Simak! Inilah 5 Kyai NU Paling Sakti Mandraguna di Tanah Jawa

Loading...

Simak! Inilah 5 Kyai NU Paling Sakti Mandraguna di Tanah Jawa

Kyai-kiai NU enggak cuma alim dalam ilmu agama. Mereka juga mempunyai kesaktian yang luar biasa. Sehingga enggak jarang orang-orang yang berhadapan gentar bila enggak punya maksud baik.

Berikut ini daftar 5 kyai NU yang dikenal sakti mandraguna sebagaimana dikutip dari Blog Pribadi Kang Masruhan (www.masrukhan.net):

1. Gus Maksum
Kyai Maksum Djauhari atau yang lebih dikenal selaku Gus Maksum merupakan seorang kiai paling sakti di Tanah Jawa dengan kesaktian ilmu kanuragan yang tinggi. Karena itulah Gus Maksum malah dikenal selaku pendekar berkat kepiawaiannya dalam mengaji kitab kuning sekaligus juga ahli dalam seni beladiri atau silat. Beliau merupakan pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.

Menurut referensi dari sebuah buku Antologi Sejarah, Istilah, Amaliah, Uswah NU, Karya Soeleiman Fadeli dan Muhammad Subhan, Gus Maksum amat suka mengembara ke berbagai daerah di Pulau Jawa untuk berguru ilmu silat. Sebab itulah di masa dewasanya Beliau tampil sebagai pendekar legendaris di kalangan NU. Penampilannya dengan rambut gondrong, jenggot dan kumis Panjang, bersarung setinggi lutut, menggunakan bakiak, berpakaian seadanya dan Nggak makan nasi makin membikin kesaktiannya dikenal hebat.

Konon, saking saktinya sampai-sampai rambut beliau Nggak mempan dipotong, mulutnya sanggup menyemburkan api, sanggup melemparkan sapi seperti melemparkan sandal, Nggak mempan disantet, Nggak mempan senjata tajam, mahir menaklukkan jin, dan lain sebagainya. Akan tetapi sekarang Gus Maksum telah tiada, beliau meninggal di Kanigoro pada 12 Januari 2003. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman keluarga, sebelah barat masjid lama Ponpes Lirboyo. Sampai sekarang, Gus Maksum dikenal selaku kiai paling sakti di Tanah Jawa.

2. Kyai Abbas Buntet
kiai paling sakti di Tanah Jawa seterusnya yaitu Kiyai Abbas Buntet dari Cirebon. Kiyai yang satu ini ikut mengobarkan ghirah kepahlawanan dengan melaksanakan perlawanan kepada penjajah Belanda. Kiyai Abbas merupakan putra seorang Ulama NU sehingga bakat kiyai dan kesaktiannya itu tentu down dari ayahnya. Kyai Abbas ialah putra sulung Kyai Abdul Jamil yang lahir pada hari Jumat 24 Zulhijah 1300 H atau 25 Oktober 1800 M di desa Pekalangan, Cirebon. Kakeknya pun seorang pendiri dari pesantren Buntet di Cirebon.

Semasa mudanya, Kiyai Abbas tidak sedikit mengasah keilmuwan Agamanya ke berbagai daerah di Tanah Jawa, yaitu di Jawa Tengah, Tegal, Jogja, dan berbagai daerah pesantran lainnya. Dia juga belajar ke Mekkah dan kembali bersama-sama dengan Kyai Bakir Yogyakarta, Kyai Abdillah Surabaya dan Kyai Wahab Chasbullah Jombang. Selaku santri yang telah matang, maka di waktu senggang Kyai Abbas ditugasi untuk mengajar pada para mukminin (orang-orang Indonesia yang tertinggal di Mekkah).

Ilmu Kanuragan dan Ilmu Bela Diri senantiasa sebagai ilmu pokok di kalangan pesantren Buntet ajaran kiai paling sakti di Tanah Jawa, kiai Abbas. Dengan mengajarkan ilmu kanuragan itu maka pesantren Buntet dijadikan selaku markas pergerakan kaum Republik untuk melawan penjajahan. Mulai ketika itu Pesantren Buntet sebagai basis perjuanagan ummat Islam melawan penjajah yang tergabung dalam barisan Hizbullah.

3. Kyai Amin
kiai paling sakti di Tanah Jawa seterusnya yaitu Kiyai Amin. Beliau ialah Kiyai NU yang mempunyai karomah luar biasa langsung dari Allah SWT. Beliau enggak cuma mahir dalam ilmu agama, akan tetapi juga amat piawai dalam ilmu kanuragan dan silat. Beliau belajar dari ayahnya sendiri yaitu kiai Irsyad yang wafat di Mekkah kala itu. Kiyai Amin Lahir pada hari Jumat, 24 Dzulhijjah 1300 H, bersesuaian dengan tahun 1879 M, di Mijahan Plumbon, Cirebon, Jawa Barat. Konon Kyai Amin termasuk ahlul bait, dari silsilah Syech Syarif Hidayatullah.

loading...

Selain dikenal selaku ulama, Kyai Amin juga dikenal selaku kiai paling sakti di Tanah Jawa, sang pendekar yang menguasai ilmu bela diri dan kanuragan. Ada cerita di kalagan penduduk Ciwaringin, dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, Kyai Amin dan ulama lain di Cirebon ikut menyampaikan laskar ke Surabaya. Bahkan Kyai Amin sendiri ikut berangkat serta turut mengusahakan pendanaan untuk ongkos keberangkatan.

Bagi penduduk Nahdliyin, Kiyai Amin dikenal amat legendaris. Konon, dalam perang di Surabaya itu dia Nggak mempan senjata maupun peluru ketika bertempur. Bahkan, beliau juga dikabarkan Nggak mati walaupun dilempari bom sebanyak 8 kali. Luar biasa, itulah karomah yang diberikan Allah pada Sang kiai NU satu ini, kiai paling sakti di Tanah Jawa.

4. Kyai Hamid
kiai paling sakti di Tanah Jawa berikutnya ialah kiai Hamid yang berasal dari Pasuruan. Beliau juga mempunyai karomah luar biasa yang diberikan oleh ALLAH secara langsung. Suatu saat di masa Pemerintahan Orde Baru, Kyai Hamid diajak masuk ke partai pemerintah. Beliau pun menyambut ajakan itu dengan ramah dan menjamu tamunya dari kalangan birokrat itu.

Akan tetapi saat surat persetujuan masuk partai pemerintah itu disodorkan berbarengan pulpennya, Kyai Hamid tetap menerima dan menandatanganinya. Anehnya pulpen yang disodorkan untuk tandatangan tersebut Nggak sanggup keluar tinta alias macet. Lalu digantilah dengan pulpen lain, tapi tetap enggak mau keluar tinta dan seterusnya. Hal ini menandakan bahwa Kiyai Hamid sejatinya enggak setuju beliau masuk dalam partai Politik sebab beliau ialah seorang kiai Teladan, seorang kyai yang amat dihormati.

5. Gus Dur
kiai paling sakti di Tanah Jawa yang terakhir juga masih termasuk kiai NU, yaitu Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal selaku Gus Dur. Gus Dur ialah presiden ke-4 Negara Indonesia. Luar biasa bukan? Padahal Gus Dur ialah seorang yang tunanetra. Beliau merupakan kiai NU tersohor di Nusantara ini bahkan sampai ke Luar negeri.

Selaku bagian kiai paling sakti di Tanah Jawa, Gus Dur disebut-sebut mempunyai karomah. Salah satunya diceritakan Khoirul, driver pribadi Gus Dur. Suatu saat, ia sedang berada di Majenang Cilacap menghantar Gus Dur dan banyak orang anggota iring-iringan dalam dua mobil. Ketika itu telah jam 12 siang dan Gus Dur mengajak pulang sebab di rumah ada tamu yang wajib ditemuinya pada jam 13.00.

Ia pun cepat putar arah dan mobil iring-iringan di belakang mengikutinya di belakang. Sebab telah ada janji, ia ngebut, tetapi enggak percaya sanggup cepat sampai di Ciganjur, tempat tinggal Gus Dur tepat waktu. Ia berpikiran, paling-paling sanggup sampai di Jakarta pukul 3 atau 4 sore mengingat jaraknya amat jauh. Rute yang wajib dilalui masih amat jauh sebab wajib melewati wilayah ujung tertinggi yang jalannya kecil, berliku-liku dan naik turun. Apalagi ketika itu belum ada Tol Cipularang.

Ia pun tetap menggeber mobilnya secepat yang sanggup ia lakukan. Mobil iring-iringan satunya di belakang Nggak kelihatan, tampaknya telah jauh ketinggalan. Singkat kata, sampailah mobil itu di rumah Gus Dur dan ia merasa lega selamat sampai di rumah. Ia menengok jam tangannya. Angka yang masih diingatnya sampai sekarang, “pukul 13.12 menit”. Jakarta Cilacap cuma ditempuh dalam waktu 1 jam lebih tidak banyak.

Dan Gus Dur Nggak terlambat menerima tamunya yang juga baru saja sampai. Iring-iringan mobil di belakangnya baru sampai di Ciganjur pukul 16.30, beda empat jam lebih dari perjalanannya. Luar biasa, Gus Dur ialah seorang Wali bagi kalangan NU, dan beliau pun diakui selaku kiai paling sakti di Tanah Jawa.

Seperti inilah, semoga berguna, akhii.

(dutaislam.com/ suaraislam)

loading...


Source by Ahmad Zaini

Loading...

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

KOLOM KOMENTAR ANDA :