Setengah Hati Buat Prabowo-Sandiaga

Setengah Hati Buat Prabowo-Sandiaga

Suara lantang sekretaris jendral PAN Eddy Soeparno membikin gabungan Adil dan Makmur resah. Dia curhat. PAN kerepotan memenangkan Prabowo-Sandiaga. Beberapa kader kecewa. Prabowo tidak mengambil Cawapres dari partainya untuk melawan petahana.

Bukan tanpa karena dia ungkapkan itu. Selaku elit partai, Eddy telah keliling pelbagai daerah dalam 2 bulan terakhir. Kampanye. Memenangkan partai berlambang matahari putih. Termasuk kampanyekan Prabowo-Sandi.

Kecuali kampanye, Eddy juga berjumpa kader akar rumput di daerah. Berkonsolidasi memenangkan Pileg dan Pemilihan presiden 2019. Tidak lupa menguping aspirasi kader sendiri.

Waktu berjumpa kader, beberapa suara yang dia dengar. Mulai dari masukan sampai keresahan. Mereka sulit terang-terangan kampanyekan Prabowo-Sandi. Setengah hati sokong pasangan itu. Khususnya di wilayah basis suara petahana. Kader kuatir bila tetap memaksakan diri, bahkan berimbas buruk pada partainya.

PAN menyadari, tengah Ada dalam sebuah pilihan. Dalam gabungan ini, Partai Gerindra tentu terlalu diuntungkan. Karena, kadernya diusung selaku kandidat. Hal serupa juga terjadi di pihak seberang. PDIP juga jadi pihak diuntungkan.

Maka Eddy mengambil langkah konkret. Kader di wilayah basis petahana diminta lebih cermat lagi. PAN ingin kader di daerah mempelajari secara mendalam orientasi keputusan strategi PAN di tingkat nasional, tingkat I dan tingkat II. Tidak tanggung, bahan riset dan dialog pun digelontorkan dari pusat.

“Jikalau kita sekarang keluar teriak-teriak Pak Prabowo, yang bisa angin positifnya Gerindra, bukan PAN. Akhirnya tersadarkan ujung-ujungnya kita wajib bergerak untuk memenangkan Pileg,” ujar Eddy waktu dialog pada 19 Oktober lalu.

Eddy juga berharap, kader PAN di daerah jadi pembeda waktu memenangkan pasangan Prabowo-Sandiaga.Caranya dengan menghadirkan publik figur muda dalam saban kampanye di ruang publik. Keadaan ini ditangkap selaku cara jitu. Wakil sekretaris jendral PAN Faldo Maldini merasa ini Adalah cara PAN dalam merepresentasikan sosok Sandi.

Lebih dari itu, kata Faldo, sekretaris jendral PAN juga meminta kader PAN aktif dalam saban rapat pemenangan. Supaya ide PAN muncul dalam platform perjuangan memenangkan Prabowo-Sandi. Kader PAN Hadir ke gabungan membawa ide. Bukan ikut arus belaka.

“Jadi itu jalan penyelesaian dari Pak Eddy untuk memperkuat peran strategis PAN. Kami wajib jadi barisan terdepan pemenangan,” ungkap Faldo Maldini ke merdeka.com Minggu lalu.

Eks Ketua BEM Universitas Indonesia (UI) itu menilai, minimnya dampak elektoral bagi partainya bahkan jadi cambuk sendiri. Melahirkan hasrat supaya PAN memberikan kelir lain dalam gabungan. Mewarnai partai gabungan dengan napas nasionalis dan reformis. Sampai berbuah bermacam keputusan strategi mandiri dan peningkatan produktivitas.

Faldo meyakini hal ini disadari Prabowo dan Sandi. Karena, tidak mudah menaikkan suara PAN dalam keadaan seperti waktu ini. Apalagi ini Pemilihan Umum dengan format baru. Serentak.

Bila sebelumnya yang dijual lebih dulu ialah partai. Maka kali ini partai dan kandidat ‘dijual’ dalam waktu bersamaan. walau begitu, ia mengatakan dengan tegas tidak ada petunjuk dari partai untuk memenangkan bagian. Pileg atau Pilres. Seluruh wajib berjalan bersamaan. Dikerjakan secara paralel.

Tapi, jangan sampai keadaan ini menjebak kader dalam menyuarakan ide otentik PAN. Bila telah tidak ada kader yang mewakili di Pemilihan presiden maka adu ide jadi kunci memenangkan PAN dalam Pileg. “Kalau publik percaya dengan ide, maka masarakat pilih PAN,” ungkapnya percaya diri.

Senada dengan Faldo, Ketua DPP PAN, Yandri Susanto, mengklaim beberapa daerah basis petahana sungguh sulit ditembus partainya. Waktu ini, internal partai tengah melaksanakan riset. Hipotesis sementara beberapa kabupaten di Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Timur jadi wilayah tersulit bagi PAN.

Kecuali itu, beberapa wilayah basis nonmuslim juga jadi perhatian PAN. Bahkan, sejauh Pemilihan Umum sebelumnya, ada 3 wilayah terberat bagi PAN. Yaitu Bangka Belitung, Bali dan Gorontalo.

Kecuali terhalang basis muslim yang jadi minoritas, faktor hitungan total kursi juga memengaruhi. Dari 3 wilayah itu, Pileg untuk DPR memperebutkan 2-3 kursi saja. Menyiasati itu, PAN memilih fokus memelihara basis suaranya.

Yandri mengakui basis suara PAN tersebar di semua wilayah Indonesia. Buktinya dalam beberapa kali Pemilihan Umum, PAN senantiasa masuk dalam 5 besar partai politik di parlemen. Inilah modal PAN memenangkan Pileg 2019 meski dengan format baru.

Loading...
loading...

“Jadi kita rawat basis suara PAN. Bukan artinya melalaikan wilayah lain. Namun kita ada skala prioritas,” ucap Yandri.

walau begitu ia menepis tudingan kader akar rumputnya pecah. Karena, dalam 2 bulan terakhir, sejumlah pimpinan PAN bahkan berkampanye bareng Calon Wakil Presiden Sandi. Belum lagi, dalam wakti tak lama, PAN juga akan berkeliling bareng Prabowo Subianto ke beberapa daerah.

Ini jadi bukti solidaritas PAN memenangkan Prabowo-Sandi di Pemilihan presiden 17 April yang akan datang. Sekaligus memenangkan partai untuk melenggang di parlemen. “Kita ingin Prabowo Sandi menang tapi di parlemen juga kita kuat,” ucapnya.

Dalam melaksanakan kampanye PAN juga membawa ide penting. Salah satunya berhenti mempekerjakan tenaga kerja asing tanpa keahlian. Yandri mengklaim sering mendapati buruh asing tanpa keahilan masuk ke Indonesia. Terjadi di daerah pemilihannya, Banten II. Dia beberapa menyaksikan pekerja proyek asal Cina. Sementara masih beberapa pengangguran di sekitarnya.

Problem pertanian juga Ikut jadi perhatian PAN. Pihaknya menyesalkan sebutan Indonesia negara agraris tapi untuk bahan pokok pun wajib impor. Maka petani jadi korban. Harga jual hasil pertanian tidak membikin petani suka. Karena, mereka berjibaku melawan barang impor dari luar. “Nah PAN tidak mau seperti itu, kita akan mengedepankan kemungkinan yang ada,” kata Yandri waktu bercakap-cakap dengan merdeka.com Minggu lalu.

Soal pernyataan Eddy, Sandiaga merasa koalisinya masih solid. Apalagi dia baru saja keliling dengan Ketum PAN Zulkifli Hasan. Beberapa tempat disinggahi. Seraya menyerap aspirasi untuk memenangkan Prabowo-Sandi.

Untuk problem PAN soal beberapa caleg masih tidak mendukungnya, Sandi merasa itu Adalah keputusan politik masing-masing. Dia optimis PAN sanggup menuntaskan problem internal tersebut.

“Telah 2 bulan PAN dan saya keliling Indonesia, menangkap aspirasi atas nama Prabowo Sandi. Isu internal mereka biar PAN yang menjawab,” ucap Sandiaga.

Direktur Media dan hubungan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Calon presiden-Calon Wakil Presiden Prabowo-Sandiaga, Hashim Djojohadikusumo, meragukan adanya kader PAN Tidak mau mengkampanyekan pasangan nomor urut 02 tersebut. Hashim menyebut info itu dipelintir pihak lawan politik. “Itu tidak bener itu, dipelintir oleh sejumlah pihak. Pihak lawan lah, biasa dan Pak Eddy Suparno telah meluruskan pernyataannya itu tidak seperti ini,” ucap Hashim.(19/10).

Sinyal kegelisahan PAN dalam kampanye akbar tahun mendatang ditangkap Direktur Populi Center Usep Ahyar. Kelihatan dari keresahan kader akar rumput PAN yang tidak mampu terang-terangan mengkampanyekan Prabowo-Sandi di beberapa wilayah. Khususnya basis di basis massa pasangan Joko Widodo-Maruf.

walau dalam saban Pemilihan Umum PAN masuk dalam 5 partai besar di parlemen, tetapi ia membaca adanya kekuatiran PAN tidak lagi mendominasi. Karena, format Pemilihan Umum sudah berubah. Pileg dan Pemilihan presiden digelar bareng. Apalagi tidak ada kader PAN dalam Pemilihan presiden yang jadi magnet Inti publik.

Maka ia melihat, wajar bila pada akhirnya PAN mengutamakan pemenangan legislatif. Karena, partainya tidak memperoleh dampak signifikan untuk menaikkan elektabilitas partainya.

“PAN tidak memperoleh dampak yang penting untuk kepentingan elektabilitas partainya,” kata Usep ke merdeka.com.

Pernyataan Eddy sebenarnya tengah menggambarkan realitas yang terjadi di masarakat. Selaku elit partai, ia tengah berusaha menguping keluh kesah kadernya di wilayah tertentu. Ia kemudian memberikan arahan supaya kadernya tetap berjuang memenangkan partai.

Bukan cuma PAN yang mengalami keadaan seperti ini. Seluruh partai pengusung di 2 pihak juga bernasib sama. Tidak ada keterwakilan kader selaku kandidat Pemilihan presiden jadi perhatian spesial. Mereka wajib putar otak untuk memenangkan partai di parlemen.

Berhadapan dengan ini, Usep menyaksikan adanya kecenderungan partai membiarkan kadernya bekerja keras untuk pileg dan mengesampingkan pemenangan Pemilihan presiden. Karena, partai tidak rela kehilangan kader dan suaranya. Sementara kader di daerah lebih realistis walaupun itu bertentangan dengan keputusan strategi elit partainya.

Usep menilai logika pileg dan pemilihan presiden tidak sama. Waktu ini publik mengedepankan sosok yang diusung. Bukan siapa pengusung sosok tertentu. walau tidak seluruh, tetapi kecenderungan itu kelihatan terang.

Tentunya ini akan menguntungkan partai yang kadernya jadi kandidat. Ia menyaksikan Partai Gerindra dan PDIP terlalu diuntungkan oleh ini. Keadaan ini sekaligus jadi pelajaran bagi partai politik dalam mempersiapkan kader terbaiknya dalam kontestasi politik. [ang]

(merdeka/ suaraislam)

Loading...


Shared by Ahmad Zaini

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

KOLOM KOMENTAR ANDA :