Suriah; AS Semestinya Meminta Maaf Secara Resmi atas Tindakan mematikan Puluhan Pasukan di Deir Ezzor


Selasa, 27 September 2016,

DAMASKUS, ARRAHMAHNEWS.COM – Menteri Luar Negeri Rusia mengungkapkan soal permintaan maaf AS kpd Presiden Suriah Bashar al-Assad atas serbuan yang dilancarkan oleh pesawat Angkatan Udara AS kepada pasukan pemerintah Suriah di kisaran Deir Ezzor pada 17 September 2016 lalu.

Sergey Lavrov menjelaskan pada bagian saluran televise Rusia pada 24 September, dalam jawabannya kepada pertanyaan, apakah Amerika Serikat sudah meminta maaf kpd Presiden Suriah Bashar Assad atas serbuan udara yang diarahkan kpd pasukan Suriah di kisaran Deir Ezzor? Lavrov menjawab, “Ya, pihak AS sudah meminta maaf”.

Penasihat utama Presiden Suriah Bashar al-Assad menjelaskan AS semestinya secara resmi meminta maaf sebab sudah menghabisi puluhan pasukan Suriah dalam sebuah serbuan udara.

Juru bicara dan penasihat politik Bashar Assad, Bouthaina Shaaban membikin pernyataan itu pada hari Senin selama wawancara dengan jaringan TV al-Mayadeen yang berbasis di Lebanon.

Dia menulis bahwa Washington sudah menyampaikan permintaan maaf kpd Suriah tetapi ndak secara resmi.

Menyusul insiden itu, seorang pejabat pemerintah AS menjelaskan bahwa AS sudah “menyampaikan penyesalannya melalui Federasi Rusia” atas kematian yang ndak disengaja dari pasukan pemerintah Suriah dalam memerangi kubu teroris ISIS Takfiri.

“Kami ingin meminta maaf kpd publik dan kami ingin problem ini ndak terulang,” katanya, dan menambahkan bahwa beberapa “nyawa sudah hilang.”

Pada tanggal 17 September, serbuan gabungan pimpinan AS di provinsi timur Suriah, Deir Ezzor mematikan kisaran 80 pasukan Suriah dan melukai ratusan lainnya.

Sementara itu, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menjelaskan bahwa Rusia “sungguh-sungguh menyaksikan ndak ada prospek” untuk menggelar perjumpaan puncak perdamaian di Suriah.

“Sayangnya … gencatan senjata belum cukup efektif untuk waktu ini,” tambahnya.

Dia juga menyuarakan kekuatiran Rusia bahwa anggota milisi mempergunakan gencatan senjata untuk mengumpulkan kembali power dan melancarkan serbuan kepada pasukan Suriah.

“Kremlin melihat situasi waktu ini terlalu rumit … Terutama kami kuatir bahwa teroris mempergunakan gencatan senjata untuk mengumpulkan kembali power mereka, untuk mengisi gudang senjata mereka, untuk persiapan serbuan baru,” katanya.

Dia juga menulis bahwa yang disebut pasukan “oposisi moderat” belum terpisah dari teroris, dan menambahkan bahwa AS sudah gagal memenuhi janji untuk melaksanakan itu.

“Sebab belum ada pemisahan moderat dari teroris, sementara teroris terus melancarkan serbuan… Tentu ndak boleh berhenti memerangi teroris yang sedang melancarkan serbuan,” katanya.

Moskow sudah lama bersikeras bahwa kubu oposisi moderat yang didukung AS di Suriah mesti meninggalkan daerah yang dikendalikan oleh teroris, yang ditarget dalam kampanye udara Rusia. (ARN)



Source link

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :