sesudah Sontoloyo, Joko Widodo Punya Istilah Politik Genderuwo, Ini Ciri-cirinya!

Setelah Sontoloyo, Jokowi Punya Istilah Politik Genderuwo, Ini Ciri-cirinya!

sesudah Sontoloyo, Joko Widodo Punya Istilah Politik Genderuwo, Ini Ciri-cirinya!

Presiden Jokowi memunculkan istilah politik genderuwo waktu memberikan pernyataan dalam Lawatan kerjanya ke Tegal, Jawa Tengah, Jumat (9/11).

Istilah itu keluar dari mulut Joko Widodo waktu menyampaikan harapan dan pandangannya terkait pesta demokrasi di Tanah Air.

Joko Widodo menginginkan bahwa politik dan pesta demokrasi bangsa hendaknya disambut dan dihinggapi rasa gembira oleh warga. Dengan kegembiraan itu, rakyat sanggup memberikan suaranya secara jernih dan rasional bagi pemimpin yang dirasa pas memimpin Indonesia.

Kegembiraan demokrasi ini tentu cuma sanggup dicapai dengan cara-cara yang sesuai dengan kesantunan yang jadi ciri khas bangsa Indonesia.

“Kita wajib mengarahkan kematangan dan kedewasaan berpolitik dengan cara-cara seperti itu (santun). Oleh karena itu, sering saya sampaikan, hijrah dari ucapan kebencian ke ucapan kebenaran, hijrah dari pesimisme ke optimisme, hijrah dari kegaduhan ke kerukunan dan persatuan,” ucap Joko Widodo.

Pernyataan itu disampaikan Joko Widodo selepas meresmikan jalan tol Pejagan-Pemalang dan Pemalang-Batang di Kabupaten Tegal. Dalam acara beberapa jam sebelumnya di Gelanggang Olahraga Tri Sanja, dia sempat Menyenggol soal kesantunan yang dirasa menghilang dari sejumlah perilaku berpolitik.

Dia menyaksikan bahwa sekarang ini beberapa politikus yang pandai memengaruhi warga. Akan tetapi dia terlalu menyesalkan para pelaku politik cenderung tidak melihat etika berpolitik dan keberadaban.

“Coba lihat politik dengan propaganda menakutkan, membikin ketakutan dan kekuatiran. sesudah takut, yang ke-2 membikin sebuah ketidakpastian. Warga sungguh digiring untuk ke sana. Dan yang ketiga, warga akan jadi ragu-ragu,” ucapnya.

Presiden mempunyai 1 istilah spesial untuk menggambarkan perilaku berpolitik tidak beretika yang menebar ketakutan dan kekuatiran di tengah warga. Berangkat dari mitos Jawa Soal makhluk halus, dirinya menyebut hal itu selaku “politik genderuwo”, politik yang menakut-nakuti.

“Cara-cara seperti ini ialah cara-cara politik yang tidak beretika. Masa masyarakatnya sendiri dibuat ketakutan? Itu namanya politik genderuwo, menakut-nakuti,” ujar eks wali kota Surakarta itu.

Sebab itu Joko Widodo menginginkan supaya cara-cara berpolitik serupa itu cepat ditanggalkan. Telah selayaknya bagi warga memperoleh memperoleh contoh politik yang baik dan menghadirkan kegembiraan pesta demokrasi di negara ini.

Politik genderuwo menambah daftar istilah dari Joko Widodo sesudah sempat buat heboh dengan sontoloyo.

(jpnn/suaraislam)


Shared by Ahmad Zaini

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.