Siaran Pers Harimau Jokowi Menghadapi Amarah Pembakaran Bendera HTI

Siaran Pers Harimau Jokowi Menghadapi Amarah Pembakaran Bendera HTI

Siaran Pers Harimau Jokowi Menghadapi Amarah Pembakaran Bendera HTI

Sebagaimana kita ketahui bersama-sama sudah terjadi pembakaran bendera HTI di Hari Santri Nasional pada Hari Minggu 21 Oktober 2018 di Kota Garut. Kejadian ini sudah menyulut emosi para pengikut HTI di bermacam daerah dan menuntut para pelaku pembakaran bendera HTI yang disebutnya Bendera Tauhid tersebut ditangkap. Suatu provokasi yang sempurna, yang dikerjakan oleh sekelompok orang yang kerap berusaha melaksanakan makar pada pemerintah RI yang sah.

Bagi kami bendera Tauhid itu tidak ada, yang ada itu ialah bendera hitam bertuliskan kalimat Tauhid yang selama ini dijadikan lambang bendera organisasi-organisasi teroris atau terlarang seperti ISIS, Al-Qaidah dan HTI. Oleh sebab itu membakar bendera HTI tidaklah mampu disamakan dengan penghinaan kepada kalimat Tauhid atau penghinaan kepada ummat Islam. Bagaimana mampu dikatakan penghinaan kepada kalimat Tauhid atau penghinaan kepada ummat Islam, sedangkan pelaku pembakarannya sendiri Adalah salah seorang santri, member Banser NU dimana organisasi NU sudah seluruh orang ketahui sudah mempunyai sejarah perjuangan panjang dalam membumikan ajaran-ajaran Islam di Nusantara ini bahkan di bermacam belahan dunia.

Membakar bendera HTI artinya memuliakan dan menjaga kalimat Tauhid supaya tidak dijadikan selaku alat propaganda sekelompok orang untuk menciptakan kerusuhan antar masyarakat bangsa. Membakar bendera HTI artinya pernyataan perang kepada pikiran-pikiran licik HTI yang hendak merebut negara dan mengganti Dasar Negara Pancasila dengan Sistem Khilafah. Membakar bendera HTI artinya bentuk pengabdian pada negara dan agama yang ingin menjadikan Islam selaku rahmat bagi alam semesta, dan bukan malah ingin menjadikan Islam selaku momok yang amat menakutkan dalam harmonisasi kehidupan masarakat yang plural dengan pemaksaan ideologi politiknya melalui jalan aksi anarkis.

Loading...
loading...

Pemerintah sudah tegas mencabut status Badan Hukum HTI melalui UU No.16 tahun 2017 Mengenai hal Penetapan PERPU No.2 tahun 2017 Mengenai hal Pergantian Atas UU No.17 tahun 2013 mengenai hal Ormas jadi UU. Dan waktu Pemerintah sudah legal mencabut status Badan Hukum HTI itu, pemerintah mempersilahkan bagi HTI untuk melaksanakan gugatan melalui jalur hukum dan menuding saya selaku Ketum Pimpinan Pusat HARIMAU JOKOWI jadi bagian kuasa hukum pemerintah dalam hal ini Kementrian Hukum dan HAM RI dalam berhadapan dengan gugatan hukum HTI. HTI pun lalu melaksanakan gugatan hukum pada pemerintah di PTUN Jaktim tapi lalu dalam akhir persidangan majelis hakim PTUN mengumumkan Tidak mau seluruhnya gugatan HTI. Pemerintah menang, tetapi lagi-lagi HTI tidak menerimanya lalu mengusulkan Banding di PT TUN. Di PT TUN Banding HTI pun ditolak utawa kalah.

Jadi dengan apa yang kami terangkan di atas, betapa amat terang disini bahwa tiada sejengkalpun lagi tempat bagi HTI untuk bisa beraktivitas di negeri ini.

Kalau mereka masih tetap ngotot memaksakan penyebaran ajaran-ajaran radikalnya mereka mampu diperangi ! Hotel prodeo menunggu mereka kalau mereka masih memaksakan kehendaknya. Pemerintah, TNI, POLRI dan seluruh masyarakat bangsa di negeri ini apapun Ormasnya, apapun Partainya, apapun Agama, Suku dan Kepercayaannya wajib menjaga negara dari ajaran-ajaran radikal HTI yang ingin merubah Dasar Negara (Pancasila) dengan Khilafah. Kalau ada birokrat, member TNI, POLRI, Ormas dan Parpol tidak bersedia melawan eksistensi HTI artinya mereka pengkhianat negara ! 😠

Seperti ini siaran pers HARIMAU JOKOWI ini kami nyatakan. Atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih. Wassalam…(SHE).

Jakarta, 23 Oktober 2018.

Ketum Pimpinan Pusat HARIMAU JOKOWI

SAIFUL HUDA EMS (SHE). Advokat dan penulis serta alumnus Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur (1985-1991).

Sumber: FB Saiful Huda Ems

(suaraislam)

Loading...


Shared by Ahmad Zaini

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

KOLOM KOMENTAR ANDA :