Ruwet! Nggak Paham Ilmu Agama, Dijadikan Ustad

Bahaya Ustad yang Belajar Otodidak dan Tidak Pernah Mondok, Bisa Menyesatkan Umat
Loading...

Ruwet! Nggak Paham Ilmu Agama, Dijadikan Ustad

Telah seringkali saya ingatkan supaya tiap-tiap ummat Islam berhati-hati supaya mengambil ilmu agama langsung dari para ahlinya, yaitu dari para ulama, kyai, ustadz, tuan guru, yang terang mata rantai pengambilan ilmunya (isnad), sudah populer akan kedalaman ilmunya dan kesalehannya. Jangan belajar malah secara kpd sembarang ustadz atau ustadz yang sembarangan. Sebab Saat ini sebagian ummat Islam telah gampang memberi predikat ustadz kpd siapa saja yang pintar tausiah, pintar membual soal agama dan politik sambil sesekali melawak atau menghibur para pendengarnya, dan “berani” mengkritik keras sana sini. Persoalan yang mereka panggil ustadz itu pada hakekatnya sungguh nggak paham ilmu-ilmu agama nggak jadi problem, sebab mereka yang menggelarinya juga nggak paham.

Dunia keberagamaan kita Saat ini sepertinya telah jungkir balik dan penilaian warga awam juga telah terbalik-balik. Para tokoh agama yang dikenal luas dan mendalam ilmu agamanya, diperoleh dari silsilah/sanad keilmuan yang terang, dan dikenal berakhlak baik tidaklah mereka gandrungi. Sebaliknya malah mereka benci, mereka fitnah dengan stigma-stigma buruk seperti Syi’ah, liberal, munafik, ulama su’, penjilat pemerintah dan sebagainya berupa kalimat-kalimat yang nggak memperlihatkan adanya kesantunan dan kecerdasan dalam beragama itu sendiri.

Akibat buruk dari belajar agama secara instan kpd para ustadz “hijrah karbitan” adakah sebagian warga jadi terombang-ambing, kebingungan, dan labil dalam beragama. Para ustadz abal-abal yang terlalu suka terkenal di media sosial itu sebab nggak memunyai basis ilmu-ilmu keislaman yang kokoh dan disertai ghirah yang menggelora jadi terlalu mudah tergelincir dalam menafsirkan ajaran agama, cenderung tekstualis, beragama secara eksklusif, sempit wawasan, nggak bijaksana, mudah menyalahkan pihak lain, jadi intoleran, sesat dan menyesatkan, dan pada ujungnya mencari pengikut sebanyak mungkin untuk tujuan-tujuan yang bersifat duniawi.

loading...

Jejak-jejak digital di Youtube masih meninggalkan berserakan bukti yang terlalu mudah kita akses untuk sekedar menyaksikan segala bentuk dan model “ustadz” yang terlalu sembarangan dalam mengutip dalil, berupa al-Quran dan al-hadits, yang lepas dari konteksnya, dimaknai semaunya, diletakkan bukan pada tempatnya, dijelaskan tanpa landasan ilmu, disimpulkan sendiri hukum-hukumnya dengan mengikuti hawa nafsunya (tanpa syarat-syarat ilmiah dan syarat-syarat kepribadian), dilansir untuk menyerbu siapa saja yang dianggapnya memusuhi atau merusak agama, dan tentu saja dipolitisasi untuk menjaring pengikut setia sebanyak-banyaknya.

Para ustadz dengan karakteristik sebagaimana yang saya gambarkan itu hendaknya cepat ditinggalkan dan janganlah diikuti sebab sudah jauh melenceng dari rel agama, nggak membawa ummat ke dalam hidup yang maslahat, melainkan menjerumuskan ummat ke jurang kehidupan dunia-akhirat yang terlalu berbahaya.

Contoh yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial ialah mengenai hal seorang “ustadz hijrah” yang menyebut bahwa nabi Muhammad pernah termasuk sesat sebelum beliau diutus jadi rasul dan oleh sebab itu nggak boleh memeringati hari lahirnya. Cukup terang bahwa pernyataan itu dilatar belakangi oleh dorongan hawa nafsu sebab menafsirkan kata “dlāllan” dengan kesesatan, suatu penafsiran yang nggak pernah dijelaskan oleh para mufasir kenamaan dalam kitab-kitab tafsir terdahulu.

Tentu kata “dlāllan” pada Qs. al-Dluha itu nggak bermakna sesat dalam arti nggak tahu atau melenceng dari Islam, sebab maksud firman Allah tersebut konteks (sabab nuzul)nya ialah menghibur Rasulullah dengan mengingatkan bahwa pada waktu belum diturunkan wahyu kepadanya, beliau dalam keadaan bingung, yaitu nggak mengetahui arah yang benar, sampai lalu Allah memberikan petunjuknya. Dengan menelaah karya-karya tafsir al-Quran kita mampu mendapati beberapa versi penafsiran atas maksud kata “dlāllan” dalam Qs. al-Dluha itu dari para mufasir.

Tentu saja nggak cukup mengandalkan terjemah al-Quran dan sekedar tahu arti kosa kata bahasa Arab menurut kamus untuk menafsirkan ayat-ayat al-Quran yang mempunyai makna yang terlalu dalam itu. Ada sekian syarat ilmiah dan kepribadian untuk sanggup menafsirkan ayat-ayat al-Quran yang nggak sembarang ustadz mampu memenuhinya.

Oleh: Kyai Ishomuddin via aislami.co

loading...

Source by Hakim Abdul

Loading...

You might like

About the Author: Hakim Abdul

KOLOM KOMENTAR ANDA :