Salat Menggunakan Sepatu

Salat Memakai Sepatu
Loading...

Salat Menggunakan Sepatu


Ghirah beragama sungguh Adalah sebuah hal yang positif. Akan tetapi, antusias saja tidak cukup, Penting Disokong dengan pengetahuan yang memadai. Karena orang yang beramal tanpa ilmu, amalnya tidak diterima. Apalagi bila nyata-nyata salah dalam sudut pandang agama.

“Saban orang yang beramal tanpa ilmu, maka amal-amalnya tidak diterima”.

Baru-baru ini muncul pemandangan yang cukup ganjil, aneh dalam dalam sudut pandang fikih Islam dan adab tasawuf. Sekelompok yang menamai dirinya selaku golongan yang paling syar’i tampak melaksanakan salat berjamaah di jalanan. Tidak sedikit dari mereka yang masih mengenakan sepatu.

Barang kali mereka menganggap bahwa sepatu yang mereka kenakan seperti layaknya “khuf” (muzah)  di zaman Nabi. Pertanyaannya lantas, bagaimana hukum salat dengan mempergunakan sepatu produk era sekarang?

Sebagaimana dijelaskah di nyaris seluruh kitab-kitab dasar fikih, bahwa bagian syarat sahnya salat ialah suci dari najis. Baik badan, pakaian, tempat dan benda yang dibawa waktu salat.

Syarat tersebut berdasar firman Allah Swt:

وثيابك فطهر

“Dan sucikanlah pakaianmu”. (QS. Al Muddatssir ayat 4).

Oleh sebab itu jadi tidak sah salatnya orang yang pakaian -termasuk sepatu-, tempat dan badannya Soal najis.

Syekh Ibnu Qasim al Ghuzzi mengatakan dengan tegas:

وطهارة النجس الذي لت يعفى عنه في ثوب وبدن ومكان

“dan disyaratkan suci dari najis yang tidak dimaafkan di dalam pakaian, badan dan tempat”. (Syekh Ibnu Qasim al Ghuzzi, Fathal Qarib Hamisy Hasyiyah al Bajuri, juz.1, hal.138).

Ada hadis menarik berhubungan dengan salat menggunakan sepatu. Imam Ahmad dan Abu Daud meriwayatkan sebuah hadits:

 (وعن أبي سعيد عن النبي – صلى الله عليه وسلم – «أنه صلى فخلع نعليه فخلع الناس نعالهم فلما انصرف قال لهم: لم خلعتم قالوا: رأيناك خلعت فخلعنا، فقال: إن جبريل أتاني فأخبرني أن بهما خبثا، فإذا جاء أحدكم المسجدفليقلب نعليه ولينظر فيهما، فإن رأى فليمسحه بالأرض، ثم ليصل فيهما» . رواه أحمد وأبو داود)

 “Dari Abi Said al Khudri, dari Nabi bahwa beliau salat lantas melepas ke-2 sandalnya, lalu para sahabat ikut beliau melepas sandal mereka. Waktu selesai salat, Nabi berkata ke mereka, “mengapa Anda semua melepas sandal Anda semua? Mereka menjawab, “kami melepasnya sebab engkau melepasnya”. Nabi berkata, “sesungguhnya Jibril mendatangiku, ia memberi tahu jika di sandalku Ada kotorannya. Bila salah seorang dari Anda semua mendatangi masjid, maka baliklah ke-2 sandalnya, dan hendaknya memeriksanya, bila Ada kotoran di dalamnya, maka usaplah dengan tanah, lantas salatlah dengan mengenakannya. (HR. Abu Daud dan Imam Ahmad).

Hadits ini secara lahiriyyah kelihatannya mampu jadi sebuah pembenaran untuk mengesahkan salat dengan mengenakan sandal atau sepatu yang Ada najisnya. Sebab, sebelum ditegur Jibril dan melepaskan sandalnya, Nabi sempat salat dengan ke-2 sandalnya tersebut. Nabi tidak diperintahkan untuk mengawali salat. Beliau tetap meneruskan salatnya dengan melepas sandalnya. Andaikan salat dengan sandal yang najis tidak sah, seharusnya Jibril memerintahkan Nabi untuk mengawali salatnya.

loading...

Benarkah anggapan seperti ini?

Syekh al-Umrani, bagian pembesar ulama mazhab Syafii mengumumkan bahwa “khubts” (kotoran) yang dimaksud dalam hadis dimungkinkan tidak mengarah ke benda najis. Akan tetapi, mampu jadi itu ialah kotoran-kotoran yang suci seperti ingus, ludah dan sebagainya. Maka dari itu, hadis tersebut tidak mampu dibuat hujjah. Sebagaimana dikenal dalam sebuah kaidah ushul fiqh, bila masih ada beberapa kemungkinan dalam sebuah konteks dalil, maka tidak mampu dijadikan hujjah. “Waqai’ul ahwal idza tatharraqa ilaihal ihtimal kasaha tsaubul ijmal wa saqatha biha al istidlal”.

Sedemikian bunyi teks statemen al-Imam al-Umrani mengomentari hadits di atas:

وأما الخبر فيحتمل أن القذر الذي أصابه من المستقذرات الطاهرة، كالنخامة، وغيرها

“Adapun hadis di atas, kemungkinan kotoran yang Soal sandal Nabi termasuk kotoran-kotoran yang suci seperti ingus dan sejenisnya”. (Lihat dalam Al-Umrani, Al-Bayan, Juz.2, hal. 109).

Dari Penjelasan di atas jadi terlalu terang bahwa hadis tersebut tidak mampu dibuat dalil untuk mengesahkan salat menggunakan sepatu yang Ada najisnya.

Adapun dalam konteks pemanfaatan sepatu di masa sekarang, sepatu yang dikenakan orang-orang ialah sepatu yang secara keumumannya dipakai untuk segala aktivitasnya, termasuk keluar masuk kamar mandi.

ETIKA SALAT
Bicara salat, tidak melulu mengenai hal sah dan tidak sahnya saja. Akan tetapi, Penting juga mempertimbangkan beberapa etika dan adabnya. Salat di tengah jalan, terlebih mengenakan sepatu, kalau tidak menggangu lalu lintas, tempat dan pakaian juga sepatunya sungguh-sungguh suci, mungkin sah-sah saja dalam sudut pandang legal formal fikih.

Akan tetapi, alangkah lebih baiknya supaya salat dilakulan secara wajar dan lebih sopan. Hendaknya salat ditunaikan di masjid, musala, rumah atau tempat-tempat lain yang lebih patut. Dan tentunya dengan melepas sepatu. Karena standar kesopanan dikembalikan ke adat istiadat yang berlaku. Secara norma adat  di negara kita, tidak sopan seseorang menghadap Tuhannya dengan menggunakan sepatu, sebab hal tersebut tidak wajar.

Sebagaimana ditegaskan dalam kitab-kitab tasawuf, pada waktu salat, seorang hamba dianjurkan untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin, mulai dari pakaiannya yang baik, tempatnya yang patut, hatinya yang tenang, badannya yang fresh dan beberapa hal lain yang mencerminkan etika dan kesopanan di depan Allah Swt.

Waktu Nafi’ salat dalam kondisi kepala terbuka, Ibnu Umar menegurnya dengan keras “Apakah kau juga akan keluar rumah menjumpai beberapa orang dengan penampilanmu seperti ini?”. Nafi’ menjawab “tidak tuanku”. Ibnu Umar kembali menimpali pembantunya tersebut “Maka tentunya Allah lebih patut untuk ditunjukan kepadanya penampilan yang baik”.

Yang dihadapi seorang muslim waktu salat, ialah sang Maha Raja Diraja, penguasa alam semesta. Bila waktu menghadap presiden atau pemimpin, kita betul-betul mempersiapkan penampilan sebaik mungkin, bagaimana waktu menghadap sang maha pencipta?

Wallahu a’lam bisshawab.

loading...

IslamiDotCo by Ahmad Naufal

Loading...

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

KOLOM KOMENTAR ANDA :