Sejarah Salafi di Indonesia (3)

Memahami Pernyataan Aneh Para Ustadz: Perspektif Gerakan Salafi

Sejarah Salafi di Indonesia (3)


Pasca kekalahan perang paderi yang terinspirasi dari gerakan Wahabi di Arab Saudi, dakwah Salafi di Indonesia praktis terhenti selama kira-kira 1 abad. hingga lantas pada tahun 1911, datanglah seorang ulama Salafi asal Sudan ke Indonesia selaku utusan dari kampus Al-Azhar, yaitu Syaikh Ahmad Surkati. Kedatangannya di Indonesia atas permintaan dari organisasi Jami’at al-Kheir selaku penilik sekolah-sekolah yang dibuka Jami’at al-Khair di Jakarta dan Bogor.

Pada tahun 1914, terjadi perpecahan antara Syaikh Ahmad Surkati dan petinggi Jamiat al-Khair yang rata-rata ialah orang Arab anak cucu Alawiyyin. Kritik Syaikh Ahmad Surkati soal persamaan derajat dan kafa’ah ditentang keras oleh para petinggi sampai membikin beliau akhirnya mundur. Pada 6 September 1914, beliau mendirikan Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah serta organisasi bernama Jam’iyat Al-Islah wa Al-Irsyad Al-Arabiyah, yang lantas berganti nama jadi Jam’iyat Al-Islah wa Al-Irsyad al-Islamiyyah.

Dakwah Syaikh Ahmad Surkati berfokus pada pemurnian ajaran agama Islam dengan membuang tradisi lama yang berkembang di Indonesia. Sejarawan Belanda G. F. Pijper menyebutnya selaku seorang pembaharu Islam di Indonesia, sepadan dengan apa yang ditunaikan oleh Muhammad Abduh dan Rashid Ridha.

Kecuali memimpin madrasah dan organisasi yang beliau dirikan, Syaikh Ahmad Surkati juga menjalin hubungan guru dan murid dengan beberapa publik figur Islam nasional lainnya seperti Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, Haji Zamzam publik figur awal PERSIS dan bersahabat baik dengan A. Hassan pendiri PERSIS dan juga dengan ayahanda dari Buya Hamka. Sederet nama tokoh-tokoh gerakan puritanisme di Indonesia.

Gerakan pemurnian ajaran agama Islam yang ditunaikan oleh Ahmad Surkati di Indonesia ini wajib diakui selaku cikal akan Kemajuan dakwah Salafi di Indonesia. Dari rahim intelektualnya, lahirlah lantas tokoh-tokoh maupun gerakan-gerakan organisasi keagamaan yang berfokus untuk meninggalkan tradisi lama keislaman di Nusantara dan hendak meng-copy paste apa yang dipraktekkan oleh gerakan Wahabi di Arab Saudi. Idealisasi kegemilangan Islam abad ke-1 senantiasa jadi referensi bagi mereka tanpa memperhatikan kontekstualitas ruang maupun waktu waktu ajaran Islam hendak diterapkan.

Dakwah mereka tidak jauh dari gerakan membidahkan tradisi yang ada di Nusantara. Mereka mengidentikkan praktik Islam yang sudah ada di Nusantara ini mendekati kekufuran dan kesyirikan. Seperti ziarah kubur, dan lainnya. Walaupun secara kuantitas mereka tidak berlebihan memperoleh sokongan secara populis, tetapi secara politis, sebab pada waktu itu mereka sudah terhimpun selaku sebuah organisasi, maka suara mereka terdengar lebih bergaung.

Hal ini menemukan momentumnya waktu pemerintahan kerajaan Arab Saudi – Wahabi berencana merobohkan makam Nabi Muhammad SAW. Secara politis, sebab mereka telah mempunyai organisasi, maka pemerintahan kolonial di Indonesia pada waktu itu memberikan izin keberangkatan pada mereka untuk ikut hadir perjumpaan ulama-ulama sedunia pada waktu itu, sekaligus diterima dengan baik oleh pemerintah kerajaan Arab Saudi. Hal ini yang lantas membangkitkan antusias dari K.H. Hasyim Asyari untuk membentuk organisasi Nahdlatul Ulama yang mengedepankan dakwah yang mengakomodir tradisi dalam Islam..

Para akademis lantas membikin tipologi gerakan keislaman di Indonesia dengan menyebut gerakan pembaharu bagi Muhammadiyah, Persis dan Al-Irsyad serta kubu gerakan puritanis lainnya dan menyebut Nahdlatul Ulama, PERTI, dan sesamanya selaku gerakan Tradisionalis.

Bagi penulis pribadi, pengkotakan semacam ini agak menyesatkan, sebab bagaimana disebut selaku pembaharu apabila yang ditunaikan oleh gerakan puritanis hanyalah mengidealkan Islam masa lampau dengan praktik islam waktu ini. Apanya yang dapat disebut baru?. Seharusnya pembaharu dalam islam lebih pas disebutkan bagi gerakan yang memperjuangkan supaya Islam dalam rumusannya selaku rahmatan lil-alamin sanggup merespon Kemajuan zaman pada suatu tempat tertentu. Sebuah antusias yang tidak tertemukan pada gerakan-gerakan puritanis.

Alih-alih memikirkan formula Islam yang pas dalam merespon Kemajuan zaman, yang mereka lakukan hanyalah mengaca kembali untuk Al-Quran dan Hadis yang pada akhirnya dimonopoli pemaknaannya oleh mereka. Yang terjadi lantas ialah paradoks, sebab di 1 sisi mereka mengumumkan bahwa seluruh orang dapat berijtihad mereferensi kembali untuk Al-Quran dan Hadits, tetapi di sisi lain, ialah mereka yang getol membidahkan hasil ijtihad kubu lainnya, bagaimanapun logisnya.

Pembaharu seharusnya ialah gerakan Islam yang secara cepat sanggup merespon Kemajuan zaman khususnya yang terjadi di Indonesia sehingga Islam tidak cuma berbicara di ruang hampa. Mengembalikan segala sesuatu pada apa yang tertera secara tekstual dalam Al-Quran dan Hadits bagi penulis hanyalah apologi kemalasan berfikir dalam mensinergikan Islam dengan modernitas

Source by Ahmad Naufal

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.