Siwak dan Kebersihan Gigi

Siwak dan Kebersihan Gigi

Siwak dan Kebersihan Gigi


Islam mempunyai perhatian yang terlalu besar kepada kesehatan dan kebersihan. Kadar perhatian ini, misalnya tampak terang pada sebuah hadits:

“Kesucian Adalah separuhnya iman” (H.R. Muslim).

Pengertian kebersihan dan kesucian yang dimaksud oleh Islam tentu terlalu luas, yang meliputi kebersihan dan akidah yang salah, sifat-sifat yang tercela, serta tindakan-tindakan yang tidak terpuji.

Dalam istilah sufi, usaha penyucian itu disebut al-takhalli ialah terbebasnya seseorang dari akhlak yang tercela dan dosa. al-takhalli berikutnya disusul dengan al-tahalli, yaitu menghiasi diri dengan akhlak danperbuatan baik. sesudah itu seseorang akan mencapai al-tajalli.

Dengan demikaian, Islam Menegaskan keseimbangan antara lahir dan bathin, jiwa dan raga, material dan spiritual, dunia dan ukhrawi. Keseimbangan ini terwujud dalam problem kebersihan. Selaku agama, Islam tidak cuma memerintahkan umatnya membersihkan hati dan akhlak, tapi juga badan secara keseluruhan, yang bagian caranya ialah dengan bersiwak (menyikat gigi) secara rutin.

Sesungguhnya bersiwak bukanlah perkara baru bagi ummat ISlam. Bukan 100 atau 200 tahun yang lalu mereka baru mengenalnya. Jauh sebelum itu, lebih dari 5 belas abad yang lalu Rasulullah Saw. sudah memrintah umatnya untuk membiasakan diri bersiwak selaku tampak dalam beberapa hadits, seperti termaktub dalam kitab Shahih Muslim: I, 24 dan Jawahir al-Bukhari; 84.

Misalnya diriwayatkan dari orang tua Abu Burdah bahwa beliau pernah menjumpai Rasulullah Saw, dalam kondisi bersiwak. Bahkan tradisi bersiwak telah diawali Nabi Ibrahim A.S. (al-Bajuri: I; 42).

Berangkat dari beberapa hadits tersebut, para ulama berkesimpulan bersiwak hukumnya sunnah. Anjuran bersiwak berlaku kapan dan di mana saja kecuali bagi orang berpuasa sesudah lingsir matahari (zawal) sampai terbenam. Bersiwak pada waktu itu hukumnya makruh, pengecualian ini berangkat dari sebuah hadits yang menginformasikan bahwa bau mulut orang berpuasa yang tidak sedap itu di sisi Allah Swt. lebih wangi dari pada minyak misik. Kalau Allah Swt. menyukai hal itu, telah seyogyanya tidak dihilangkan.

Loading...
loading...

Sesungguhnya problem ini termasuk masalah khilafiyah (materi perdebatan). Terbukti ada ulama yang tidak menghukumi makruh. (al-Bajuri: I; 43). Walaupun secara umum bersiwak dianjurkan , ada waktu-waktu tertentu bersiwak lebih ditekankan dari pada waktu yang lain.

Waktu yang terlalu dianjurkan bersiwak ialah waktu hendak mengerjakan shalat sebelum berwudlu, membaca al-quran, hadits, atau ilmu-ilmu syar’i, sebelum dn asetelah tidur, dan waktu bau mulut berubah jadi tidak sedap akibat makan bawang, pete, dan sejenisnya, atau sebab diam berlebihan lama.

Dari segi alat, menurut para ulama, segala benda kasar yang biasa menghiangkan kotoran yang menempel pada gigi bisa dipakai untuk bersiwak, seperti kayu arak (kayu siwak), dan kain.

Jadi bersiwak tidak mesti mempergunakan sikat dan pasta gigi seperti yang selama ini kita kenal. Jikalau misalnya tidak sanggup berbelanja pasta gigi, kita dapat bersiwak dengan kayu siwak yang beberapa diperjualbelikan, atau meminta untuk orang yang pulang dari tanah suci Makkah.

Kayu itu terlalu murah, dan tidak memerlukan pasta gigi. Jadi terlalu praktis dan ekonomis. Hasilnya pun tidak kalah dari sikat yang biasa kita pakai dengan pasta gigi sehari-hari. Para ulama tidak cuma membicarakan dari segi hukum bersiwak, mereka juga menerangkan faedahnya.

Sebagaimana termaktub dalam kitab al-Iqna’ : I; 214, denganbersiwak kita memperoleh beberapa keuntungan, memperoleh ridha Allah, melipatgandakan pahala ibadah, menjadikan gigi lebih putih dan bersih, menghilangkan bau mulut yang tidak sedap, memperkuat gusi, memperlambat tumbuhnya uban di kepala, punggung tetap lurus (tidak bengkok), mempertajam kecerdasan dan memertajam penglihatan.

Sebab itu, jika ummat Islam masih kurang memperlihatkan problem kesehatan khususnya bersiwak, terang hal itu lebih sebab masih sempitnya pemahaman mengenai hal ajaran agama, di samping keminiman kesadaran akan arti penting kesehatan secara umum, akibat tingkat rendahnya tingkat pendidikan dan kemiskinan.

Kebersihan Adalah bagian problem yang terlalu ditekankan oleh Islam, tetapi kurang memperoleh perhatian dengan seharusnya oleh umatnya, malah ummat lain yang mengamalkan.

 

Loading...

Source by Ahmad Naufal

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

KOLOM KOMENTAR ANDA :