu ‘arudl (membicarakan cara membikin sya’ir berbahasa Arab) dengan KH Abdul Jalil semenjak di Makkah. Dan dunia pesantren memang ndak pernah melupakan ilmu ‘arudl dan ilmu balaghah (badi’, ma’ani dan bayan).

Loading...
loading...

Karya pesantren berupa syi’ir kemerdekaan yang dikarang oleh KHR Asnawi telah terlalu masyhur di kalangan santri Kudus. Syi’ir kemerdekaan (mudah disebut selaku Lagu Kemerdekaan khas pesantren) itu ialah:

لَحُرَّةٌ فِي انْدُنْسِيَا * بَدَتْ لَدَى إِنْسَانِيَا
وَأَهْلُهَا مُنْفَرِحُوْ * نَ فَرَحًا أَبَدِيَا
لِنَيْلِهَا قَدْ جَاهَدُوْا * أَنْفُسَهُمْ مَا بَاقِيَا
تَحْتَ يَدَيْ كُولُونِيَالْ * يَابَانِ وَالـهُولَنْدِيَا
وَمِنْهُمُو قَدْ أُعْزِرُوْا * إِلَى دِيْكُولْ إِيْرِيَانْ جَايَا
وَمِنْهُمُو قَدْ أُدْخِلُوْا * فِي السِّجْنِ قَلْبًا مَرْضِيَا
فَإِنَّهُمْ قَدْ أَخْلَصُوا * خِدْمَتَهُمْ وَطَنِيَا
تَهْوِيْ إِلَيْهِمْ أَفْئِدَ * ةُ الشَّعْبِ عَوْنًا جَلِيَّا
لِأُمَّةٍ وَوَطَنٍ * يُقَدِّمُوْا بِلَادِيَا
جَزَاهُمُوْ إِلَـهُنَا * أَعْمَالَهُمْ مُرَبِّيَا
حُرِّيَّةَ الفِكْرِ الَّتِيْ * تَنَالُ دِيمُوْكْرَاسِيَا
عَدَالَةً خَيْرِيَّةً * عِمَارَةَ اقْتِصَادِيَا

Sungguh kemerdekaan sudah terang bagi bangsa Indonesia
Seluruh bangsa bergembira selamanya
Sebab untuk memperoleh itu dibutuhkan perjuangan total
Dibawah jajahan kolonial Jepang dan Belanda
Ada yang diasingkan di Digul Irian Jaya
Ada juga yang dipenjara dengan full kepedihan
Sungguh mereka sungguh-sungguh ikhlas mengkhidmahkan diri untuk negara
Jiwa kebangsaan menggerakkan mereka berjuang secara nyata
Untuk bangsa dan negara
Semoga Tuhan membalas perjuangan mereka
Dengan menjaga kemerdekaan berpendapat yaitu demokrasi
Ke kemakmuran keadilan sosial

Adapun lagu kebangsaan yang dikarang oleh KH Abdul Wahab Chasbullah telah terlalu masyhur dan akan jadi “Lagu Perjuangan Nasional”, yaitu:
يَا لَلْوَطَن يَا لَلْوَطَن يَا لَلْوَطَن
حُبُّ الْوَطَن مِنَ الْإِيْمَان
وَلَا تَكُنْ مِنَ الْحِرْمَان
اِنْهَضُوْا أَهْلَ الْوَطَن
إِنْدُونَيْسيَا بِيْلَادِيْ
أَنْتَ عُنْوَانُ الْفَخَامَا
كُلُّ مَنْ يَأْتِيْكَ يَوْمَا
طَامِحًا يَلْقَ حِمَامَا

“Pusaka hati wahai tanah airku
Cintamu dalam imanku
Jangan halangkan nasibmu
Bangkitlah, hai bangsaku!
Indonesia negriku
Engkau Panji Martabatku
S’yapa datang mengancammu
‘Kan binasa dibawah dulimu!”

Karya Mbah Wahab ini ada yang menyebutkan dikarang semenjak 1916 (versi Cak Anam) dan digemakan semenjak 1934 (versi Ubaidillah Sadewa). Keduanya terang mempertunjukkan bahwa karya lagu pesantren ini berada pada posisi sebelum kemerdekaan. Dalam buku “Masterpiece Islam Nusantara: Sanad dan Jejaring Ulama-Santri 1830-1945” karya Zainul Milal Bizawie (2016: 55) terdapat kalimat tambahan dalam karya Mbah Wahab, ialah:
Jangan kalian jadi orang terjajah
Sungguh kesempurnaan dan kemerdekaan
Wajib dibuktikan dengan perbuatan

Karya pesantren dari dua Kyai ini menjadikan nyata, bahwa komitmen Kyai dalam mendukung kemerdekaan dan merayakannya jadi bagian yang utuh. Maka rasanya terharu sekaligus bangga menguping “Yahlal Wathan” karya KH Abdul Wahab Chasbullah Jombang jadi Lagu Nasional. Dan guru Kyai Wahab bernama KHR Asnawi Kudus juga mempunyai Syi’ir Proklamasi Kemerdekaan, Shalawat Kebangsaan dan Syi’ir Nasionalisme menyambut IR Soekarno selaku Presiden RI.

Zainul Milal Bizawie menekankan bahwa: “Tiap-tiap langkah Mbah Wahab yang dinamis, beliau senantiasa meminta nasehat dan saran dari Kyai Asnawi Kudus. Apalagi dengan keberadaan KH Hasyim Asy’ari yang senantiasa hati-hati dan full pertimbangan. Dalam kedinamisan dan pergerakannya, Mbah Wahab senantiasa minta saran Mbah Asnawi yang lebih aktif dan dinamis”. Disinilah titik temu Mbah Asnawi dan Mbah Wahab. Keduanya menggambarkan isi hati dan muatan dakwah Islamnya dalam lagu-lagu yang isinya hampir mempunyai kesamaan.

Hubungan guru & murid ini kompak dalam mendarmabaktikan ilmu ‘arudl-nya untuk Indonesia dengan lagu-lagu kemerdekaan khas Pondok Pesantren. Mbah Asnawi dan Mbah Wahab ialah sosok Kyai yang sungguh-sungguh mempertunjukkan bahwa bangsa Indonesia itu wajib pandai dan wajib dihibur dengan lagu khas pesantren untuk menyemangati cinta bangsa sekaligus mengenang jasa para pahlawan. Semoga lahir Asnawi dan Wahab baru di bumi Nusantara ini. Wallahu a’lam.

Penulis ialah alumni Madrasah Qudsiyyah Kudus, Pjs Ketua Umum IPNU tahun 2009 & Guru besar UIN Walisongo

Loading...

Source by Hakim Abdul

loading...

You might like

About the Author: Hakim Abdul

KOLOM KOMENTAR ANDA :