Jasa Web Alhadiy
Anak Cucu Nabi

Tak Seluruh Habaib Ahlussunnah Wal Jamaah

Iklan

KH Ihya Ulumudin, pengasuh pesantren Nurul Haramain Pujon Malang, pernah menjelaskan: keturunan Rosulullah SAW (durriyah), ibarat permata. Kalau kotor, mudah dibersihkan, dan cepat mengkilat. Artinya, keturunan Rosulullah SAW dari Hasan maupun Husain itu masih mengalir darah Rosulullah SAW. Sebab aliran darah itulah, para durriyah Rasulullah Saw amat istimewa, hebat, dan kadang kecerdasan mereka di atas rata-rata. Dan yang mengerti, memahami bahwa habaib itu keturunan Rosulullah SAW hanyalah NU yang beraliran Ahlussunnah Wal Jamaah.

Walaupun tak sedikit pengajian-pengajian di luar NU, yang menjelaskan anak cucu Nabi itu telah tak ada (terputus). Menjadi, jika ada yang menjelaskan keturunan Nabi, itu berarti mengaku-ngaku. Itu sering aku dengarkan dari orang dekatku saat mengikuti pengajian-pengajian di luar NU.

Mengakui atau tak, di luar Akidah Ahlussunnah Waljamaah Al-Nahdiyah (NU), ternyata ada semacam doktrin, bahwa keturunan Nabi telah tak ada lagi, alias terputus.

Habaib itu mulya, dihormati dan dikagumi, pun sebab ulama-ulama NU. Tak satu juga ulama dan kyai NU yang pernah aku temui, kecuali mereka menganjurkan supaya supaya memulyakan Durriyah Rosulullah SAW. Bahkan, kyai-kyai NU, mencium tangan para habaib, walaupun para habaib itu bekerja di pasar, yang nota bene dari segi ke-ilmuan amat dangkal. Tetapi, begitulah ajaran ulama-ulama NU, kepada putra-putrinya wajib memulyakan durriyah Rosulullah SAW.

Ini tak sama sekali dengan kelompok organisis ke-islaman selain NU, baik organisasi, maupun organiasi politik sebagaimana; Persis, Al-Irsad, Salafi Wahabi, Hizbutahrir. Tak satupun dari kelompok wahabi, salafi dinegeri ini, kecuali mengakui bahwa durriyah itu telah terputus. Kalaupun ada yang mengakui, mereka tetap tak ada yang menghormati, sebagaimana orang-orang NU yang memang konsisten pada ajaran Rosulullah SAW dalam urusan memulyakan Durriyah Rosulullah SAW.

Tak pernah pun ditemukan, seorang Salafi, Wahabi, saat bersalaman dengan Habaib, mau mencium tangan. Warga Nahdiyin ketika menyebut keturunan Durriyah RosulullahSAW itu disebut dengan sayyid/habib/habaib. Sementara kelompok Salafi Wahabi menyebut sayyid dipelesetkan dengan sayyi’ yang artinya buruk.

Tak berhenti di situ, kelompok Wahabi tak satupun yang menghormati dan memulyakan keturunan Rosulullah SAW (habaib/sayyid). Ketika warga Nahdiyin dan Habaib merayakan mauled Nabi Muhammad, dengan diiringi alunan rebana. Orang-orang Wahabi Salafai yang mengklaim pengikut Ahlsusunnah Wal jamaah menjelaskan itu nyayian tidak sholawatan. Shigot sholawat yang diciptakan oleh ulama-ulama dan pun di buat oleh durririyah Rosulullah SAW dikatakan bidah (mengada-ngada). Seluruh ulama Salafi dan Wahabi setuju bahwa namanya bidah itu tersesat dan sebagai ahli neraka. Tak sampai di situ, sholawat itu bisa dikatakan syirik sebab mendewakan Rosulullah SAW.

Tidak cukup puas menyudutkan habaib, kaum Wahabi menjelaskan Bidah itu jauh lebih dilike Iblis dari pada maksiat. Kaum Wahabi menukil pernyataan Al-Tasuri, padahal itu amat lemah dan tak bisa dipertanggung jawabkan. Wahabi Salafi itu tak menyaksikan pernyataan itu dhaif, yang penting bisa digunakan untuk menyerbu dan menyesatkan Ahlunssunnah Waljamaah Al-Nadhiyah. Sementara, ketika orang NU merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW bareng para Durriyah Rosulullah SAW dikatakan tersesat dan ahli neraka. Dengan alasan klasik, tak sesuai dengan Sunnah.

Walau Istimewa, Tidak Semua Habaib Ahsunnah Waljamaah

Gus Dur dan Durriyah Rosulullah SAW

Gus Dur tak pernah mati diperbincangkan oleh warga Nahdyin. Gus telah mati tetap para pembelanya tak ada matinya. Gus telah tiada, seluruh orang menyukainya tetap setia kepadanya. Gus Dur telah mati tetapi ide dan pikiranya masih meng-inpirasi warga negeri ini.

Gus selalu berusaha memberi yang terbaik untuk negeri ini. Teladan Gus Dur itukyai dan habaibdan yang mengajarkan cinta dan membela Nabi SAW. Jangankan Rosulullah SAW, Durriyah Rosulullah SAW yang di Indonesia saja di bela mati-matian. Ini membuktikan bahwa Gus Dur itu tak ingin ada orang yang berkata negative terhadap keturunan Rosulullah SAW yang mempunyai andil besar di dalam membangun negeri Indonesia dan membina ahlak.

Suatu saat, tatkala pernyataan ketua umum MUI KH. Hasan Basri yang dimuat di surat berita harian terbit tahun 1993 bahwa: Tak ada anak keturunan Rasulullah di Indonesia bahkan di jagat karna telah dinyatakan terputus dikarenakan tak adanya lagi keturunan Hasan dan Husein. Pernyataan ini amat menyakitkan, sebab selama ini warga NU berkeyakinan bahwa Habaib itu ialah keturunan Rosulullah SAW, bagus dari Hasan maupun Husen. Tak satu-pun warga NU, kecuali mengakui bahwa Habaib/ Sayyid itu ialah Durriyah Rosulullah SAW.

Pernyataan Hasan Basri ini membikin para ulama Nahdiyin, khususnya parahabaibtidak menerimanya. Mereka merah telinganya, sebab di anggab tidak keturunan Rosulullah SAW, pada jelas-jelas mereka mempunyai nasab yang papar menyambung kepada Rosulullah SAW.

Bagian habib yang merah telingany adalahAl-Habib Muhamnad al-Habsyi Kwitang, yang pada waktu itu dalam kondisi sakit. Beliau meminta kepada al-Habib Nauval bin Jindan untuk tampil membela kehormatan anak cucunya Rasulullah Saw. Dan kejadian tersebut boleh dikatakan petistiwa terdahsyat atas fitnah yang ditujukan kepada para habaib, sampai memakan waktu lebih dari dua tahun kejadian tersebut masih hangat diperbincangkan. Hingga-sampai sebuah majalah mengeluarkan kabar di sampul utamanya dengan judul Apa Jasamu Hai Para Habaib.

Al-Habib Nauval dari satu mimbar menuju mimbar lainnya menyeru kepada para ulama Nahdiyin: Hai kalian para ulama, bangkit kalian jangan mau diperalat oleh siapapun. Kami para habaib tak butuh pengakuan. Tapi jika kalian cuma diam atas fitnahan terhadap kami, sesungguhnya kalianlah yang paling rugi serugi-ruginya.

Sedangkan Gus Dur, yang menyempatkan datang di Pondok Pesantren al-Fachriyah di Cileduk sekitar tahun 1994, diantara pidato yang disampaikan ialah: Cuma orang bodoh yang mengatakan batu permata dibilang batu koral. Dan yang paling bodoh batu permata kok dihargakan batu kerikil. Mereka para cucunya Rasulullah Saw. datang menuju negeri ini merupakan karunia Tuhan yang terbesar. Dan cuma orang-orang yang kufur nikmat jika tak mau mensyukurinya.

Kedatangan beliau memberi supporting kepada al-Habib Nauval bin Salim bin Jindan yang sedang menentang pimpinan MUI waktu itu, yaitu KH. Hasan Basri, yang tak mengakui adanya keturunan Nabi SAW. Kejadian tersebut merupakan hal yang sulit dilupakan.

Jauh sebelum Gus Dur, kaum Nahdiyin memang mempunyai kewajiban memulyakan Durriyah Rosulullah SAW. Dalam praktek sehari-hari, memang ada kesamaan, bagus masalahakidah, amaliyah, dan ibadahnya. Yang paling menonjol ialah kesamaan dalam masalah Mencintai Durriyah Rasulullah Saw dengan membacakan Qosidah-Qosidah memuji Rosulullah SAW, Al-Burdah, Al-Barjanji, Simtu Al-Duror, Ratibul Haddad. Saban bulan Maulid Nabi tiba, seluruh warga NU dimana saja meramaikan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW bareng para habaib.

Memang tak dipungkiri, bahwa tak semuaDurriyah Rosulullah SAW, senada dan se-irama dengan akidahAhlussunah Waljamaah Al-Nahdiyah. Karena, ada sebagian dari mereka mengikutiSyiah. Yang mana kelompok Durriyah Rosulullah SAW yang memang sebagian mempunyai nasab, sering mengajak warga Nahdiyin supaya ikut serta mengikuti Syiah. Ini terjadi dimana-mana, bahkan sebagian Syiah di Indonesia pun dekat dengan para Durriyah Rosulullah SAW yang dekat dengan kaum Syiah.

Titik Temu NU, Wahabi dan Syiah

NU secara spesial menjelaskan bahwa NU secara teologi mengikuti Abu Hasan Al-Asaary yang secara tegas mengikuti Ahlussunah Waljamaah. Abu Hasan Al-Asaary satu-satunya ulama yang pertama kali mengunakan Istiilah Ahlussunah Waljamaah. Selaku Ahlussunah Waljamaah, NU memulyakan seluruh sahabat Rosulullah SAW, sebagaimana Rosulullah SAW memulyakan sahabat-sahabatnya.

Sedangkan dalam urusan ibadah dan amaliyah, NU mengikuti Madahibu Al-Arabaah yang dipercayai selaku pengikut setia Rosulullah SAW yang ber-aliran Ahlussunah Waljamaah.Saat menyikapi perbedaan, NU selalu mengamil jalan tenggah (tawassut) dan tegal lurus (Itidal), serta se-imbang (tawazun). Dimana ketiga-tiganya mereferensi pada pada ayat Al-Quran selaku rujukan utama Ahlussunah Waljamaah An-Nahdiyah.

Teologi Ahlussunah Wal Jamaah An-Nahdiyah (NU) menghindari gaya-gayaAl-Tatorruf(Ekstrimisme dan Radikalisme). Itu yang sering disampaikan serta yang ditulis oleh KH Achmad Siddq: Khittah Nahdyah. Amat papar bagaimana sikap NU, termasuk pengakuan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia selaku harga mati.

Sementara Syiahmemang mempunyai ke-miripan dengan NU secara tradisi, sebagaimana; mencintai Durriyah Rosulullah SAW, memuji dan memulyakan keturunan Nabi, sebagaimana; Ali Ibn Abi Thalib ra, Fatimah Al-Zahra serta putranya Hasan, Husain. Warga NU tak segan-segan memuji dalam bentuk syair-syair indah terhadap Rosulullah SAW, serta keluarga dekatnya. Sebab NU tak pernah mengajarkan tidak suka sahabat, serta keturunan Rosulullah SAW. Dosa besar bagi saban orang yang yang menghina terhadap sahabat, serta keturunan Rosulullah SAW.

Dasarnya amat papar, yaitu hadis Rosulullah SAW yang artinya: Didiklah anak-anak kalian dalam tiga perkaracinta kepada Nabimu, cinta kepada keluarganya (ahlul-bait) dan membaca Al-Qur’an(H.R. Ath-Thabrani, Al-Hakim). Imam Syafii, sebagaim Imam teladan warga Nahdiyin pun menjelaskan dalam sebuah syairnya:Wahai ahlu bait Rosulillah, mencintai kalian itu # ialah kewajiban dari Allah dalam Al Quran yang diturunkan.

Bedanya antar Syiah danAhlussunah Waljamaah Al-Nahdiyah,NU mencintai seluruh sahabat Rosulullah SAW, baik dari kalangan Durriyah atau tidak dari Durriyah. NU meyakini, bahwa seluruh Khulafaur Rosidin itu selaku pemimpin yang sah, yang tak perlu pro kontra. NU pun mengakui seluruh sahabat itu merupakan generasi terbaik, dan mereka memperoleh jaminan surga dari Allah SWT.

Sementara, Syiah cuma mengakui sahabat-sahabat dari keturunan Nabi SAW, sementara sahabatAbu Bakar, Umar, UsmanIbn Affan ra, bahkan Aisyah ra selaku istri Nabi memperoleh kecaman, bahkan di olok-olok. Inimerupaka perbedaan yang signifikan antaraSyiah dan Ahlussunah Waljamaah An-Nahdiyah.Hingga kapan-pun, NU dan Syiah tak bakal bisa bertemu.

Sementara itu, saat menyikapi titik temu antaraAhlussunah Waljamaah An-Nahdiyah (NU) dan Salafi Wahabi, KH Mustafa Yakub, seorang ulama dan guru besar Ilmu Hadis sudah mecatat atikel yang berjudul Titik Temu NU dan Wahabi. Tulisan itu menarik perhatian berbagai orang. Saking menariknya teman-teman lulusan Umm Al-Qura, khususnya yang NU Ahlussunah Waljamaah, bahkan yang tak NU-pun menyebarkan tulisan itu. Dengan harapan, orang-orang lebih mengetahui titik temu antara NU dan Wahabi. Sekaligus memberitahukan kepada yang tidak NU, khususnya yang selalu melenceng (sinis) cara pandangya terhadap NU.

Menariknya, tulisan KH Mustafa Yakub bahkan menarik kegelisahan bagi warga NU, khususnya kaum santri yang konsisten dengan Ahlussunnah Wal Jamaah An-Nahdiyah. Sementara orang yang berbau Wahabi amat suka, sebab merasa memperoleh pengakuan dari kalangan Nahdiyin.

Wajar kalau lantas kalangan santri, tulisan itu menimbulan kegalauan santri-santri NU, sehingga ada yang tergelitik untuk merespon dengan menulis tanggapan yang amat menarik. Sebab selama ini wahabi salafi tak pernah berhenti menyesatkan warga NU yang merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW, begitu pun dengan tahlilan. istighotsah, serta tawasulan.

Aku pribadi, amat setuju dengan tulisan KH Mustafa Yakub ketika menyebutkan titik temu antara NU dan Wahabi. Apalagi, buku-buku (kitab) rujukan warga NU itu sama dengan rujukan Wahabi. Tafsir, Ibn Katsir, Tafsir Al-Qurtubi, Al-Maragi, Ibn Abbas, bahkan tafsir Jalalain yang diajarkan di pesantren seluruh nusantara pun di ajarkan di Masjidilharam. Hampir seluruh tafsir yang ada, NU dan Wahabi menggunakan, sekaligus sebagai rujukan.

Seperti itu pun dengan hadis dan mustolahnya, sebut saja Muqoddimah Ibn Solah, satu-satunya kitab yang sebagai rujukan, bakan diajarkan di kampus Umm Al-Qura University. Apalagi, kitab hadis Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Nasai, Ibn Majah, Abu Dawud, Al-Tabrani. Kitab itu diajarkan di Masjidilharam dan Masjid Nabawi, bakan Syekh Wasiyullah mengajar kitab Hadis di Masjidilharam.

Seperti itu pun dengan fikih, hampir seluruh karya Imam Syafii, Maliki, Hambali, dan Ibn Hanifah bisa diperoleh di Arab Saudi. Secara spesial, kampus-kampus yang ada, mengajarkan madhab Imam Ibn Hambal. Ini bisa dilihat dalam praktek ibadah sehari-hari, bagus problem sholat, thaharah dan lain-lain.
Bakal tetapi, saat menyaksikan realitas dilapangan, bagus ketika membaca atikel, serta tulisan-tulisan buku, serta ceramah dan siaran radio dan telivisi dari kalanganWahabis Salafismesangat bertentangan.

Inilah bukti nyata, bahwa Wahabi itu amat tidak suka Ahlussunah Waljamaah Al-Nahdiyah.Tak tanggung-tanggung, warga NU dah Habaib yang suka melaksanakan Maulid Nabi dikatakan tersesat bertentangan dengan sunnah Rosulullah SAW, tempat mereka dalah Neraka.

ulama-ulama hadis dan tafsir, fikih seringkali dikecam habis-habisan oleh Wahabi dengan alasan bahwa akidah mereka tidak Ahlussunah Walajamaah. Seluruhnya tahu, bahwa ulama-ulama sebelumnya, sebagaimana; Imam Nawawi, Ibn Hajar Al-Askolani sudah keluar dariAhlussunah Aal Jamaah, sebab keduanya mengikuti Teologi (akidah Al-Assyairoh). Seluruh tahu, bahwa sebagian besar ulama-ulama hadis, tafsir, fikih, mengikuti akidah Al-Syairah. Apakah dengan kata lain, wahabi sudah menjustifikasi ulama-ulama sebelumnya tersesat.

Ada yang amat nyata, dalam jagat intelektual, dimana bagian kitabAl-Adzkar li Anawawi, dalam Bab fi Istihbab ziyarati Qobri Al-Nabi pernah diubah sebagai Bab Fi Istihbabi Masjid Nabi. Ini bagian kejahatan intelektual yang dilakkukan oleh salah satu ulama wahabi terhadap Imam Nawawi yang sebagai rujukan utama Ahlussunah Wal Jamaah An-Nahdiyah.

Baik Wahabi maupun Nahdiyin sama-sama menyukai dan membaca kitab-kitab karya Ibn Taimiyah, Ibn Qoyyim. Aku sering menyaksikan di perpustakaan ulama’ NU selalu ada buku karya Ibn Qoyyim, sebagaimana; Kitab Ar-Ruh. Bahkan, kitab Al-Ruh kadang dibuat ngaji rutin. Ada lagi kitab yang digemari oleh santri dan kyai NU, yaitu Zadul Maad. Dalam hal referensi kitab rujukan, bahkan problem ibadah, antara NU dan Wahabi berbagai titik temunya.

Aku setuju dengan tulisan KH Mustafa Yakub yang mempunyai kedalaman ilmu hadis, tetapi tak semuanya. Sebab teologi keduanya tak sama. Aku pun bangga dengan keberadaan beliau dalam tubuh NU, karena beliau bagian ulama hadis yang di miliki oleh NU. NU tetap menghormati perbedaan yang terjadi, tetapi jangan sampai Wahabi ngriwuki (ikut campur) rumah tangga NU.

Memang tak dipungkiri, berbagai kesamaan antara Wahabi danAhlussunah Wal Jamaah An-Nahdiyah, tetapi ada pun berbagai hal yang tak bisa dipertemukan, bahkan terkesan bertentangan.

Salah satunya ialah, bahwa Nahdiyin itu mengikuti empat madhab fikih yang selama ini dilaksanakan. KH Hasyim Al-Asaary di dalam risalahnya Sungguh, orang-orang Muslim di tanah Jawa semenjak dahulu, mengambil Imam Syafii dalam madzhabnya, dan Abu Hasan Al-Asaary dalam urusan teologi (usuluddin), dan Imam Al-Ghozali dan Abu Hasan Al-Syadili dalam urusan tasawufnya(Risalah Ahlussunah Waljamaah: KH Hasyaim Asaary).

Sementara, kaum Wahabi mengecam habis-habisan, khususnya Syekh Al-Bani dalam berbagai tulisanya selalu menghina para ulama terdahulu, khususnya Ahlussunah Waljamah An-Nahdiyah yang mengikuti teologi Abu Hasan Al-Asaary dan mengikiti madhab Imam Syafii. Di sinilah letak perbedaan mendasar antara Ahlussunah Wal Jamaah Al-Nahdiyah dan Wahabis Salafi yang berkembang di Arab Saudi. Hany satu kata, jangan memaksakan keyakinan Salafi kepada warga Indonesia yang telah mempunyai keyakinan sendiri.

Ada yang menarik, Ibn Taimiyah-pun yang notabene guru dari Syekh Al-Bani pun dikritik hab-habisan oleh sang murid. Lebih menarikanya, bahkan kiritikan terhadap gurunya itu mengunakan kalimat-kalimat yang tak pantas untuk seorang yang ber-ilmu (ulama). Pernyataan ini sering disampaikan oleh Buya Yahya dalam ceramah dan disukusi di TV Cirebon.

Dalam sebuah kitab Silsilah Al-Hadis Ash-Shahihah , sebuah pernyataan yang mengejutkan bahkan terkesan sebagai pembeda antarAhlussnah Wal jemaah Al-Nahdiyah(NU) dan Wahabi Salafi. Syekh Al-Bani menuliskan:musuh sunnah ialah orang-orang bermadhab, ber-akidah Al-Asyairah para Sufi dan yang lainnya(Nasirudin Al-Bani: 6/675). Ini bertentang dengan Risalah Ahlussunah Wal Jamah Al-Nahdiyah yang di tulis oleh KH Hasyim Al-Asaary.

Bahkan ulama Wahabi lainya, yang bernama Al-Qonuji, dalam kitab Al-Din Al-Kholish jilid I halaman 140. Kayak gitu pun pernyataan Abdurahman Ibn Alu Syekh, di dalam kitab Fathu Al-Majid Syarh Kitab at-Tauhid, menyatakan mengikuti mahhab-madhab bagian dari syirik (Al-Qonuji, 1/140). Inilah yang tak bisa ditemukan antara Ahlussunah Wal Jamaah An-Nahdiyah (NU) dan Wahabi Salafi.

Dengan kata lain, orang NU, Muhammadiyah yang mengikutiTeologi Al-Syairah, menurutWahabi Salafitidak diizinkan di namakan dirinya Ahlussunah Waljamaah. Padahal dalam catatan sejarah, bahkan Akidah Ahlussunah Wal jema\’ah di gagas dan dicetuskan oleh Imam Abu Hasan Al-Asaary. Tidaklah berlebihan kalau lantas Nahdatul Ulama selaku organisasi terbesar jagat menjelaskan dan mengakui selaku pengikut Ahlussunah Waljamaah Al-Shahihah.

NU itu mempunyai ahlak, memulayakan, menghormati, guru-gurunya, bahkan pun berkewajiban memulyakan seorang guru (kyai) yang selama ini mengajarkan ilmu agama. NU tak pernah diperkenankan meledek, apalagi sampai men-kafirkan atau justifikasi sesama muslim dengan masuk neraka, selama masih mengucapkan dua kalimah shahadat.

Selaku organisasi terbesar dunia, dengan mengikuti Ahlussunah Waljamaah, NU itu selalu bepergagan pada hadis Rosulullah SAW yang artinya:siapa saja yang berkata kepada saudaranya, Hai Kafir. Maka bakal terkena salah satunya kalau yang vonisnya itu benar, dan kalau tak maka bakal kembali kepada (orang yang mengucapkan)nya. (HR Bukari dan Muslim).

Kalau wahabi Indonesia seringkali menuduh dengan takfir, tafsik, tabdi terhadap warga Nadhdiyin. Maka itulah ciri khasnya, sementara NU mencegah selaku pengikut Ahlussunah Waljamaah mencegah keras melaksanakan takfir, tafsik, tabdi sebab bertentangan dengan ajaran sunnah Rosulullah SAW.

Ahalussunah Wal Jamaah An-Nahdiyah(NU) yang menyebar keseluruh pelosok nusantara berpendapat bahwasanya sholat di belakang orang-orang wahabi itu SAH. Sementara sebagian orang Wahabi berpendapat bahwa sholat di belakang orang Beraqidah Al-Assary dan Sufi itu tak sah.

Orang Sufi dianggab keluar dari akidah Rosulullah (musuh sunnah). Inilah perbedaan mendasar antara NU dan Wahabi. Di sisi lain ada titik temu, di sisi lain perbedaan mendasar amat terlihat.

Begitulah ciri khasAhlussunah Waljamaah An-Nahdiyah Al-Shahihahyang di ajarakan para ulama salafussolih, yang menyambung kepada para sahabat, sampai Rosulullah SAW.

Sikap Wahabi Terhadap Habaib

Pada tanggal 15 Juli, 2012 ada berbagai orang laki-laki tiba-tiba mendatangi warga An-Nahdiyin dan Habaib yang sedang bersholawatan. Dengan mengenakan sarung dan Kaos berlogo pohon kurma dan bertuliskan KSA (Kerajaan Arab Saudi), laki-laki datang dengan nyali yang tinggi dan percaya diri.

Kedatanganya tidak mau berkoalisi dan turut serta bersholawata kepada Rosulullah SAW dengan jemaah maulid Habib Zakky Assegaf. Kedatangan itu untuk ingin membubarkan sholawatan yang di anggab tersesat dan masuk neraka. Kejadian sebagaimana ini sering terjadi.

seusai mendekati kediaman Habib Zakky Ibn Bakar Assegaf , tepatnya pada pukul 21.00 , di mana waktu ituMajelis Maulid dan Dakwah Habib Zaky Assegafsedang asik-asiknya menikmati membaca syair-syair soal pujian terhadap Rosulullah SAW. Tiba-tiba laki-laki itu meminta supaya menghentikan sholawatan itu dengan alasan menganggu warga berkisar. Padahal Habib Zaky Assegaf dan warga sekitar telah dipertemukan oleh polsek. Mereka tak ada apa-apa dan tak ada yang merasa terganggu dengan sholawatan itu. Ternyata, oknum Wahabi mengaku-ngaku mengatasnamakan warga, padahal itu cermin dari sebuah kebencian wahabi terhadap Sholawatan Ala Habaib.

Muncul berbagai ucapan yang mengesankan bahwa Maulid Nabi itu bidah, tak sesuai dengan ajaran Rosulullah SAW. Kalau menyaksikan dari kitab-kitab Ibn Taimiyah, Ibn Qoyyim, serta ulama-ulama salafi Arab Saudi. Orang Wahabi itu menyakini bahwa Maulid Nabi itu bidah (tersesat) dan masuk Neraka.

Tidaklah heran, kalau laki-laki itu memaksakan diri menghentikan Maulid Nabi tersebut. Hampir saja, laki-laki wahabis pembenci sholawatan itu di amuk masa. Di samping tak sopan, dia merasa paling benar, dan menyesatkan (mengkum) para pencita sholawatan Nabi sebagai ahli bidah dan neraka.Untung saja, Habib Zakky Asseggaf meminta para hadirin dan warga menahan diri, sehingga tak terjadi apa-apa.

Kejadian serupa lumayan banyak, di mana oknum-oknumwahabis salafismemembuat onar, dan buat resah, baik melalui tulisan, ceramah di TV dan Radio. Dengan mudahnya menyesatkan amaliyah An-Nahdiyah, sebagaimana; sholawatan, dzikir berjamaah, tahlilan. Jauh sebelum mereka ada di Indonesia, seluruh ulama nusantara, telah melaksanakan dan itu berdasarkan para pandangan para ulama-ulala salafussolih. Kitab-kitab klasik telah menerangkan dengan gamblang. Kedatangan Wahabisme sudah membikin negeri ini tak nyaman lagi, dan mereka mulai buat resak dan rusak kerukukan ummat beragam yang selama ini di bangun. Cerita pembubaran Sholawatan yang dilaksanakan oleh oknum Wahabisme Salifisme di Jokjakarta ter-ulang lagi di Majelis Al-Dizkra yang di asuh oleh KH Arifin Ilham. Cuma saja, yang berulah kali ini tidak Wahabi, tetapi Syiah.

Bagaimana bisa jadi, berbagai kelompok datang dan mengatasnakan Syiah menyatroni tempat Al-Zikra yang di asuh Arifin Ilham. Seluruh setuju dan tahu, bahwa Arifin Ilham itu Ahlussunah Waljamaah, suka Maulid Nabi Muhammad SAW, selalu melaksanakan Dzikir Berjamaah. Mengajak orang menjadi lebih baik dan lebih dengan Allah SWT dan cinta terhadap Rosulullah SAW.

Baru-baru ini, ketika pengajian yang dilaksanakan oleh Gur Nuril, dimana ketika beliau ber-api-api menceritakan bagaimana kaum wahabi, serta kekejaman orang-orang wahabi terhadapAmaliyah An-Nahdiyah.Jelas saja, ini membikin panas telinga gerakan-gerakan yang selama ini benci terhadap Amaliyah Al-Nahdiyah.

Tak dipungkiri, Gus Nuril memang orang NU yang suka blusukan menuju gereja, tetapi tetap saja beliau itu orang NU yang tetap gemar bersholawatan. Ketika Gus Nuri di minta menghentikan ceramahnya, Gus Nuril itu tetap membaca sholawat. Tetapi, bahkan para jemaah bertakbir seakan-akan bakal berperang meminta Gus Nuril turun.

Hingga kapanpun Gur Nuril tetap bakal mencium tangan Habib Lutfie serta para ulama dan kyai, sebab itu ialah ajaran yang sesungguhnya. Dan sampai kapan-pun, orang-orang Salafisme tak bakal mengakui bahwa habaib itu masih keturunan Rosulullah SAW. Apalagi mau mencium tanganya.

Kalau ada persolan, apalagi ini terjadia antara dua orang pengemar sholawatan, mencintai Rosulullah SAW, yang notabene warga NU. Hendaknya diselesaikan dengan bagus, kepala dingin, serta bermusyarah. Jangan sampai pengajian yang menuntun ummat sebagai lebih bagus moralnya, lantas berubah sebagai tontonan yang tak elok.

Bukankan ulama itu wajib mempunyai sifat khosyah kepada Allah SWT. Bukankan ulama itu penyambung lisan Rosulullah SAW. Seluruh tahu, ulama itu membimbing ummat sebagai ber-ahlak mulia. Jangan sampai menodai Majlis Rosulullah SAW dengan kata-kata tak elok. Sekecil apa-pun, kalau tak terjadi kekacauan atau permusuhan ketika maulid Nabi SAW, Rosulullah SAW tak bakal diridho dengan perlakukan itu. Apalagi, Masjid Sholawat dipergunkana untuk mencari sensasi, politik, bahkan untuk mencari duit. Orang sebagaimana ini bakal kuwalat.

Sebuah ke-khawatiran, baha kalangan Wahabi yang amat benci terhadap Ahlussunah Wal Jamaah Al-Nahdiyah sedang memprovokasi. Mereka ikut serta naik gerbong FPI, dengan maksud mengadu domba antara Habaib dan kiai yang masig-masing suka dengan sholawatan. Karena, cuma dengan cara itu, salafi bisa bergerak. Bahkan, untuk memusuhi Syiah, orang-orang wahabi mendekati NU, supaya lebih keras. Dari situlah wahabi bergerak.

Selamanya, Wahabi tak bakal menerima Maulidan Nabi Muhammad, sampia kapan-pun wahabi tak bakal mengakui habaib itu Durriyah Rosulullah SAW. Hingga kapanpun, wahabi berkeyakinan bahwa tawassul itu keluar dari ajaran Al-Quran dan sunnah, san sampai kapan-pun, wahabi tak bakal menerima tahlian, istighosah, sholawat yang ibuat oleh habaib. Tak bakal pernah ada di jagat ini, seorang wahabis ketika bersalaman dengan Drurriyah Rosulullah SAW mencium tangan dan memulyakan. Yang ada ialah, bagaimana menghilangkan Maulid Rasulullah Sawyang digemari oleh Ahlussunah wal Jamaah An-Nahdiyah dan para durriyah Rosulullah SAW ber-ansur-angsur hilang. Mereka bakal mengerahkan segala cara, mengeluarkan biaya, bahkan bakal mengunakan media untuk menghalangi Mualidan Nabi Muhammad SAW.

Mengenal Radikalisasi Wahabi dan Syiah.

Syiah dan Wahabi itu ibarat minyak dan air, yang tak bisa berjumpa selama-lamanya. Secara teologi keduanya memang memang amat beda (bertentangan). Secara politik-pun keduanya tak bakal bisa ditemukan. Keduanya mempunyai cara pandang tersendiri dalam urusan agama dan politik.
Dalam pidoto dan ceramah-ceramah, ulama Arab Saudi selalu menyudutkan Iran, bahkan ada yang berpendapat bahwa Syiah itu lebih bahaya dari pada (Yahudi) Israel. Secara men-genalisir, seluruh syiah itu tersesat dan wajib diperangi. Memerangi Syiah itu sama dengan Jihad di jalan Allah.

Wahabi tak puas tidak suka dan memerangi Syiah, wahabisme melalui dai-dai amatiran menyerbu warga dan warga Indonesia yang merayakan Maulidan, Sholawatan, Istighosah, tahlil, ziarah kubur. Tak tanggung-tanggung, orang yang ikut serta amalan tersebut itu di cap selaku bidah yang tersesat dan masuk neraka.

Sebaliknya, ulama-ulama garis keras Iran (Syiah), dalam beberapa ceramahnya selalu mengatkan bahwa sahadatnya tak lumayan bersaksi bahwa tak ada tuhan selain Allah, dan Muhammad ialah utusan Allah. Lebih dari itu, Syiah menjelaskan bahwa Ali Ibn Abi Thalib itu ialah Waliyullah. Bahkan Syiah tak mengakui Abu Bakar Al-Siddiq, Umar dan Usman Ibn Affan selaku kholifah yang sah. Lebih kacau lagi, Aisyah itu di anggab perempuan yang tak benar.

Syiah itu amat mendewakan keturunan Rosulullah SAW, bahkan Ali Ibn Abi Thalib ra itu di anggab selaku penganti Rosulullah SAW. Sementara Abu Bakar, Umar dan Usman di anggab merampas hak-hak Ali Ibn Abi Thalib. Dengan begini, para Kholifah lainya tak sah, sebab di anggab sudah merebut menuju Kholifaan yang sah dari Ali Ibn Abi Thalib. Ini sangatlah berlebihan.

Sementara Wahabi itu amat benci dan benci terhadap kelompok Syiah. Wahbisme menganggab bahwa keturunan Nabi Muhammad itu keturunan telah putus. Jadi, tak ada golongan habaib (mengantasnamakan durriyah Rosulullah SAW). Apalagi yang menjelaskan bahwa pemimpin yang sah itu berasal dari keturunan Rosulullah SAW.

Iran dan Arab Saudi memang terus menerus berusaha meyakinkan rakyat Indonesia supaya mau belajar di negerinya. Keduanya berusaha memberikan beasiswa sebanyak-banyak kepada mahaiswa Indonesia. Bahkan, keduanya berusaha mendidikan lembaga pendidikan Formal Educatian, mulai tingkat SD, SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi.

Kayak gitu pun dengan wahabisme, mereka tak kalah gencar mendirikan lembaga pendidikan formal education, sebagaimana; sekolah terpadu, pesantren, perguruan tinggi. Menariknya, Arab Saudi (Wahabi) mempergunakan nama-nama yang popuper di kalangan Ahlussunnah Wal Jamaah, sebagaimana; Mahad Imam Syafii, Mahad Ali Ibn Abi Thalib, Mahad Al-Umm (kitabnya Imam Syafii), bahkan urusan percetakan mempergunakan nama Pustaka Al-Syafii. Radio dan Telivisiya pun mempergunakan nama Ahlussunah wal Jamaah.

Sekarang kedua teologi impor itu mulai memasuki Indonesia sampai menuju kampung-kampung. Mereka meresahkan warga berkisar, dengan mengatasnamakan Ahlussunah Wal Jamaah, mereka menyerbu warga NU yang ber-teologi Ahlussunah Wal Jamaah yang sesungguhnya. Tak tangung-tanggung, kadang kaum wahabi (salafisme wahabi) secara terang-terangan mengkafirkan orang NU yang ikut tahlilan, sholawatan, istighosaah, dizikir bareng, dan manakiban, serta tawasulan.

Dengan alasan tak pernah ada di jaman Rasulullah Sawdan sahabat, pun tak pernah di ajarkan Rosulullah SAW. Dengan begini, seluruh itu dikategorokan bidah yang tersesat. Seluruh bidah itu teresesat dan masuk Neraka. Di tambah lagi, untuk menyokong pendapatnya sendiri, mereka mempergunakan uangkapan yang amat lemah Iblis itu lebih suka maksiat dari pada bidah.

Wajarlah kalau lantas kaum Wahabi yang ada di Indonesia dengan mudah menyesatkan sesama muslim, lantas menjustifikasi ahli neraka. Khsusunya terhadap orang-orang Islam yang suka membaca sholawatan dan dzikir berjamaah. Tidaklah aneh, kalau lantas Majlis Al-Dikra milik Ustad Arifin Ilham pun dicap selaku bidah, sebab tak pernah dilaksanakan Rosulullah SAW.

Kemiripan anatar Syiah dan Wahabis di Negeri ini, keduanya saling bermusuhan, saling menyesatkan. Keduanya suka bikin problem dan onar di negeri ini dengan mengatasnamakan agama. Tak lumayan ulama berusaha mencegah Syiah berkembang, larangan itu pun wajib dibarengi dengan mencegah faham wahabis salafi yang mengancam keutuhan dan kerukukan ummat Bergama di Indonesia.

Sebuah pesan agung yang disampaikan Rosulullah SAW ketika beliau sampai di Madinah: “Wahai insan…. terbarkan salam, berbagilah makanan, bangunlah silaturahmi, dan shoatlan malam saat manusia dalam keadaan lelap, maka engkau bakal masuk surga dengan aman”. (HR Tirmidzi).

Rasulullah Saw pun berpesan kepada umatnya, “jangan saling membenci, jangan saling hasud, jangan saling saling tak menyapa, dan pun jangan saling mengintai. Lalu Rosulullah SAW menjelaskan:” jadilalah kalian seluruh hamba Allah SWT yang saling bersaudara, tak diizinkan seorang muslim meninggkan (tak menyapa) saudaranya lebih dari tiga hari” (HR Muslim).

Abdul Adzim Irsad, LC.

Pengurus PCINU Arab Saudi,

IklanJasa Web Alhadiy
Tags

Related Articles

Jika ada ditemukan artikel yang salah, dan lain-lannya, silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.