Suara Santri: Indonesia Rumah Bersama

Nasionalisme Santri Jilid Dua

Suara Santri: Indonesia Rumah Bersama

Ilustrasi: Santri Zaman Now

Indonesia ialah rumah bersama. Rumah besar bagi keberagaman di Indonesia. Indonesia didirikan dengan gotong-royong full rasa cinta, dengan ghirah perjuangan dan pengabdian yang membara, dengan harapan full pada cita-cita luhur bangsa. Kemudian apa yang telah sanggup kita lakukan untuk Indonesia. Apakah yang kita lakukan itu telah cukup untuk membalas jasa Pahlawan bangsa?

Betapa sombongnya kita waktu ini. Hidup di zaman telah beberapa berubah, zaman yang serba instan dan serba mudah. Lalu lalu permasalahan bangsa tumpang tindih, kita sama sekali tidak mau menyentuhnya. Jangankan menyentuh, cuma Menyenggol saja tidak mau, seakan alergi dengan problematika bangsa. Apa-apaan ini!

Generasi muda masih ogah-ogahan memikirkan masa depan bangsa. Mereka lebih tertarik untuk membicarakan dan memikirkan artis-artis korea atau bahkan budaya korea yang tentunya jauh tak sama dengan budaya Indonesia. Tengah waktu ditanya, ‘Bagaimana masa depan Indonesia?’, mereka cuma diam tanpa kata. Miris! Harusnya generasi muda lebih peduli ke bangsa.

Prinsipnya begini, jika kita tidak mau memikirkan masa depan bangsa semenjak dini, maka potensi masa depan kita nanti tidak terpikirkan atau bahkan tersingkirkan oleh bangsa ini sendiri. Jikalau saya sering berkata, “dewasa nanti kita menanggung beberapa beban permasalahan bangsa yang kudu dicarikan solusinya. Dan akan lebih penting dibandingkan membicarakan artis-artis korea”.

Loading...
loading...

Dewasa ini kita beberapa disibukkan dengan berinteraksi secara maya di media sosial. Media sosial jadi terlalu wajib dipunyai oleh kaum zaman now. “Tidak punya media sosial, tidak gaul,” kata kebanyakan orang. Padahal beberapa dampak buruk waktu kita berlebihan sering berselancar di media sosial. Kita jadi lebih apatis, cenderung sombong, egois dan tidak mau srawung dengan lingkungan kisaran. Walaupun ada juga dampak positifnya kalau media sosial dipakai dengan sebaik mungkin. Tapi soal dampak buruk atau positifnya, tergantung porsi kita, seberapa jauh kita berselancar di dunia maya dibandingkan dengan di dunia nyata?

Ternyata generasi muda juga lupa, bahwa Indonesia ialah rumah keberagaman yang unik, menarik dan eksotik. Ada bermacam corak perbedaan, mulai dari adat, budaya, tradisi, bahasa, ras, suku, bahkan sampai agama. Seluruh itu layak disyukuri dan dirayakan. Sebab tanpa keberagaman, Indonesia tidak akan seindah apa yang waktu ini kita rasakan. Seperti halnya makanan, kalau tidak ada bumbu yang bermacam, pasti rasanya hambar dan tidak enak.

melansir pesan yang disampaikan oleh Almaghfurlah KH. Ahmad Muchit Muzadi dan disampailan ulang oleh Gus Rijal Mumazziq Z, “Indonesia Adalah rumah berbarengan yang wajib senantiasa kita jaga. Indonesia dapat ditinggali oleh siapapun tanpa menanggalkan aspek kesukuan.

Andaikan sebuah bangunan rumah, Fondasi Indonesia didirikan oleh ummat Islam, temboknya didirikan oleh kaum nasrani, atapnya didirikan oleh ummat buddha kemudian lalu gentingnya diletakkan oleh ummat hindu, dan konghuchu bertugas untuk melengkapi perabotan didalamnya sekaligus menyapu halaman rumahnya”.

Indonesia didirikan dengan full cinta kasih dalam keberagaman. Jadi telah tugas kita selaku generasi muda dan generasi penerus bangsa untuk senantiasa menjaga dan mempertahankan keberadaan dan keberadabannya. Seperti sebuah rumah, waktu ada orang asing masuk yang lalu ingin merusak atau menghancur-leburkan ketenteraman, persatuan dan kesatuan dalam rumah tersebut, kita selaku penghuninya kudu tegas dan sesegera mungkin memberikan perlawanan. Jangan sampai rumah kita dikuasai atau diambil alih orang lain yang tidak bertanggung jawab dan cuma ingin menguras harta kita saja tanpa mempedulikan nasib kita atau generasi berikutnya.

Sekali lagi, Indonesia milik kita. Indonesia rumah kita berbarengan. Mari kita jaga dan pertahankannya sampai darah penghabisan kita. Indonesia berlebihan indah untuk diluluh lantakkan.

Mari jaga negeri kita

Borobudur. 22 Oktober 2018

Vinanda Febriani, Pelajar kelas XII di MA Ma’arif Borobudur.

Loading...


(Suaraislam) Shared by Ahmad Zaini

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

KOLOM KOMENTAR ANDA :