Sejarah dan Tragedi Kelam 10 Asyura di Karbala

Loading...

Sejarah dan Tragedi Kelam 10 Asyura di Karbala


Dalam sejarah islam, khususnya aliran Syi’ah, tanggal 10 Muharram, jadi hari yang terlalu penting dan agung. Sebab pada tanggal itu Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu kesayangan Nabi, berikut Famili dan orang-orang yang ikut bersamanya terbunuh dan dibantai secara bengis di sebuah daerah bernama Karbala. Irak.

Ia terbunuh sesudah mengalami isolasi dan Peperangan selama 3 hari di tempat itu, oleh Tentara yang dikirim Yazid bin Mu’awiyah. Pada saban tahun semenjak waktu itu, para pengikut Imam Ali bin Abi Thalib, menjadikan hari itu selaku hari perkabungan internasional.

Sebuah cerita soal ini menyebutkan: Suatu hari Husein diundang masyarakat Irak untuk Hadir ke Kufah, Irak. Mereka berjanji akan memberikan sokongan bagi kekuasaanya, menggantikan kakaknya Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Beberapa orang sahabat menganjurkan supaya Husein tidak berangkat ke sana. Ini berdasar pengalaman bahwa tidak seluruh orang Kufah jujur.

Abd Allah bin Zubair menjelaskan ke Husein :

أين تذهب؟! تذهب إلى قوم قتلوا أباك وطعنوا أخاك. لا تذهب فأبى الحسين إلا أن يخرج.

“Akan kemanakah, kamu Husein?. Apakah kamu akan berangkat menjumpai kaum yang sudah menghabisi ayahmu dan menikam kakakmu; Hasan?. Urungkan keinginanmu untuk berangkat ke sana”.

Ibn Abbas juga menyampaikan nasehat supaya Husein mengurungkan kepergiannya ke Irak. Ia menjelaskan :

يابن عم، إني أتخوف عليك في هذا الوجه الهلاك، إن أهل العراق قوم غُدر فلا تغترَنَّ بهم، أقم في هذا البلد .فقال الحسين بن علي: يابن عم، والله إني لأعلم أنك ناصح شفيق، ولكني قد أزمعت المسير. فقال له: فإن كنت ولا بد سائرًا فلا تسر بأولادك ونسائك، فوالله إني لخائف أن تُقتَلَ كما قُتِلَ عثمانُ ونساؤه وولده ينظرون إليه.

“Husein, putra pamanku, sungguh saya terlalu mengkhawatirkanmu. Masyarakat Irak ialah kaum yang sering tidak setia. Kau jangan terjebak pada bujuk-rayu mereka. Tinggal saja di sini”.

Husein menjawab,“Putra pamanku, Untuk Allah, saya mengerti engkau sudah memberikan nasehat yang baik. Terima kasih. Tetapi saya sudah bertekad untuk berangkat ke sana.”

Ibnu Abbas menjelaskan lagi,“Kalau engkau mesti berangkat, saya berkeinginan tidak membawa anak kecil, perempuan-perempuan dan keluargamu. Untuk Allah, saya kuatir engkau akan dibunuh, sebagaimana Utsman. Dan kematian itu disaksikan oleh kaum wanita, Famili dan anak laki-lakinya.”

Tetapi Husein melalaikan anjuran itu. Ia bergeming. Ia percaya pada janji masyarakat Kufah yang akan memberinya janji janji setia (baiat) kepadanya. Husein menjelaskan, “Saya telah melaksanakan istikharah dan Allah memberi petunjuk yang baik. Saya akan berangkat ke sana.”

loading...

Husein akhirnya berangkat ke sana diiringi keluarganya dan sejumlah pengikutnya yang diperkirakan terdiri dari 72 member Famili dan kurang dari 100 orang pengikutnya. hingga di Karbala, beberapa kilometer dari Kufah, pasukan Yazid bin Muawiyah, dalam hitungan total besar, lebih dari 3000 pasukan, dibawah panglimanya; Ubaidillah Ibn Ziyad, cepat menghadangnya.

Ibn Ziyad memerintahkan Umar bin Saad memimpin Tentara. Waktu berjumpa Husein Umar mengusulkan tawaran supaya Husein tunduk ke Yazid bin Mu’awiyah. Husein Tidak mau. Ia tidak mau mengakui kekuasaan Yazid yang tidak sah. Dia dan ayahnya sudah merampas kekuasaan Ali bin Abi Thalib, ayahnya. Maka perang tidak sebanding berlangsung sengit.

Husein, para pengikut dan keluarganya, kecuali sejumlah wanita dan putranya, Ali Zainal Abidin Al Sajjad, dibantai. Kepala Husein dipisahkan dari tubuhnya, lalu ditaruh di sebuah wadah semacam mangkok besar. Sesudah itu kepala Husein dibawa ke Damaskus, dan diberikan ke Yazid. Konon, waktu menyaksikan potongan kepala tersebut, Yazid, berduka dan menangis.
Info lain menyebutkan, Yazid justeru suka dan merasa puas. Beberapa waktu lalu Yazid menyerahkannya ke Zainab yang diusirnya supaya membawa kepala itu ke Mesir. Menurut 1 versi, wanita ini lalu mengubur kepala Husein itu di Kairo. Mesir. Kuburan itu Ada di tempat yang Saat ini dikenal dengan Masjid Husein. Sementara tubuhnya dikubur di Karbala, Irak. Ini menurut sebuah versi.

Kejadian Karbala dikenang sejauh masa oleh muslim Syi’ah selaku sebuah tragedi kemanusiaan terbesar. hingga hari ini kaum Syi’ah di semua dunia, memperingatinya selaku hari duka nestapa. Hari besar 10 Muharram ini Adalah ritus keagamaan terpopuler dan paling besar dalam tradisi kaum Syiah. Jutaan manusia berkumpul di pusat terbunuhnya Imam al-Husein, Karbala, Irak.

Bermacam acara ritual mengenang kematian al-Husain bin Ali bin Abi Thalib dihelat di semua penjuru Irak dan Iran, dengan bermacam cara. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang sengaja memukul-mukul dada dan melukai tubuh mereka sendiri sampai berdarah-darah, seraya meraung-raung, berteriak-teriak menyebut nama cucu Nabi itu. Cara ini ditunaikan untuk ikut mengalami kesengsaraan al-Husein itu yang tidak terkirakan.

Para pengikut Ali (Syi’ah Ali) di bermacam negara, memperingati hari Asyura selama 10 hari, semenjak tanggal 1 sampai tanggal 10 Muharram. Selama itu, bendera hitam setengah tiang dikibarkan. Kecuali warning tanggal 10 muharram itu, mereka juga menyelenggarakan upacara perkabungan selama 40 hari.

Di Kairo, Mesir Ada masjid Husein di bilangan yang populer disebut dengan namanya : Husein. Ia berdampingan dengan masjid (Jami’) Al Azhar. Sebagian kaum Syi’ah meyakini bahwa sebagian tubuh Husein dikubur di sana. hingga hari ini kuburan itu diziarahi beberapa orang laki-laki dan wanita.

Di tempat itu mereka berdoa dan menangisi Sayyid Husein. “Waa Husaynaaah….. Waa Husaynaaah” (Duhai Husein…. Duhai Husein….Oh Husein). Suara-suara duka itu sungguh memilukan dan menyayat-nyayat hati. Mereka mencintai cucu Rasulullah saw, dan menyesali kematiannya yang tragis itu.

loading...

Source by Ahmad Naufal

Loading...

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

KOLOM KOMENTAR ANDA :