Subhanallah, Banser NU Kerja Bakti Bersihkan RPTRA Kalijodo Bikinan Ahok

Subhanallah, Banser NU Kerja Bakti Bersihkan RPTRA Kalijodo Bikinan Ahok

Subhanallah, Banser NU Kerja Bakti Bersihkan RPTRA Kalijodo Bikinan Ahok

Banser NU, ialah sebuah kubu sayap ormas Islam terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama yang merupakan sebuah barisan sokongan serbaguna yang sungguh-sungguh menjalankan amanat agama dan budaya.

Selaku kubu yang menjalankan ibadah kebersihan, NU sungguh-sungguh bergerak cepat. Semestinya bukan NU dan penduduk yang mengurus kebersihan RPTRA Kalijodo. Semestinya ada pihak pemprov yang merawat. Akan tetapi Banser NU ini mempunyai inisiatif.

Ansor Banser Jakarta Barat berbarengan para elemen warga lainnya melaksanakan gotong royong untuk membersihkan lingkungan di daerah Kalijodo, bukan cuma RPTRA nya saja. Mereka kelihatan mencabut rumput, mereka berbarengan polisi sama-sama membersihkan sampah.

Peranan pemprov DKI yang minim, membikin hati mereka tergerak. Ketidakbecusan sampah warga yang sekarang bermanifestasi dalam bentuk gubernur dan wakilnya, membikin hati para anggota banser NU tergerak.

Gerakan ini bukan gerakan yang masif. Gerakan ini kecil-kecil, yang menumpuk dan jadi bukit. DI mana ormas radikal penyokong Anies di waktu Pilkada menyaksikan Kalijodo rusak? Tak ada. Mereka hening. Mungkin tidak sedikit dari mereka sedang galau, kehilangan junjungannya.

Di mana ormas radikal? Mereka cuma sanggup merusak. Radikal identik dengan chaos. Kerusakan yang mereka akibatkan, terasa sampai waktu ini, di dalam keterpecahan antar ummat beragama. Mereka lempar batu, sembunyi tangan, kabur ke negara lain.

Ialah sebuah ormas besar, Sokongan Serbaguna Ansor NU, jadi sebuah kubu yang menjalankan akidahnya selaku ummat beragama, sekaligus peranan selaku warga.

Mereka mendadak jadi petugas kebersihan relawan, yang mengurus RPTRA Kalijodo. Mungkin menyaksikan hal ini, gubernur dan wakil gubernur cuek dan ndak perduli dengan mereka.

Relawan ini jadi sebuah bentuk tamparan keras. Akan tetapi, penulis cukup percaya bahwa orang-orang seperti Anies ini ndak tahu terima kasih.

Ini kota kita berbarengan. Kita mesti rawat berbarengan.

Begitulah mungkin yang jadi semboyan dari barisan serbaguna Ansor sayap NU ini. Mereka ialah orang-orang yang menyaksikan bahwa kebersihan ialah sebagian dari iman. Mereka tertib. Mereka beragama. Mereka menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka.

Berbicara soal kebersihan, kita tentu berbicara soal iman. Kebersihan fisik ialah contoh dari kebersihan hati. Menyaksikan dari kotornya Kalijodo sebelumnya, kita juga menyaksikan bagaimana hati para pimpinan di DKI Jakarta terlalu busuk.

Penyokong mereka juga busuk, otak mereka terpapar virus radikalisme. Bayangkan saja, seorang Haji Djarot bisa-bisanya diusir dari rumah Tuhan. Radikal, mempergunakan ayat dan mayat.

Tak sama dengan NU, sebuah ormas Islam terbesar di dunia. Mereka menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka. Mereka teduh. Keguyuban diutamakan. Mereka menemukan sebuah rahasia tertinggi dan bentuk spiritualitas tertinggi dalam sebuah kehidupan beragama.

Religiositas tertinggi dari spiritualitas insan dan agama ialah “toleransi”. Toleransi jadi sebuah bentuk tertinggi dari religiositas. Itu ialah puncak peradaban insan.

Membangun toleransi, membangun peradaban insan. Jangan sampai kita jadi orang-orang seperti si Anies, yang ndak menghargai toleransi.

Kita telah lihat, bagaimana Ansor Banser Jakarta Barat menjalankan sebagian dari iman. Mereka membersihkan RPTRA Kalijodo dan lingkungan kisaran yang kian kumuh sebab dibiarkan dan ndak terawat. Ansor Banser menjaga dan merawat khazanah kekayaan budaya Jakarta yang dibangun oleh Ahok. Terima kasih Ansor Banser.

Ahok ialah sosok yang membangun Jakarta dari hancur jadi beradab. Ia menjalankan tugas dan tanggung jawabnya selaku pejabat yang disumpah untuk menjalankan amanat rakyat.

Seorang teman berkata terhadap penulis mengenai cerita Ansor Banser yang menyelamatkan sekelompok orang beragama Kristen di dalam gereja kala misa natal. Ia membuka sebuah kotak mencurigakan yang ternyata ialah bom.

Pada tanggal 24 Desember 2000, seorang anggota Banser Ansor bernama Riyanto, mengorbankan nyawanya untuk mendekap sebuah bom yang meledak di tubuhnya. Ia menyelamatkan puluhan, mungkin ratusan kemungkinan korban yang berjatuhan. Siapa kemungkinan besar korbannya? Orang Kristen.

Untuk kebersihan, semestinya Ansor Banser ndak perlu melaksanakan itu. Akan tetapi mereka melaksanakan itu, sebab hati. Sebab mereka ndak mau kota mereka rusak dan dibiarkan hancur. Mereka menjalankan akidah beragamanya.

Terima kasih Banser.

Begitulah keren-keren.

Manuel Mawengkang

(seword/ suaraislam)


Source by Ahmad Zaini

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.