Tatkala Boneka Jadi Pemimpin

Ketika Boneka Menjadi Pemimpin

Tatkala Boneka Jadi Pemimpin

JAKARTA – Kenapa rakyat mau memilih boneka, patung atau berhala untuk jadi pemimpinnya? Sebab partai politik memperkenalkan calonnya dengan mendustakan kenyataannya. Calon pemimpin diperlihatkan dengan pencitraan, pembohongan, di make-up sedemikian rupa, dibesar-besarkan, dibaik-baikkan, diindah-indahkan, dihebat-hebatkan.

Itu bukan politik namanya, Pak, itu kriminal.

Sungguh bukan politik, melainkan perdagangan. Bukan demokrasi, melainkan perjudian. Sungguh bukan kepemimpinan, tapi talbis. Jikalau dipaksakan untuk disebut demokrasi, ya itu namanya Demokrasi Talbis.

Talbis itu apa tho, Pak?

Talbis ialah Iblis menjumpai Adam di sorga dengan kostum dan make up Malaikat, sehingga Adam menyangka ia ialah Malaikat. Maka Adam tertipu. Rakyat ialah korban talbis di bermacam lapisan. Mereka dibohongi sehingga menyangka bahwa yang dipilihnya ialah pemimpin, padahal boneka. Boneka yang diberhalakan melalui pencitraan.

Apakah pemimpin yang sedemikian sanggup berkuasa?

Yang sungguh-sungguh berkuasa ialah botoh-botoh (bobotoh) yang membiayainya. Saban langkahnya dikendalikan oleh para bobotoh. Saban keputusannya telah dipaket oleh penguasa modal. Ia tidak sanggup mandiri, sebab dikepung oleh kelompok-kelompok yang juga saling berebut untuk melakukan kepentingan masing-masing.

Apa ia tidak merasa malu jadi boneka?

Itu 1 rangkaian: tidak merasa bersalah, tidak malu, tidak tahu diri, tidak mengerti bahwa ia tengah menyakiti dan menyusahkan rakyatnya, tidak memahami posisinya di hati masarakat, tidak punya cermin untuk menyaksikan wajahnya.

hingga separah itu, Pak?

Loading...
loading...

Tidak punya konsep mengenai hal martabat manusia, harga diri Bangsa dan kehormatan Negara. Cuma mengerti perdagangan linier dan sepenggal, tidak paham perniagaan panjang yang ada lipatan dan rangkaian putarannya. Tidak memahami tanah dan akar kedaulatan, pertumbuhan pohon kemandirian, dengan time-line matangnya bunga dan bebuahannya. Pemimpin yang sedemikian membawa bangsanya berlaku selaku pengemis yang melamar ke rentenir….

“Pemimpin yang seperti itu akhirnya pasti jatuh dan hancur”, kata Kakak.

“Belum tentu”, kata Bapak.

Jangan lupa bahwa jikalau para bobotoh sanggup mengangkat berhala ke kursi singgasana, artinya mereka juga menguasai semua perangkat dan modalnya untuk buat apa saja semau mereka di Negara itu.

Juga senantiasa terlalu beberapa orang dan kubu yang mencari keuntungan darinya, bahkan menggantungkan hidupnya. Sehingga mereka membela boneka itu mati-matian.

Mereka senantiasa Mempublikasikan betapa baik dan hebatnya pemimpin yang mereka memperoleh keuntungan darinya, sampai-sampai akhirnya mereka percaya sendiri bahwa ia sungguh-sungguh baik dan hebat. Uang, kekuasaan dan media, sanggup Mempublikasikan sorga selaku neraka, dan meyakinkan neraka ialah sorga. [ARN]

Penulis: MH.A’INUN NAJIB.


Source by Samsul Anwar

loading...

You might like

About the Author: Samsul Anwar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *