seusai Napi Koruptor, Bos Prostitusi Kalijodo “Daeng Aziz” Jadi Calon Legislator GERINDRA

Islam Institute, Jakarta—Berbalut kemeja putih dan topi koboi, penampilan lelaki yang duduk di bawah tenda Komisi Pemilihan Umum Provinsi Sulawesi Selatan di Jalan Andi Pettarani, Makassar, itu cukup menarik perhatian. Gelang emas, seperti biasa, melingkar di pergelangan tangan kanannya. Bagi sebagian orang, lelaki yang Hadir ke KPUD dengan pengawalan sejumlah ajudan pada Selasa, 17 Juli 2018, siang itu tidak asing lagi.

Sosoknya sungguh menghiasi banyak media massa tatkala lokalisasi legendaris Kalijodo digusur oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dibantu ribuan aparat gabungan polisi, serdadu, dan Satpol PP pada awal 2016. Dialah Abdul Aziz Emba atau Daeng Aziz, bekas penguasa lokalisasi yang terletak di Kelurahan Muara Angke, Jakarta Barat, itu, selama lebih dari sepuluh tahun.

Polda Metro Jaya sempat menetapkan Daeng Aziz selaku tersangka Sangkaan prostitusi di Kalijodo. Tetapi, belakangan, lelaki berumur 51 tahun tersebut cuma disidang dalam Perkara pencurian listrik di beberapa kafe remang-remang miliknya di Kalijodo. Pada 30 Juni 2016, ia divonis bersalah dan diganjar 10 bulan hotel prodeo serta denda Rp 100 juta oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

Lama tidak terdengar kabarnya, Mendadak Daeng Aziz melakukan registrasi selaku calon anggota DPR Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulsel. lelaki asli Jeneponto, sebuah kabupaten yang berjarak 80-an kilometer dari Kota Makassar, itu, melakukan registrasi selaku caleg dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), partai besutan Prabowo Subianto.

Sayangnya, Daeng Aziz malas berbicara banyak seputar pencalegannya itu. Ia cuma bilang melakukan registrasi jadi member Dewan bersama-sama kawan-kawannya. “Saya melakukan registrasi dulu. Kan ini belum diterima. Masih seleksi,” kata lelaki berkumis tersebut. “Nantilah kita bicara lebih detail. Jangan di sini,” kata Daeng Aziz.

Bekas pengacaranya, Razman Arif Nasution, tidak terkejut menguping berita majunya Daeng Aziz ke Pileg 2019 lewat Gerindra. Karena, sesudah terusir dari Kalijodo, Daeng Aziz sungguh diketahui merapat ke partai berlambang kepala burung garuda itu. Bahkan Daeng Aziz menyokong Anies Baswedan-Sandiaga Uno, yang diusung Gerindra pada Pilkada DKI Jakarta waktu melawan Ahok-Djarot Saiful Hidayat.

Daeng Aziz sempat muncul di acara kampanye Anies-Sandi di Jalan Pemuda, Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Minggu, 8 April 2017. Ia duduk di barisan kursi paling depan. Bahkan Daeng Aziz sempat ikut sesi foto bersama-sama Anies. Tetapi Anies mengklaim tidak tahu kehadiran Daeng Aziz. “Malah tahunya dari teman-teman (awak media),” katanya.

Adapun Daeng Aziz sempat melontarkan pujian untuk pasangan Anies-Sandi setelah acara kampanye itu. Ia menilai pasangan tersebut selaku paket calon pemimpin yang berintegritas, mendidik, dan mengayomi warga. “Ini telah sepaket. Saya sepenuhnya menyokong Anies-Sandi,” kata Daeng Aziz.

Kehadiran Daeng Aziz di kampanye Anis-Sandi memancing komentar Ahok. Menurut dia, Daeng Aziz menyokong rivalnya itu sebab dendam kepada penggusuran Kalijodo. Ahok pun tidak peduli. Ia tetap menggusur bedeng-bedeng di bawah flyover Kalijodo, yang disinyalir jadi tempat prostitusi baru.

Ketua DPD Gerindra Sulsel Idris Manggabarani mengungkapkan, Daeng Aziz mendatangi kantor DPD Gerindra Sulsel kisaran Maret 2018 untuk melakukan registrasi selaku caleg. walau lupa hari apa tepatnya Daeng Aziz Hadir ke DPD Gerindra, Idris ingat betul waktu itu Daeng Aziz menjelaskan amat ngefans pada Prabowo. Itu sebabnya, dia cuma mau ke Gerindra sebab ada Prabowo.

“Dia bilang, ‘Pak, saya mau maju jadi caleg, tapi maksud Inti saya bukan mau terpilih jadi member DPRD. Maksud saya supaya Prabowo jadi presiden dan Gerindra menang. Makanya, waktu melakukan registrasi, dia tidak peduli mau ditempatkan di nomor urut berapa. Akhirnya dia memperoleh nomor urut 5,” kata Idris untuk detikX.

Sebelum jadi caleg, Daeng Aziz melakukan registrasi selaku member Gerindra. Daerah pemilihan yang wajib ditaklukkan Daeng Aziz untuk jadi legislator meliputi Kabupaten Jeneponto, Bantaeng, dan Selayar. Idris optimistis Daeng Aziz akan punya Kesempatan menang. Karena, nama Daeng Aziz begitu dikenal di Jeneponto. Dia juga mempunyai jaringan di 2 kabupaten lainnya.

“Saya melihatnya Daeng ini polos ya, tidak ada kecenderungan pintar berpolitik. Dia cuma cinta Gerindra dan loyalis Pak Prabowo. Waktu 2014 saja, di Sulsel, Gerindra menang besar di Jeneponto, daerahnya Daeng Aziz,” ucap Idris.

Menurut Idris, sekalipun nama Daeng Aziz dikaitkan dengan tempat maksiat di Kalijodo, tidak kemudian namanya negatif di kampung halaman. Bahkan Daeng Aziz amat dihormati di beberapa daerah di Sulawesi Selatan. “Masarakat di sini (Sulsel) sama sekali tidak menganggap dia selaku eks narapidana. Kita lebih baik memilih eks preman daripada eks ustaz. Saya lebih menganggap dia selaku Robin Hood,” kata Idris.

Istilah Robin Hood yang dimaksud Idris lantaran Daeng Aziz dikenal dermawan dengan membagi lahan-lahan miliknya untuk digarap penduduk dan membiayai sejumlah anak untuk bersekolah dan banyak menghidupi banyak orang.

Sebelum melakukan registrasi jadi caleg, sepak terjang politik Daeng Aziz di Jeneponto telah tampak dengan jadi tim berhasil calon Bupati Jeneponto yang Disokong Gerindra dalam Pilkada Serentak Juni lalu, Baharuddin Baso Jaya dan Isnaad Ibrahim. Daeng Aziz pun datang dalam kampanye pasangan cabup-cawabup tersebut.

Masalah majunya Daeng Aziz di Pileg Sulsel, DPP Gerindra menyerahkan mekanisme tersebut ke DPD setempat. “Itu mekanisme diberikan untuk Ketua Gerindra di daerah, sekalipun mekanisme persetujuan akhir tentu ada di DPP. Cuma, biasanya, yang jadi keputusan di daerah itu yang kita akomodasi,” kata Wasekjen DPP Gerindra Sudaryono untuk detikX, Selasa, 17 Juli.

Ketua Gerindra daerah, kata Sudaryono, ialah yang paling tahu soal peta power di wilayah masing-masing. Penempatan seorang caleg Adalah bagian dari taktik. Karena, ketua Gerindra di daerah, baik itu DPD maupun DPC, Adalah pihak yang paling tahu kebutuhan dan power politik di daerahnya.

“Yang terang, fokus Gerindra dan Pak Prabowo ialah program-program ekonomi. Sebab waktu ini keadaan ekonomi Indonesia tengah dalam kondisi yang tidak berlebihan baik. Harga-harga sembako mahal, telur mahal. Lapangan pekerjaan sulit dan seterusnya,” kata Sudaryono.

Shared by Ahmad Zaini

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

KOLOM KOMENTAR ANDA :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.