Siap Tumpas Teroris bareng Densus 88, Inilah Power Tentara Elite Anti-teror TNI yang Dihormati

Siap Tumpas Teroris bareng Densus 88, Inilah Power Tentara Elite Anti-teror TNI yang Dihormati

Ilustrasi

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, sudah meminta sokongan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto guna ikut melaksanakan operasi bareng penangkapan teroris seusai terjadi 3 ledakan bom di Surabaya.

“Tadi pagi aku telah telepon Panglima TNI Marsekal Hadi. Aku minta: Pak Jika dapat kita berkoalisi. Aku bakal kirim dari Kopassus. Terimakasih…” kata Tito Karnavian dalam acara Indonesia Lawyer Club di TV One, Selasa (15/5/2018) semalam.

Tito menginginkan, mudah-mudahan teman-teman dari Kopassus telah berkoalisi sebab bakal ada banyak penangkapan yang bakal kita lakukan.

“Jangan sampai kejadian bagaikan surabaya, terjadi lagi. Kita bakal tutup seluruhnya.”

sebelum ini, Minggu (13/5/2018) di Surabaya, Tito pun menjelaskan, “Aku telah minta bapak Panglima TNI, beliau kirimkan power guna lakukan operasi bareng melaksanakan penangkan sel-sel JAD dan JAT yang diduga bakal melaksanakan aksi,” kata Tito.

Menurut Tito, penindakan kepada terduga terorisme bakal terus dilaksanakan.

“Aku perintahkan lanjut, ndak boleh berhenti. Jika berhenti kita kasih nafas mereka dan mereka bakal bergerak lagi,” kata Tito.

Dia menambahkan, “Kita bakal hantam terus, kita bakal kejar terus. Di banyak daerah lain pun telah bergerak.”

Joko Widodo Perintahkan TNI Bantu Polisi

Presiden Jokowi menginstruksikan TNI membantu Polri untuk mengatasi aksi terorisme.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menjelaskan, berdasarkan perintah Presiden itu, Polri bakal dibantu satuan TNI untuk memberantas terorisme.

Menurut Moeldoko, Satuan TNI yang dikerahkan tergantung dari kebutuhan Polri.

“Sanggup nanti pengerahan Badan Intelijen Strategis guna membantu intelijen dari kepolisian. Bahkan secara represif dapat mempergunakan Satuan Gultor (Satuan 81) sudah disiapkan,” kata Moeldoko di wilayah Jagakarsa, Jakarta Selatan, Senin (14/5/2018).

Moeldoko menerangkan, tak bakal terjadi tumpang tindih kewenangan antara Polri dan TNI.

Menurut dia, TNI tetap berada di belakang Polri guna memperkuat penanganan terorisme.

“Bahkan yang tetap yang di depan ialah kepolisian, TNI memberi perkuatan. Dikolaborasikan dalam menangani sebuah persoalan yang sama. Intinya di situ,” papar Moeldoko.

Secara resmi seluruhnya pasukan anti-teror elit TNI bagaikan Sat 81 Kopassus, Denjaka, Sat Bravo 90, Kopaska, Tontaipur Kostrad, Komando Operasi Spesial Gabungan (Koopssusgab) dan lainnya telah dalam posisi siap bergerak (stand by call), berhadapan dengan aksi terorisme.

Spesial guna pasukan Koopssusgab, dibentuk pada 9 Juni 2015 oleh Jenderal Moeldoko selaku Panglima TNI kala itu.

Tentara elit ini merupakan gabungan pasukan spesial dari 3 matra TNI, yaitu Sat-81, Denjaka, dan Satbravo-90. Tentara spesial ini berjumlah 90 personil.

Mereka disiapkan di wilayah Sentul, Bogor, Jawa Barat dengan status operasi, senantiasa siap siaga saban ketika, kalau ada perintah guna terjun menanggulangi aksi teror.

Apalagi Presiden RI Jokowi sudah memerintahkan pasukan TNI guna membantu Polri dalam usaha memberantas aksi terorisme sampai menuju akar-akarnya (Kompas.com Senin/5/2018), maka seluruhnya pasukan spesial TNI pun siap bergerak kapan saja.

Posisi seluruhnya pasukan spesial TNI dalam keadaan stand by call sejatinya berlaku sejauh harinya.

Artinya dalam kesehariannya seluruhnya pasukan spesial TNI telah mempunyai pola kerja yang papar.

Yaitu sepertiga power dalam keadaan siap bergerak, sepertiga power melaksanakan latihan, dan sepertiga power lainnya berperan selaku cadangan.

Sejumlah personel pasukan spesial TNI pun telah bertugas secara senyap di daerah-daerah yang dinilai rawan oleh pemerintah, misalnya Papua.

Pergerakan pasukan spesial sesuai perintah Panglima TNI sesungguhnya tak sebegitu terpengaruh oleh Undang-Undang Anti-terorisme yang belum segera disahkan.

Misalnya, kalau terjadi kasus terorisme di Bandara Soekarno-Hatta, pasukan spesial Sat Bravo 90 dari TNI AU pasti turun bareng pasukan spesial TNI lainnya dan bisa jadi malah tak melibatkan langsung Densus 88 Polri.

Densus dapat dipastikan turun dalam aksi teror di bandara seusai teroris tertangkap bagus mati maupun hidup guna dilanjutkan proses penyidikan dan penanganan hukumnya sesuai prosedur kepolisian.

Bagaikan latihan penanganan anti-teror yang pernah dilaksanakan Komando Operasi Spesial Gabungan (Koopssusgab), pada sebuah kapal dagang di Laut Jawa, saat teroris telah dilumpuhkan, para pelakunya lalu diberikan menuju kepolisian (Polairud) guna dilanjutkan prosesnya sesuai hukum yang berlaku.

Jadi dalam saban penanganan aksi terorime, seluruhnya pasukan spesial TNI sejatinya dapat diturunkan kalau telah ada perintah dari Presiden.

Namun tugas pasukan spesial TNI cuma bersifat penindakan dan pelumpuhan (penghancuran) sebab seusai para teroris yang tertangkap hidup atau mati penanganan lebih detail secara hukum bakal ditangani oleh Polri (Densus 88).

Tetapi yang pasti seluruhnya pasukan spesial TNI ketika ini sesungguhnya telah merasa geram dan ‘gatal’ guna segera turun gunung, mengingat aksi terorisme yang terjadi nyata-nyata telah mengancam keamanan negara dan merongrong kewibawaan pemerintah NKRI. (Eviera Paramita Sandi)

(tribunnews/ suaraislam)

Siap Tumpas Teroris bareng Densus 88, Inilah Power Tentara Elite Anti-teror TNI yang Dihormati

Source

Jasa Website Alhadiy

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

KOLOM KOMENTAR ANDA :