Sidney Jones: Surabaya dan Keluarga ISIS

Sidney Jones: Surabaya dan Keluarga ISIS

Indonesia kembali diguncang ledakan bom dalam serbuan teroris, tetapi dengan gaya baru: “pembom bunuh diri keluarga”. Ini bisa jadi pertama kalinya di dunia orang tua membawa anak-anak mereka dan mengajak guna sebagai pelaku bom bunuh diri.

Ketiga keluarga itu termasuk keenam orang yang meninggal dunia dalam pemboman 3 gereja di Surabaya pada hari Minggu, 13 Mei: Dita Oepriarto (45 tahun), istrinya, Puji (42 tahun), anak-anaknya; Yusuf (18 tahun), Firman (16 tahun), Fadhila (12 tahun) dan Pamela Rizkita (9 tahun).

Anggota keluarga kedua pun meninggal dunia pada hari Minggu saat bom yang mereka buat meledak lebih awal di Sidoarjo, di luar Surabaya. Anton Febrianto, 47 tahun; istrinya Puspitasari (47 tahun) dan dua anaknya, Hilta Aulia Rahman, 17 tahun, dan Ainur Rahman, 15 tahun, mati, sedangkan Anak-anaknya yang lain; Faisa Putri (11 tahun), dan Garida Huda Akbar (10 tahun) selamat.

Keluarga ketiga dari lima orang terlibat dalam serbuan bom bunuh diri di kantor polisi di Surabaya pada hari Senin, 14 Mei. Mereka mempergunakan dua sepeda motor, dan empat anggota keluarga meninggal dunia dalam serbuan itu. Seorang anak 8 tahun selamat.

Serbuan semacam ini belum pernah terjadi sebelumnya.

Ini merupakan puncak pengaruh Jamaah Islamiyah. Tepat sebelum bom Bali, para keluarga ini berkomitmen guna melaksanakan hal tersebut, tapi cuma laki-laki dewasa yang bakal dinilai selaku pejuang (teroris). Laki-laki Jamaah Islamiyah memilih menikahi saudara perempuan atau anak perempuan anggota Jamaah Islamiyah lainnya, atau memilih istri dari sekolah-sekolah Jamaah Islamiyah di mana anak-anak perempuan sudah dicekoki paham radikal ini.

Para perempuan lebih memilih sebagai ibu, guru, kurir, dan kadang-kadang manajer bisnis, dan hamper hampir tak pernah selaku pejuang (teroris) – bahkan dalam konflik komunal yang terjadi di Ambon dan Poso.

Anak-anak yang dijadikan teroris, biasanya mereka sudah sebagai yatim piatu. Seorang anggota Jamaah Islamiyah Indonesia menikahi seorang Filipina di Mindanao sebab bersedia dipasang bom, walaupun tak ada bukti dia pernah lakukan. Ini sulit diterima akal sehat bagaimana anggota Jamaah Islamiyah dengan sengaja mengirim istri dan anak-anaknya menuju kehancuran.

Semenjak awal, ISIS sudah melibatkan keluarga. ISIS dengan sengaja mendukung seluruh keluarga guna bermigrasi – berhijrah – menuju Suriah supaya si ayah mampu bertempur, perempuan bisa mereproduksi, mengajar atau mengobati yang cedera, dan anak-anak bisa tumbuh dalam kondisi Islam murni.

Orang Indonesia dan di seluruh dunia merespon dengan antusias. Terkadang laki-laki berangkat lebih dulu dan istri mereka menyusul dengan bayi dan balita. Kadang-kadang mereka membawa putri remaja mereka dan menikahkan mereka dengan masyarakat negara non-Indonesia.

Seorang tahanan, Brekele, mengizinkan putranya, Hatf, yang berumur 12 tahun berangkat menuju Suriah bareng kerabatnya pada Agustus 2016. Hatf meninggal dunia dalam pertempuran dengan unit ISIS Prancis dua bulan sebelum ulang tahunnya yang ke-13.

Pada Agustus 2015, sebuah keluarga besar yang terdiri dari 27 orang, termasuk seorang bayi dan nenek berumur 78 tahun dengan kursi roda berangkat menuju Suriah. Dua puluh sukses melewati, 3 meninggal dunia di Suriah (termasuk perempuan tua), dan 17 pulang pada bulan Juli 2017.

ISIS sukses memasukkan konsep jihad sebagai urusan keluarga, yang mana masing-masing mempunyai peran. Perempuan ialah “Singa Betina”, anak-anak ialah “Anak Singa”. Seluruhnya orang diberi peran, ISIS mengakui dengan mempunyai keluarga normal, maka mereka telah mempunyai negara yang normal.

Masalahnya ialah tidak sedikit perempuan tak puas dengan peran tradisional yang diberikan ISIS terhadap mereka. Banyak, bagai yang viral di media sosial, mereka berharap peran yang lebih dan memilih sebagai pelaku bom bunuh diri bagai di Palestina, Irak, dan Chechnya.

Keluarga yang terlibat dengan ISIS mempunyai banyak implikasi, dan deradikalisasi dibutuhkan dalam keluarga – yang tak cuma ditujukan terhadap para lelaki. Dan program deradikalisasi tak mampu cuma ditujukan guna menanamkan nasionalisme atau mengubah paham ekstremis menuju interpretasi lain dari teks-teks Qur’an. Mereka wajib diberi pembahasan dan pemahanan bagaimana keluarga secara keseluruhan, sering didoktrin bahwa siapa juga di luar ISIS ialah musuh, bisa diyakinkan guna mengubah maksud mereka selaku individu dan selaku unit keluarga.

Dalam organisasi ekstremis lainnya – kubu neo-Nazi di Eropa Timur, geng-geng di AS, prajurit anak-anak di Ambon- Para mentor individu yang memberikan perhatian terhadap nasib anak didik mereka sebagai kunci. Tetapi di Indonesia sejauh ini, mentoring sudah berjalan, dan biasanya ditujukan guna tahanan laki-laki secara eksklusif.

Di Poso sesudah konflik komunal mereda, banyak psikolog mencoba menilai tingkat trauma yang dialami anak-anak yang terkena pertempuran, dan merancang intervensi berbasis kelas yang tepat guna meredakannya. Bakal amat berguna guna mengetahui apakah ada pelajaran dari Poso yang bisa diterapkan pada anak-anak yang dipengaruhi ISIS, termasuk anak-anak tahanan dan orang yang dideportasi.

Tugas pertama, ialah memetakan jaringan pro-ISIS yang dikenal dan mendokumentasikan jaringan keluarga. Pemerintah perlu tahu lebih tidak sedikit soal keluarga-keluarga ini dan back-ground mereka sebelum mereka bisa mulai mengembangkan program yang lebih strategis.

Kebutuhan bakal pengetahuan ini amat mendesak. Kalau 3 keluarga bisa terlibat dalam serbuan teroris selama dua hari di Surabaya, pasti bakal ada lebih tidak sedikit lagi yang siap guna bertindak.

Sidney Jones

(www.lowyinstitute.org/ suaraislam)

Sidney Jones: Surabaya dan Keluarga ISIS

Source

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.