Sikap PBNU dan Kesetiaan NU ke NKRI

Sikap PBNU dan Kesetiaan NU ke NKRI – Dalam rangka menyambut tahun baru 2017 ini, ada baiknya kita memahami sikap PBNU dari masa ke masa yang senantiasa disalah-pahami oleh Ummat Islam. Bukan saja disalah-pahami oleh ummat Islam, bahkan masyarakat Nahdhiyyin sendiri ikut-ikutan gagal paham.

Artikel di bawah ini yang ditulis oleh Syafiq Naqsyabandi, memberikan bukti bahwa sikap PBNU yang senantiasa disalah-pahami tersebut pada akhirnya terbukti membawa kemaslahatan bagi ummat Islam pada umumnya, dan masyarakat Nahdhiyyin pada khususnya. Yuk, kita simak pemaparannya …

Memahami Sikap PBNU

Sikap PBNU yang memilih kontra kepada Aksi Bela Islam beberapa membikin kalangan gagal paham. Rupanya tak cuma kalangan Islam perkotaan yang gagal paham, tetapi juga kalangan Islam yang berasal dari lingkungan Nahdliyin (NU kultural). Umumnya mereka yang gagal paham ini merupakan kalangan Islam yang tak dekat dengan NU struktural, meski tak jauh dari kalangan NU kultural.

Orang-orang yang walaupun berasal dari kalangan NU kultural, dapat terbawa isu-isu yang berembus di masarakat kalau tak dekat dengan NU struktural. Kita seluruh mafhum, betapa liarnya isu (menjurus fitnah) yang berembus di masarakat hari-hari ini. Cuma NU strukturallah yang dapat menangkis ataupun meluruskan kesimpangsiuran isu tersebut. Kedekatan seseorang dengan NU struktural, tidak banyak atau beberapa akan mempengaruhi pemahaman seseorang dengan sikap-sikap PBNU.

Mengamini apa yang seringkali disampaikan Ahmad Baso dalam buku-bukunya, bahwa hari ini NU sedang digempur oleh wahabisme di satu sisi dan digempur oleh liberalisme di sisi lain. Isu-isu tertentu sengaja ditiupkan ke masarakat Nahdliyin oleh kedua pihak tersebut, maupun pihak-pihak lain yang bersekutu dengan keduanya, untuk menginfiltrasi NU. Nahdliyin yang awam dalam memahami prinsip-prinsip kemoderatan NU, dapat terinfiltrasi doktrin-doktrin di luar NU. Tak heran kalau lantas Rais Aam KH Makruf Amin seringkali berpesan dalam berbagai kesempatan, “La radikaliyan wa la liberaliyan”.

Kembali mengenai sikap PBNU kepada Aksi Bela Islam yang terkesan melawan arus, barangkali perlu bagi kita untuk menyaksikan kembali sikap PBNU dalam dinamika sejarah republik ini. Sebab ternyata beberapa juga sikap PBNU yang tak mudah dipahami dalam berbagai kejadian penting yang terjadi di republik ini. Contoh pertama dari sikap PBNU ialah keluarnya NU dari Masyumi pada tahun 1952. Waktu itu Masyumi ialah satu-satunya partai politik bagi ummat Islam, hitungan total kursi Masyumi di parlemen pun termasuk yang paling beberapa. Sikap PBNU yang mengambil keputusan keluar dari Masyumi, membikin NU dituduh selaku pemecah belah ummat Islam.

Sikap PBNU yang mengambil keputusan keluar dari Masyumi

Setidaknya ada dua alasan yang membikin NU waktu itu mengambil keputusan keluar dari Masyumi. Pertama sebab Masyumi mengurangi fungsi Dewan Syuro jadi sekadar pemberi nasihat semata, padahal malah di Dewan Syuro lah duduk perwakilan NU, ialah KH Hasyim Asyari, KH Wahid Hasyim dan KH Wahab Hasbulloh. Pemangkasan fungsi Dewan Syuro ini membikin para ulama NU jadi tak dihargai dalam menentukan arah partai.

Hal ini menimbulkan kekecewaan besar di kalangan NU. Alasan kedua ialah bergesernya posisi Menteri Agama yang sebelumnya ialah langganan KH Wahid Hasyim. Sikap NU yang mengambil keputusan untuk keluar dari Masyumi tetaplah kontroversial sampai akhirnya sejarah membuktikan pada akhir medio 1950-an, pemimpin Masyumi melibatkan diri dalam gerakan makar PRRI/Permesta. NU membuktikan diri jadi simbol kesetiaan ummat Islam pada Republik Indonesia.

Contoh kedua dari sikap PBNU ialah bergabungnya NU dalam gabungan Nasakom di era demokrasi terpimpin. Sikap NU ini membikin para kyai NU dicerca sebab bersedia duduk bersama-sama PKI dalam pemerintahan. Waktu itu kyai NU seringkali disebut-sebut selaku kyai Nasakom. Padahal ijtihad NU untuk turut berada dalam pemerintahan ialah untuk mengawal keputusan strategi Presiden Soekarno supaya tak didominasi oleh PKI.

Keberadaan NU dalam pemerintahan waktu itu juga untuk menjaga elemen-elemen ummat Islam dari serbuan PKI. Buktinya PKI pernah membujuk Presiden Soekarno untuk membubarkan HMI, tapi sebab penolakan Menteri Agama yang juga Sekjend PBNU, KH Saifudin Zuhri, HMI tak jadi dibubarkan. Pasca pecahnya kejadian G30S, NU jadi ormas yang paling depan dalam mengganyang PKI, kembali NU membuktikan kesetiaannya pada Republik Indonesia.

Sikap PBNU Merapat ke Jenderal LB Murdani

Contoh ketiga dari sikap PBNU ialah merapatnya Gus Dur selaku Ketum Tanfidziyah PBNU ke Jenderal LB Murdani. Seperti yang telah diketahui, pada tahun 1984 pecah kejadian Tanjung Priok dimana angkatan bersenjata dibawah komando LB Murdani menembaki ummat Islam dan menelan ratusan korban. Protes menyusul kejadian tersebut terjadi di mana-mana bahkan hampir mengarah pada kerusuhan nasional. Back-ground Jenderal LB Murdani yang bukan Islam membikin kerusuhan dipenuhi sentimen keagamaan.

Ditengah-tengah susasana yang sedemikian, Gus Dur malah menggandeng Murdani mengunjungi pesantren-pesantren NU. Enggak pelak Gus Dur memperoleh hujatan dan cacian dari beberapa pihak, bahkan dari masyarakat NU sendiri. Lebih jauh Gus Dur dituduh sudah murtad sebab membela Murdani. Padahal, Gus Dur berpendapat langkah yang dilakukannya ialah usaha meredam represifitas aparat. Gus Dur kuatir kalau tak diredam, korban dari ummat Islam akan bertambah besar.

Ketiga sikap yang telah diuraikan di atas merupakan contoh, betapa seringkali sikap PBNU gagal dipahami oleh masarakat. Warga Nahdliyin sendiri saja mampu gagal paham, apalagi yang bukan Nahdliyin. Terlebih seringkali cuma sejarah yang mampu membuktikan kejelian sikap PBNU. Hal ini jadi tak mudah untuk menerangkan mengapa PBNU malah amat kontra kepada aksi bela Islam, walaupun juga menyokong proses hukum kepada terduga pelaku penista agama.

Dalam seruan moral yang dikeluarkan pada 28 Oktober 2016 yang lalu, tertangkap kesan yang amat terang bahwa PBNU kuatir kalau arus yang ada tak dibendung, maka power ekstrem kanan akan naik ke panggung politik nasional. Sikap PBNU tersebut bukan dalam rangka membela penista agama, tetapi lebih ke menjaga supaya Islam moderat tetap jadi arus utama ummat Islam yang ada di Indonesia. Inilah originalitas dari beragam sikap PBNU kepada dinamika perjalanan Republik Indonesia.

Kekuatiran PBNU jadi nyata tatkala tak lama sesudah sukses dan lancarnya rangkaian Aksi Bela Islam,terjadi pembubaran paksa peribadatan ummat nasrani di Bandung. Lalu merebaknya sweeping atribut natal di beberapa kota. Terbaru ialah dilaporkannya Habib Rizieq oleh PMKRI. Sesama bangsa Indonesia jadi mudah saling lapor, jadi tiba-tiba saling berlawanan. Barangkali inilah yang disebut dengan bahaya naik panggungnya ekstrem kanan dalam perpoilitikan nasional. Naik panggungnya kalangan ekstrem mampu berujung pada konflik besar, seperti waktu naik panggungnya ekstrem kiri pada awal 1965. Indonesia cuma mampu stabil kalau berada di tengah-tengah, jadi moderat, jadi ummatan wasathan sesuai pesan Al-Baqarah ayat 143.

 

Oleh Syafiq Naqsyabandi*
Penulis ialah masyarakat NU, tinggal di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Aktif di Facebook dengan Akun Syafiq Naqsyabandi

Sumber

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :