Sejarah Hitam Kaum Wahabi

Sejarah hitam kaum wahabi seakan tidak ada habis-habisnya untuk ditulis. Tulisan-tulisan sejarah ini walaupun ditulis secara ilmiah berdasar fakta, tapi bagi golongan penganut sekte ini dianggapnya fitnah belaka. Ya, mereka mempunyai sejarahnya sendiri yang cemerlang, setidaknya demikianlah menurut mereka. Sehingga telah begitu beberapa kitab-kitab yang ditulis oleh para Ulama Ahli Sunnah Wal-jama’ah, oleh mereka  ‘diputihkan’. Tetapi yang namanya sejarah hitam, kebenarannya akan terungkap dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Ibaratnya serapi-rapinya bangkai ditutup, baunya akan tercium juga…

Lembaran Hitam di Balik Penampilan ‘Keren’ Kaum Wahabi

Oleh: Idrus Ramli*

Ya, ke mana-mana senantiasa menyebarkan salam. Senantiasa menggunakan baju bercorak gamis dan celana putih panjang ke bawah lutut, ciri-khas orang Arab. Jenggotnya dibiarkannya lebat dan terkesan menyeramkan. Slogannya pemberlakuan syariat Islam. Perjuangannya memberantas syirik, bid’ah, dan khurafat. Referensinya, al-Kitab dan Sunah yang sahih. Semuanya serba keren, valid, islami. Begitulah kira-kira penampilan kaum Wahabi. Sepintas dan secara lahiriah meyakinkan, mengagumkan.

Tetapi jangan tertipu dulu dengan tiap-tiap penampilan keren. Kata pepatah jalanan, nggak tidak banyak di antara mereka yang menggunakan baju TNI, ternyata penipu, bukan prajurit. Pada masa Rasulullah Saw, di antara tipologi kaum Khawarij yang benih-benihnya mulai muncul pada masa beliau, ialah ketekunan mereka dalam melaksanakan ibadah melebihi ibadah kebanyakan orang, sehingga beliau perlu mengingatkan para Sahabat  dengan bersabda, “Kalian akan merasa kecil, apabila membandingkan ibadah kalian dengan ibadah mereka.”

Seperti ini pula halnya dengan kaum Wahabi, yang terkadang menggunakan nama keren “kaum Salafi”. Apabila diamati, sekte yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi (1115-1206 H/1703-1791 M), selaku kepanjangan dari pemikiran dan ideologi Ibnu Taimiyah al-Harrani (661-728 H/1263-1328 M), akan didapati sekian beberapa kerapuhan dalam sekian beberapa aspek keagamaan.

A. Sejarah Hitam

Sekte Wahabi, seperti biasanya sekte-sekte yang melenceng dari manhaj Islam Ahlusunah wal jema’ah mempunyai lembaran-lembaran hitam dalam sejarah. Kerapuhan sejarah ini setidaknya dapat dilihat dengan memperhatikan sepak terjang Wahabi pada awal kemunculannya. Di mana agresi dan aneksasi (pencaplokan) kepada kota-kota Islam seperti Mekah, Madinah, Thaif, Riyadh, Jeddah, dan lain-lain, yang ditunaikan Wahabi berbarengan bala prajurit Amir Muhammad bin Saud, mereka anggap selaku jihad fi sabilillah seperti halnya para Sahabat  menaklukkan Persia dan Romawi atau Sultan Muhammad al-Fatih menaklukkan Konstantinopel.

Selain menghalalkan darah kaum Muslimin yang tinggal di kota-kota Hijaz dan sekitarnya, kaum Wahabi juga menjarah harta benda mereka dan menganggapnya selaku ghanîmah (hasil jarahan perang) yang posisinya sama dengan jarahan perang dari kaum kafir. Hal ini berangkat dari paradigma Wahabi yang mengkafirkan kaum Muslimin dan menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin Ahlusunah wal jema’ah pengikut mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali yang tinggal di kota-kota itu. Lembaran hitam sejarah ini sudah diabadikan dalam kitab asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb; ‘Aqîdatuhus-Salafiyyah wa Da’watuhul-Ishlâhiyyah karya Ahmad bin Hajar Al-Buthami (bukan Al-Haitami dan Al-‘Asqalani)–ulama Wahabi kontemporer dari Qatar–, dan dipengantari oleh Abdul Aziz bin Baz.

B. Kerapuhan Ideologi

Dalam akidah Ahlusunah wal jema’ah, berdasarkan firman Allah, “Tak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia (Allah)” (QS asy-Syura [42]: 11), dan dalil ‘aqli yang definitif, di antara sifat wajib bagi Allah ialah mukhâlafah lil-hawâdits, yaitu Allah tak sama dengan segala sesuatu yang baru (alam). Karenanya, Allah itu ada tanpa tempat dan tanpa arah. Dan Allah itu nggak duduk, nggak bersemayam di ‘Arasy, nggak mempunyai organ tubuh dan sifat seperti manusia. Dan menurut ijmak ulama salaf Ahlusunah wal jema’ah, sebagaimana dikemukakan oleh al-Imam Abu Ja’far ath-Thahawi (227-321 H/767-933 M), dalam al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyyah, orang yang menyifati Allah dengan sifat dan ciri khas manusia (seperti sifat duduk, bersemayam, bertempat, berarah, dan mempunyai organ tubuh), ialah kafir. Hal ini berangkat dari sifat wajib Allah, mukhâlafah lil-hawâdits.

Sementara Wahabi mengalami kerapuhan fatal dalam hal ideologi. Mereka terjerumus dalam faham tajsîm (menganggap Allah mempunyai anggota tubuh dan sifat seperti manusia) dan tasybîh (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Padahal menurut al-Imam asy-Syafi’i (150-204 H/767-819 M) seperti diriwayatkan olah as-Suyuthi (849-910 H/1445-1505 M) dalam al-Asybâh wan-Nazhâ’ir, orang yang berfaham tajsîm, ialah kafir. Sebab artinya penolakan dan pengingkaran kepada firman Allah, “Tak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia (Allah).” (QS asy-Syura [42]: 11)

C. Kerapuhan Tradisi

Di antara ciri khas Ahlusunah wal jema’ah ialah mencintai, menghormati, dan mengagungkan Rasulullah Saw, para Sahabat , ulama salaf yang saleh, dan generasi penerus mereka yang saleh seperti para habaib dan kyai yang diekspresikan dalam bentuk tradisi semisal tawasul, tabarruk, perayaan maulid, haul, dan lain-lain.

Sementara kaum Wahabi mengalami kerapuhan tradisi dalam beragama, dengan nggak mengagungkan Nabi Saw, yang diekspresikan dalam pengafiran tawasul dengan para nabi dan para wali. Padahal tawasul ini, sebagaimana terdapat dalam Hadis-Hadis sahih dan data-data kesejarahan yang mutawâtir, sudah ditunaikan oleh Nabi Adam u, para Sahabat t, dan ulama salaf yang saleh. Sehingga dengan pandangannya ini, Wahabi artinya sudah mengafirkan Nabi Adam As, para Sahabat RA, ahli Hadis, dan ulama salaf yang saleh yang menganjurkan tawasul.

Bahkan lebih jauh lagi, Nashiruddin al-Albani–ulama Wahabi kontemporer–semenjak lama sudah menyerukan pembongkaran al-qubbah al-khadhrâ’ (kubah hijau yang menaungi makam Rasulullah Saw) dan menyerukan pengeluaran jasad Nabi Saw dari dalam Masjid Nabawi, sebab dianggapnya selaku sumber kesyirikan. Al-Albani juga sudah mengeluarkan fatwa yang mengafirkan al-Imam al-Bukhari, sebab sudah melaksanakan takwil dalam ash-Shahih-nya.

Seperti ini sekelumit dari ratusan kerapuhan ideologis Wahabi. Dari sini, kita perlu berhati-hati dengan karya-karya kaum Wahabi, sekte radikal yang lahir di Najd. Dalam Hadits riwayat al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain, Nabi Saw bersabda, “Di Najd, akan muncul generasi pengikut Syetan”. Menurut para ulama, maksud generasi pengikut Syetan dalam Hadis ini ialah kaum Wahabi. Wallâhul-hâdî. [BS]

*) Penulis ialah alumnus Pondok Pesantren Sidogiri, tinggal di Jember

Jasa Website Alhadiy

You might like

About the Author: admin

7 Comments

  1. Di antara negara-negara yang didoakan Nabi dengan keberkahan adalah Yaman dan Syam (sekarang Syiria, Jordan, Libanon). Negara-negara tersebut gudangnya ulama2 sunni asya’irah-maturidiyah.

  2. sorry coy..ane ikut gabung..?ane ank jlnan yg sng main gitar..dlu ane asli benci tuh sm org berjenggot, celana ngatung, baju gamis atw pakistanan..tp rajin ke masjid..dn sllu beruluk salam..dn setelah bnyk intraksi sm mrk ternyta nyejukin hati, ga segarang yg ente byangkan..??aplgi stlh ane dikasih hadiah dr mrk buku tauhid terjemah dn buku riyadushalihin terjemah ane jadi bnyk tau tentang islam..sbnrnya hanya kt aja yg ga mau mengamalkan islam scra kafah..dn lbh sng menghamba pd syaitan dn hawa nafsu??

    1. untung nte nggak ketemu sama pendeta, trus nte dikasih injil plus salib. trus nte terbuai sama kebaikan mereka. Dan hebat banget nte baru baca buku terjemahan udah tau apa itu islam kaffah…jangan – jangan nte yang nggak bisa membedakan mana yang bener dan mana itu syaiton dan hawa nafsu…

  3. Masruddin sudah kebakar jenggotnya ya? kasihan deh….??!!!
    Tapi begini ya, kalau artikel di atas sudah sesuai faktanya itu bukan provokasi, ente aja yang terlalu fanatik dg Salafy Wahabi….. jadi kebakar deh jenggotmu, he he he ….

KOLOM KOMENTAR ANDA :