Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 48, Bukti Allah SWT Menghendaki Keragaman

Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 48, Bukti Allah SWT Menghendaki Keragaman

Surat al-Maidah disebut juga dengan Surat al-Uqud. Menurut Muhammad al-Ghazali penamaan yang terakhir ini lebih menunjukkan terhadap tema yang ada dalam surat ini, sedangkan penamaan yang pertama lebih mereferensi terhadap permintaan hawwariyyun kepada Isa AS demi menurunkan terhadap mereka hidangan dari langit selaku makanan bagi mereka dan berita gembira—meski  mengherankan—bakal tetapi Allah mengabulkan permintaan tersebut demi menguatkan kenabian Isa AS dan pembenaran risalahnya.

Selain itu, Surat Al-Maidah juga dinamai dengan al-akhyar (orang-orang baik) sebab yang memenuhi tuntutannya menyangkut ikatan perjanjian pastilah orang baik. Surat ini dinami juga surah al-munqidzah (penyelamat). Diriwayatkan bahwa Nabi Saw. bersabda: “Surat Al-Maidah dinamai malakut as-samawat (kerajaan Allah Swt. yang Maha tinggi) dengan nama surat al-munqidzah sebab ia menyelamatkan pembaca dan pengamal tuntunannya dari malaikat penyiksa.”

Menurut Mahmud Syaltut surah Al-Maidah menerangkan keadaan umum waktu diturunkannya, menerangkan pula keadaan kaum muslimin pada waktu itu. Lanjut, dia berpendapat bahwa karakteristik surah Al-Maidah hampir ndak ditemukan di dalam surah-surah Madaniyah lainnya yang berbicara soal syirik dan kaum musyrik.

Menurut dia, masa kaum musyrik sudah berakhir dan ndak berperan lagi, kaum muslimin memerlukan penyempurnaan tasyri dan politik yang mengatur segala urusan mereka dan menjamin kelangsungan kebahagiaan mereka serta kepemimpinan mereka. sesudah itu, mereka mempunyai hubungan-hubungan spesial dengan goolongan-golongan Ahli kitab yang hidup dalam naungan dan tanggung jawab mereka. Oleh karena itu, topik pembicarannya pun takkan lepas dari agama dan kitab mereka. Para ulama Tafsir setuju bahwa al-Maidah tergolong Surah Madaniyyah.Secara spesial, tulisan ini bakal menerangkan dan menggali penafsiran ulama terkait ayat 48 dalam surat al-Maidah berikut ini:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

“Dan Kami sudah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian kepada kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kau mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang sudah datang kepadamu. Demi tiap-tiap ummat diantara kau, Kami berikan aturan dan jalan yang jelas. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kau dijadikan-Nya satu ummat (saja), tetapi Allah hendak menguji kau kepada pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Cuma terhadap Allah-lah kembali kau semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang sudah kau perselisihkan itu”

Loading...
loading...

Menurut M. Quraish Shihab sesudah berbicara kitab Taurat yang diturunkan terhadap Nabi Musa AS dan kitab Injil yang diturunkan terhadap Nabi Isa AS, Q.S. Al-Maidah 48 lantas berbicara soal Al-Qur’an yang diturunkan terhadap Nabi Muhammad SAW. Ayat ini turun sesudah Surah Al-Mumtahanah, tepatnya pada kejadian Perdamaian Hudaibiyah. Perdamaian antara kaum muslim dengan suku Quraisy. Bagian persyaratan Perjanjian Hudaibiyah ialah seluruhnya suku diberi pilihan antara mengikuti Nabi Muhammad Saw. atau orang Quraisy sesuai kehendak mereka.

Dikisahkan bahwa ayat ini turun terhadap Rasulullah Sawuntuk mengambil keputusan perkara peradilan, yang diusulkan oleh Ahli Kitab dan non-Muslim yang meminta arbitrase terhadap Nabi supaya diputuskan berdasarkan ketetapan Al-َQur’an. Dengan diturunkannya ayat tersebut, Nabi SAW  menerangkan keragaman syariat yang diturunkan Allah SWT terhadap masing-masing ummat sesuai dengan keadaan zaman dan situasi yang tak sama, sedangkan pada masa Nabi Muhammad SAW, Allah SWT menetapkan syariat yang berdasarkan Al-Qur’an.

Secara umum, sebagaimana dikatakan al-Maraghi, ayat tersebut merupakan bagian indikasi beragamnya syariat sesudah sebelumnya diturunkan Taurat dan Injil terhadap Bani Israil, sebagaimana sudah dikemukakan di muka. Selain itu, ayat ini juga kerap dilansir oleh sebagian kalangan demi menyokong argumentasi mereka selaku indikasi bahwa Tuhan ndak pernah menggiring insan dalam syariat yang satu.

Al-Maraghi juga menyebutkan bahwa sesudah Allah SWT menerangkan perihal beragamnya syariat, Allah SWT lantas menerangkan bahwa syariat apapun dibuat selaku sarana perlombaan ke amal kebajikan, selaku media supaya orang-orang diberi balasan sesuai dengan amal perbuatannya.

Thabathaba‘i mengomentari ayat ini dengan menjelaskan, “Sesungguhnya Allah menyuruh hamba-Nya beribadah demi satu agama, yaitu tunduk kepada-Nya. akan tetapi demi mencapai itu, Allah memberikan jalan yang berbeda-beda dan membikin sunnah beraneka macam bagi hamba-hamba-Nya sesuai perbedaan kesiapan mereka dengan keragamannya.”

Menurut Mohammad Hassan Khalil kalangan pluralis soteriologis kerap mengacu ayat tersebut demi mengindikasikan bahwa Tuhan ndak pernah bermaksud menggiring insan sebagai satu ummat dengan hukum tunggal. Senada dengan Mohammad Hassan Khalil, Abd. Moqsith Ghazali berpendapat bahwa ayat tersebut memperlihatkan keragaman jalan yang diberikan Allah terhadap insan.

Sementara menurut Mun’im Sirry berpendapat bahwa ayat tersebut tampaknya merupakan pengakuan Al-Qur’an atas perbedaan masing-masing agama seperti ritual, adat, dan tradisinya sendiri. Selain itu, ayat ini menurut sebagian pandangan juga sebagai titik pusat ajaran pluralitas Al-Qur’an, yang oleh tidak sedikit kalangan dipandang selaku amat unik sebab semangatnya yang serba meliputi dan meliputi agama-agama lain. Dalam pandangan Al-Qurtubi, Allah membikin beragam syariat demi menguji keimanan insan.

Pandangan lain diungkapkan oleh Sayyid Qutb (w. 1966 M). menurut dia, ayat tersebut malah penegasan atas risalah Islam selaku syariat pamungkas, yang dengan sendirinya menolak segala bentuk hukum-hukum jahiliah. Qutb menerangkan bahwa risalah Muhammad ialah syariat yang disiapkan demi seluruh ummat insan, yang selalu diberlakukan bagi kehidupan insan di akhir zaman. Lebih dari itu, ayat tersebut juga seringkali dipahami oleh sebagian kalangan bahwa Allah swt. ndak pernah bermaksud demi menggiring insan terhadap syariat yang tunggal. Selain itu, masih dalam ayat yang sama Allah swt. juga menyeru terhadap insan demi berlomba-lomba dalam kebaikan.

Wallahu A’lam.

Loading...

Source by Ahmad Naufal

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

KOLOM KOMENTAR ANDA :