Jasa Web Alhadiy
Inspirasi Islam

Surat Almaidah 51 Penjelasan Rais Syuriah PBNU

Tafsir Surat Almaidah 51 dan Penjelasan Rais Syuriah PBNU

Tafsir Surat Almaidah 51 – Terkait Tafsir Almaidah 51. Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Ishomuddin menilai tentang kepemimpinan yang dibutuhkan sekarang ini. Baik untuk negara maupun dalam level daerah, adalah pemimpin yang bisa dipercaya dan mampu membawa kemajuan atas daerah yang dipimpinnya.

Kriteria itu bisa didapatkan dari seorang pemimpin muslim maupun non muslim. Karena sesungguhnya keduanya sama-sama mempunyai hak untuk menjadi pemimpin.

“Muslim dan Non Muslim mempunyai hak yang sama untuk menjadi pemimpin. NU tidak dalam posisi mendukung. Apalagi menghalangi orang untuk menjadi pemimpin.” Kata KH Ahmad Ishomuddin dalam acara Halaqoh (Pertemuan) Kaum Muda NU di Jakarta. Dengan tema “Pilkada: Kesetiaan pada Pancasila dan UUD 1945” yang digelar di Hotel Bintang. Di Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat, Minggu (9/10/16).

(Baca juga: Surat Al-Maidah 51, Penjelasan Ahli Tasfsir Indonesia)

Menurutnya, ramainya perdebatan mengenai pemimpin yang dikaitkan dengan suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA). Adalah lebih karena tidak memahami tafsir Almaidah 51. Dan asbabunnuzul dari surat Almaidah 51 yang dijadikan dalil.

Penjelasan Surat Almaidah 51, kata dia, merujuk tafsir terdahulu. Yang dimaksud dalam Surat Almaidah 51 itu bukan untuk pemimpin, seperti gubenrur. Melainkan karena konteks saat itu yang sedang dalam kondisi perang.

KH Ahmad Ishomuddin merasa perlu menyampaikan penjelasan itu. Karena sekarang ini banyak beredar isu dan wacana di pemberitaan, terutama di media sosial. Yang begitu gampang mencaci seseorang dan berkomentar kasar dan cenderung menyinggung SARA dengan argumentasi Surat Almaidah 51.

“Sangat banyak komentar yang tidak santun dan tidak sesuai dengan Pancasila. Ini tentu bertentangan dengan agama kita. Demokrasi belum baik di negara ini. Buktinya, kalau mau hebat caranya dengan melakukan kampanye hitam, mencari kesalahan orang lain. Maka, kemudian politik kita bercitra buruk, menjadi negatif, tergambar sebagai dunia hitam yang perlu dihindari,” ujarnya.

Bagi NU, kata dia, dalam menyikapi momentum demokrasi seperti pilkada, terlebih seperti Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta. Adalah agar demokrasi berjalan dengan baik sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945.

Karenanya, dia mengimbau agar dalam berdemokrasi jangan menggunakan isu SARA sebagai alat untuk menyerang lawan politik dan menjatuhkannya. Apalagi jika hal itu didasarkan pada Surat Almaidah 51.

“Isu SARA sama sekali tidak diperkenankan untuk digunakan dalam rangka mendiskreditkan orang lain. Kita menjunjung tinggi budaya dan adab. Tidak boleh merendahkan pihak lain untuk suatu kemenangan politik. Tidak boleh menyerang dengan SARA untuk mengalahkan lawan politik. Itu melanggar UUD 1945,” katanya.

Ahok tidak bermaksud menistakan surat Almaidah 51

Dalam kesempatan tersebut, Kiyai Ishomuddin kemudian menyampaikan perihal ucapan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Yang mana Ahok belakangan dianggap menistakan Al-Quran, khususnya surat Almaidah 51.

Kiyai Ishomuddin yang mengaku telah melihat secara utuh rekaman tersebut. Dia menilai bahwa tidak ada niat dari Ahok untuk menistakan kitab suci umat Islam.

“Saya setelah melihat utuh videonya. Beliau (Ahok) tidak mempunyai niat untuk melecehkan. Karena secara logika tidak mungkin orang yang sedang mencalonkan kemudian melecehkan. Jadi, tidak masuk akal kalau itu berniat melecehkan,” katanya.

Terhadap semua pihak, Ishomuddin juga mengajak agar dalam berdemokrasi dan hidup bernegara tidak mudah untuk menyesatkan seseorang. Juga agar tidak begitu mudah menuding seseorang dengan sebutan telah melakukan penistaan.

Lebih baik, kata dia, ketika mendengar atau membaca suatu informasi terlebih dahulu tabayyun kepada yang bersangkutan. Atau melakukan klarifikasi untuk memperoleh suatu informasi yang diyakini benar.

“Oleh karena itu, kegiatan politik kita harus dengan menjunjung tinggi Pancasila dan UUD 1945 serta dengan tidak membenturkan agama. Hal itu hanya akan membahayakan negara kita. Kalau ada berita apa pun, tabayyun atau klarifikasi. Jangan kita hanya baru membuka Twitter, WhatsApp, atau BBM. Setiap berita yang mengandung dua kemungkinan benar atau salah, maka harus dicek lagi. Klarifikasi,” jelasnya.

Di tempat sama, Katib Syuriah PWNU Jakarta KH Ahmad Zahari juga menyampaikan. Bahwa NU DKI tidak pernah mewajibkan warganya untuk mendukung salah satu calon.

Dia mengajak warga NU untuk secara sadar menggunakan hak pilih. Dan memilih berdasarkan rekam jejak serta program-program para calon gubenur bersangkutan.

sumber : beritasatu.com via infomenia.net

Simpan

Simpan

Simpan

Simpan

Simpan

Simpan

Simpan

Jasa Web Alhadiy
Tags

Related Articles

Jika ada ditemukan artikel yang salah, dan lain-lannya, silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker