Tahukah Anda? Ternyata Bendera Rasullah tidak Sama dengan Bendera HTI

Tahukah Anda? Ternyata Bendera Rasullah tidak Sama dengan Bendera HTI

Tahukah Anda? Ternyata Bendera Rasullah tidak Sama dengan Bendera HTI

Ilustrasi, Sejumlah massa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) terlibat bentrok dengan massa Barisan Serba Demi (Banser) Gerakan Pemuda Ansor, di Jl Jend. Sudirman Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (16/4/2017). (Sumber: Tribunnews.com)

Bendera ( الرَّايَةُ ) ialah 1 di antara simbol identitas yang biasa dibawa waktu perang semenjak perkumpulan manusia mulai mempunyai seorang pemimpin ( الْخَلِيْفَةُ ) bagi kelompoknya di muka bumi. Bahkan sampai waktu ini bendera juga masih dibawa waktu terjadi Peperangan maupun Pertempuran. Bendera juga dibawa di medan perang pada masa Nabi Muhamad SAW dan para pemimpin sesudah beliau (خلفاء الراشدين ). Tengah fungsi pemanfaatan bendera di medan perang ialah untuk menggertak atau menciutkan nyali lawan ( التَّهْوِيْلُ ). (ibnu Khaldun, al-Muqadimah, 2006, hlm. 202).

Kecuali di medan perang, bendera biasanya dibawa waktu para khalifah maupun pejabat melaksanakan perjalanan ke luar daerah. Pada keadaan ini, untuk membedakan siapa yang tengah melaksanakan perjalanan bisa dilihat dari hitungan total bendera yang dibawa. Yaitu, bendera yang dibawa waktu khalifah yang melaksanakan perjalanan itu lebih beberapa dibandingkan bendera yang dibawa waktu pejabat yang melaksanakan perjalanan. Disamping itu, bendera untuk kekhalifahan mempunyai kelir spesial, yang tak sama dengan bendera yang dipakai para pejabat. (ibnu Khaldun, al-Muqadimah, 2006, hlm. 202). Sedemikian pula perihal bendera Nabi SAW, yang konon juga mempunyai kelir spesial sebagaimana ragam info di bawah ini:

Info ke-1:

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى الرَّازِيُّ، أَخْبَرَنَا ابْنُ أَبِي زَائِدَةَ، أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْقُوبَ الثَّقَفِيُّ، حَدَّثَنِي يُونُسُ بْنُ عُبَيْدٍ مَوْلَى مُحَمَّدِ بْنِ الْقَاسِمِ، قَالَ: بَعَثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْقَاسِمِ إِلَى الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ يَسْأَلُهُ عَنْ رَايَةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَاهِىَ؟ فَقَالَ: كَانَتْ سَوْدَاءَ مُرَبَّعَةً مِنْ نَمِرَةٍ.

“Info dari Ibrahim bin Musa ar-Razi … Yunus bin Ubaid diutus Muhamad bin al-Qasim untuk menanyakan ke Bara bin Azib mengenai hal bendera Nabi SAW, Bara menjawab, “Bendera Rasulullah Sawberwarna hitam, berbentuk segi 4 (bujur sangkar), terbuat dari kain wol.” (H.r. Abu Daud, 1999, hlm. 293, hadis no. 2591).
Sanad hadis: hasan gharib, menurut at-Tirmizi (at-Tirmizi, 1996, vol. 3, hlm. 306, hadis no. 1680); hasan, menurut al-Bukhari (al-Manawi, Faidhul Qadir, 1972, hlm. 171); dhaif, menurut ulama yang lain (Ahmad bin Hanbal, 1999, vol. 30., hlm. 589, hadis no. 18627).

Info ke-2:

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْمَرْوَزِيُّ وَهُوَ ابْنُ رَاهَوَيْهِ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ، حَدَّثَنَا شَرِيكٌ، عَنْ عَمَّارٍ الدُّهْنِيِّ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، يَرْفَعُهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّهُ كَانَ لِوَاؤُهُ يَوْمَ دَخَلَ مَكَّةَ أَبْيَضَ.

“Info dari Ishak bin Ibrahim al-Marwazi … dari Jabir, bahwasanya panji Rasulullah Sawwaktu masuk Makkah berkelir putih.” (H.r. Abu Daud, 1999, hlm. 293, hadis no. 2592).
Sanad hadis: gharib, menurut al-Bukhari (al-Mizi, Tuhfatul Asyraf, 1999, vol. 2, hlm. 441, hadis no. 2889); gharib oleh at-Tirmizi (Abu Daud, 1999, hlm. 293, hadis no. 2592).; sahih menurut Muslim (al-Hakim, al-Mustadrak, 1998, vol. 2, hlm. 126, hadis no. 2560).

Info ketiga:

حَدَّثَنَا عُقْبَةُ بْنُ مُكْرَمٍ، حَدَّثَنَا سَلْمُ بْنُ قُتَيْبَةَ الشَّعِيرِيُّ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ سِمَاكٍ، عَنْ رَجُلٍ مِنْ قَوْمِهِ، عَنْ آخَرَ مِنْهُمْ قَالَ: رَأَيْتُ رَايَةَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَفْرَاءَ.

“Info dari Uqbah bin Mukram … dari sahabat yang tidak diketahui namanya, ia berkata, “Saya menyaksikan bahwasanya bendera Rasulullah Sawberwarna kuning.”.” (H.r. Abu Daud, 1999, hlm. 293, hadis no. 2593).

Sanad hadis tidak terang ( جَهالة ) dan/atau tidak diketahui ( مجهول ). (ibnu al-Mulaqin, al-Badru al-Munir, 2004, vol. 9, hlm. 63-64; ar-Rubai, Fathul Ghafar, 1427, vol. 4, hlm. 1761, hadis no. 5177).

Info ke-4:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ وَهُوَ السَّالِحَانِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ حَيَّانَ، قَال: سَمِعْتُ أَبَا مِجْلَزٍ لَاحِقَ بْنَ حُمَيْدٍ يُحَدِّثُ، عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَتْ رَايَةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْدَاءَ، وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ.

“Info dari Muhamad bin Rafik … dari ibnu Abas, ia berkata, “Bendera Nabi Saw berkelir hitam, tengah panjinya berkelir putih.”.” (H.r. at-Tirmizi,1996, vol. 3, hlm. 306-307, hadis no. 1681).

Sanad hadis: gharib, menurut a-Tirmizi (al-Mubarakfuri, Tuhaftul Ahwazi, tt., vol. 5, hlm. 328, hadis no. 1732); dhaif, menurut al-Iraqi (al-Iraqi, Turhut Tasrib, tt., vol. 7, hlm. 220).

Info kelima:

أَخْبَرَنَا أَبُوْ عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ، قال: حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ (محمد بن يعقوب)، قال: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنِ عَبْدِ الْجَبَّارِ، قال: حدثنا يونس بن بُكَيْرٍ، عَنْ ابْنِ إِسْحَاقَ، قَالَ: قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ لِوَاءُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفَتْحِ أَبْيَضَ، وَرَايَتُهُ سَوْدَاءَ قِطْعَةَ مِرْطٍ مُرَجَّلٍ ، وَكَانَتْ الرَّايَةُ تُسَمَّى الْعُقَابَ.

“Saya memperoleh berita dari Abu Abdillah al-Hafiz … dari Aisyah rha., ia berkata, ‘Panji Rasulullah waktu masuk kota Makah berkelir putih, tengah benderanya berkelir hitam berbahan potongan kain wol yang bergambar laki-laki, dan bendera itu dinamai Uqab.’.” (H.r. al-Baihaqi, Dalailun Nubuwah, 1988, vol. 5, hlm. 68).

Waktu tulisan ini dibuat, penulis belum menemukan penjelasan perihal sanad hadis yang bersumber dari Aisyah rah. ini. Adapun, yang ada penjelasannya bersumber dari al-Hasan:

Loading...
loading...

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، قَالَ ثنا سُفْيَانُ، عَنْ أَبِي الْفَضْلِ، عَنِ الْحَسَنِ، قَالَ: كَانَتْ رَايَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْدَاءَ تُسَمَّى الْعُقَابَ.

“Info dari Wakik … dari al-Hasan, ia berkata, ‘Bahwasanya bendera Rasulullah Sawberwarna hitam dan dinamai Uqab.’.” (H.r. ibnu Abi Syaibah, 2008, vol. 11, hlm. 219-220, hadis no. 34184).

Sanad hadis: mursal (ibnu Abi Syaibah, 2008, vol. 11, hlm. 220; al-Iraqi, al-Mughni, 1995, vol. 1, hlm. 672).

Info keenam:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ زَنْجُوَيْهِ الْمُخَرِّمِيُّ، نَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي السَّرِيِّ الْعَسْقَلَانِيُّ، نَا عَبَّاسُ بْنُ طَالِبٍ، عَنْ حَيَّانَ بْنِ عُبَيْدِ اللهِ، عَنْ أَبِي مِجْلَزٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: كَانَتْ رَايَةُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْدَاءَ وَلِوَاءُهُ أَبْيَضَ، مَكْتُوبٌ فِيْهِ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ.

“Info dari Ahmad bin Zanjuwaih al-Mukharimi … dari ibnu Abas ra., ia berkata, ‘Bendera Nabi Saw berkelir hitam, tengah panjinya berkelir putih dan ada tulisan kalimat tauhid.’.” (H.r. Abu asy-Syekh, Akhlaqun Nabi SAW, 1998, vol. 2, hlm. 416, hadis no. 424).

Sanad hadis: daif, menurut kebanyakan ulama (Abu asy-Syekh, 1998, vol. 2, hlm. 416); terlalu daif, menurut ibnu Hajar al-Asqalani. (ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, 2001, vol. 6, hlm. 147).

***

Bertolak dari ragam info di atas, beberapa catatan Penting kita renungkan, di antaranya:

1. Panji ( اللِّوَاءُ ) ialah sesuatu (kain) yang diikat dan dibelitkan di ujung tombak waktu perang. Adapun, bendera ( الرَّايَةُ ) ialah, kain yang diikatkan di ujung tombak waktu perang, maupun yang diikat diujung tiang di luar perang. Panji berfungsi untuk memperlihatkan posisi pemimpin Tentara, tengah bendera dibawa oleh Tentara perang. (ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, 2001, vol. 6, hlm. 147).

2. Yang dimaksud kelir hitam bukan artinya bendera Rasulullah Sawbenar-benar berkelir hitam, melainkan kain yang dipakai didominasi kelir hitam, sehingga waktu dilihat dari kejauhan tampak berkelir hitam (putih kehitam-hitaman). Yang sedemikian, sebab kain yang dipakai berbahan baku wol ( نَمِرَةٌ ) yang biasa dipakai orang Arab, yang mana kain tersebut dibuat mempergunakan benang hitam dan putih. (al-Mubarakfuri,Tuhaftul Ahwazi, tt., vol. 5, hlm. 328).

3. Terkait kelir bendera Rasulullah Sawada 3 versi: ke-1, bendera Rasulullah Sawdisebut Uqab ( الْعُقَابُ ), berkelir hitam, berbentuk bujur sangkar; ke-2, bendera Nabi
SAW disebut bendera putih ( الرَّايَةُ الْبَيْضَاءُ ); ketiga, bendera Rasulullah Sawberwarna merah ( الْحَمْرَاءُ ). (ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, 2001, vol. 6, hlm. 147; al-Iraqi, Turhut Tasrib, tt., vol. 7, hlm. 221).

Mereferensi pada sejumlah Penjelasan di atas, poin penting yang bisa kita jadikan bahan acuan sebelum mengambil kesimpulan, yaitu:

1. Pemakaian bendera selaku simbol identitas kubu warga telah ada jauh sebelum Rasulullah Sawmenggunakannya. Dengan kata lain, pemanfaatan bendera ialah murni produk budaya yang dikembangkan sesuai selera masing-masing perkumpulan warga—meliputi bentuk dan kelir bendera, bukan produk syariat agama. Sederhananya, pemanfaatan bendera selaku simbol identitas kubu warga cuma untuk membedakan 1 kubu warga tertentu dengan kubu warga yang lain.

2. Mereferensi pada info (hadits) di atas, dijelaskan bahwa bentuk bendera Rasulullah Sawialah segi 4 ‘bujur sangkar’ ( مُرَبَّعٌ ), bukan persegi panjang ( مُسْتَطِيْلٌ). Bila info ini dinilai selaku hukum syariat agama, maka pemanfaatan bendera persegi panjang, yang lalu dinisbatkan selaku bendera Rasulullah Sawtentu saja berdosa, sebab menyalahi dan mengingkari ketentuan asalnya.

3. Terkait kelir bendera Nabi SAW, antar info terjadi perbedaan, yaitu kelir hitam, kuning, merah, dan putih, termasuk juga terkait rangkaian transmisinya. Taruh kata ragam info di atas bisa dipakai seluruh ( الجمع بين الأحاديث ), maka penjelasan yang keluar ialah, bahwa kelir bendera Rasulullah Sawitu berubah-ubah sesuai keadaan dan kebutuhan. (as-Sahrazuri, Muqadimah ibnu Shalah, 2006, hlm. 296).

4. Terkait tulisan kalimat tauhid, kebanyakan info yang ada menerangkan, bahwa yang bertuliskan kalimat tauhid ialah bendera Nabi SAW, semisal yang dikeluarkan ibnu Hajar al-Asqalani:

كان مكتوبا على رايته: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ.

“Bendera Rasulullah Sawbertuliskan kalimat tauhid.” (ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, 2001, vol. 6, hlm. 147).

Akan tetapi, bagi penulis, hal tersebut jadi aneh, sebab term راية masuk kategori lafal muanas, sementara kata ganti (dhamir) yang dipakai dalam info keenam berpatokan pada lafal muzakar, yaitu term لواء . Oleh sebab itu, penulis berpandangan bahwa yang bertuliskan kalimat tauhid bukanlah bendera Nabi SAW, melainkan panji Nabi SAW, itu saja jika info keenam bisa dipakai. Akan tetapi sayangnya, info keenam yang menerangkan tulisan kalimat tauhid tidak dapat dijadikan dasar hukum, kecuali bagi mereka yang tetap memaksakannya selaku dasar hukum.
***

Pada akhirnya, kita pun mesti mengakui keadaan sebenarnya sejarah, bahwa pemanfaatan bendera tidak ada sangkut pautnya dengan syariat agama, begitu pula terkait bentuk ukuran dan warnanya. Bukankah kelir bendera para raja paska khalifah pengganti Rasulullah Sawjuga berbeda-beda, yang di antaranya:

1. Dinasti Abasiah, mereka mempergunakan bendera kelir hitam. Akan tetapi, pemilihan kelir hitam bukan sebab ikut info yang menerangkan bila bendera Rasulullah Sawberwarna hitam, melainkan selaku tanda kesedihan atas gugurnya para syuhada dari Bani Hasyim ( حزنا على شهدائهم من بني هاشم ), disamping selaku celaan pada Bani Umayah yang sudah menghabisi mereka ( نعيا على بني أمية في قتلهم ). Oleh karenya, bendera tersebut dinamai al-musawwidah ( المسوِّدة ).

2. Dinasti Fatimiah ( العُبَيْدِيُّون ), mereka menggunakan bendera berkelir putih, yang dinamai al-mubaiyidhah ( المُبَيِّضَة ).

3. Khalifah al-Makmun, ia tidak mempergunakan bendera kelir hitam maupun putih, melainkan mempergunakan bendera kelir hijau ( الْخَضْرَاء ). (ibnu Khaldun, al-Muqadimah, 2006, hlm. 202).

4. Bahkan sampai sekarang, kebanyakan negara-negara di Arab maupun Timur Tengah mempergunakan bendera yang berwarna-warni, ada yang hijau, merah, atau kombinasi antara hijau-putih-hitam, dan lain sebagainya.

Berikutnya, bila kita membaca ragam literatur karya para ulama atau sarjana muslim terdahulu yang mengupas mengenai hal sistem pemerintahan, kebanyakan dari mereka tidak menerangkan problem perihal bentuk dan kelir bendera yang mesti dipakai. Hal ini, membuktikan bahwa para ulama atau sarjana muslim terdahulu sadar bila bendera bukanlah produk syariat agama, melainkan produk budaya semata.

Dan terkait budaya, kebanyakan para pendahulu setuju bila:

الْأَصْلُ فِي الْعُقُوْدِ وَ الْمُعَامَلَاتِ الْإِبَاحَةُ حَتَّى يَأْتِيَ مَا يَدُلُّ عَلَى التَّحْرِيْمِ.

“Pada dasarnya, hal-hal yang berhubungan dengan Komitmen berbarengan dan hubungan sosial antar manusia boleh dikerjakan selama tidak ada dasar hukum yang melarangnya.” (ash-Shawi, at-Taaddudiyyah as-Siyasiyyah, 1996, hlm. 75).[NU Online]

Wallahu a’lam bis-Shawaab

Eko Ahmadi, pengurus Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) PBNU

(muslimoderat.net/suaraislam)

Loading...


Shared by Ahmad Zaini

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

KOLOM KOMENTAR ANDA :