Tafsir Kontekstual, Tafsir Al-Qur’an Abad 21

Loading...

Tafsir Kontekstual – Menurut catatan Abdullah Saeed, tafsir kontekstual Umar jadi bagian referensi penting bagaimana al-Qur’an ditafsirkan ….

Perkembangan Islam di dunia sedang diancam oleh terorisme berlabel agama dan tindakan radikalisme. Keduanya mengancam sisi humanis dari nilai-nilai Islam, sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad: mewartakan perbaikan akhlak dan moral. Islam yang keras dan brutal, merebut simbol-simbol sekaligus penanda utama muka muslim dunia. Inilah yang jadi tantangan berbarengan: bagaimana menghadirkan Islam yang full cinta, Islam yang mewartakan keramahan?

Di tengah arus pemahaman akan nilai-nilai Islam, tafsir al-Qur’an jadi bagian kuncinya. Dalam ruang tafsir al-Qur’an—selaku pintu untuk mengakses ayat-ayat, pengetahuan dan kebenaran—berjumpa dua pandangan: literal dan kontekstual. Cara pandang literal lebih mendasarkan pada rujukan tekstual ayat al-Qur’an tanpa tafsir. Sekaligus menghilangkan kajian ilmiah yang dilaksanakan oleh ulama-ulama selama ratusan tahun. Kubu literalis ingin mengacu langsung pada ayat-ayat al-Qur’an dan hadits, tanpa melalui wasilah keilmuan dan kedalaman spiritual ulama muslim.

Sedangkan, cara pandang kontekstual menghadirkan pemahaman-pemahaman atas keadaan zaman, produk pengetahuan dan arus waktu yang berputar pada tiap generasi. Kubu yang mempergunakan tafsir kontekstual, ingin supaya ayat-ayat al-Qur’an dapat jadi jalan keluar atas beragam problem kontemporer masarakat dunia.

Tafsir kontekstual menawarkan alternatif yang amat penting bagi ummat Islam kontemporer untuk mengimbangi tafsir tekstual yang begitu dominan waktu ini. Sprektrum tafsir kontekstual merentang dari pendekatan yang bergantung sepenuhnya pada makna literal teks (hard textualism). Sampai pendekatan yang mempertimbangkan sejumlah elemen kontekstual (soft textualism).

Di buku ini, “Al-Qur’an Abad 21: Tafsir Kontektual” (Mizan, 2016), Prof. Abdullah Saeed membicarakan pendekatan kontekstual dalam penafsiran al-Qur’an, yang Saat ini tengah beberapa diminati, di kalangan ummat Islam dunia. Abdullah Saeed, dalam buku ini mengembangkan gagasannya sendiri, dengan harapan dapat memperkaya studi al-Qur’an waktu ini. Serta mengangkat topik yang terkait erat dengan pendekatan kontekstual.

Tafsir kontekstual

Tradisi tafsir al-Qur’an sudah ada semenjak masa Nabi Muhammad (w.11 H/632 M). Pemahaman atas al-Qur’an lebih mudah dilaksanakan pada masa Nabi sebab beberapa alasan. Al-Qur’an turun dalam bahasa Arab, sebuah bahasa yang dipakai oleh Sang Nabi dan para sahabat. Lebih dari itu, para penerima al-Qur’an juga mempunyai konteks personal dan sosial secara langsung dengan sang Nabi. Lebih penting lagi, al-Qur’an datang dalam konteks asli sehingga al-Qur’an mempunyai hubungan ideologis dengannya. Elemen-elemen konteks ini, meliputi juga masa pewahyuan (610-632 M), tempat turunnya wahyu (Hijaz di Jazirah Arab). Dan kebiasaan serta masarakat pada waktu wahyu diturunkan (hal. 28).

Menurut Abdullah Saeed, pendekatan tekstual yang terlalu bergantung pada makna “literal” ayat, dengan mempertimbangkan kompleksitas penerapan praktisnya. Sudah jadi pendekatan utama dalam tradisi tafsir. Khususnya yang berhubungan dengan ayat-ayat hukum/etika (ethico-legal), dan dalam literatur fikih. Tetapi, dalam seluruh variannya, pendekatan tekstual gagal memberikan keadilan yang utuh atas ayat-ayat tertentu yang ditafsirkan. Akibatnya, ayat-ayat al-Qur’an dipandang tak relevan bagi keadaan masarakat muslim kontemporer. Atau dipraktikkan tak secara seharusnya, sehingga bahkan merusak prinsip-prinsip dasar al-Qur’an (hal. 12).

INFO PENTING

Sedangkan, kubu kontekstualis memberi nilai hermeneutik yang besar bagi konteks historis waktu pewahyuan al-Qur’an—awal abad ke-7 M—dan penafsiran setelahnya. Mereka berpendapat bahwa, para sarjana seharusnya terlalu sensitif dengan keadaan sosial, politik, ekonomi, intelektual dan budaya pada waktu penurunan wahyu. Kubu kontekstualis lebih cenderung menyaksikan al-Qur’an selaku sumber panduan praktis (hal. 13). Dengan sedemikian, pendekatan kontekstual memberi sumbangsih supaya ayat-ayat al-Qur’an dapat jadi perspektif untuk membedah problem kontemporer ummat manusia.

Tafsir kontekstual Umar

Dalam catatan Abdullah Saeed, tafsir kontekstual Umar jadi bagian referensi penting bagaimana al-Qur’an ditafsirkan pada masa awal. Umar bin Khattab menafsir ulang aturan-aturan dan perintah dalam al-Qur’an dengan mempertimbangkan konteks. Bagi Umar, al-Qur’an merupakan teks yang hidup. Dan petunjuknya memerlukan penafsiran yang sesuai dengan spritinya sehingga tetap sesuai dengan lingkungan yang berubah. Ide-gagasan dalam tafsir kontektual yang dilaksanakan Umar, semisal kepentingan umum, properti publik, pemerataan dan keadilan. Serta kesadaran akan konteks yang berubah jadi acuan tafsir kontekstual masa Saat ini (hal. 67-68).

Isu utama bagi usaha penafsiran ini, ialah bagaimana al-Qur’an dibuat selaras. Dengan masarakat Muslim yang beragama dalam kurun lebih dari 1.400 tahun. sebagian besar ayat al-Qur’an mengeksplorasi isu-isu etika, moral, teologi, spiritual, dan historis serta menyoroti manusia dengan cara melampaui konteks-konteks spesifiknya. Dalam pemahaman ini, ajaran-ajarannya sanggup digeneralisasi untuk mengakomodasi berbagai situasi dan keadaan yang baru. Al-Qur’an sering tak menyoroti isu-isu dan hal-hal spesifiknya tetapi pada level prinsip-prinsip moral secara umum.

Hal ini, dicontohkan dalam beberapa rujukan al-Qur’an mengenai bagaimana Tuhan secara konstan menjunjung tinggi perlunya kejujuran dan keadilan. Serta perhatiannya pada kaum yang terpinggirkan, lemah dan rentan bersamaan dengan tema-tema mengenai pertanggungjawaban dan kehidupan sesudah mati. Serta hikmah dari berbagai cerita historis (hal 294).

Ide-gagasan Abdullah Saeed dalam buku ini, memperlihatkan bagaimana kegelisahan seorang akademisi dalam menyaksikan perkembangan kaum muslim pada abad ini. Saeed menyaksikan gelombang muslim yang cenderung memotong arus untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif kepada pesan-pesan al-Qur’an. Kubu tekstualis yang digugat oleh Saeed tak menyaksikan konteks pewahyuan sekaligus arus zaman dalam pemaknaan ayat-ayat al-Qur’an.

Buku ini, merupakan sumbangsih Abdullah Saeed dalam menjernihkan kembali pemahaman kaum muslim untuk menyaksikan al-Qur’an. Saeed ingin supaya ayat-ayat al-Qur’an yang dinilai kontroversial, dibaca dengan perspektif nilai-nilai utama Islam, yaitu keadilan dan cinta kasih.

 ***

Informasi Buku Al-Qur’an Abad 21 :

Judul: Al-Qur’an Abad 21: Tafsir Kontektual

Penulis: Prof Abdullah Saeed

Penerbit: Mizan

Cetakan: Januari 2016

ISBN: 978-979-433-921-3

Tebal: 316 halaman

Peresensi: Munawir Aziz, Peneliti Islam Nusantara, aktif di Gerakan Islam Cinta dan Jaringan GusDurian.

Simpan

Simpan

Loading...

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :