Sedekah Laut dan Tsunami

Sedekah Laut dan Tsunami

Sedekah Laut dan Tsunami

Candra Malik (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)

Masygul hati saya membaca pesan pendek dari Whani Darmawan, seorang pesilat yang juga dramawan dari Yogyakarta. Membalas kiriman video saya membaca puisi di Panggung Krapyak soal gempa bumi dan tsunami di Palu, ia menyampaikan sebuah foto poster. Tertulis di situ, “Cintailah Yogyakarta dengan iman dan amal shalih, tinggalkan tradisi jahiliyah sedekah laut atau bumi.”

Whani mengajak untuk menggagas gerakan kebudayaan. walau omongan kami masih permulaan dan permukaan, saya duga ia tidak sendiri gundah soal peredaran isu ini. Kawan saya yang lain, Soelung Lodhaya, pegiat kebudayaan di Bali, menyoal foto pamflet di Cilacap yang bertuliskan pesan lebih keras lagi. Begini bunyinya, “Jangan larung sesaji sebab mampu tsunami.” Ia menilai, pamflet itu tindakan mematikan karakter atau penggerusan budaya bangsa.

Lain lagi di Banyuwangi. Awal Oktober lalu, Bupati Abdullah Azwar Anas berapi-api saat memaparkan bermacam festival di bumi Blambangan. Salah satunya, pergelaran Gandrung Sewu pada 20 Oktober nanti. Lalu, pada Kamis dini hari, Banyuwangi terdampak gempa 6.4 SR di Laut Bali.

Front Pembela Islam (FPI) di Banyuwangi mengeluarkan surat pernyataan sikap yang langsung viral di media sosial. Surat bernomor 0003/SK/DPW-FPI Banyuwangi/II/ 1440/Tanggal 11 Oktober 2018 itu berisi kecaman kepada acara Gandrung Sewu yang akan dihelat di Pantai Boom, Banyuwangi. “Aktifitas itu akan mengundang kian beberapa bencana di bumi, khususnya di tanah Banyuwangi,” kecam FPI dalam surat yang diteken Ketua Tanfidzi Agus Iskandar dan Sekretaris Yudo Prayitno.

Isu yang menghubungkan antara gempa dan tsunami dengan aktifitas kebudayaan berawal dari gempa dan tsunami di Palu yang disinyalir terjadi sebab Festival Nomoni. Di dalam aktifitas tahunan pada perayaan ulang tahun Kota Palu itu, para tetua adat membaca mantra-mantra tua dan kembali menghidupkan tradisi lama: memberi sesaji pada semesta. Alih-alih bersandar pada teori-teori ilmiah atau mitologi setempat, kesedihan gara-gara bencana malah dibenturkan dengan dalil-dalil suci dan dalih-dalih ideologis. Tidak pelak, ini menggesek budaya dan agama.

Hari-hari ini, bahkan sesungguhnya tidak cuma hari-hari ini, Tanah Air tercinta tidak henti-hentinya mengalami gempa. Semenjak gempa 7 SR di Lombok pada 5 Agustus, disusul gempa 7.4 SR disertai tsunami dan likuifaksi di Palu pada 28 September, lantas gempa 6.4 SR di Laut Bali yang mengguncang Pulau Sapudi di Sumenep, Madura dan Situbondo, yang terasa pula di Bali, Banyuwangi, bahkan Malang. Informasi BMKG dalam kicauan di linimasa mecatat, terjadi 5.578 gempa pada 2016 dan 6.929 gempa pada 2017, dengan 19 di antaranya gempa besar. Dan, itu masih dianggap wajar.

Kenapa? Masih dalam twit yang sama, admin akun @infoBMKG menuliskan 1 fakta yang semestinya telah kita pahami berbarengan, yaitu Indonesia dikelilingi oleh Ring of Fire. Cincin api. Negeri ini punya sedikitnya 127 gunung berapi aktif. Kalau 1 menggeliat, geliatan itu bukan tidak mungkin akan menjalar pada cincin api. Belum lagi kalau lempeng-lempeng besar di bawah laut pun bekerja. Evolusi gunung berapi, gempa bumi, dan tsunami jadi fenomena alam tidak terelakkan. walau korban berjatuhan, ini seluruh tidak sungguh-sungguh salah manusia belaka.

Pernah saya bercakap-cakap dengan seorang kawan lainnya bahwa seorang presiden sesungguhnya tidak cuma memimpin rakyat, masyarakat negara bangsanya. Ia tidak cuma memimpin manusia. Tetapi, lebih dari itu presiden juga memimpin angin, air, api, tanah, dan semua anasir alam semesta di jagat bernama negara yang dipercayakan kepadanya. Oleh sebab itu, saya -atau kita- sering menguping betapa seorang Sukarno, Soeharto, dan Gus Dur sedemikian kuat dan giatnya dalam laku spiritual, baik sebelum, saat, maupun sesudah menjabat presiden.

“Di bawah situ ada gua. Paspampres saja mengenakan jaket berlapis-lapis. Tetapi, Pak Harto cuma pakai kain kemben dan bertelanjang dada. Bersemadi berjam-jam di bawah sana,” kata Kholiq Arif semasa masih menjabat Bupati Wonosobo, saat mengajak saya ke Telaga Kelir.

“Semenjak dari zaman Pak Karno, para presiden dan capres senantiasa bertapa di sini,” ucap Kyai Abdul Manaf, juru kunci Siti Hinggil, Petilasan Raden Wijaya di Bejijong, Trowulan, Mojokerto.

“Masyarakat bergantian menandu Gus Dur sampai Pringgodani,” cerita Pak Erry, masyarakat Karanganyar.

Loading...
loading...

Beberapa cerita yang saya kumpulkan dari perjalanan panjang ke bermacam sumber keyakinan warga. Tetapi, apakah kita mampu serta-merta menghakimi para pemimpin negeri ini dan rakyatnya yang suka berziarah, bertirakat batin, berlama-lama dalam doa di petilasan-petilasan bersejarah itu selaku kaum musyrikin? Lebih-lebih, kian beberapa terpasang papan pengingat di lokasi-lokasi yang disakralkan itu untuk memohon cuma ke Allah, bahkan di maqbarah para Waliyullah.

Lautan manusia tidak henti-hentinya berziarah di tanah pusaka ini. Tidak cuma bersedekah pada manusia, warga Nusantara juga mengenal tata krama pergaulan dengan sesama makhluk Tuhan yang bukan manusia. Ia angin, air, api, tanah, hewan, pohon, bukit, gunung, laut, sungai, dan masih beberapa lagi. Berbicara soal Indonesia, seluruhnya ialah warga Indonesia pula. Duduk, bertempat, dan tinggal di titik-titik yang sama meski tak sama dimensi ruang dan waktu. Ada yang lebih dulu Hadir, ada yang lantas. Dan, yang terpenting ialah hidup rukun dan damai. Saling sokong, tidak saling ngrecoki.

Semesta di Indonesia sudah memberikan beberapa kekayaannya ke kita. Tetapi, diakui atau tidak, kita tidak membalasnya dengan kasih sayang sepadan. Kita malah kian merusak tanah dan air di Tanah Air kita sendiri. Lelaku batin penyesuaian frekuensi kesemestaan dalam upacara adat, di antaranya sedekah laut dan bumi, malah dibenturkan dengan tuduhan-tuduhan pemicu bencana. Padahal, adat sudah ratusan tahun jadi bagian tidak terpisahkan dari ragam kehidupan rakyat. Agama datang menyempurnakan, bukan menghancurkannya. Semestinya.

Tulisan saya ini mampu melebar ke mana-mana, tapi saya merasa wajib pula menyertakan cerita seorang Sahabat lain lagi bernama Budi Dalton. Ia berseloroh, ilmu Saat ini Penting membedah perut untuk memasukkan gunting saat tindakan medis operasi, tapi ilmu kuno tidak Penting. “Tanpa dibedah pun, gunting mampu dimasukkan ke perut. Lalu, mana yang Saat ini dan mana yang kuno?” tanya Budi. Dia dan kawan-kawan merasa gemas saat pendekatan “menyanologi” lebih dulu mengendus jejak sejarah di Gunung Padang, tapi lantas tidak diakui.

Jangankan untuk perkara sebesar itu. Untuk urusan memberi bunga ke keris pun, saya pernah ditanya, “Bukankah itu perbuatan syirik?” Saya kemudian balik menanyakan, “Kau punya hape?” Dijawab, “Punya.” Saya tanya lagi, “Supaya mampu bekerja, kau kasih makan apa itu hape?” Dijawab, “Pulsa.” Pelan-pelan lantas saya bicara, “Nah, masing-masing punya makanannya sendiri. Hape diberi pulsa, mobil diberi bensin, manusia diberi nasi, keris diberi bunga. Lalu, di mana letak syiriknya?” Jadi masalah kalau kita mengonsumsi yang bukan makanan kita.

Gus Yusuf Chudlori punya cerita unik yang saya dengar bertahun-tahun silam. Ia menerima keluhan dari warga di desanya yang dicegah membakar dupa dan kemenyan oleh para pendatang yang suka mengutip dalil. Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang itu mendekati para pendalil tersebut. Dia berkata, “Sudahlah, masyarakat desa tidak seperti orang kota yang punya beberapa hiburan. Di sini hiburan mereka ya cuma membakar dupa dan kemenyan. Mereka punya iman tauhid yang insya Allah kuat. Tidak Penting ada yang dikhawatirkan.”

Hari-hari ini, berbicara soal agama jadi lebih sulit sebab ancaman pidana penistaan agama menghantui. Tidak sungguh-sungguh leluasa lagi untuk bercanda. Tidak seperti dulu. Saat ini, dalil pun diadu. Dibumbui dalih. Perang tidak cuma soal-soal pelik yang Penting buka kitab, tapi juga urusan-urusan sepele dengan mengandalkan kegenitan dan kengototan berargumen sambil mengolok-olok. Surga dikapling-kapling untuk kelompoknya sendiri sembari menghakimi kubu lain selaku penghuni neraka atau penyebab azab bencana alam.

Bahkan, dialektika soal keberagaman dalam keberagamaan kian sering mengarah pada pribadi. Kepemimpinan seseorang dianggap dari kecakapan dalam mengimami salat dan kefasihan dalam membaca Al Quran. Hingga-sampai, lidah dan lisan yang tak sama dialek pun dijadikan bahan ledekan yang seperti tidak habis-habis. Tatkala Presiden mengucap “Al Fatekah”, yang menurut para penentang semestinya Al Fatihah, perang lidah sudah disulut. Kita mengatakan dengan tegas kembali betapa kita tidak Penting siapa-siapa untuk mengadu domba, kita mampu dan suka beradu sendiri.

Cerita-cerita kewalian orang-orang tidak fasih bacaannya tapi tajam dan bersih hati beradu dengan kisah-kisah fadhilah dan Kewajiban membaca kitab suci tanpa keseleo lidah. Wajib baik dan benar. Karena, salah baca salah makna. Dan, itu berbahaya. Riwayat soal bahasa Arab ialah bahasa di surga, malaikat cuma memahami bahasa Arab, dan oleh sebab itu bahasa ini lebih mulia dibandingkan yang lain sehingga wajib dikuasai. Seluruh itu mengemuka kembali. Padahal, Allah ialah Tuhan bagi segala bangsa dan bahasa. Dia niscaya tidak punya masalah bagaimana lisan bicara. Penglihatan-Nya tembus ke hati.

Candra Malik budayawan sufi

(detik.com/ suaraislam)

Loading...


Suara Islam by Ahmad Zaini

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

KOLOM KOMENTAR ANDA :