Sejarah Panjang Konflik di Timur Tengah

Sejarah Panjang Konflik di Timur Tengah

Sejarah Panjang Konflik di Timur Tengah


Membincang fenomena konflik di Timur Tengah dari kacamata Indonesia mempunyai respon yang amat beragam. Nggak tidak banyak dari warga yang salah paham, gagal paham, bahkan mempergunakan model demi di copypaste secara serampangan, meski enggak tidak banyak pula yang mempunyai cara pandang yang clear atau proporsional.

Kalau di Timur Tengah, negeri asalnya, terjadinya konflik yang memporak-porandakan negeri dilatari banyaknya kepentingan politik dan perebutan kekuasaan. Tapi di Indonesia, konflik politik seperti di Timur Tengah itu dapat berubah sebagai amat ideologis, dan sektarian antar agama, atau aliran keagamaan, semisal Sunni-Syi’ah atau muslim-kristen dan sekte serta kabilah-kabilah. Apakah waktu menyaksikan konflik Timur Tengah wajib mempergunakan kacamata kuda begitu? Nampaknya perlu pembacaan lebih luas, sehingga kita dapat menyaksikan tidak sedikit hal, yang pada gilirannya pandangan kita juga bukan cuma sektarian dan lebih jauh cuma hitam-putih.

Dari penelusuran KBBI, sektarian mempunyai dua makna; 1) berhubungan dengan anggota (penyokong, penganut) suatu sekte atau mazhab; sementara makna ke-2) picik, terkungkung pada satu aliran saja. Nah, penyempitan makna sebagai sektarian dalam membaca konflik Timur Tengah inilah yang ingin kita bahas lebih dalam.

Dari sisi sejarah, wilayah Timur Tengah mempunyai akar dan sebagai bagian peradaban tua di dunia. Semenjak dulu, wilayah ini memang senantiasa sebagai pusat perhatian, bahkan Adam dan Hawa berjumpa sesudah diturunkan ke bumi juga di Timur Tengah yang dikenal, Jabal Rahmah. Muncul peradaban kuno yang populer, antara lain kebudayaan dan peradaban Mesir kuno di lembah sungai Nil, Babilonia dan Assiria di Mesopotamia yang dialiri oleh sungai Tigris (Iraq) dan Eufrat (Persia), Pegunungan Armenia (Turki), Laut Mati/Sungai Yordan dan lain-lain.

Sistem-sistem sungai dan laut inilah yang memberikan nafas hidup terhadap peradaban-peradaban besar itu jauh sebelum kedatangan Islam. Seterusnya ada tidak sedikit cerita yang muncul, selain Nabi dan Rasul, ada juga muncul nama-nama besar seperti Fir’aun, Namruj dan lainnya, atau versi tak sama menyebut Darius, Nebukadnezar, Sultan Saladin, dan lain-lain.

Jadi, ada tidak sedikit alasan mengapa wilayah ini dari dulu sampai sekarang sebagai penting, salah satunya ialah wilayah penghubung 3 benua, Asia, Afrika dan Eropa, terlebih sesudah terbukanya terusan Suez. Dengan banyaknya peluang, termasuk sumberdaya, mineral, air, minyak, dan sumber transportasi serta lainnya, maka wilayah dan wilayah ini senantiasa sebagai perhatian.

Keberagaman warga dan back-ground, termasuk aliran keagamaan dan ideologi juga sebagai bagian yang begitu mudah digerakkan demi melahirkan konflik dan tarik-menarik kepentingan. Dan pemantik selaku ‘bensin’ paling mudah dan mungkin juga murah, di Timur Tengah sendiri ialah sentimen agama dan aliran keagamaan. Kalau di Timur Tengah telah ‘meledak’, maka efek ledakannya dapat dengan mudah merembes ke wilayah lain, termasuk tanah air, Indonesia Raya tercinta ini.

Jalur laut yang memperlihatkan superioritas angkatan bersenjata, termasuk pengangkutan eksport minyak dari negara-negara Timur Tengah, juga sebagai cerita tambahan dari rentetan konflik. Jalur tersebut juga memberi pemasukan penghasilan negara sebab hasil dari laut seperti ikan, mineral/gas, ataupun dari retribusi kapal-kapal asing yang melewati laut.

Faktor Pemicu Ketegangan

Dalam catatan Sidik Jatmika yang mengutip dari Gerald Blake soal Middle East, sebagian besar tapal batas negara darat di Timur Tengah telah ditetapkan semenjak 1880 dan 1930, akan tetapi, soal tapal batas negara laut bahkan baru mulai ditetapkan pada tahun 1960-an, dan sampai hari ini belum dapat diselesaikan secara tuntas. Berbagai perbedaan dan keragaman yang muncul, menyangkut tapal batas negara negara yang kecil dan besar, jalur laut yang kecil dan besar, kekayaan alam dan sumberdaya yang kecil dan besar, termasuk negara kaya-miskin, dan tingkat kemakmuran suatu negara, bakal mempunyai arah yang tak sama, baik secara politik maupun aspek lain dan Nggak tidak banyak melahirkan ketegangan.

Ada tidak sedikit faktor yang sebagai pemicu ketegangan di wilayah Timur Tengah, baik secara internal wilayah, maupun pihak di luar wilayah yang juga berkepentingan. Dua poin utama dapat disebutkan: Pertama, posisi strategis wilayah ini yang sebagai penghubung bagi ekonomi, perdagangan, dan pertahanan global ketiga benua, yaitu Asia, Afrika dan Eropa. Kedua, soal multi yang memang dipunyai Timur Tengah. Banyak multi yang tergambar dapat disebut, antara lain:

  1. Geografis Timur Tengah yang melahirkan perbedaan wilayah, ada yang luas dan sempit sehingga sebagai pemicu dominasi, termasuk juga kedekatan regional yang enggak jarang memicu ketegangan, seperti wilayah Arab inti (bulan sabit); Saudi Arabia, Mesir, Kuwait, Irak, Palestina, UEA, Bahrain, Qatar, Oman dan Yordania. Wilayah Arab periferal; Libya, Sudan, Yaman, Suriah dan Libanon. Wilayah Arab maghribi; Maroko, Tunisia, Aljazair, dan Mauritania. Wilayah non-Arab; Turki, Iran, Siprus, Israel dan Afghanistan. Wilayah Asia Tengah yang merupakan eks Uni Soviet; Azarbaijan, Uzbekistan, Kazakstan dan Turkmenistan.
  2. Problem kepemilikan air, baik air tawar maupun air laut. Pemicunya dapat keterbatasan akses air, semisal tapal batas negara, kemungkinan besar kekayaan air laut, mineral, pulau-pulau, dan pendapatan yang muncul dari kepemilikan laut. Sementara air tawar dapat berupa akses air suci, irigasi demi lahan, juga pembangkit listrik.
  3. Multi agama, akar budaya dan suku atau kabilah. Ada warisan peradaban yang muncul di lembah sungai Nil, Tigris dan Eufrat, lalu muncul ras Semit yang melahirkan etnis Arab dan Yahudi, Aria dengan Persianya, dan Berber di Afrika Utara. Ada juga ras gabungan semisal Turki yang ada unsur Mongolia dan Kurdi yang Indo-Persia. Belum lagi pecahan dalam bentuk suku-suku dan kabilah yang juga beritu beragam. Dari sisi agama, ada Yahudi, Islam, dan Kristen, begitu juga aliran-aliran keagamaan lain. Keragaman yang dapat sebagai kemungkinan besar baik selaku sebuah kekayaan budaya ataupun sebaliknya, dapat sebagai sumber ketegangan dan konflik.
  4. Multi ekonomi dengan menyaksikan tingkat kemakmuran suatu negara, kaya-miskin sampai kekayaan alam dan sumberdaya yang dipunyai, dapat melahirkan arah yang tak sama dan memicu ketegangan.
  5. Multi ideologi juga datang, ada Pan Islamisme, OKI dan juga Liga Arab yang merespon munculnya negara Israel. Ada sekularisme, liberalisme, komunisme, dan juga zionisme. Ada juga ideologi yang berbasis pada ajaran agama, semisal Islam, Kristen dan Yahudi dan aliran keagamaan, semisal Sunni-Syiah dan lainnya.

Nah, berbagai keragaman, termasuk letak geografis yang berujung pada tapal batas negara di atas, amat mungkin sebagai bagian faktor pemicu ketegangan, walaupun ujungnya juga soal beda kepentingan dan sudut pandang yang bermuara pada ekpresi politik, baik perorangan, kubu, maupun atas nama negara. Maka melihatnya Nggak cuma sektarian. Ada tidak sedikit model dan kamuflase yang mengemuka dalam ketegangan di wilayah ini yang musti dibaca secara mendalam dan dari berbagai aspek. Adakalanya Nggak peduli dengan agama, asal kepentingannya sama. Adakalanya ideologi sebagai basis penyatuan kepentingan. Yang terang basis kepentingan sebagai lebih penting dan menarik demi dilihat, sementara pemicu dan ‘bahan bakar’ konflik dan ketegangan dapat bermacam-macam.

Baca juga: Sulitnya Mendamaikan Timur Tengah

Suasana batin atas perasaan ketidakadilan, diskriminasi atau peminggiran kubu, ketimpangan ekonomi sebagai awal mula perasaan kecewa dengan situasi dan keadaan, dan akumulasinya dapat melahirkan protes, ketegangan dan konflik yang mencari sasaran dan target permusuhan. Dorongan pihak luar juga dapat menguatkan ketegangan, sehingga memperkeruh dan muncul pihak yang mengambil keuntungan dari situasi krisis.

Krisis Politik yang Berulang

Loading...
loading...

Menurut Carl J Friedrich, politik merupakan suatu usaha atau cara demi memperoleh atau mempertahankan power. Politik juga dapat diartikan cara demi mencapai maksud tertentu yang dikehendaki yang bakal dipakai demi mencapai kondisi yang diinginkan. Kehidupan berpolitik enggak pernah lepas dari kehidupan sosial suatu negara. Dan warga di Timur Tengah dengan didominasi oleh bangsa Arab mempunyai kultur pemerintahan yang sebagian besar ialah diktator. Bagian faktor historis yang melatari sebab di wilayah tersebut dulunya bersistem kekerajaan.

Arab Spring sebagai pintu masuk berbagai pihak melaksanakan koreksi kepada kepemimpinan di Timur Tengah, mulai dari Tunisia sampai menyebar ke berbagai negara di wilayah Timur Tengah. Banyak tuntutan akibat reaksi ketidakpuasan publik Timur Tengah, ada yang memperlihatkan hasil positif, akan tetapi Nggak tidak banyak pula yang bahkan berakibat fatal dan melahirkan krisis dan konflik berkepanjangan. Kecepatan merespon dan kepiawaian negosiasi pemimpin di wilayah ini sebagai kunci, termasuk menyaksikan berbagai efek dan dampak serta pengaruh para tokoh dan supporter yang menggerakkan aksi, baik secara internal maupun eksternal negara.

Nggak tidak banyak para pemimpin yang tumbang dan wajib menyerahkan mandat terhadap desakan publik, semisal Tunisia, Libya, Mesir dan Yaman. Tapi ada juga yang cuma melaksanakan reformasi internal tanpa penggulingan kekuasaan, semisal Saudi Arabia, Qatar, Bahrain dan juga Syuriah meski mengalami pergolakan yang masih berlangsung sampai ketika ini.

Di Mesir misalnya, pasca tumbangnya rezim Hosni Mubarak, rakyat Mesir bahkan terjerumus ke dalam konflik sektarian. Konflik sektarian tersebut terjadi antara penduduk muslim dan kristen. Dalam konflik yang bernuansa SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) tersebut, setidaknya terdapat banyak orang yang sebagai korban akibat brutalnya aksi. Konflik sektarian di Mesir ialah satu contoh resistensi politik di wilayah Timur Tengah sesudah revolusi sukses ditunaikan.

Pasca revolusi, umumnya tuntutan sederhana yang dikehendaki rakyat dan para elite politik ialah melangsungkan pemilihan umum secara demokratis demi memilih kepemimpinan baru. keinginan baru tersebutlah yang sebagai suara kebanyakan rakyat wilayah Timur Tengah, termasuk harapan kehidupan yang lebih baik dan demokratis.

Situasi yang sekarang terjadi di banyak negara Timur Tengah ternyata juga berpengaruh pada kehidupan ekonomi di berbagai negara lain seperti Indonesia. Ada dua dampak yang dinikmati oleh Indonesia -dampak langsung dan Nggak langsung. Kehidupan ekonomi suatu negara memang Nggak pernah lepas dari hubungan antar negara. Hubungan antar negara diwujudkan dalam hubungan keilmuan, sosial, politik, diplomatik, ekonomi, budaya, pertahanan dan keamanan.

Krisis Timur Tengah juga melahirkan berbagai model dan varian yang juga sulit dibaca, kecuali pembacaan politik dan geopolitik yang melingkupi. Munculnya ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) ialah bagian dari kerumitan krisis di wilayah ini. sebelum ini persoalan sengketa Israel-Palestina, muncul juga Al-Qaeda, sampai berbagai kubu separatis semisal kubu Houthi di Yaman dan gerakan separatis lain sebagai bagian dari varian krisis yang rumit.

Gelombang Demokrasi dan Nasionalisme SARA

keinginan perubahan yang lebih baik ialah suara yang berdengung mengiringi gelombang revolusi yang bergulir di wilayah Timur Tengah. Pemerintahan yang demokratis diinginkan sanggup memberi ruang partisipasi publik yang lebih luas, meski dalam situasi transisi bahkan mempunyai tidak sedikit kerentanan.  Karena, demokrasi yang berdampak positif memerlukan prasyarat dan keadaan awal yang perlu diperhatikan.

Keadaan dan prasyarat bagi demokrasi yang dibutuhkan antara lain; pengetahuan dan ketrampilan politik yang memadai di antara penduduknya, sokongan elite politik kepada demokrasi, tradisi rule of the law dan penjagaan kepada hak asasi insan yang kuat, tingkat perkembangan ekonomi tertentu, kebudayaan yang menunjang dan sebagainya.

Nah, kalau prasyarat ini Nggak terpenuhi, bahkan bakal melahirkan kerentanan yang dimaksud, meski kebebasan mengumumkan pandangan, pemilihan umum langsung yang jurdil (jujur dan adil) dan luber (langsung, umum, bebas, rahasia) dapat digelar. Kerentanan pada proses politik awal dan masa transisi demokrasi seringkali melahirkan berbagai konflik kepentingan, terlebih di kalangan elit. Karena, suara demokrasi ditetapkan melalui suara kebanyakan, sehingga pihak minoritas bakal tersingkir. Dan kaum elit yang di periode sebelumnya berkuasa, dapat jadi punya peluang yang sama, sebagai tersingkir, maka elit tersebut bakal mempergunakan sentimen nasionalisme SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) demi membangun power politik sesuai kepentingan elit. Dan cara-cara elit menarik sentimen SARA dalam proses pemenangan politik di era transisi demokrasi inilah yang mengganggu demokrasi yang diinginkan, bahkan enggak tidak banyak melahirkan guncangan sosial-politik yang hebat.

Dalam bukunya, ‘From Voting to Violence: Democratization and Nationalist Conflict’, Jack Snyder mengungkapkan fakta keterkaitan antara demokratisasi dan konflik nasionalisme, dan itu tidak sedikit berhubungan dengan apa yang disebut nasionalisme SARA. Dasar legitimasinya diperoleh dengan cara benturan ras, agama, suku, golongan, dapat juga pengalaman sejarah, mitos dan seterusnya. SARA dipakai demi memasukkan dan mengeluarkan orang dari term nasionalis, padahal ini bersifat rasis dan berangkat dari pemikiran yang sempit. Sementara perbedaan dan berbagai kesempitan dalam bentuk SARA Nggak selayaknya sebagai basis demokrasi. Karena demokrasi bahkan diinginkan melahirkan rasa nasionalisme yang tetap menghargai perbedaan dan Nggak terkotak-kotak yang anti pluralisme.

Studi Snyder di atas menyebutkan, kebanyakan atau sebagian besar negara-negara yang tercebur dalam konflik SARA selama dasawarsa 1990-an ialah negara yaang sedang ke tahapan transisi demokrasi. Lalu, bagi negara Indonesia yang dinilai telah melampaui, tetapi masih memperlihatkan situasi dan keadaan yang kurang lebih sama, adakah termasuk sebagian kecil dalam riset Snyder?

Ada maksud yang disampaikan Snyder, bahwa dua tahun sebelum pecahnya konflik dan pertikaian SARA, umumnya diawali dengan pra keadaan dengan menguatnya kemajuan parsial dalam hal kebebasan politik atau kebebasan sipil. Parsialitas yang merusak, menyempit dan rasis inilah yang sebagai penyubur bagi lahirnya nasionalisme SARA.

Banyak contoh negara yang mengalami pecah SARA, antara lain di bekas Yugoslavia, antara orang Armenia dan orang bekas Soviet Azerbaijan, begitu juga di Burundi dengan minoritas Tutsi dan kebanyakan Hutu. Begitu juga yang terakhir kasus SARA di wilayah Timur Tengah, semisal Mesir.

Lalu bagaimana membikin nasionalisme SARA Nggak muncul? Apakah demokrasi senantiasa melahirkan bahayanya yang juga kian rumit dan membikin apriori?

Nasionalisme sipil musti dikuatkan. Para elit, baik di level pemerintah (eksekutif, legislatif, yudikatif), maupun tokoh warga dan ulama, bersama-sama seluruh lapisan warga saling menjaga situasi kondusif, Nggak merasa terancam oleh proses demokratisasi, dan institusi politik (kelembagaan negara) yang ada juga saling menopang dan cukup kuat menampung proses ini.

Baca juga: Indonesia Mampu Jadi Juru Damai Timur Tengah

Penguatan nasionalisme sipil, seperti digagas Kim Holmes misalnya, ialah usaha demi membangun basis pemersatu bangsa dan menciptakan kesetaraan penduduk negara tanpa menyaksikan kategori suku, ras, warna kulit, hubungan nasab dan agama, sehingga demokrasi yang dijalankan bakal memberi dampak positif dan mencapai cita-cita bangsa yang diinginkan. Dengan cara yang setipe ini pula, pemahaman dan cara pandang sektarian, dengan sendirinya juga bakal memudar. Berbagai perbedaan kepentingan dan konflik dapat dilihat secara lebih utuh dengan mempertimbangakan berbagai faktor dan penyebab yang sebagai pemicu konflik, dari berbagai aspek dan back-ground secara menyeluruh.

Akhirnya kedewasaan tiap-tiap penduduk, kesadaran berdemokrasi yang kian dipahami, bakal berujung pada keadaan check and balances dan sebagai pupuk demi terwujudnya proses demokrasi yang terus membaik dan saling menjaga melalui kritik-konstruktif, sehingga melahirkan kran demokrasi yang menyehatkan dan berujung pada kemakmuran negeri. []

Loading...

Source by Ahmad Naufal

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *